Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Kunci Sukses Berumah Tangga (Bag 5)

Antara Suami dan Istri Suka memaafkan.

Memaafkan adalah perintah Allah di dalam Al Quran:

{وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [النور: 22]

Artinya: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." QS. An Nur: 22.

Ayat ini diturunkan dalam menceritakan kisah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu, yang telah bersumpah untuk tidak lagi membiayai dan menafkahi Misthah bin Utsatsah radhiyallahu 'anhu, karena Misthah radhiyallahu 'anhu termasuk orang yang mengatakan berita dusta tentang Aisyah radhiyallahu 'anha.

Dan ketika Allah Ta'ala telah menurunkan ayat yang menjelaskan tentang keterlepasan Aisyah radhiyallahu 'anha dari segala tuduhan yang telah dibuat-buat kaum munafik tersebut, kemudian keadaan kaum muslim menjadi tenang kembali, Allah Ta'ala memberikan taubat-Nya kepada kaum beriman yang ikut berkata dalam berita ini, dan didirikan pidana atas yang berhak mendapatkan hukuman atas perbuatannya.

Maka Allah dengan kemuliaan dan kemurahan-Nya, mengajak Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu untuk memaafkan Misthah radhiyallahu 'anhu, yang juga merupakan anak bibi beliau, seorang miskin yang tidak mempunyai harta kecuali hanya dari pemberian Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu saja, dan  Misthah radhiyallahu 'anhu termasuk dari kaum Muhajirin serta telah diterima taubatnya oleh Allah Ta'ala, apalagi Misthah radhiyallahu 'anhu sudah mendapatkan hukuman pidana atas perbuatannya tersebut. Lalu apa sikap Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu akhirnya? Mari perhatikan hadits berikut:

Selanjutnya

Kunci Sukses Berumah Tangga (Bag. 4)

Saling Menjaga Lisan antar suami istri

Menjaga Lisan adalah asal hukum pada lisan, artinya lisan asalnya dijaga daripada berbicara kecuali yang baik. Apabila ada perkataan yang mubah, bukan haram atau dosa, maka lebih baik tidak perlu berkata-kata daripada menghantarkan kepada kepada perkataan yang haram atau makruh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « َمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau diam.” HR. Bukhari dan Muslim.

Berkata An Nawawi rahimahullah:

اعْلَمْ أنَّهُ يَنْبَغِي لِكُلِّ مُكَلَّفٍ أنْ يَحْفَظَ لِسَانَهُ عَنْ جَميعِ الكَلامِ إِلاَّ كَلاَماً ظَهَرَتْ فِيهِ المَصْلَحَةُ ، ومَتَى اسْتَوَى الكَلاَمُ وَتَرْكُهُ فِي المَصْلَحَةِ ، فالسُّنَّةُ الإمْسَاكُ عَنْهُ ، لأَنَّهُ قَدْ يَنْجَرُّ الكَلاَمُ المُبَاحُ إِلَى حَرَامٍ أَوْ مَكْرُوهٍ ، وذَلِكَ كَثِيرٌ في العَادَةِ ، والسَّلاَمَةُ لا يَعْدِلُهَا شَيْءٌ .

Artinya: “Ketahuilah, bahwa wajib diketahui oleh setiap orang yang dibebani tanggung jawab untuk beribadah, agar menjaga lisannya dari seluruh perkataan kecuali perkataan yang terlihat ada kebaikan di dalamnya, dan kapan perkataan dalam kepentingannya sama, maka sunnahnya adalah menahannya, karena terkadang perkataan yang mubah menghantarkan kepada yang haram atau makruh, dan itu banyak terdapat di dalam kebiasaan sedangkan keselamatan tidak ada sesuatupun yang menandinginya.” Lihat kitab Riyadh Ash Shalihin, karya An Nawawi.

Berkata Al Mubarakfury rahimahullah:

ومعنى الحديث أن المرء إذا أراد أن يتكلم فليفكر قبل كلامه فإن علم أنه لا يترتب عليه مفسدة ولا يجر إلى محرم ولا مكروه فليتكلم. وإن كان مباحا فالسلامة في السكوت لئلا يجر المباح إلى المحرم والمكروه.

Artinya: “Makna hadits adalah bahwa seseorang jika ingin berbicara maka hendaknya ia berfikir sebelum pembicaraannya, jika ia mengetahui bahwa perkataannya tidak mendatangkan keburukan dan tidak menghantarkan kepada keharaman dan kemakruhan, maka hendaknya dia berbicara, dan jika perkataan itu mubah, maka keselamatan terdapat pada sikap diam, agar perkataan yang mubah tidak menghantarkan kepada yang haram atau makruh.” Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi, karya Al Mubarakfury.

Selanjutnya

Kunci Sukses BerumahTangga (Bag. 3)

Tolong Menolong dalam ketaatan dan Kebaikan

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Salah Prinsip yang sangat mendasar dalam ajaran Islam adalah salaing tolong menolong di dalam kebaikan dan ketakwaan, tetapi tidak di dalam keburukan dan dosa.

Allah Ta’ala berfirman:

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ} [المائدة: 2]

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” Qs. Al Maidah: 2.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

يأمر تعالى عباده المؤمنين بالمعاونة على فعل الخيرات، وهو البر، وترك المنكرات وهو التقوى، وينهاهم عن التناصر على الباطل.

Artinya: “Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk saling tolong menolong dalam kebaikan yaitu Al Birr, dan meninggalkan kemungkaran yaitu takwa dan melarang mereka untuk menolong dalam kebatilan dan dalam dosa dan yang diharamkan.” Lihat tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.

Berkata Syeikh Abdurrahman Bin Nashir As Sa’dy rahimahullah:

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى} أي: ليعن بعضكم بعضا على البر. وهو: اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه، من الأعمال الظاهرة والباطنة، من حقوق الله وحقوق الآدميين.

والتقوى في هذا الموضع: اسم جامع لترك كل ما يكرهه الله ورسوله، من الأعمال الظاهرة والباطنة. وكلُّ خصلة من خصال الخير المأمور بفعلها، أو خصلة من خصال الشر المأمور بتركها، فإن العبد مأمور بفعلها بنفسه، وبمعاونة غيره من إخوانه المؤمنين عليها، بكل قول يبعث عليها وينشط لها، وبكل فعل كذلك.

“Hendaknya sebagian kalian menolong sebagian yang lain dalam al birr, dan ia adalah sebuah kata yang mencakup setiap apa yang dicintai oleh Allah dan diridha-Nya berupa amalan-amalan yang lahir dan batin dari hak-hak Allah dan manusia. Takwa di dalam tempat ini adalah: kata yang mencakup untuk meninggalkan setiap apa yang dibenci oleh Allah dan rasul-Nya baik berupa amalan yang zhahir atau yang batin,  dan setiap sifat dari sfat-sifat kebaikan yang diperintahkan untuk mengerjakannya dan setiap keburukan dari keburukan-keburukanyang diperintahkan untuk meninggalkannya, maka sesungguhnya seorang hamba diperintahkan untuk melakukannya sendiri dan memberikan pertolongan kepada saudara-saudaranya kaum mukmin dalam melaksanakannya dengan memberikan ucapan dan perbuatan yang memotivasi dan menyemangatinya untuk mengerjakan."

Lebih lanjut

Kunci sukses Berumah Tangga (Bag. 2)

Suami atau Istri Harus Meniatkan Ibadah

Salah satu kunci sukses berumah tangga adalah, baik suami atau istri ketika melaksanakan kewajiban berumah tangga harus meniatkan bahwa itu adalah ibadah kepada Allah Ta’ala yang diharapkan pahala darinya.

Jika diniatkan ibadah maka semuanya akan menjadi ringan, semuanya akan menjadi mudah dan semuanya akan menjadi semangat dilakukan.


Istri meniatkan ibadah ketika melayani suaminya

عن معاذ أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال :لو تعلم المرأة حق الزوج لم تقعد ما حضر غداؤه و عشاؤه حتى يفرغ منه .

Artinya: “Mu’adz radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau seorang peremuan mengetahui hak suami, niscaya ia tidak akan pernah duduk selama waktu makan siang dan malamnya sampai ia selesai darinya.” HR. Ath Thabrany dan disahihkan oleh Al Albani di dalm kitab Shahih Al Jami’, no. 5259.

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- بِابْنَةٍ لَهُ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ ابْنَتِى قَدْ أَبَتْ أَنْ تَزَوَّجَ فَقَالَ لَهَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- :« أَطِيعِى أَبَاكِ ». فَقَالَتْ : وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لاَ أَتَزَوَّجُ حَتَّى تُخْبِرَنِى مَا حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ قَالَ :« حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ أَنْ لَوْ كَانَتْ لَهُ قُرْحَةٌ فَلَحِسَتْهَا مَا أَدَّتْ حَقَّهُ ».

Artinya: “Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Seorang lelaki datang menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sambil membawa anak perempuannya, ia mengadu: “Wahai Rasulullah, ini anak perempuanku, ia enggan untuk menikah?”, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Taatilah bapakmu”, anak perempuan itu berkata: “Demi Yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak akan menikah sampai engkau memberitahukanku , apakah hak suami atas istrinya?” beliau menjawab: “Hak suami atas istrinya adalah jikalau suaminya memiliki luka penuh nanah lalu ia menjilatnya maka belum ia tunaikan hak suaminya itu.” HR. Al Hakim dan Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 3148,

Al Munawi menjelaskan bahwa “jikalau suaminya memiliki luka penuh nanah lalu ia menjilatnya”:

بلسانها غير متقذرة لذلك

Dengan lisannya tanpa ada rasa jijik untuk melakukannya.” Lihat kitab At taisir Bi Syarh Al jami’ Ash Shaghir.

Selanjutnya

Kunci Sukses Berumah Tangga (Bag 1)

Contoh Wanita yang Tidak Taat Kepada Suami

Jika seorang Istri memahami dan mempelajari hal-hal yang merupakan ketidak taatan kepada suami, maka ini adalah salah satu kunci sukses berumahtangga.

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على بينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Kawanku pembaca…

Allah telah menyatakan bahwa seorang wanita ditakutkan berbuat nusyuz terhadap suaminya.

{وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا. وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا} النساء:34-35

Artinya: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” QS. An Nisa’: 34-35.

Arti Nusyuz

Berkata Al Ashfahany:

ونشوز المرأة بغضها لزوجها ورفع نفسها عن طاعته وعينها عنه إلى غيره

Nusyuznya seorang istri adalah ia membuat suaminya marah, melepaskan ketaatan kepada suaminya, memalingkan matanya dari suaminya kepada yang lainnya.” Lihat kitab Al Mufradat fi Gharib Al Quran.

Berkata Syihabuddin Al Mishry:

أي معصيتهن وتعاليهن عما أوجب الله عليهن من طاعة الأزواج والنشوز بغض المرأة للزوج أو الزوج للمرأة

Nusyuznya mereka (para istri) yaitu maksiat dan kesewenang-wenangan mereka (para istri) dari apa yang telah Allah wajibkan atas mereka berupa taat terhadap para suami, dan dapat dikatakan juga nusyuz adalah istri membuat marah suami atau sebaliknya.” Lihat kitab At Tibyan Tafsir Gharib Al Quran, karya Syihabuddin Al Mishry.

Dua ayat di atas menunjukkan bahwa akan terjadinya konflik di dalam rumah tangga, baik besar atau kecil. Termasuk nusyuz adalah istri tidak taat kepada suami.

Lebih lanjut

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung