Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Artikel DS

Apakah Anda Termasuk Sebaik-Baiknya Manusia ?

Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta'ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam.   

 

Pertama, tidak ingkar melunasi hutang
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أنه فَقَالَ « خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً » متفق عليه 

 
Artinya: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang." Muttafaqun 'alaih 
 
Kedua, belajar Al-Quran dan mengajarkannya 


عَنْ عُثْمَانَ - رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Artinya: "Ustman bin Affan radhiyallahu 'anhu berkata: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya." Hadits riwayat Bukhari.

 
Ketiga, yang paling diharapkan kebaikannya dan paling jauh keburukannya


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ عَلَى أُنَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ». قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ « خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ ...» رواه الترمذى
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallamberdiri di hadapan beberapa orang, lalu bersabda: "Maukah kalian aku beritahukan sebaik-baik dan seburuk-buruk orang dari kalian?" Mereka terdiam, dan Nabi bertanya seperti itu tiga kali, lalu ada seorang yang berkata: "Iya, kami mau wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sebaik-baik dan buruk-buruk kami," beliau bersabda: "Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan sedangkan keburukannya terjaga…" Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami' (no. 2603)  

Keempat, menjadi suami yang paling baik terhadap keluarganya 

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى 

 
Artinya: "Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah shallallau 'alaihi wasallam berasabda: "Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku." Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285). 
 
Kelima, yang paling baik akhlaqnya dan menuntut ilmu 


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «خَيْرُكُمْ إِسْلاَماً أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً إِذَا فَقِهُوا» رواه أحمد 
 
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaq jika mereka menuntut ilmu." Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami' (no. 3312) 

Keenam, yang memberikan makanan 


عَنْ حَمْزَةَ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ: فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ» رواه أحمد 

 
Artinya: "Hamzah bin Shuhaib meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu 'anhu yang berkata:"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan." Hadits riwayat Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami' (no. 3318) 

Ketujuh, yang panjang umur dan baik perbuatannya 


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه الترمذى

Artinya: "Abdullah bin Busr radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam"Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?"beliau menjawab: "Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya." Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib (no. 3363).


Kedelapan, yang paling bermanfaat bagi manusia 

عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ 

 
Artinya: "Jabir radhiyallau 'anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami' (no. 3289).

*) Ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad Zain, Islamic Cultural Center 1430 H, Dammam KSA

 

Adakah "kualat", "Pamali", Atau Pesimis Karena Sesuatu Dalam Islam?

Seringkali kita mendengar perkataan seseorang "awas... nanti kualat..." atau di daerah tertentu masyarakat mengenal dengan istilah "pamali." Ungkapan tersebut seringkali dihubungkan dengan suatu pekerjaan atau karena ada sesuatu yang dikait-kaitkan. Semua hal tersebut menjurus kepada sikap pesimistis dan mereka-reka suatu takdir yang hanya Allah berhak menentukan. Pembaca budiman, berikut untaian nasehat dari Al-Quran dan As-Sunnah untuk menjaga diri kita dari bahaya dosa terbesar yang paling tercela, kesyirikan. 


 
Yakin Hanya Allah Maha Mengatur & Bekuasa
Seorang muslim wajib meyakini dengan seyakin-yakinnya, tidak ada keraguan sedikitpun; bahwa tidak ada yang Mencipta, Mengatur dan Berkuasa kecuali Allah semata. Oleh sebab inilah, semua yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan izin dan kehendak Allah Ta’ala semata tiada sekutu baginya.
 
 
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [التغابن : 11]
 
Artinya: “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. At Taghabun: 11.
 
 
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
 
بأمر الله، يعني: عن قدره ومشيئته
 
Artinya: “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah,”maksudnya adalah dengan perintah Allah yaitu dengan takdir dan kehendak-Nya.” 
 
 
Faidah sangat bermanfaat dari Ibnu Katsir rahimahullah, beliau berkata:
 
{وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} أي: ومن أصابته مصيبة فعلم أنها بقضاء الله وقدره، فصبر واحتسب واستسلم لقضاء الله، هدى الله قلبه، وعَوَّضه عما فاته من الدنيا هُدى في قلبه، ويقينا صادقًا، وقد يخلف عليه ما كان أخذ منه، أو خيرًا منه.
 
 
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Maksudnya adalah Barangsiapa yang tertimpa musibah dan dia mengetahui bahwa itu dengan takdir dan ketetapan Allah, lalu dia bersabar, berharap pahala dan berserah kepada ketetapan Allah, maka; Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Dia akan menggantikan apa yang telah hilang darinya dari perkara duni, petunjuk di dalam hatinya, keyakinan yang benar, dan terkadang Allah menggantikan apa yang telah diambil darinya (akibat musibah tersebut), atau (bahkan) dengan yang lebih baik.” (Lihat kitab tafsir Ibnu katsirrahimahullah).
 
Yakin Atas Takdir Allah
Seorang muslim meyakini bahwa semua makhluk sudah ditakdirkan Allah Ta’ala dan takdirnya dituliskan di "Al Lauh Al Mahfuzh."
 
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ 
 
Artinya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” QS. Al Hadid: 22.
 
 
Hal ini juga sudah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضى الله عنهما قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ».
 
Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menulis takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi 50 ribu tahun.” HR. Muslim.
 
قَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ رضى الله عنه لاِبْنِهِ يَا بُنَىَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ. قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ ». يَا بُنَىَّ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّى »
 
Artinya: “Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata kepada anaknya: “Wahai anakku sayang, sungguh kamu tidak akan pernah mendapatkan rasa hakikat keimanan sampai kamu mengetahui bahwa apa yang sudah ditakdirkan untukmu, maka tidak akan pernah meleset darimu dan apa yang belum ditakdirkan untukmu maka tidak akan pernah kena terhadapmu, aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali Allah telah ciptakan adalah pena, lalu Allah berfirman: “Tulislah!” pena bertanya: “Wahai Rabbku, apa yang aku tulis,” Allah berfirman: “Tulislah, seluruh takdir segala sesuatu sampai hari kiamat,” Wahai anakku sayang sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meninggal di atas selain (keyakinan) ini maka dia bukan dariku.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’ no. 2018).
 
Awas Terjatuh Kepada Kesyirikan! 
Saudaraku pembaca…
 
Keyakinan thiyarah adalah kebiasaan Arab jahiliyyah dan bertentangan dengan agama Islam, karena bisa menghantarkan kepada kesyirikan yaitu meyakini ada yang mengatur, mencipta dan berkuasa selain Allah.Thiyarah adalah merasa bernasib sial karena melihat atau mendengar sesuatu.
 
Perhatikan asal muasal keyakinan thiyarah yang dilakukan orang Arab jahiliyyah, berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah:
 
وأصل هذا أنهم كانوا يزجرون الطير والوحش ويثيرونها فما تيامن منها وأخذ ذات اليمين سموه سانحا وما تياسر منها سموه بارحا وما استقبلهم منها فهو الناطح وما جاءهم من خلفهم سموه القعيد فمن العرب من يتشاءم بالبارح ويتبرك بالسانح ومنهم من يرى خلاف ذلك
 
Artinya: “Dan asal hal ini adalah mereka menghalau dan menggerakkan burung dan binatang; kapan dia pergi ke kanan dan menuju arah kanan maka mereka menamakannya "As Sanih" dan kapan pergi ke kiri dan mengambil arah kiri maka mereka menamakannya "Al Barih." Dan apa yang datang dari depan maka dinamakan "An Natih," dan apa yang datang dari belakang mereka namakan "Al Qa’id," maka sebagian orang Arab ada yang pesimis dengan burung "Al Barih" dan mengambil berkah dengan "As Sanih" dan di antara mereka ada yang berpendapat sebaliknya.” (Lihat kitab Miftah Dar As Sa’adah).
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meniadakan keyakinan thiyarah dan semisalnya;
 
عن أَبَي هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ. رواه البخاري و مسلم
 
Artinya: " Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:"Tidak ada 'adwa, thiyarah, hammah, Shofar dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).
 
'Adwa adalah keyakinan penularan penyakit dengan sendirinya tanpa kehendak dan takdir Allah Ta'ala.Thiyarah berarti merasa bernasib sial karena melihat burung, binatang atau apapun. Hammah yaitu keyakinan jika burung hantu hinggap di atas rumah maka akan ada yang mati. Dan shofar artinya keyakinan bahwa bulan Shofar adalah bulan sial dan tidak menguntungkan.
 
 
Banyak yang berkeyakinan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial sehingga banyak pernikahan dan acara bepergian serta aktivitas lainnya digagalkan, hal ini berdasarkan sebuah keyakinan bahwa tiap hari Rabu terakhir dari bulan Shafar diturunkan 320.000 bala'.
 
Bahkan ada yang menyebarkan hadits palsu tentan bulan Shafar, di antaranya;
 
من بشرني بخروج صفر بشرته بالجنة
 
Artinya: “Barangsiapa yang bergembira dengan keluarnya bulan Shafar maka aku akan berikan kabar gembira dengan surga.”
 
Ini hadits dinilai palsu oleh Al ‘Iraqi di dalam "Al Fawaid Al Majmu’ah fil Ahadits Al Maudu’ah," Ash Shaghani di dalam kitab "Al Maudhu’at dan Muhammad bin Khalil Ath Tharablisi di dalam kitab "Al Lu’lu’ Al Marshu’."
 
Maksud dari hadits shahih di atas adalah peniadaan semua keyakinan yang menyatakan bahwa ada pengaruh buruk yang timbul tanpa kehendak dan izin dari Allah ta’ala.
 
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkata:
 
 وهذا يحتمل أن يكون نفيا وأن يكون نهيا أى لا تطيروا ولكن قوله في الحديث ولا عدوى ولا صفر ولا هامة يدل على أن المراد النفى وإبطال هذه الأمور التى كانت الجاهلية تعانيها والنفي في هذا أبلغ من النهى لأن النفي يدل على بطلان ذلك وعدم تأثيره والنهى إنما يدل على المنع منه
 
Artinya: “Dan Hadits ini dimungkinkan bermaksud peniadaan atau bisa bermaksud pelarangan, yaitu janganlah kalian bersikap pesimis, akan tetapi sabda beliau di dalam hadits tidak ada ‘Adwa, shafar, hammah menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah peniadaan dan pembatilan setiap perkara ini yang diyakini oleh Arab Jahiliyyah. Dan Peniadaan lebih dalam maknanya daripada pelarangan karena peniadaan menunjukkan akan batilnya hal tersebut dan tidak memberikan pengaruh, adapun larangan hanya menunjukkan kepada larangan untuk berbuat seperti itu.” (Lihat kitab "Miftah Dar As Sa’adah").   
 
Mengapa Thiyarah dikategorikan sebagai kesyirikan?
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan:
 
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
 
 
 
 
Artinya: "Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan." (Hadits riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di "As Silsilah Ash Shahihah," no: 429).
 
Kenapa bisa demikian?
 
Kenapa meyakini bahwa ada penyakit menular dengan sendirinya tanpa kehendak Allah, termasuk kesyirikan?
 
Kenapa meyakini bahwa jika ada burung hantu atau gagak di atas rumah pertanda buruk, termasuk kesyirikan?
 
Kenapa meyakini bahwa bulan shafar adalah bulan sial dan panas maka tidak dikerjakan segala macam hajat dan rencana, ini termasuk kesyirikan?
 
Kenapa meyakini bahwa jika singgah disebuah tempat harus minta izin kepada jin penguasa di tempat itu agar tidak diganggu, ini termasuk kesyirikan?
 
Kenapa meyakini bahwa jika di pagi hari melihat kucing picak matanya dan pincang kakinya pertanda buruk dan sial, ini termasuk kesyirikan?
 
Kenapa meyakini bahwa suami dilarang memancing ketika istri hamil, termasuk kesyirikan?
 
Kenapa meyakini bahwa menyapu atau memotong kuku malam hari tidak baik, itu termasuk kesyirikan?
 
Kenapa meyakini bahwa memakai baju hijau di pantai selatan mendatangkan kesialan dan keburukan, ini termasuk keyirikan?

 
Kenapa meyakini beberapa mitos pamali, kualat, merasa bernasib sial dengan melihat sesuatu atau mendengar sesuatu, ini termasuk kesyirikan? 
 
Jawaban semua pertanyaan di atas adalah karena Allah-lah satu-satu-Nya Yang Mengatur, Mencipta, Berkuasa. Semua yang terjadi tidak ada yang keluar dari kehendak-Nya dan ciptaan-Nya. Maka jika ada keyakinan bahwa ada yang mengatur, mencipta dan berkuasa selain Allah, disinilah letak kesyirikannya. Yaitu dengan MENYAMAKAN SELAIN ALLAH DENGAN ALLAH TA’ALA DI DALAM PERKARA YANG KHUSUS MILIK ALLAH TA’ALA, dalam hal ini pengaturan, penciptaan dan kekuasaan.
 
Allah ta’ala berfirman:
 
{قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (31) فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ (32) كَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ فَسَقُوا أَنَّهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (33)} [يونس: 31 - 33]


Artinya: “Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: Allah. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)? Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? Demikianlah telah tetap hukuman Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman. Katakanlah: Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali? katakanlah: Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?" (QS. Yunus 31-33).
 
{إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ} [الأعراف: 54]
 
 
 
Artinya: “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al A’raf: 54).
 
{أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ} [النمل: 64]
 
Artinya: “Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar." (QS. An Naml: 64).
 
{اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ (62) لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (63)} [الزمر: 62، 63]
 
Artinya: “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nya lah kunci-kunci langit dan bumi, dan orang-orang yang kafir dengan tanda-tanda kekuasaan Allah mereka adalah orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 62-63).

{فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (11) لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (12)} [الشورى: 11، 12]
 
 
Artinya: “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Asyuura: 11-12).
 
Obat Nabawi untuk perasaan bernasib sial, pesimis, kualat, pamali dan semisalnya
 
 
Saudaraku pembaca…
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyatakan bahwa tidak ada di antara kita melainkan terhinggap perasaan pesimis karena sesuatu atau merasa bernasib sial karena mendengar atau melihat sesuatu, beliau bersabda:
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضى الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ» ثَلاَثًا «وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ»
 
Artinya: “Abdullah bin Masud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ath Thiyarah adalah kesyirikan, Ath Thiyarah adalah kesyirikan,” beliau ucapkan itu tiga kali, kemudian beliau bersabda: “Dan tidak ada di antara kita melainkan (akan timbul perasaan itu), akan tetapi Allah menghilangkannya dengan bertawakkal (bersandar kepada-Nya).”(HR. Abu Daud).
 
Karena inilah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan solusi untuk penyakit keyakinan yang keliru ini, maka jika ada perasaan seperti ini, kita harus;
 
Pertama, melawan perasaan tersebut dengan melaksanakan apa yang sudah direncanakan lalu bersandar diri kepada Allah Ta’ala.
 
Perhatikan beberapa hadits berikut:
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضى الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ»
 
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Dan tidak ada diantara kita melainkan (akan timbul perasaan itu), akan tetapi Allah menghilangkannya dengan bertawakkal (bersandar kepada-Nya).”(HR. Abu Daud).
 
Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa perasaan bernasib sial akan hilang dengan bersandar diri kepada Allah.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضى الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ»
 
Artinya: “Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Barangsiapa yang dipalingkan dari keperluannya oleh perasaan bernasib sial maka sungguh dia telah berbuat syirik.” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1065).
 
Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa yang tidak jadi melakukan aktivitasnya gara-gara merasa kualat, pesimis, pamali maka sungguh dia telah berbuat syirik. Dan pemahaman kebalikan dari ini adalah barangsiapa yang melaksanakan aktivitasnya meskipun ada perasaan itu maka bukanlah dia termasuk syirik.
 
Kedua, menumbuhkan perasaan optimis dan perasangka baik di dalam diri, di antaranya dengan mengucapkan perkataan yang baik-baik jauh dari pesimisme.
 
عن أَبَي هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ «لاَ طِيَرَةَ ، وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ» قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ « الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ»
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada thiyarah, dan sebaik-baiknya perasaan itu adalah Al fa’lu,” para shahabat bertanya: “Apakah itu al fa’lu?” Beliau bersabda: “Perkataan yang baik yang didengarkan oleh salah seorang dari kalian.” (HR. Bukhari).
 
عَنْ أَنَسٍ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ الصَّالِحُ ، الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ»
 
Artinya: “Anas Bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada ‘Adwa, thiyarah dan aku kagum dengan Al Fa’lu Ash Shalih, yaitu perkataan baik.” (HR. Bukhari).
 
عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَأُحِبُّ الْفَأْلَ الصَّالِحَ»
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Tidak ada ‘Adwa, thiyarah dan aku menyukai dengan Al Fa’lu Ash Shalih.” (HR. Muslim).
 
Ketiga, berdoa seperti yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضى الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ» قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ «أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ»
 
Artinya: “Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Barangsiapa yang dipalingkan dari keperluannya oleh perasaan bernasib sial maka sungguh dia telah berbuat syirik.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa penebus perasaan itu,” beliau menjawab: “Salah seorang dari kalian mengucapakan: “Allahumma laa khaira illa khairuka wa laa thaira illa thairuka wa laa ilaaha ghairuka” (Wahai Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang engkau takdirkan dan tidak ada sembahan selain-Mu).” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam "Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah," no. 1065).
 
Semoga bermanfaat saudaraku pembaca…
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Rabu, 17 Shafar 1433H Dammam KSA
 

 

 

Jangan Remehkan Sholat (Bag 3) Habis

Demi Allah, tulisan ini bukanlah arena untuk mencela, menghina, menghujat, mencaci, melaknat orang-orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.

Demi Allah, tulisan ini adalah murni nasehat, petunjuk, wejangan, wasiat dari orang yang menginginkan kebaikan untuk Anda, wahai orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.

Tulisan ini saya tujukan kepada orang yang mengaku dirinya muslim, tetapi tidak pernah mengerjakan shalat, atau mengerjakan sebagian dan meninggalkan sebagian atau orang yang meyakini bahwa shalat itu tidak wajib. 


Buruk dan kejinya siksa akhirat untuk orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.
 
- Siksa bagi yang meninggalkan shalat; kepalanya dilempari dengan batu terus menerus.
 
سَمُرَةُ بْنُ جُنْدَبٍ -رضى الله عنه- قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِمَّا يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ لأَصْحَابِهِ «هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ رُؤْيَا» قَالَ فَيَقُصُّ عَلَيْهِ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُصَّ، وَإِنَّهُ قَالَ ذَاتَ غَدَاةٍ «إِنَّهُ أَتَانِى اللَّيْلَةَ آتِيَانِ، وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِى، وَإِنَّهُمَا قَالاَ لِى انْطَلِقْ. وَإِنِّى انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا، وَإِنَّا أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ، وَإِذَا هُوَ يَهْوِى بِالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ، فَيَثْلَغُ رَأْسَهُ فَيَتَهَدْهَدُ الْحَجَرُ هَا هُنَا، فَيَتْبَعُ الْحَجَرَ فَيَأْخُذُهُ، فَلاَ يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ، فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُولَى. قَالَ قُلْتُ لَهُمَا سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ.
 
