Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Setiap Komentar akan Dimintai PertanggungJawaban oleh Allah Taala

 بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Di era jejaring sosial seperti sekarang ini, kiranya sangat diperlukan untuk mengingatkan diri pribadi khususnya dan kaum muslim secara umum beberapa hal, terutama yang berkaitan dengan pemberian komentar:

Selengkapnya...

Keutamaan Hari 'Asyura Dan Bulan Allah Muharram

 بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد خاتم الأنبياء وسيد المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد:   

Sesungguhnya bulan Allah bulan Al Muharram adalah bulan yang agung dan penuh berkah, ia adalah bulan yang pertama dalam setahun dan salah satu dari bulan-bulan suci, yang mana Allah berfirman tentangnya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [التوبة : 36]

Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menzhalimi diri kamu dalam bulan yang empat itu...". QS. at Taubah: 36

Selengkapnya...

Inilah yang Terbaik Untukmu Meskipun itu Terkadang Pahit

 بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Setiap hari ahad ada kunjungan rutin dakwah ke lembaga pemasyarakatan umum kota Dammam Arab Saudi,  ketika itu saya melihat tiga orang anak di bawah sepuluh tahun, ingin masuk membesuk, saya agak heran dan kasihan dengan ketiga anak tersebut.

Teman saya ustadz dari Negara Filipina bercerita tentang kisah tiga anak tersebut, bahwa kedua orangtua tiga anak tersebut berasal dari Filipina dan bekerja di Arab Saudi, lalu mereka mendatangkan pekerja rumah tangga wanita yang juga berasal dari Filipina, sang istri cemburu kepada PRT tersebut, yang akhirnya menyebabkan menusukkan gunting ke PRT tersebut dan menyebabkan PRT tersebut mati, lalu sang suami kalap, maka akhirnya mereka mengguburkan mayat PRT tersebut di dalam kamar mandi setelah mereka potong-potong badan PRT tersebut.

Dua tahun berlalu, tidak ada seorangpun yang tahu dengan kejadian itu kecuali mereka berdua, setelah berlibur ke Filipina dalam rangka cuti, mereka pindah apartemen dan ketika itulah pemilik apartemen melihat ada sesuatu yang aneh di dalam kamar mandi.

Singkat cerita, ketahuanlah apa yang telah terjadi dan ditangkap kedua orang tersebut dan dimasukkan ke dalam penjara, sedangkan ketiga anaknya dimasukkan ke dalam tempat khusus pengasuhan untuk anak-anak yang disediakan di Arab Saudi.

Ternyata, setelah dua tahun berlalu, Allah Ta'ala mentakdirkan si suami dan istri tersebut masuk Islam dan anak-anaknya di dalam tempat pengasuhan sudah hafal banyak dari surat Al Quran dan mampu membaca Al Quran dengan fasih dan juga berbahasa Arab. Walhamdulillah…

Saya berdoa semoga mereka sekeluarga istiqamah dalam Iman sampai ajal menjemput. Allahumma amin.

Selengkapnya...

Inilah Penyebab Selain Allah Taala Tidak Berhak dan Tidak Benar Untuk Diibadahi

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد

{ ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ } [الحج: 62]

Artinya: “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” QS. AL Hajj: 62.
Berkata Ibnu Jarir Ath Thabary rahimahullah:

عني تعالى ذكره بقوله(ذلكَ) هذا الفعل الذي فعلت من إيلاجي الليل في النهار، وإيلاجي النهار في الليل، لأني أنا الحقّ الذي لا مثل لي ولا شريك ولا ندّ، وأن الذي يدعوه هؤلاء المشركون إلها من دونه هو الباطل الذي لا يقدر على صنعة شيء، بل هو المصنوع، يقول لهم تعالى ذكره: أفتتركون أيها الجهال عبادة من منه النفع وبيده الضر وهو القادر على كل شيء وكلّ شيء دونه، وتعبدون الباطل الذي لا تنفعكم عبادته

Artinya: “Yang dimaksudkan Allah Ta’ala dalam Firman-Nya (yang demikian itu), ini perbuatan yang Aku Kerjakan berupa memasukkan malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam, karena sesungguhnya Aku adalah yang Haq (benar), Yang tidak ada semisal untukku, Yang tidak ada sekutu dan semisal dan bahwa yang kalian disembah oleh kaum musyrik sebagai sembahan selain-Nya adalah sembahan yang batil yang tidak mampu untuk membuat sesuatu, bahkan ia adalh buatan, Allah Ta’ala berkata kepada mereka: “Wahai orang-orang bodoh, Apakah mereka meninggalkan ibadah dari yang dari-Nya manfaat dan ditangan-Nya bahaya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, segala sesuatu di bawah-Nya, kalian menyembah yang batil yang tidak memberikan manfaat kepada kalian dalam beribadah kepadannya.” Lihat Tafsir Ath Thabari pada tafisr ayat di atas

Selengkapnya...

Fatwa-Fatwa Tentang Merokok

Pertanyaan: 
Apakah ada dalil yang mengharamkan rokok ketika masa hidup Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam?
 
Jawaban: 
Tidak ada di dalamnya dengan sebuah nama yang khusus, akan tetapi rokok termasuk dari al-khaba-its, jadi masuk dalam keumuman Firman Allah ta'ala:
 
{وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ} [الأعراف: 157]
 
Artinya: "Dan mengharamkan bagi mereka al khaba-its (segala  yang  buruk)".

Dan rokok membahayakan, oleh kareba itu ia masuk ke dalam hadits:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
 
Artinya: "Tidak ada bahaya dan tidak membuat bahaya."

Dan menafkahkan harta di dalam suatu perkara yang buruk lagi berbahaya adalah haram, karena ia adalah bentuk dari sikap pemborosan, maka masuk ke dalam keumuman Firman Allah Ta'ala:
 
 
 
 
 
 
 
{إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا } [الإسراء: 27]

Artinya: "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."
 
Dan merokok termasuk menghambur-hamburkan harta padahal Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang untuk menghambur-hamburkan harta"
Wa billahit taufiq, semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada nabi kita Muhammad, para kerabat dan shahabatnya.
 
 
 

Pertanyaan: 
"Ketika kita menasehati para pemilik warung untuk tidak atau haram menjual rokok sebagaimana yang kalian fatwakan akan hal itu, mereka menjawab: "Jikalau haram maka niscaya mereka (para ulama) akan melarangnya, jadi bagaimana kita menjawab mereka?"

Jawaban: 
"Jawabannya mudah, kita katakan kepada mereka: "Apakah sumber pensyari'atan? Perbuatan manusia ataukah Al Quran dan Sunnah? Sesungguhnya sumber pensyari'atan adalah Al Quran dan Sunnah, jika Al Quran dan Sunnah telah menunjukkan akan keharaman sesuatu maka perbuatan manusia tidak menjadi ukuran dan bukanlah perbuatan mereka sebagai hujjah (sandaran hukum), tidak mungkin sama sekali seorang manusia mengganti hujjah Allah dengannya pada hari kiamat kelak dengan seperti ini, hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:

{ وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ} [القصص: 65]
 
Artinya: "Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: "Apakah jawabanmu kepada para rasul?"
 
Allah Ta'ala tidak mengatakan: "Apakah yang kalian sepakati dengan masyarakat, Allah Ta'ala berfirman:

{ فَعَمِيَتْ عَلَيْهِمُ الْأَنْبَاءُ يَوْمَئِذٍ فَهُمْ لَا يَتَسَاءَلُونَ } [القصص: 66]

Artinya: "Maka gelaplah bagi mereka segala macam alasan pada hari itu, karena itu mereka tidak saling tanya menanya."

Gelaplah bagi mereka segala mereka, tidak ada satu orangpun dari mereka bisa menjawab dan bertanya kepada selainnya, jikalau perbuatan manusia hujjah   maka niscaya perkataan orang-orang kafir:

{بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ } [الزخرف: 22]

Artinya: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama."
 
Akan sebagai hujjah mereka diberikan udzur dengannya, maka tegakkanlah hujjah bagi perokok jika ia mendapatkan petunjuk maka hal tersebut untuk dirinya sendiri dan jika ia sesat maka sesungguhnya ia telah sesat sendiri di atasnya, Allah Ta'ala berfirman kepada rasil-Nya shallallahu 'alaihi wasallam:

{فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ (22) إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ (23) فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ (24)} [الغاشية: 21 24]

Artinya: "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar."

Pertanyaan: 
Fadhiat Asy Syeikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah, anggota majelis ulama yang terdahulu di Negara Arab Saudi. Saya berharap dari syaikh yang mulia sebuah penjelasan tentang hukum merokok dan syisyah beserta dalilnya?

Jawaban: 
Mengisap rokok haram, begitu pula syisyah. Dalil akan hal ini, adalah Firman Allah Ta’ala:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا } [النساء: 29]

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu."

{وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ } [البقرة: 195]

Artinya: "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

Dan telah tetap di dalam ilmu kedokteran bahwa hal-hal ini adalah berbahaya dan jika berbahaya maka hal tersebut haram.

Dalil lain adalah Firman Allah Ta'ala:

{ وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا} [النساء: 5]
 
Artinya: "Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik."

Allah telah melarang untuk memberikan harta kita kepada orang-orang yang bodoh karena mereka itu menghambur-hamburkan dan merusaknya, tidak diragukan lagi bahwa mengeluarkan harta untuk membeli rokok dan syisyah adalah penghamburan dan pengrusakan akan harta tersebut maka akhirnya dilarang akan hal tersebut, dengan cara pengambilan inti sari dari ayat ini, sedangkan dari sunah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang untuk menghambur-hamburkan harta dan pengeluaran harta untuk menghsiap hal-hal ini (rokok dan syisyah) karena ia termasuk penghamburan harta dan juga karena sabda Nabi Muhammad shallallahu 'aliaihi wasallam:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Artinya: "Tidak ada bahaya dan tidak membuat bahaya."
 
Dan mengkonsumsi hal-hal ini pasti menyebabkan bahaya dan karena hal-hal ini menyebabkan manusia secara pasti ketergantungan akannya, jika kehilangan maka dadanya akan sesak dan dunia terasa sempit, jadi ia telah memasukkan ke dalam dirinya hal-hal yang sebenarnya ia tidak membutuhkannya.

Pertanyaan: 
Fadhilat Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah ditanya: "Saya pernah bekerja akan sebuah pekerjaan yang menyusahkan sekali dan tidak sanggup untuk meneruskannya lalu saya muali mencari akans ebuah pekerjaan yang lebih ringan dan saya tidak mendapatkannya kecuali sebuah pekerjaan di sebuah perusahaan pabrik rokok dan say sekarang bekerja semenjak beberpa bulan dan untuk pengetahuan saya tidak menghisap rokok atau ataupun yang sejenis dengannya, pertanyaannya; apa hukum gaji yang saya dapatkan hasil dari pekerjaan ini apakah halal atay haram dan saya ikhlash dalam pekerjaan saya, wal hamdulillah?"
 
Jawaban:  
Tidak halal bagimu untuk bekerja di dalam perusahaan yang membuat rokok, karena pembuatan rokok dan memperdagangkannya adalah jual beli yang diharamkan, dan bekerja di perusahaan yang membuatnya adalah merupakan pemberian pertolongan atas sesuatu yang haram ini, padahal Allah Ta'ala telah berfirman di dalam Al Quran:

{ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ } [المائدة: 2]

Artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran."

Jadi, tetapnya anda di perusahaan ini adalah diharamkan dan gaji yang anda dapatkan dari pekerjaanmu adalah juga haram, dan hendaklah anda bertaubat kepada Allah dan meninggalkan pekerjaan di perusahaan ini, dan gaji yang cukup yang halal lebih baik daripada yang banyak dan haram, karena seseorang jika menghasilkan harta haram maka Allah tidak akan memberikan berkah untuknya di dalam harta tersebut dan jika anda bershadaqah dengannya maka Allah tidak akan menerimanya dari anda dan jika ia meninggalkannya sepeninggalnya maka dia akan mendapatkan dosanya dan para ahli warisnya setelahnya akan mendapatkan keuntungannya. Dan ketahuilah bahwa telah benar bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ

Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Allah adalah Maha Baik tidak menerima kecuali yang baik dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul."

Allah Ta'ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51]

Artinya: "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Dan Allah juga berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ} [البقرة: 172]

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah."

Lalu beliau menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalan panjang dengan keadaan rambut yang tidak terurus, penuh debu, mengulurkan kedua tangannya menghadap ke langit, sambil berkata:"Ya Rabb, ya rabb", (akan tetapi) makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram dan diberi makanan dengan sesuatu yang haram, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Artinya: "Maka bagaimanakah akan dikabulkan untuk orang itu?"

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menjauhkan untuk dikabulkannya bagi orang ini yang telah mengerjakan sebab dikabulkannya doa yang demikian itu karena makanan, minuman dan diberi makanan dengan sesuatu yang haram, maka jika seorang yang berdoa dengan adanya sebab-sebab dikabulkannya doa maka jauh untuk dikabulkan oleh Allah baginya karena perkara ini adalah sesuatu yang haram baginya, oleh sebab itu wajib bagi seorang manusia untuk berhati-hati dari makan harta yang haram dan harus menjauhi akannya.

{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (3)} [الطلاق: 2، 3]

Artinya: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar". Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."

{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا} [الطلاق: 4]

Artinya: "Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."

Maka, nasehat saya bagimu wahai saudaraku, hendaklah kamu bertakwa keapda Allah Azza wa Jalla, dan keluarlah dari perusahaan ini dan carilah rizqi yang halal semoga Allah selalu memberkahimu di dalam pekerjaan tersebut".

Pertanyaan: 
Apakah gaji orang-orang yang menjual majalah-majalah porno, rokok, khamr halal atau haram?

Jawaban: 
Bekerja di toko-toko atau tempat-tempat yang dijual di dalamnya rokok dan majalah-majalah porno dan khamr adalah haram karena ia adalah termasuk dari khaba-its (hal-hal yang buruk), dan penghasilannya adalah khabits dan karena perkara yang pokoknya diharamkan maka haram diperjual belikan serta mengambil manfa'at dari harganya, oleh karena itu tidak halal mengambil gaji yang di dapatkan dari bekerja di toko-toko ini dan di tempat-tempat yang menjual hal-hal yang diharamkan ini, karena di dalamnya terdapat memudahkan penyebarannya dan membahayakan orang-orang di dalam agamanya dan dunianya dan memberikan pertolongan terhadap kebatilan dan dosa, padahal Allah telah berfirman:
 
 
 

{ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [المائدة: 2]
 
Artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."

Dan Imam Ahmad telah meriwayatkan di dalam kitab Musnadnya dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwasanya beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لُعِنَتِ الْخَمْرُ عَلَى عَشَرَةِ أَوْجُهٍ بِعَيْنِهَا وَعَاصِرِهَا وَمُعْتَصِرِهَا وَبَائِعِهَا وَمُبْتَاعِهَا وَحَامِلِهَا وَالْمَحْمُولَةِ إِلَيْهِ وَآكِلِ ثَمَنِهَا وَشَارِبِهَا وَسَاقِيهَا

Artinya: "Khamar dilaknat dari sepuluh sisi; dilaknat khamr akan dzatnya, peminumnya, penuangnya, penjualnya, pembelinya, pengolahnya, yang minta diolah, pembawanya dan yang minta dibawakan kepadanya serta pemakan harganya." Hadits riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya.

Dan bagi siapa yang bekerja di toko-toko yang disebutkan hendaklah ia melepasakan dari harta-harta yang ada padanya dari bekerja di dalamnya dengan cara menafkahkannya di sisi-sisi kebaikan dan kebajikan, seperti memberikan kepada orang-orang fakir, miskin jika ia mampu melakukan hal demikian, seraya bertaubat kepada Allah Ta'ala, sebagimana harus baginya untuk meninggalkan pekerjaan ini dan mencari akan pekerjaan yang hasilnya halal bersih, dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena (mengharapkan pahala) Allah maka Allah akan menggantikannya yang lebih baik dari hal itu, Allah Ta'ala berfirman:

{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (3)} [الطلاق: 2، 3]

Artinya: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar". Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."

Dan Allah berfirman:

{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا } [الطلاق: 4]

Artinya: "Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."

Wabillahit taufiq, semoga shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad, kepada para kerabat dan shahabat beliau".

Pertanyaan: 
"Apakah hukum membeli saham-saham yang dimiliki perusahaan rokok dan yang sehukum dengannya, halal atau haram dan apakah wajib untuk tidak membeli atau tidak?"

Jawaban: 
Mengenai transaksi harta dan perdagangan atas saham-saham perusahaan-perusahaan rokok maka hal tersebut tidak diperbolehkan menurut syari'at dan tidak halal bagi seorang muslim untuk bermu'amalah di dalamnya, karena perusahaan-perusahaan ini bergerak di bidang pembuatan tembakau dan apa yang dihasilkan darinya, penjualannya, berdagang di dalamnya, dan tembakau telah terbukti  secara pasti berbahaya bagi manusia dengan bahaya yang dapat membinasakan jiwa secara menyeluruh atau sebagian dan dapat membinasakan harta sebagaimana telah ditegaskan hal tersebut oleh para peneliti dan ahli dari kedokteran dari kaum muslimin dan selain mereka dari organisasi kesehatan dunia dan setiap yang berbahaya hukumnya haram dan dilarang dengan kesepakatan ulama Islam, berdasarkan firman Allah Ta'ala:

{وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} [البقرة: 195]

Artinya: "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

Dan Firman Allah Ta'ala:

{ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا } [النساء: 29]

Artinya: "Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu."

Dan sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:

لا ضَررَ ولا ضرارَ  

Artinya: "Tidak ada bahaya dan tidak membahayakan"

Dan telah terbukti setelah penelitian dan fakta bahwa tembakau lebih berbahaya bagi manusia daripada khamr dan segala yang memabukkan yang diharamkan di dalam agama Islam secara pasti pelarangannya dan dengan cara ijma', maka diharamkan tembakau karena bahayanya seperti khamr dengan cara mengqiyaskan atasnya sebagai tambahan atas dalil-dalil yang mengharamkan secara umum dan kebutuhan yang berkaitan dengannya dan yang telah kami tunjukkan sebelumnya, telah keluar dari majelis fatwa Mesir sebuah fatwa syar'iyyah yang resmi atas keharaman rokok dan pemakaian tembakau dan yang terambilkan darinya, karena hal tersebut membinasakan manusia dan harta dan karena di dalam syari'at Islam (ada sebuah kaedah) sarana-sarana mengambil hukum tujuan maka seluruh sarana yang menunjukkan kepada sesuatu yang haram hukumnya haram, perusahan-perusahaan pabrik rokok adalah sarana-sarana yang diharamkan karena hal terseebut menghasilkan dan dipergunakan di dalam sarana-sarana materi yang dipakai oleh manusia membahayakan diri dan hartanya dengan bahaya yang benar-benar nyata, oleh sebab itulah membeli saham-saham perusahaan-perusahaan jual beli tembakau dan menjualnya adalah haram dan tidak sah bergelut di dalamnya serta wajib untuk tidak menjual atau membelinya."

*) Diterjemahkan oleh: Ahmad Zainuddin, Ahad, 23 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

Awas ... Maksiat Mengajak Teman-Temannya Yang Lain!

كان شداد بن أوس رضي الله عنه يقول: "إذا رأيت الرجل يعمل بطاعة الله فاعلم أن لها عنده أخوات, وإذا رأيت الرجل يعمل بمعصية الله, فاعلم أن لها عنده أخوات, فإن الطاعة تدل على أختها وإن المعصية تدل على أختها (فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى)
 
Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu berkata: "Jika kamu melihat seorang yang mengerjakan ketaatan kepada Allah, maka ketahuilah bahwa ketaatan tersebut mendatangkan saudara-saudara lain (=ketaatan-ketaatan lain) baginya. Dan jika kamu melihat seorang yang mengerjakan maksiat kepada Allah, maka ketahuilah bahwa maksiat tersebut mendatangkan saudara-saudara (=maksiat-maksiat lain) baginya, karena sesungguhnya sebuah ketaatan menunjukkan kepada saudaranya (=ketaatan lainnya) dan sebuah maksiat  menunjukkan kepada saudaranya (=maksiat lainnya), Allah berifrman:
 
(فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى)
 
Artinya: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa". "Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)". "Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah". "Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup". "Serta mendustakan pahala yang terbaik". "Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar". QS. Al Lail: 5-10. Lihat kitab Al Mafshal fi fiqh Ad Da'wat Ila Allah, 3/79.
 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
 
وقال بعض السلف: من ثواب الحسنة الحسنة بعدها، ومن جزاء السيئة السيئةُ بعدها
 
Artinya: "Sebagian ulama salaf (terdahulu dari generasi shahabat, tabi'ien dan tabi'ut tabi'ien) berkata: "Termasuk dari ganjaran sebuah kebaikan adalah (mengerjakan)  sebuah kebaikan setelahnya, dan termasuk dari balasan kesalahan/dosa adalah (mengerjakan) kesalahan/dosa setelahnya."
 
والآيات في هذا المعنى كثيرة دالة على أن الله، عز وجل، يُجازي من قصد الخير بالتوفيق له، ومن قصد الشر بالخذلان.
 
Artinya: "Dan ayat-ayat di dalam makna ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla, memberikan ganjaran kepada siapa yang bermaksud melakukan kebaikan yaitu dengan memberikan taufik kepadanya dan kepada siapa yang bermaksud dengan mengerjakan keburukan yaitu dengan kehinaan". Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah
 
Ingin contohnya…
 
Perhatikan perkataan Syaikhul Islam rahimahullah berikut ini:
 
و " الْمَعَازِفُ " هِيَ خَمْرُ النُّفُوسِ تَفْعَلُ بِالنُّفُوسِ أَعْظَمَ مِمَّا تَفْعَلُ حُمَيَّا الْكُؤُوسِ فَإِذَا سَكِرُوا بِالْأَصْوَاتِ حَلَّ فِيهِمْ الشِّرْكُ وَمَالُوا إلَى الْفَوَاحِشِ وَإِلَى الظُّلْمِ فَيُشْرِكُونَ وَيَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ وَيَزْنُونَ . وَهَذِهِ " الثَّلَاثَةُ " مَوْجُودَةٌ كَثِيرًا فِي أَهْلِ " سَمَاعِ الْمَعَازِفِ " : سَمَاعِ الْمُكَاءِ وَالتَّصْدِيَةِ أَمَّا " الشِّرْكُ " فَغَالِبٌ عَلَيْهِمْ بِأَنْ يُحِبُّوا شَيْخَهُمْ أَوْ غَيْرَهُ مِثْلَ مَا يُحِبُّونَ اللَّهَ.
 
Artinya: "Dan Al Ma'azif (alat-alat yang mengeluarkan musik atau musik itu sendiri, lihat kitab Fath Al Bari, karya Ibnu Hajar dan Majmu' Fatawa syeikhul Islam-pent) adalah pemabuknya jiwa, dia berbuat kepada jiwa lebih dahsyat daripada apa yang diperbuat oleh cangkir-cangkir panas (khamr), jika mereka telah mabuk dengan suara-suara (nyanyian) maka akan masuk ke dalam diri mereka kesyirikan dan condong kepada perbuatan-perbuatan fahisyah (zina dan segala yang mendekatkannya-pent) dan kepada perbuatan zhalim, maka akhirnya mereka melakukan kesyirikan, membunuh jiwa yang telah diharamkan oleh Allah serta berzina. Dan tiga perkara ini banyak terdapat pada orang-orang yang suka mendengar  musik; mendengarkan siulan dan tepuk tangan, adapun perihal kesyirikan maka banyak terdapat pada mereka yaitu dengan mencintai syeikh mereka atau selainnya seperti mereka mencintai Allah Ta'ala. Lihat Majmu' Fatwa, 10/417.
 
Coba perhatikan…
 
Pertama mendengarkan musik, kemudian menyebabkan…
 
Kedua melakukan kesyirikan, kemudian menyebabkan…
 
Ketiga membunuh jiwa yang diharamkan untuk dibunuh, terakhir menyebabkan kepada…
Keempat berzina.
 
Makanya… awas… maksiat ngajak teman-temannya yang lain. Wallahu 'alam
 
Semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Amin.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Kamis, 19 Rabi'uts Tsani 1432 H, Dammam KSA

 

Orang Inilah Yang Istghfarnya Butuh Kepada Istighfar

Pertama, Istighfar itu Harus Selalu…
قَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ تَقِيُّ الدِّينِ أَحْمَد ابْنُ تَيْمِيَّة رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى:
فَالْعَبْدُ دَائِمًا بَيْنَ نِعْمَةٍ مِنْ اللَّهِ يَحْتَاجُ فِيهَا إلَى شُكْرٍ وَذَنْبٍ مِنْهُ يَحْتَاجُ فِيهِ إلَى الِاسْتِغْفَارِ وَكُلٌّ مِنْ هَذَيْنِ مِنْ الْأُمُورِ اللَّازِمَةِ لِلْعَبْدِ دَائِمًا فَإِنَّهُ لَا يَزَالُ يَتَقَلَّبُ فِي نِعَمِ اللَّهِ وَآلَائِهِ وَلَا يَزَالُ مُحْتَاجًا إلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ . وَلِهَذَا كَانَ سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَإِمَامُ الْمُتَّقِينَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَغْفِرُ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ
 
Artinya: "Syeikhul Islam Ahmad bin Taimiyyah rahimahullah berkata: "Seorang hamba selalu di antara sebuah nikmat dari Allah yang membutuhkan syukur di dalamnya, dan sebuah dosa yang membutuhkan istighfar di dalamnya, setiap dari dua perkara ini adalah termasuk perkara-perkara yang selalu menghampiri seorang hamba, dia masih bergumul di dalam nikmat dan anugerah Allah dan masih selalu membutuhkan kepada taubat dan Istighfar. Oleh karena inilah pemimpin keturunan Adam dan orang-orang bertakwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam beristighfar di setiap saat." (Majmu' fatawa, 10/88).
 
Kedua, Jangan istighfar yang butuh kepada istighfar
 
قال القرطبي رحمه الله: قال علماؤنا: الاستغفار المطلوب هو الذي يحل عقد الإصرار ويثبت معناه في الجنان، لا التلفظ باللسان. فأما من قال بلسانه: أستغفر الله، وقلبه مصر على معصيته فاستغفاره ذلك يحتاج إلى استغفار، وصغيرته لاحقة بالكبائر. وروي عن الحسن البصري أنه قال: استغفارنا يحتاج إلى استغفار.
 
Artinya: "Berkata Al Qurtuby rahimahullah: "Ulama kita berkata: "Istighfar yang semestinya adalah yang melepaskan ikatan-ikatan meneruskan (dosa), yang tetap maknanya di dalam hati bukan hanya ucapan lisan. Adapun yang mengatakan dengan lisan "astaghfirullah" sedangkan hatinya bertekad meneruskan maksiatnya, maka istighfarnya itu membutuhkan kepada sebuah istighfar (lain), dosa-dosa kecilnya (yang ia perbuat) akan menyusul kepada dosa besar. Diriwayatkan bahwa Al Hasan Al Bashry berkata: "Istighfar kita membutuhkan kepada Istighfar". Lihat Tafsir Al Qurthuby.
 

وقال النووي: وعن الفضيل بن عياض رضي الله تعالى عنه : استغفار بلا إقلاع توبة الكذابين.
 
 
 
Artinya: "An Nawawi rahimahullah: Al Fudahil bin Iyadh radhiyallahu 'anhu berkata: "Istighfar dengan tidak melepaskan maksiat adalah taubatnya para tukang dusta". Lihat kitab Al Adzkar, Karya An Nawawi.
 
قال المناوي: تنبيه سئل أحدهم أيهما أفضل: التسبيح والتهليل والتكبير أو الاستغفار؟ فقال: يا هذا الثوب الوسخ أحوج إلى الصابون منه إلى البخور، ولا بد من قرن التوبة بالاستغفار لأنه إذا استغفر بلسانه وهو مصر عليه فاستغفاره ذنب يحتاج للاستغفار ويسمى توبة الكذابين . انتهى.
 
Artinya: "Al Munawi rahimahullah berkata: "Perhatian, seorang ulama ditanya: "Manakah yang lebih utama: Bertasbih, bertahlil, bertakbir atau istighfar?", dia menjawab: "Wahai kamu, pakaian yang kotor lebih butuh kepada sabun daripada minyak wangi, dan taubat harus dibarengi dengan istighfar, karena jika dia beristighfar dengan lisannya padahal dia terus melakukan (dosa)nya, maka istighfarnya adalah dosa yang membutuhkan kepada istighfar dan dinamai dengan taubatnya para tukang dusta". Lihat Fath Al Qadir, karya Al Munawi. 
 
قال ابن رجب: فأفضل الاستغفار ما اقترن به تركُ الإصرار ، وهو حينئذ توبةٌ نصوح ، وإنْ قال بلسانه : أستغفر الله وهو غيرُ مقلع بقلبه ، فهو داعٍ لله بالمغفرة ، كما يقول : اللهمَّ اغفر لي ، وهو حسن وقد يُرجى له الإجابة ، وأما من قال : توبةُ الكذابين ، فمرادُه أنَّه ليس بتوبة ، كما يعتقده بعضُ الناس ، وهذا حقٌّ ، فإنَّ التَّوبةَ لا تكون مَعَ الإصرار.
 
Artinya: "Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "jadi, istighfar paling utama adalah yang dibarengi dengan meninggal sikap meneruskan (melakukan dosa), dan dialah yang disebut Taubat Nasuh, dan jika mengucapkan dengan lisannya: "Astaghfirullah, dan dai tidak melepaskan dengan hatinya, maka dia (seperti) orang yang berdoa kepada Allah meminta ampunan, sebagaimana dia mengucapkan: "Ya Allah ampunilah aku", ini baik dan diharapkan baginya pengabulan (atas doanya), adapun yang berkata: "Taubatnya para tukang dusta, maka maksudnya adalah bukan taubat sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang, dn ini adalah sebuha kebenaran, karena sesungguhnya taubat tidak akan terjadi dengan meneruskan (maksiat). Lihat Jami' Al Ulum wa Al Hikam, karya Ibnu Rajab.
 
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Jumat, 4 Jumadal Ula 1432 H, Dammam KSA 
 

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung