Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Terhina Karena Hutang (bag. 12)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

            Setelah kita mengetahui adab yang ketiga yaitu berupa penjaminan terhadap hutang, dan sudah dijelaskan panjang lebar tentang adab tersebut, maka sekarang kita melanjutkan adab-adab seorang yang berhutang.

4. Seorang yang berhutang dilarang menunda-nunda pembayaran hutang tanpa ada alasan padahal ia mampu untuk melunasi.

Agar terjaga harta orang yang menghutangi maka syariat Islam sangat mengecam jika seorang yang berhutang dan sudah mampu membayar hutangnya, tetapi menunda-nunda pembayaran hutangnya.

Mari perhatikan hadist-hadits berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِىٍّ فَلْيَتْبَعْ » .

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penundaan (pembayaran hutang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kelaliman, maka jika salah seorang dari kalian di pindahkan kepada seorang yang kaya maka ikutilah.” HR. Bukhari. 

Penjelasan:

Maksud dari “مطل”  adalah menunda-nunda iddah dan hutang

Dan di dalam istilah ahli fikih “مطل” artinya adalah menahan penunaian sesuatu yang berhak ditunaikan. Lihat kitab Al Qamus, 3/616 dan Mu’jam Maqayis Al Lughah, 5/331.

Maksud dari “أتبع” adalah jika dipindahkan hutang tersebut kepada seorang yag mampu maka hendaklah ia menerima.

Maksud dari “ملىء” , berkata Ibnu Al Atsir rahimahullah: orang terpercaya yang kaya. Lihat kitab An Nihayah Fi Gharib Al Atsar, 4/352.

عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَىُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ ». قَالَ وَكِيعٌ عِرْضُهُ شِكَايَتُهُ وَعُقُوبَتُهُ حَبْسُهُ. قَالَ وَكِيعٌ عِرْضُهُ شِكَايَتُهُ وَعُقُوبَتُهُ حَبْسُهُ.

Artinya: “’Amr bin Syarid meriwayatkan dari bapaknya, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penundaan hutang oleh seorang yang mampu membayar hutang menghalalkan kehormatan (harga diri) dan pemberian hukuman padanya.” HR. Ahmad

Penjelasan:

Maksud “لي” adalah menunda-nunda, disebut seseorang menyelewengkan hutangnya, yaitu menunda-nunda. Lihat kitab An Nihayah, 5/155.

Maksud “الواجد” adalah yang mampu melunasi hutang. Lihat kitab An NIhayah, 5/155.

Maksud “عرضه” adalah bagi siapa mempunyai piutang berhak untuk mencela atau mensifati dengan buruk kepada orang yang berhutang kepadanya. Lihat kitab An NIhayah, 3/209,

Maksud “عقوبته” adalah pemberian hukuman kepadanya yaitu dengan  memenjarakannya, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Waki’ di dalam hadits ini dan juga Abdullah bin Al Mubarak, Ali Ath Thanafisi serta Sufyan.

Saudaraku seiman…

Dari dua hadits ini diambil beberapa pelajaran:

-  Haram menunda-nunda pembayaran hutang bagi yang mampu tanpa ada alasan.

-  Pembagian seorang yang berhutang:

  1. Seorang berhutang yang kaya yang mampu untuk membayar seluruh hutangnya
  2. Seorang berhutang yang miskin tidak mempunyai apa-apa untuk bayar walau sebagian kecil dari hutangnya
  3. Seorang berhutang tidak terlalu miskin, ia masih mempunyai harta untuk bayar sebagian hutangnya, tidak seluruhnya.

Penjelasan tentang bagian pertama dari orang yang berhutang:

Jika yang berhutang tersebut kaya dan mampu bayar seluruh hutangnya, maka ia wajib bayar pada waktu yang sudah ditentukan, sebagai bentuk penunaian kewajiban.

Dan jika tidak mau melunasi dan ingin menunda-nunda, maka syariat Islam memperbolehkan untuk seorang yang memberikan piutang kepadanya meminta dengan perkataan yang keras, karena ia adalah seorang yang mempunyai hak. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dlam hadits:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - يَتَقَاضَاهُ ، فَأَغْلَظَ ، فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « دَعُوهُ فَإِنَّ لِصَاحِبِ الْحَقِّ مَقَالاً »

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Seseorang pernah mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menagih hutang dan berkata keras (kepada beliau), maka para shahabat ingin memukulnya, lalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkan dia, karena seorang yang mempunyai hak berhak untuk berkata-kata.” HR. Bukhari.

Dari hadits ini kita ambil pelajaran bahwa:

- Berbuat tegas dan keras kepada penunda hutang diperbolehkan

- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari perbuatan orang yang menagih hutangnya

- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengingkari para shahabatnya yang ingin memukulinya.

Ibnu Abdil Barr rahimahullah menjelaskan:

والدليل على أن مطل الغني ظلم لا يحل ما أبيح منه لغريمه من أخذ عوضه والقول فيه بما هو عليه من الظلم وسوء الأفعال ولولا مطله له كان ذلك فيه غيبة وقد قال صلى الله عليه وسلم "إن دماءكم وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام" يريد من بعضكم على بعض ثم أباح لمن مطل بدينه أن يقول فيمن مطله قال صلى الله عليه وسلم: "لي الواجد يحل عرضه وعقوبته" واللي المطل والتسويف والواجد الغني.

“Dan dalil yang menunjukkan bahwa menunda-nunda pembayaran dari seorang yang kaya adalah kezhaliman dan tidak halal, yaitu diperbolehkan orang yang memberikan piutang kepadanya, untuk dari mengambil gantiannya, dan berkata-kata tentang (orang yang berhutang kepada)nya dengan kezhaliman yang dilakukan dan perbuatan yang buruk, kalau bukan karena penundaannya untuknya, maka hal itu adalah sebuah ghibah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Sesungguhnya darah kalian haram dan juga harta serta kehormatan kalian.” Beliau menginginkan sebagian kalian kepada sebagian lainnya, kemudian diperbolehkan bagi siapa yang ditunda-tunda permbayaran hutangnya untuk berkata kepada siapa yang menunda-nunda pembayaran (dengan perkataan keras), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penundaan dari seorang yang mampu akan menghalalkan kehormatan dan hukuman kepadanya.” Lihat Kitab At Tamhid lima Fi Al Muwaththa’ Min Al Ma’ani wa Asanid, 18/286-288.  

إذَا امْتَنَعَ الْمُوسِرُ مِنْ قَضَاءِ الدَّيْنِ ، فَلِغَرِيمِهِ مُلَازَمَتُهُ ، وَمُطَالَبَتُهُ ، وَالْإِغْلَاظُ لَهُ بِالْقَوْلِ ، فَيَقُولُ : يَا ظَالِمُ ، يَا مُعْتَدٍ .

وَنَحْوِ ذَلِكَ ؛ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { : لَيُّ الْوَاجِدِ ، يُحِلُّ عُقُوبَتَهُ وَعِرْضَهُ } .

فَعُقُوبَتُهُ حَبْسُهُ ، وَعِرْضُهُ أَيْ يُحِلُّ الْقَوْلَ فِي عِرْضِهِ بِالْإِغْلَاظِ لَهُ .

“Jika seorang yang kaya menahan dari melunasi hutang, maka seorang yang memberikan piutang boleh untuk selalu menguntitnya dan memintanya serta berkata keras kepadanya, ia boleh mengatakan: “Wahai Sang lalim, wahai orang yang melampui batas atau perkataan yang semisal dengan itu, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Penundaan seorang yang mampu akan menghalalkan pemberian hukuman kepadanya dan penurunan harga dirinya”, dan pemberian hukuman kepadanya dengan memenjarakannya dan maksud dari “harga dirinya” adalah menghalalkan berkata-kata tentang harga dirinya yaitu dengan perkataan keras. Lihat kitab Al Mughni, 6/588-589.

Tetapi tentunya harus juga diperhatikan tidak boleh berkata-kata kotor atau buruk.

Saudaraku seiman…

Kapan seseorang dinyatakan menunda-nunda pelunasan hutang, maka jawabannya adalah seseorang dikatakan menunda-nunda hutang setelah terkumpul di dalam dirinya dua perkara:

Pertama: setelah pemberi piutang menagih kepada orang yang berhutang agar melunasi hutangnya, berarti, tidak dikatakan sebagai orang yang menunda-nunda pelunasan hutang, jika belum ditagih oleh pemberi piutang.

Al Khathib Asy Syirbini berkata:

"وَعَلَى الْمُوسِرِ الْأَدَاءُ فَوْرًا بِحَسَبِ الْإِمْكَانِ إنْ طُولِبَ { لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ } إذْ لَا يُقَالُ : مَطَلَهُ إلَّا إذَا طَالَبَهُ فَدَافَعَهُ ....". "أَمَّا قَبْلَ الْمُطَالَبَةِ فَلَا يَجِبُ الْأَدَاءُ..."

“dan wajib bagi yang diluaskan rezekinya untuk melunasi segera sesuai dengan kemampuan jika diminta, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Penundaan pembayaraan hutang oleh seorang yang kaya adalah sebuah kelaliman”, karena tidak dikatakan; ia menundanya kecuali jika ia menagihnya lalu (yang berhutang) menolaknya (untuk membeyar hutangnya)…”. Adapaun sebelum penagihan maka tidak ada kewajiban pelunasan…” Lihat kitab Mughi Al Muhtaj, 2/157.

Kedua: ketika yang berhutang tidak mau bayar hutang tanpa ada alasan, berarti jika seorang yang berhutang tidak bayar hutang karena ada alasan seperti tidak mampu mendatangkan harta yang raib atau karena sulit bayar hutang, maka tidak termasuk dianggap seorang yang menunda-nunda pelunasan hutang.

An Nawawi rahimahullah berkata:

ولو كان غنيا ولكنه ليس متمكنا من الأداء لغيبة المال أو لغير ذلك جاز له التأخير إلى الامكان وهذا مخصوص من مطل الغنى أو يقال المراد بالغنى المتمكن من الأداء فلا يدخل هذا فيه

“Jika ia (berhutang) adalah seorang yang kaya, akan tetapi tidak mampu untuk bayar karena ketidak adaan harta atau karena sebab selain itu, maka boleh baginya untuk mengakhirkan (pelunasan) samapai ada kemungkinan, dan ini adalah pengkhususan dari penundaan seorang yang kaya atau dimaksudkan dengannya adalah seorang yang kaya mampu untuk melunasi maka ia tidak masuk dalam hal ini.” Lihat kitab Syarah An Nawawi ‘Ala Muslim, 1/227.

Penjelasan tentang bagian kedua dari orang yang berhutang:

Yaitu seorang yang berhutang tidak terlalu miskin, ia mempunyai harta untuk membayar sebagian dari hutangnya tetapi tidak mampu membayar seluruhnya, maka orang seperti ini, boleh bagi yang memberikan piutang untuk mengangkat perkaranya ke pengadilan jika hutangnya sudah terlalu banyak dan melebih dari hartanya.

Penjelasan tentang bagian ketiga dari orang yang berhutang:

Yaitu seorang yang berhutang dan tidak punya harta, maka orang semacam ini, jika memang benar-benar terbukti ia sulit membayar hutang karena ketidak punyaan ia terhadap harta, maka tidak boleh berkata keras kepadanya atau mengangkat perkaranya ke pengadilan atau memenjarakannya akan tetapi wajib untuk membiarkannya dan menunggu pelunasan hutangnya sampai ia dalam keadaan lapang dan mudah untuk bayar hutang, hal ini  berdasarkan Firman Allah Ta’ala:

{ وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ } [البقرة: 280]

“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” QS, Al Baqarah: 280.

 

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Rabu, 12 Rajab 1434H, Dammam KSA.

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung