Malunya Jadi Pendusta

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

Semua muslim insyaAllah sudah mengetahui bahwa Islam sangat mengharamkan berbohong atau berdusta, bahkan ia dikategorikan dosa besar.

Naah, ada cerita memalukan disebabkan karena berdusta dan berbohong,

Seorang bercerita kepada saya: “Aku dimintai oleh seseorang untuk menelpon temannya dan aku diberikan nomer telepon temannya tersebut, dan aku janjikan untuk membantunya menelepon temannya tersebut, kebetulan orang tersebut di sebuah tempat yang tidak disediakan dan tidak tersedia telepon disana, padahal ia sangat membutuhkan agar temannya datang ke tempatnya, setelah seminggu berlalu, permintaan tersebut aku abaikan, aku malas menelepon teman orang itu, dan ketika bertemu kembali dengan orang tersebut, ia bertanya kepadaku: “Sudah belum menelepon teman saya?”, aku menjawab: “Sudah aku telepon, dan ia berjanji akan datang dalam waktu dekat”, padahal sebenarnya belum aku telepon temannya itu. Orang tersebut berkata: “O begitu ya, tetapi mohon maaf, nomer telepon yang saya berikan itu salah, koq bisa nyambung ya?!?” Aku berkata di dalam hati: “Waduh celaka ini, ketahuan bohongnya.”

Setelah mendengar cerita tersebut, saya nasehat kepada orang tersebut agar jangan berdusta lagi setelah ini dan saya jadi teringat perkataan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu:

لأن يضعني الصدق – وقلما يضع – أحب إلي من أن يرفعني الكذب, وقلما يرفع

“Sungguh jika kejujuran menghinakanku –dan jarang sekali kejujuran menghinakan- lebih aku sukai daripada dusta mengangkatku, padahal jarang sekali dusta megangkat derajat seseorang.” Lihat kitab Adab Ad Dunya wa Ad Din, ditulis oleh AL MAwardi, 1/263.

Al Ahnaf bin Qais (72H) rahimahullah berkata:

اثنان لا يجتمعان أبداً: الكذب والمروءة.   

“Dua hal yang tidak terkumpul selamanya; “Dusta dan kehormatan harga diri”. Lihat kitab ‘uyun Al Akhbar, ditulis oleh IBnu Qutaibah, 2/32.

عنْ أَبِى الأَحْوَصِ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَقُولُ إِنَّ الْكَذِبَ لاَ يَصْلُحُ مِنْهُ جِدٌّ وَلاَ هَزْلٌ

“Abu Al Ahwash meriwayatkan, ia berkata: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya dusta tidak boleh darinya sungguh-sungguh atau bercanda.” Lihat kitab Musnad Imam Ahmad, 3973.

ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Ahad, 16 Rajab 1434H, Dammam KSA