Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Wasiat yang Sangat Berharga

Wasiat yang Sangat Berharga

           كَتَبَ سُفْيَانُ الثَّوْرِي إِلَى عَبَّادِ بْنِ عَبَّادِ رحمهما الله

وَبَلَغَنِي أَنَّ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا يَتَعَوَّذُوْنَ أَنْ يُدْرِكُوا هَذَا الزَّمَانَ وَكَانَ لَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَيْسَ لَنَا فَكَيْفَ بِنَا حِينَ أَدْرَكْنَا عَلَى قِلِّةِ عِلْمٍ وَبَصَرٍ وَقِلِّةِ صَبْرٍ وَقِلَّةِ أَعْوَانٍ عَلَى الخْيْرِ مَعَ كَدَرِ الزَّمَانِ وَفَسَادٍ مِنَ النَّاسِ وَعَلَيْكَ بِالْأَمْرِ الْأَوَّلِ وَالتَّمَسُّكِ بِهِ.الأثر صحيح أخرجه ابن أبي حاتم في تقدمة الجرح و التعديل و أبو نعيم في حلية الأولياء.

 Sufyan Ats Tsauri (w: 161H) menulis surat kepada Abbad bin Abbad (w: 181H) rahimahumallah:

 "Telah sampai kepadaku berita bahwa para shahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam (radhiyallahu 'anhum), mereka berlindung (kepada Allah) untuk mendapati zaman ini, padahal mereka memiliki ilmu yang tidak kita miliki, lalu bagaimana jadinya kita saat mendapati zaman ini, dalam keadaan sedikitnya ilmu dan pengetahuan, kurangnya kesabaran dan sedikitnya kawan-kawan penolong akan kebaikan, yang disertai dengan kotornya zaman dan rusaknya manusia, hendaknya engkau dengan perkara pertama (peninggalan generasi pertama, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya) dan berpegang teguhlah dengannya".

 Atsar shahih diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam Taqdimat Al Jarh wa Ta'dil dan Abu Nu'aim di dalam Hilyat Al Awliya'.

MISTERI HIDUP SETELAH MATI

MISTERI HIDUP SETELAH MATI

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Sobat…

Pernah mendengar seorang hidup lagi setelah mati…?!?!

Ternyata andapun bisa…!

Bahkan mungkin kehidupan dan umur kedua anda bisa lebih panjang daripada kehidupan dan umur anda di dunia!

Seorang manusia ternyata mempunyai umur dua kali, ditulis di dalam dua kehidupannya amal perbuatannya yang pertama di dalam kehidupannya di dunia dan amal perbuatannya yang kedua  setelah matinya, yaitu amal-amal shalih atau amal thalih (buruk)nya, sebagaimana Firman Allah Taala:

 {إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ } [يس: 12]

Artinya: “Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan (juga kami menuliskan) bekas-bekas peninggalan mereka, segala sesuatu kami perhitungkan di dalam kitab yang nyata.” QS. Yasin: 12.

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy rahimahullah:

{ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا } من الخير والشر، وهو أعمالهم التي عملوها وباشروها في حال حياتهم، { وَآثَارَهُمْ } وهي آثار الخير وآثار الشر، التي كانوا هم السبب في إيجادها في حال حياتهم وبعد وفاتهم، وتلك الأعمال التي نشأت من أقوالهم وأفعالهم وأحوالهم، فكل خير عمل به أحد من الناس، بسبب علم العبد وتعليمه ونصحه، أو أمره بالمعروف، أو نهيه عن المنكر، أو علم أودعه عند المتعلمين، أو في كتب ينتفع بها في حياته وبعد موته، أو عمل خيرا، من صلاة أو زكاة أو صدقة أو إحسان، فاقتدى به غيره، أو عمل مسجدا، أو محلا من المحال التي يرتفق بها الناس، وما أشبه ذلك، فإنها من آثاره التي تكتب له، وكذلك عمل الشر.

ولهذا: { من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة، ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة } وهذا الموضع، يبين لك علو مرتبة الدعوة إلى اللّه والهداية إلى سبيله بكل وسيلة وطريق موصل إلى ذلك، ونزول درجة الداعي إلى الشر الإمام فيه، وأنه أسفل الخليقة، وأشدهم جرما، وأعظمهم إثما.

Artinya: “Dan kami menulis apa yang telah mereka kerjakan” maksudnya dari amal baik dan buruk, yaitu amalan-amalan yang telah mereka kerjakan dan mereka lakukan secara langsung dalam kehidupan mereka, dan “(Juga kami menulis) bekas-bekas peninggalan mereka” yaitu bekas peninggalan kebaikan dan bekas peninggalan keburukan, yang mana mereka adalah penyebab terjadinya dalam kehidupan mereka dan setelah wafat mereka, amaalan-amalan itu timbul dari ucapan, perbuatan dan keadaan mereka, maka setiap kebaikan yang seseorang mengerjakannya dengan sebab ilmu orang tersebut, pengajarannya, nasehatnya atau ajakannya terhadap yang maruf atau pencegahannya atas yang mungkar atau ilmu yang ditinggalkan pada para murid-murid, atau di dalam kitab yang bermanfaat di dalam kehidupannya atau setelah kematiannya, atau ia telah beramal kebaikan berupa shalat, zakat, sedekah, atau kebaikan apapun lalu selainnya mengikutinya atau membangun masjid atau menyediakan tempat orang beristirahat di dalamnya dan semisalnya dengannya, maka itu adalah bekas-bekas peninggalannya yang dituliskan baginya dan demikian pula amal buruk.

Oleh karena inilah, (disebutkan dalam hadits): “Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang buruk, maka atasnya dosa dan dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat”. Dan hal ini menjelaskan kepadamu tingginya kedudukan berdakwah kepada agama Allah dan (pemberian) petunjuk kepada jalan-Nya, dengan segala cara dan jalan yang menyampaikan akan hal itu. Dan (juga menunjukkan) turunnya derajat seorang pengajak kepada keburukan, pelopor di dalamnya, dan bahwa ia adalah makhluk paling terburuk, dan paling berat siksanya dan paling besar dosanya. “ lihat Kitab Taisir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Al Kalam Al Mannan saat tafsir surat Yasiin: 12.

Inilah orang yang hidup setelah kematiannya…!

Ayo Cari umur keduamu dalam kebaikan!!!

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary

Banjarmasin, Selasa 23 Rabiul Awwal 1439H

 

Si Pemberani Sebenarnya!

Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu 'ala rasulullah wa alihi washahbihi wa man wa laah, amma ba'du;

" كَانَ ابْنُ عَوْنٍ لَا يغْضَبُ، فَإِذَا أَغْضَبَهُ الرَّجُلُ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ "

Artinya: “Adalah Ibnu ‘Aun* tidak pernah marah, dan jika ada seorang yang membuatnya marah beliau mengucapan: “ Barakallahu fika (Semoga Allah selalu memberkahimu”). Lihat Kitab Hilyatul Awaliya, 3/39.

Alangkah indahnya kita mengambil ibrah dan membandingkan keadaan dan ucapan kita ketika marah,  beliau berdoa dengan doa yang agung ini untuk kepada siapa yang membuatnya marah, kiranya bagaimana doa beliau jika dalam keadaan senang dan lapang, SUNGGUH KEKUATAN DAN KEBERANIAN SEBENARNYA ADALAH TATKALA SANGGUP MENAHAN AMARAH YANG MEMBARA.

 

  • Ibnu ‘Aun rahimahullah adalah Abdullah bin ‘Aun (W: 151H, berkata Imam Adz Dzahaby rahimahullah):

الإِمَامُ، القُدْوَةُ، عَالِمُ البَصْرَةِ، أَبُو عَوْنٍ المُزَنِيُّ مَوْلاَهُم، البَصْرِيُّ، الحَافِظُ

Seorang Imam Panutan ulama kota Bashrah, Abu ‘Aun Al Muzany Maulahum, Al Bashry Al Hafizh

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary

Banjarmasin, Senin 15 Rabiul Awwal 1439H

Menjauhi Dosa

 

Apa pendapat kalian sobatku...?!?

Jika seorang yang sangat lapar dan haus di hadapannya ada sebuah makanan dan minuman, ketika ia hendak menjulurkan tangannya untuk mengambil makanan tersebut, ada orang yang berkata: “Awas, makanan dan minuman itu beracun!!!”, kira-kira apakah ia akan tetap mengkonsumsi makanan dan minuman tersebut ataukah ia akan menahan diri?!? Tentunya ia akan menahan diri dari memakan dan meminumnya meskipun sangat lapar dau haus.

Subhanallah...!  Bagaimana seseorang menjauhi makanan minuman yang berbahaya untuknya walau dalam keadaan ia sangat memerlukannya, TETAPI tidak menjauhi dosa-dosa yang lebih membahayakan bahkan membinasakan dirinya dengan suatu bahaya dan kebinasaan yang tidak bisa dibayangkan, yaitu SIKSA AKHIRAT!

Renungan pagi dari Firman Allah Taala yang mulia:

{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا} [النساء: 56]

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dengan ayat-ayat kami, Kami akan bakar mererka dengan api neraka, setiap kali kulit-kulit mereka terbakar niscaya kami gantikan dengan kulit lain, agar mereka merasakan siksa, sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” QS. An Nisa’: 56.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary

Banjarmasin, Kamis 12 Rabiul Awwal 1439H

TANDA MENCINTAI ALLAH TAALA

قَالَ عَبْدِ اللهِ بن مسعود رضي الله عنه :

" مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ "

Artinya: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan rasul-Nya, maka perhatikan, jika dia mencintai Al Quran, maka dia mencintai Allah dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Atsar riwayat Ath Tahbrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung