Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Let’s Go To The Real Tranquility

 بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Hidup di dunia selalu penuh resiko, permasalahan, tantangan, tugas, ujian…
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk seorang yang masih takut dengan resiko yang ia hadapi dalam hidupnya
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk menenangkannya dari problem yang ia hadapi…
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk melegakannya dari permasalahan yang ia hadapi…
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk melapangkan dari ujian, tantangan yang menyulitkan dan menghimpitnya…

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dunia adalah penjaranya mukmin dan surga seorang kafir.” HR. Muslim
Penjelasan Para Ulama tentang hadits:
Berkata An Nawawi rahimahullah:

معناه أن كل مؤمن مسجون ممنوع فى الدنيا من الشهوات المحرمة والمكروهة مكلف بفعل الطاعات الشاقة فاذا مات استراح من هذا وانقلب إلى ما أعد الله تعالى له من النعيم الدائم والراحة الخالصة من النقصان وأما الكافر فانما له من ذلك ما حصل فى الدنيا مع قلته وتكديره بالمنغصات فاذا مات صار إلى العذاب الدائم وشقاء الأبد

“Maknanya bahwa setiap orang beriman terpenjara terlarang di dunia dari syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan, dibebani dengan mengerjakan ketaatan yang sulit, maka jika ia mati niscaya ia tenang dari ini dan berpindah kepada apa yang telah Allah Ta’ala sediakan untuknya dari kenikmatan yang terus menerus dan ketentraman yang murni dari kekurangan, adapun orang kafir, maka sesungguhnya ia hanya memiliki dari hal itu apa yang ia dapatkan di dalam dunia, dengan kesedikitan dan tercampurnya dengan kekurangan-kekuranagn, dan jika ia mati, niscaya ia berpindah kepada siksa yang terus-menerus dan kesengsaraan abadi.”
Berkata Al Munawi rahimahullah:

لأنه ممنوع من شهواتها المحرمة فكأنه في سجن والكافر عكسه فكأنه في جنة

“Karena ia (orang beriman) terlarang dari syahwat yang diharamkan, maka seakan-akan ia (orang beriman) di dalam penjara, dan orang kafir sebaliknya, maka seakan-akan ia di dalam surga.” Lihat kitab At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shaghir, 2/24.
Dan inilah yang dipahami oleh beberapa ulama di kalangan terdahulu:
Hannad bin Sariy Al Kufi meriwayatkan:

عن أبي الدهماء قال كان أبو الدرداء يأخذ بلحيته ويقول برح الله اللحى متى الراحة منها قال فقيل متى الراحة منها قال إذا دخلنا الجنة

“Abu Ad Dahma’ berkata: “Abu Ad Darda’ senantiasa memegang jenggotnya dan berkata: “Semoga Allah mengangkat jenggot ini, kapankah saya tenang darinya?”, lalu beliau ditanya: “Kapan tenang darinya?”, beliau menjawab: “Jika kita masuk surga.” Lihat kitab Az Zuhud, karya Hannad bin Sary Al Kufy, 1/71.
Sanad cerita ini lemah karena di dalamnya terdapat Yazin bin Sinan At Tamimy, tetapi sebagian ulam dan para ahli dakwah bermudah-mudah dalam meriwayatkan perkataan ini.
Dan makna dari perkataan ini adalah bahwa Abu Ad Darda’ (jika shahih riwayatnya) berangan-angan lepas dari jenggot ini dan tidaklah lepas dari jenggot ini kecuali ketika masuk surganya Allah Ta’ala, sebagaimana sebuah hadits

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَهْلُ الْجَنَّةِ جُرْدٌ مُرْدٌ كُحْلٌ لاَ يَفْنَى شَبَابُهُمْ وَلاَ تَبْلَى ثِيَابُهُمْ »

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Penghuni Surga dalam bentuk rupa JURD (bersih dari rambut) dan MURD (tidak mempunyai bulu di pipinya/tidak ada jenggot), tidak berubah kemudaan mereka dan tidak hancur pakaian mereka.” HR. At Titmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih At Tirmidzi, 2539.

Cerita lain…
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya:

متى الراحةُ ؟

“Kapan ketenangan (itu hadir)?”, beliau menjawab:

 " عند أول قدم أضعها في الجنةِ ".

“Ketika pertama kali telapak kaki aku letakkan di dalam surga.” Lihat kitab Tahbaqat Al Hanabilah, 1/291.

Perkataan lain…
Berkata Umar bin Abdul Aziz rahimahullah:

  "لا مُستراح للعبد إلا تحت شجرة طوبى".

“Tidak ada tempat istirahat (/ketenangan) bagi seorang hamba kecuali di bawah pohon kebaikan (yaitu di dalam surga). Lihat kitab Akl Fawaid, hal: 68.
Dan ternyata ini semua ditunjukkan oleh Allah ta’ala di dalam Al Quran Al Karim:

{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ} [آل عمران: 185]

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” QS. Ali Imran: 185.

Selamat beraktifitas kembali, semoga sukses di dunia sebelum akhirat kawanku…
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Ahad, 26 Dzulhijjah 1433H, Dammam Arab Saudi

 

 

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung