Fatwa Ulama: Seputar Hukum Al Mukhannats (Transgender) – bag. 02

Hukum Al Mukhannats melihat kepada Para Wanita

1. Seorang lelaki yang Al Mukhannats dengan makna yang telah lalu, yang mempunyai syahwat kepada para wanita, tidak ada keraguan tentang keharaman penglihatannya kepada para wanita, karen ia adalah fahl yang fasik, sebagaimaa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abidin.

Adapaun jika ia adalah mkhannats dari penciptaan dan ia tidak memiliki syahwat kepada para perempuan, maka sungguh madzhab Maliki, Hambali dan sebagian dari madzhab Hanafi berpendapat bahwa diringankan untuk tinggal seperti dirinya dengan para wanita, dan tidak mengapa melihat kepada mereka, bersandarkan dalil dengan firman Allah Ta’ala tentang siapa yang halal bagi merek untuk melihat kepada para wanita, dan dihalalkan bagi para wanita untuk memperlihatkan di depan mereka dalam keadaan berhias/berdandan, yang mana ia dianggap bagian seperti mereka, yaitu Firman Allah Ta’ala:

  {أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ} [النور: 31]

Artinya: “atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita).[1]

Dan Madzhab Syafi’ie serta kebanyakan dari madzhab Haanfi berpendapat bahwa Al Mukhannats meskipun tidak mempunyai syahwat kepada para wanita, tidak diperbolehkan ia untuk melihat kepada para wanita, dan hukumnya di dalam hal ini seperti AL Fahl, berdalilkan dengan hadits:

« لاَ يَدْخُلَنَّ هَؤُلاَءِ عَلَيْكُنَّ »

Artinya: “Tidak boleh sekali-kali mereka (para mukhannats) masuk (ke tempat) kalian (para wanita).[2]

Pemberian Sangsi Hukuman untul Al Mukhannats

2. Al Mukhanntas karena pilihan tanpa melakukan perbuatan yang buruk adalah sebuah maksiat yang tidak ada hukum had di dalamnya tidak juga ada kaffarah, maka sangsinya adalah sangsi ta’zir yang sesuai dengan keadaan yang melakukan kemungkaran dan beratnya kemungkaran. Telah terdapat riwayat bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan sangsi ta’zir kepada para mukhannats untuk diasingkan, beliau memerintahkan agar mereka (para mukhannats) dikeluarkan dari kota Madinah, beliau bersabda:

« أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ »

Artinya: “Keluarkan mereka (para Mukhannats) dari rumah-rumah kalian.[3]” dan demikian pula yang dilakukan oleh para shahabat sepeninggal beliau.[4]

Adapun jika terlihat darinya bersamaan dengan sikap takhannutsnya, memudahkan orang lain untuk melakukan perbuatan fahisyah (keji yang berkaitan dengan syahwat) terhadapnya, maka kebanyakan dari para ahli fikih berpendapat bahwa ditegakkan pada sangsi perzinahan:

Dan madzhab Hanafi berpendapat bahwa sangsi ta’zir terkadang sampai kepada dibunuh atau dibakar atau pelemperan dari atas gunung dengan keadaan terbalik, karena yang ternukilkan dari para shahabat adalah perbedaan mereka dalam pemberian sangsi ini, dan silahkan cek kembali di dalam kata حد عقوبة, تعزير, ولواط .

Tempat-tempat Mencari Pembahasan ini:

3. Para ahli fikih menyebutakn hukum-hukum Takhannuts (menyrupakan diri dengan para wanita) di dalam pembahasan-pembahasan tentang masa tangguh dalam Aib, jika budah yang dijual adalah seorang yang mukhannats, mereka juga menyebutkannya di dalam pembahsan tentang persaksian, nikah dan melihat kepada wanita yang bukan mahram dan di dalam permasalahan-permasalahan pakaian, perhiasan dan pintu-pintu larangan dan kemubahan serta yang semisalnya.[5]

Diterjemahkan oleh Ahmad Zainuddin

Sabtu, 20 Sya’ban 1434H, Dammam KSA



[1] QS. An Nur; 31.

[2] Lihat Ibnu ‘Abididin, 5/239, kitab Asna Al Mathalib,3/112, Al Bujairami ‘ala Al Khathib, 3/314, Al Qurthubi, 12/234, kitab Al Mughni, 6/561-562 dan hadits:  « لاَ يَدْخُلَنَّ هَؤُلاَءِ عَلَيْكُنَّ » diriwayatkan oleh Al Bukhari (lihat kitab fath Al Bari 10/333 –cet As Salafiyyah).

[3] Hadits: « أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ » . diriwayatkan oleh AL Bukhari (lihat Kitab Fath Al Bari, 10/333-cet As Salafiyyah).

[4] Lihat Tabsirat Al Hukkam atas Hamisy Fath Al ‘Aliyy Al Malik, 2/260, kitab Fath Al Bari, 10/332.

[5] Lihat kitab Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 10/65.