Artinya: “Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu berkata: “Senantiasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering bertanya kepada para shahabatnya: “Apakah salah seorang dari kalian ada yang bermimpi?”, maka berceritalah yang ingin bercerita (tentang mimpinya). Dan pada suatu pagi beliaushallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tadi malam telah datang kepadaku dua tamu, mereka mengajakku keluar dan berkata kepadaku: “Ayo jalan”, lalu akupun pergi bersama keduanya, lalu kami mendatangi seorang yang lagi berbaring terlentang dan seorang lagi berdiri sambil memegang sebongkah batu, ia melemparkan batu tersebut ke kepalanya (orang yang berbaring terlentang tadi), batu tadi akhirnya memecahkan kepalanya dan batu tersebut menggelinding kesana kemari, lalu ia mengikuti batunya dan mengambilnya, tidaklah ia kembali kepada orang yang  berbaring terlentang tadi sampai kepalanya kembali seperti semula, kemudian ia kembali kepada orang yang berbaring terlentang tadi dan mengulangi perbuatannya, seperti yang ia lakukan ketika pertama kali. Lalu aku bertanya kepada dua yang membawaku: “Maha suci Allah, Apa yang mereka berdua ini lakukan?”…,
 
Di akhir cerita dalam hadits ini disebutkan:
 
قُلْتُ لَهُمَا فَإِنِّى قَدْ رَأَيْتُ مُنْذُ اللَّيْلَةِ عَجَبًا ، فَمَا هَذَا الَّذِى رَأَيْتُ قَالَ قَالاَ لِى أَمَا إِنَّا سَنُخْبِرُكَ ، أَمَّا الرَّجُلُ الأَوَّلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالْحَجَرِ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأْخُذُ الْقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنِ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ ،
 
“Aku (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) berkata kepada dua orang yang membawaku: “Sungguh malam ini aku telah melihat sesuatu yang sangat menakjubkan, kiranya apakah yang telah aku lihat?”, dua orang ini menjawab: “Sungguh kami akan memberitahukanmu, adapun orang pertama yang engkau datangi, yang kepalanya dipecahkan dengan batu, dialah yang mengambil Al Quran lalu membuangnya dan tidur (tidak mengerjakan) shalat yang wajib, …”. HR. Bukhari.
 
Maksud dari "Mengambil Al Quran lalu membuangnya"Meninggalkan hafalan Al Quran dan tidak mengamalkan maknanya. Lihat Syarh Shahih Al Bukhari, karya Ibnu Baththal, Umdat Al Qari, karya Badruddin Al 'Ainy.
 
Maksud dari "Tidur (tidak mengerjakan) shalat yang wajib": Melalaikan shalat sehingga keluar waktunya. Lihat Syarh Shahih Bukhari, karya Ibnu Baththal.
 
- Orang yang di dunia tidak sujud, di akhirat juga tidak akan pernah mampu sujud.
 
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ -- القلم 42-43
 
Artinya: "Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa". "(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sehat".QS. Al Qalam: 42-43.
 
Ibnu Katsir rahimahullah (w: 774H) berkata:
 
ولما دعوا إلى السجود في الدنيا فامتنعوا منه مع صحتهم وسلامتهم كذلك عوقبوا بعدم قدرتهم عليه في الآخرة، إذا تجلى الرب، عز وجل، فيسجد له المؤمنون، لا يستطيع أحد من الكافرين ولا المنافقين أن يسجُد، بل يعود ظهر أحدهم طبقًا واحدًا، كلما أراد أحدهم أن يسجد خَرّ لقفاه، عكس السجود، كما كانوا في الدنيا، بخلاف ما عليه المؤمنون. [تفسير ابن كثير 8/ 200]
 
Artinya: "Dan tatkala mereka diajak untuk sujud di dunia mereka menolaknya, padahal mereka dalam keadaan sehat dan selamat, maka demikianlah mereka disiksa, yaitu dengan tidak mampu untuk melakukannya di akhirat. Jika Allah Azza wa Jalla menampakkan dirinya, maka orang-orang beriman akan sujud kepada-Nya dan tidak ada seorangpun dari orang kafir dan munafik mampu untuk sujud, tetapi punggung mereka kembali menjadi satu bagian, setiap kali salah seorang dari mereka ingin sujud, maka (punggungnya) akan kembali kepada lehernya, kebalikan dari sujud, sebagaimana mereka ketika di dunia, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman". Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir.
 
Al Wahidi rahimahullah (w: 468H) berkata:
 
قال المفسرون: يسجد الخلق كلهم لله سجدة واحدة ، ويبقى الكفار والمنافقون يريدون أن يسجدوا فلا يستطيعون؛ لأن أصلابهم تيبست فلا تلين للسجود.
 
"Para Ahli Tafsir berkata: "Seluruh makhluk akan sujud kepada Allah secara bersama-sama, yang tertinggal orang-orang kafir, munafik, mereka ingin sujud akan tetapi tidak bisa sujud, karena punggung mereka mengeras, tidak lemah untuk sujud.
 
{وَقَدْ كَانُواْ يُدْعَوْنَ إِلَى السجود} أي في الدنيا {وَهُمْ سالمون} أي معافون عن العلل متمكنون من الفعل.
 
Maksud "Dan sesungguhnya mereka dahulu diseru untuk bersujud", yaitu ketika di dunia.
 
Maksud "dan mereka dalam keadaan sehat" : yaitu mereka terlepas dari penyakit, memungkinkan mereka untuk melaksanakannya.
 
Berkata Ibrahim At Taimy rahimahullah (w: 153H):
 
يدعون بالأذان والإقامة فيأبون
 
"Mereka diseru dengan adzan dan iqamah tertapi mereka enggan (mendatanginya)".
 
Berkata Sa'id bin Jubair rahimahullah (w: 95H):
 
يسمعون حيّ على الفلاح ، فلا يجيبون
 
"Mereka mendengar حي على الفلاح tetapi mereka tidak mendatanginya". Lihat Fath Al Qadir, karya Asy Syaukani.
 
- Orang yang tidak mengerjakan shalat akan masuk neraka Saqar.
 
{إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ (39) فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ (40) عَنِ الْمُجْرِمِينَ (41) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) } [المدثر: 39 - 44]
 
Artinya: "Kecuali golongan kanan". "Berada di dalam surga, mereka tanya menanya". "Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa". "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?". "Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat". QS. Al Mudatstsir: 39-44.
 
Bagaimana siksa Neraka Saqar?
 
{وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ (27) لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ (28) لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ (29) عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ (30) وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْبَشَرِ (31)} [المدثر: 27 - 31]
 
Artinya: "Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu?". "Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan". "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia". "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)". "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia". QS. Al Mudatstsir: 27-31.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah (w:774H):
 
{لا تُبْقِي وَلا تَذَرُ} أي: تأكل لحومهم وعروقهم وعَصَبهم وجلودهم، ثم تبدل غير ذلك، وهم في ذلك لا يموتون ولا يحيون، قاله ابن بريدة وأبو سنان وغيرهما.
وقوله: {لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ} قال مجاهد: أي للجلد، وقال أبو رَزين: تلفح الجلد لفحة فتدعه أسود من الليل. وقال زيد بن أسلم: تلوح أجسادهم عليها. وقال قتادة: {لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ} أي: حراقة للجلد. وقال ابن عباس: تحرق بشرة الإنسان.
 
Maksud "Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan": Api neraka saqar akan memakan daging, urat, otot dan kulit mereka, kemudian diganti dengan yang lainnya, dan mereka dalam keadaan demikian tidak mati dan tidak juga hidup, ini pendapat Ibnu Buraidah dan Abu Sinan serta selain mereka berdua.
 
Maksud "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia":
 
Berkata Mujahid rahimahullah (w: 104H): "yaitu (membakar) kulit",
 
Berkata Abu Razin rahimahullah (w: 85H): "(Api Neraka Saqar) menghanguskan kulit, lalu dibiarkan sehingga menjadi lebih hitam daripada gelapnya malam",
 
Berkata Zaid bin Aslam rahimahullah (w: 136H): "(Api Neraka Saqar) menghancurkan jasad mereka".
 
Berkata Qatadah rahimahullah (w: 118H): "(Api Neraka Saqar) pembakar kulit".
 
Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma"(Api Neraka Saqar) membakar kulit manusia". LihatTafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir.
 
- Siksa bagi yang meremehkan shalat; di neraka akan mendapati Ghayy (kerugian, keburukan, dimasukkan ke dalam neraka Jahannam yang sangat dalam, baunya busuk, isinya dari muntah dan darah serta nanah dari penghuni neraka).
 
{ فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا } [مريم: 59]
 
Artinya: "Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui Ghayy". QS. Maryam: 59.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah (w: 774H):
 
عن ابن عباس: {فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا} أي: خسرانا. وقال قتادة: شرًّا. عن عبد الله بن مسعود: {فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا} قال: واد في جهنم، بعيد القعر، خبيث الطعم. عن أبي عياض في قوله: {فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا} قال: واد في جهنم من قيح ودم.
 
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "maka mereka kelak akan menemui Ghayy", maksudnya adalah kerugian." Qatadah rahimahullah berkata: "Ghayy adalah keburukan." Abdullah bin Mas'udradhiyallahu 'anhu berkata:  "Ghayy adalah lembah di dalam neraka Jahannam, lubangnya dalam, baunya busuk." Abu 'Iyadh berkata: "Ghayy adalah lembah di dalam neraka Jahannam, isinya muntah dan darah". Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir. 
 
Kaffarah (Penebus dosa) bagi yang meninggalkan shalat lima waktu:
 
- Jika meninggalkan shalat lima waktu karena lupa dan ketiduranmaka wajib baginya mengerjakan shalat, kapan dia ingat atau bangun dari tidurnya, tidak ada penebus dalam hal ini kecuali itu:
 
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أو نام عنها فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ»
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Barangsiapa yang kelupaan shalat atau ketiduran darinya maka hendaklah ia mengerjakannya jika ia ingat, tidak ada penebus baginya kecuali itu". HR. Bukhari dan Muslim serta Al Baihaqi, lafazh hadits di atas milik riwayat Al Baihaqi.
 
- Jika meninggalkan shalat lima waktu karena malas dan sikap peremehan, baik sekali shalat atau lebih, sampai keluar waktunya, maka wajib baginya:
 
1. Bertaubat dengan sebenar-benarnya, tidak ada penebusnya kecuali ini. Inilah Pendapat yang benar bagi yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa ada udzur sampai keluar waktunya. (Fatwa Komite Tetap untuk Fatwa dan Riset Ilmiah, Kerajaan Arab Saudi, no fatwa. 4791).
 
2. Tidak perlu mengqadha shalat yang ia tinggalkan tadi, karena shalat adalah ibadah yang ditentukan waktunya dan barangsiapa yang meninggalkan ibadah yang telah ditentukan waktunya tanpa ada udzur seperti shalat dan puasa, kemudian dia bertaubat, maka tidak perlu dia mengqadha shalat yang dia tinggalkan, karena ibadah ini telah ditentukan waktunya oleh pembuat syari'at (Allah Ta'ala), dengan batasan awal waktu dan akhirnya. (Majmu' Fatawa wa Rasail, 1/322).
 
Mengqadha shalat yang ditinggalkan dengan sengaja tanpa alasan, sampai keluar waktunya berarti telah melaksanakan shalat diluar waktunya, dan berarti pula telah melakukan amalan yang tidak ada landasannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, jika melakukan amalan yang tidak ada landasannya dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam maka amalannya tertolak. 
 
«مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ»
 
Artinya: "Siapa yang melakukan sebuah amalan, tidak ada dari perkara kami, maka amalannya tertolak". HR. Muslim. Lihat Fatwa Ibnu Utsaimin dalam Nur Ala Ad Darb, Syamila.
 
Meskipun sebagian ulama bahkan Jumhur berpendapat, jika yang lupa dan ketiduran dari shalatnya saja diwajibkan untuk diqadha jika dia ingat atau bangun dari tidurnya, maka terlebih lagi yang meninggalkan shalat karena sengaja, tidak ada udzur sampai keluar waktunya. Lihat Al Jami' li Ahkam Al Quran, karya Al Qurthuby dan Fath Al Bari, karya Ibnu Hajar.
 
Beberapa hal berikut, beredar dimasyarakat dan diyakini sebagai penebus bagi yang pernah meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya, dan beberapa hal ini merupakan sesuatu yang mengada-ada di dalam permasalahan agama (bid'ah):
 
- mengqadha shalat setiap selesai shalat fardhu dengan keyakinan mengqadha shalat yang pernah ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan sampai keluar waktunya.
- memperbanyak shalat di masjid al haram atau masjid an nabawi dengan keyakinan sebagai pengganti shalat yang pernah ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya..
- mengeluarkan sedekah sebagai penebus untuk shalat yang ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya.
 
Terakhir…
 
Kawan pembaca…
 
Jangan lupa selalu berdoa dengan doanya Nabi Ibrahim 'alaihissalam agar kita selalu mampu mendirikan shalat selama hayat masih di kandung badan:
 
{رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ}
 
Artinya: "Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb kami, perkenankanlah doa kami". QS. Ibrahim: 40.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Jangan Remehkan Sholat (Bag 2)

Demi Allah, tulisan ini adalah murni nasehat, petunjuk, wejangan, wasiat dari orang yang menginginkan kebaikan untuk Anda, wahai orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.

Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mengkin belum sadar atau belum tahu tentang agung dan tingginya kedudukan shalat lima waktu, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.
 
 
 
 Shalat menghilangkan resah dan gundah 
 
{وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (97) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (98) وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (99)} [الحجر: 97 - 99]
 
Artinya: "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan". "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)". "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)". QS. Al Hijr: 97-99.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah (w: 774), ketika menafsiri ayat di atas:
 
أي: وإنا لنعلم يا محمد أنك يحصل لك من أذاهم لك انقباض وضيق صدر. فلا يهيدنك ذلك، ولا يثنينك عن إبلاغك رسالة الله، وتوكل على الله فإنه كافيك وناصرك عليهم، فاشتغل بذكر الله وتحميده وتسبيحه وعبادته التي هي الصلاة.
 
Maksudnya: "Wahai Muhammad (shallallahu 'alaihi wasallam-pent), sesungguhya Kami benar-benar mengetahui apa yang terjadi padamu akibat intimidasi mereka kepadamu, yaitu berupa sempitnya perasaan, maka janganlah hal itu membuatmu berhenti dalam penyampaian risalah Allah, bertawakkallah kepada Allah, karena sesungguhnya Dia adalah Penjagamu dan Penolongmu dalam melawan mereka, maka sibukkan dirimu dengan mengingat Allah, memuji-Nya, mensucikan-Nya serta beribadah kepada-Nya yang mana ia adalah shalat". Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim.
 
Berkata Syeikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di rahimahullah (w: 1376H) ketika mengomentari ayat ini: "Engkau wahai Muhammad,
 
{فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ}
 
(bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat))", maksudnya: "Perbanyaklah berdzikir kepada Allah, bertasbih kepada-Nya, memuji-Nya dan mendirikan shalat, karena yang demikian itu meluaskan dan melapangkan dadamu dan membantumu dalam urusan-urusanmu". Lihat Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan.
 
Oleh sebab inilah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendapatkan ketenangan dengan mengerjakannya, mari perhatikan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam berikut:
 
«يَا بِلاَلُ أَقِمِ الصَّلاَةَ أَرِحْنَا بِهَا»
 
Artinya: "Wahai Bilal, iqamahkanlah shalat, tenangkanla kita dengan (mengerjakan)nya". HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami', no. 13851.
 
Oleh sebab ini pula, shalat adalah sesuatu yang sejuk dipandang mata oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Lihat riwayat berikut:
 
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «حُبِّبَ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِى فِى الصَّلاَةِ»
 
Artinya: "Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Dicintakan kepadaku dari dunia; wanita dan wewangian dan dijadikan sesuatu yang sejuk di mataku ada di dalam shalat". HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 3291.
 
Perhatikanlah perkataan indah berikut…
 
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah (w:751H):
 
فالمحب راحته وقرة عينه في الصلاة والغافل المعرض ليس له نصيب من ذلك بل الصلاة كبيرة شاقة عليه إذا قام فيها كأنه على الجمر حتى يتخلص منها وأحب الصلاة إليه أعجلها وأسرعها فإنه ليس له قرة عين فيها ولا لقلبه راحة بها
 
"Maka seorang pencinta ketenangannya dan penyejuk matanya di dalam shalat, adapun orang lalai yang berpaling, dia tidak memiliki bagian apapun dari hal itu, bahkan shalat terasa berat dan susah baginya, jika ia berdiri di dalamnya (shalat), seakan ia berdiri di atas batu panas, ingin lekas terlepas darinya, shalat yang paling dia cintai adalah yang paling cepat, paling tergesa-gesa. Maka sesungguhnya, tidak ada baginya penyejuk hati di dalam shalat dan tidak ada untuk hatinya ketenangan dengan mengerjakannya". Lihat risalah Ibnul Qayyim ila ahadi ikhwanih, hal.33.
 
Di dalam shalat doa dikabulkan
 
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: « قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ.
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Allah Ta'ala berfirman: "Aku membagi shalat antara-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, bagi hamba-Ku apa yang dia minta". HR. Muslim  
 
Shalat menghapuskan dosa dan mengangkat derajat
 
 عن مَعْدَان بْن أَبِى طَلْحَةَ الْيَعْمَرِىُّ قَالَ لَقِيتُ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  رضي الله عنه فَقُلْتُ أَخْبِرْنِى بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ يُدْخِلُنِى اللَّهُ بِهِ الْجَنَّةَ. أَوْ قَالَ قُلْتُ بِأَحَبِّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ. فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ سَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ «عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً»
 
Artinya: "Ma'dan bin Abi Thalhah Al Ya'muri meriwayatkan: "Aku pernah bertemu dengan Tsauban pembantu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian aku bertanya: "Beritahukanlah kepadaku sebuah amalan, yang jika aku amalkan, maka Allah akan memasukkanku dengan ke dalam surga? Atau aku bertanya: "Beritahukanlah kepadaku amalan yang paling dicintai Allah Ta'ala?", lalu Tsauban radhiyallahu 'anhu terdiam, (sampai ditanya pada kali yang ketiga, beliau menjawab): "Aku telah bertanya akan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menjawab:"Hendaknya kamu memperbanyak sujud (shalat) untuk Allah, karena sesungguhnya tidaklah kamu sujud satu sujud karena Allah, kecuali Allah telah mengangkat derajatmu satu tingkatan dan menghapuskan dari satu kesalahan." HR. Muslim.
   
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ «أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ». قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا»
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullahshallallahu a'alihi wasallam bersabda: "Apa pendapat kalian, jikalau sebuah sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apa yang anda katakan akan hal tersebut, apakah masih tersisa dakinya?", para shahabat menjawab: "Tidak tersisa sedikitpun dari dakinya", beliau bersabda: "Maka demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dengannya kesalahan-kesalahan". HR. Bukhari dan Muslim.
 
عَنْ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رضي الله عنه قَالَ:  إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا»
 
Artinya: "Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: "Sungguh aku telah mendengar Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang laki-laki muslim berwudhu dan menyempunakan wudhunya, lalu dia shalat sebuah shalat kecuali Allah telah mengampuni baginya (dosa) antaranya dengan shalat yang selanjutnya". HR. Muslim.
 
Kawan pembaca…
 
Tiada seorangpun yang bisa mengingkari bahwa ia adalah manusia yang sering melakukan dosa dan kesalahan, sebagaimana yang sudah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam;
 
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : « كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ ».
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Setiap keturunan Adam adalah orang yang selalu melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang selalu melakukan kesalahan adalah orang-orang yang selalu bertaubat". HR. Muslim.
 
Dari sinilah terlihat pentingnya shalat, yaitu ketika seorang anak keturunan Adam sudah ditegaskan sebagai orang yang selalu melakukan kesalahan, maka tugas kita sebagaimana anak keturunan Adam adalah, bagaimana cara kesalahan dan dosa kita terhapus dan dimaafkan oleh Allah Ta'ala. Salah satu caranya adalah, selalu menjaga shalat lima waktu. Sebagaimana hadits-hadits diatas yang menyatakan penghapusan dosa dengan mendirikan shalat. Wallahu a'lam.
 
Shalat termasuk penyebab masuk surga dengan rahmat Allah Ta'ala
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ . قَالَ « تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوبَةَ ، وَتُؤَدِّى الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ » . قَالَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا . فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا » . [صحيح البخاري - مكنز 5344، بترقيم الشاملة آليا]
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab dari kampung mendatangi Nabi Muhammad shalallah 'alaihi wasallam, lalu bertanya: "Tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan, jika aku melakukannya aku masuk surga?", beliau shallallahu 'alaihi wasallammenjawab: "Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat yang wajib, membayar zakat yang wajib dan berpuasa pada bulan Ramadhan". Orang kampung Arab ini berkata: "Demi jiwaku yang berada ditangan-Nya, aku tidak akan menambah dari ini". Ketika orang tersebut berpaling, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Barangsiapa yang menginginkan melihat seseorang dari penghuni surga maka lihatlah orang ini".HR. Bukhari.
 
عَنِ عُبَادَة رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ»
 
Artinya: "Ubadah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Lima shalat yang telah Allah wajibkan atas para hamba, barangsiapa yang melaksanakannya, tidak menyia-nyiakannya sedikitpun sebagai bentuk peremehan atas kedudukannya, maka baginya di sisi Allah janji, yaitu memasukkanya ke dalam surga dan barangsiapa yang tidak melaksakannya bagai tidak ada baginya janji di sisi Allah, jika Allah menghendaki, Dia akan menyiksanya dan jika menghendaki, Dia memasukkanya ke dalam surga".HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih At Targhib Wa At Tarhib, no. 370.
 
Jangan Sekali-kali Meninggalkan Shalat!
  
عَنْ جَابِر ي رضي الله عنه َقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ»
 
Artinya: "Jabir radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya jarak antara seseorang dengan kseyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat". HR. Muslim.
 
عَنْ بُرَيْدَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ»
 
Artinya: "Buraidah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Perjanjian yang ada antara kami dan mereka adalah perkara shalat, siapa yang meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir". HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di shahih Tirmidzi, no. 2621.
 
عَنْ أُمِّ أَيْمَنَ رضي الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «لاَ تَتْرُكِ الصَّلاَةَ مُتَعَمِّداً فَإِنَّهُ مَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ مُتَعَمِّداً فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ»
 
 
Artinya: "Ummu Aiman radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Jangan kamu tinggalkan shalat dengan sengaja, karena sesungguhnya siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka telah terlepas darinya jaminan Allah dan Rasul-Nya".HR. Ahmad dan dihasankan oleh Al Albani di dalam Shahih Targhib Wa At Tarhib, no. 569.
 
عن عمر رضي الله عنه قال:"لا حظ في الإسلام لمن ترك الصلاة"
 
Artinya: "Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Tidak ada bagian di dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat". Atsar riwayat Malik di dalam Al Muwaththa'.
 
عن مجاهد رحمه الله سأل جابراً رضي الله عنه: ما كان يفرق بين الكفر والإيمان عندكم في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ فقال : الصلاة"
 
Artinya: "Mujahid rahimahullah bertanya kepada Jabir radhiyallahu 'anhu"Apa yang membedakan antara keimanan bagi kalian (para shahabat) di zaman Rasulullah shallallahu 'alaih wasallam?",Jabir radhiyallahu 'anhu menjawab: "Shalat". Atsar hasan diriwayatkan oleh Al Marwazi di dalam Ta'zhim qadr Ash Shalat dan Al Laalakai di dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahli As Sunnah.
 
عَنْ حَمْزَةَ بْنِ نَجِيحٍ، قَالَ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ، يَقُولُ: "يَا ابْنَ آدَمَ أَيُّ شَيْءٍ يَعِزُّ عَلَيْكَ مِنْ دِينِكَ إِذَا هَانَتْ عَلَيْكَ صَلَاتُك"
 
Artinya: "Hasan Al Bashri rahimahullah (w: 110H) berkata: 'Wahai anak Adam, sesuatu apakah yang berharga atasmu dari perkara agamamu, jika shalatmu telah meremehkanmu". Atsar riwayat Al Baihaqi di dalam Syuab Al Iman.
 
قال عبد الله بن شقيق رحمه الله التابعي الجليل الذي لقي كبار الصحابة: "كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم لا يرون شيئاً من الأعمال تركه كفر غير الصلاة"
 
Artinya: "Abdullah bin Syaqiq rahimahullah (w: 108H), seorang tabi'ie terkemuka yang pernah bertemu dengan pembesar shahabat  berkata: "Para shahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak berpendapat, ada suatu amalan yang meninggalkannya mengakibatkan sebuah kekufuran selain shalat".Atsar shahih diriwayatkan oleh Tirmidzi, Al Marwadzi di dalam Ta'zhim Qadr Ash Shalat dan dishahihkan oleh Al Hakim, An Nawawi, Al Albani.
 
Asy Syaukani rahimahullah (w: 1250H) berkata, ketika mengomentari atsar di atas: "Yang terlihat jelas dari redaksi bahwa perkataan ini adalah kesepakatan para shahabat, karena perkataanya: ""Para shahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam" adalah sebuah bentuk jama' yang diidhafakan, dan hal ini mengisyaratkan akan hal itu". Lihat Nail Al Awthar.
 
Berkata Ishaq bin Rahuyah rahimahullah (w: 238H):
 
قد صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أن تارك الصلاة كافر ، وكذلك كان رأي أهل العلم من لدن النبي صلى الله عليه وسلم إلى يومنا هذا : أن تارك الصلاة عمداً من غير عذر حتى يذهب وقتها كافر"
 
"Telah shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa yang meninggalkan shalat kafir, dan demikian pula pendapat para ulama dari zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallamsampai zaman kita ini, yaitu bahwa yang meninggalkan shalat secara sengaja tanpa ada udzur sampai keluar waktunya maka ia kafir". Lihat Ta'zhim Qadr Ash Shalat.
 
Berkata Imam Ahmad rahimahullah (w: 241H):
 
وقال الإمام أحمد في رسالة الصلاة: "فكل مستخفبالصلاة مستهين بها هو مستخف بالإسلام مستهين به، وإنما حظهم من الإسلام على قدر حظهم من الصلاة، ورغبتهم في الإسلام على قدر رغبتهم في الصلاة(3)"
 
Artinya: "Setiap yang meremehkan shalat, merendahkannya, maka ia meremehkan Islam dan merendahkannya, sesungguhnya bagian mereka di dalam Islam sesuai dengan kadar mereka dari shalatnya dan keinginan mereka di dalam Islam sesuai dengan keinginan mereka dalam shalat".Lihat Risalat Ash Shalat.
 
Berkata Ibnu Nash Al Marwazi rahimahullah (w: 294H): 
 
:"ذكرنا الأخبار المروية عن النبي صلى الله عليه وسلم في إكفار تاركها ، وإخراجه إياه من الملة ، وإباحة قتال من امتنع من إقامتها، ثم جاءنا عن الصحابة رضي الله عنهم مثل ذلك ، ولم يجئنا عن أحد منهم خلاف ذلك"
 
"Kita telah menyebutkan riwayat-riwayat berasal dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tentang kufurnya orang yang meninggalkan shalat, dan kelaur dari agama Islam dan dihalalkan berperang melawan orang yang melarang untuk mendirikannya, kemudian telah datang kepada kita juga riwayat-riwayat seperti itu dan tidak ada satu riwayatpun dari mereka yang sampai kepada kita yang menyelisihi hal itu". Lihat Lihat Ta'zhim Qadr Ash Shalat.   
 
Kawan pembaca…
 
Disini penulis tidak dalam kapasitas menguatkan pendapat yang mengkafirkan  orang yang meninggalkan shalat, akan tetapi lebih pada penyebutan hadits dan perkataan ulama yang tegas dan keras tentang meninggalkan shalat.
 
Bersambung… Buruk dan kejinya siksa akhirat untuk orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat, insya Allah.
 
*) Selesai ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Ahad, 24 Rabi'ul Awwal 1432H, Dammam KSA

 

 

Melihat Dan Menyebarkan Video Porno?

Pertanyaan:
Assalamualaikum warohmattullahi wabarokatuh, Ustadz Zain, apa kabar? Apakah ustadz punya kumpulan hukum/ayat-Quran/hadist ttg menonton film porno, yg ramai saat ini? 

Jazakumullah khairan khatsiron.
 
 
 
 


 
Jawaban: 
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah bi khoir pak, semoga bapak dan sekeluarga juga selalu dalam petunjuk dan lindungan Allah Ta'ala. 


Menyebarkan video porno termasuk hal yang sangat diharamkan dalam agama Islam dan mendapatkan ancaman tegas dari Allah Ta'ala, Allah berfirman: 

{إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النور: 19

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui." QS An Nur; 19 

Tersebarnya perbuatan zina (porno) adalah penyebab utama tersebarnya penyakit, dan kebinasaan serta kehancuran:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِى لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِى أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا. سنن ابن ماجه

Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah terlihat perbuatan Fahisyah (perbuatan yang sangat kotor dan keji, diartikan pula sebagai zina) sampai-sampai disebarkan perbuatan tersebut kecuali akan tersebar di antara mereka penyakit Tha'un dan penyakit lainnya yang belum pernah ada sebelum mereka". HR Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Albani, lihat Ash Shahihah: no. 106

عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ, قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ « نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ. صحيح مسلم 

 
Artinya: "Dari Ummu Habibah dari Zainab Binti Jahsy radhiyallahu 'anhuma, beliau bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa padahal orang-orang shalih masih ada di sekita kita?", beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Iya jika banyak perbuatan khobats (zina)". HR Bukhari dan Muslim.

Melihat aurat sesama jenis diharamkan dalam agama Islam, karena Nabi Muhammad shallallahu a'alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ ».صحيح مسلم 

 
 

Artinya: "Dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu a'anhu, Rasulullah shallallahu a'alaihi wasallam bersabda: "Jangalah seorang laki-laki melihat kepada aurat laki-laki dan seorang wanita melihat kepada wanita". HR Muslim
 
*) Dijawab oleh: Abu Abu Abdillah Ahmad Zainuddin
 
 Dengarkan kajiannya tentang Jauhi Maksiat di sini

 

Jangan Remehkan Sholat

Tulisan ini ditujukan kepadaorang-orang yang mungkin belum tahu tentang hukum kewajiban shalat lima waktu bagi seorang muslim, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.
 
Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mengkin belum sadar atau belum tahu tentang agung dan tingginya kedudukan shalat lima waktu, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.
 
Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mungkin belum tahu tentang keutamaan dan manfaat shalat, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.
 
Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mungkin belum tahu tentang beratnya hukuman di dunia bagi orang yang meninggalkan shalat lima waktu, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.
 
Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mungkin belum tahu tentang beratnya siksaan di akhirat bagi orang yang meninggalkan shalat, sehingga dia meninggalkannya.
 
Demi Allah, tulisan ini bukanlah arena untuk mencela, menghina, menghujat, mencaci, melaknat orang-orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.
 
Demi Allah, tulisan ini adalah murni nasehat, petunjuk, wejangan, wasiat dari orang yang menginginkan kebaikan untuk Anda, wahai orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.
 
Tulisan ini saya tujukan kepada orang yang mengaku dirinya muslim, tetapi tidak pernah mengerjakan shalat, atau mengerjakan sebagian dan meninggalkan sebagian atau orang yang meyakini bahwa shalat itu tidak wajib. 

1. Hukum shalat lima waktu wajib bagi seorang muslim baligh, berakal kecuali wanita yang haid dan nifas berdasarkan Al Quran, As Sunnah dan Ijma'.
 
Dalil-dalil yang menunjukkan akan hal ini:
Allah Ta'ala berfirman:
 
{… إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا }
 
Artinya: "…Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman". QS. An Nisa: 103
 
{ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ }
 
Artinya: "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus". QS. Al Bayyinah: 5.
 
Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallammengutus Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ke negeri Yaman dan memerintahkannya untuk menyerukan kepada manusia bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam adalah Rasulullah, dan jika mereka mentaatinya, maka beritahukanlah kepada mereka:
 
أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ...
 
Artinya: "Bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka untuk mengerjakan shalat lima waktu sehari dan semalam…". HR. Bukhari dan Muslim.
 
عن عُبَادَة بن الصامت رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ … ».
 
Artinya: "Shalat lima waku telah Allah Wajibkan atas seluruh hamba…". HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami'.
 
Dan Ibnu Qudamah (w:744H) menyatakan bahwa umat Islam bersepakat akan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam. Lihat kitab Al Mughni.
 
Sedangkan tidak wajib bagi wanita yang haid dan nifas karena:
 
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَال: قالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم :«... أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ » .
 
Artinya: "Abu Sa'id Al Khudry radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "…Bukankah wanita jika haid tidak shalat dan berpuasa". HR. Bukhari.
 
2. Diantara Kedudukan Shalat di dalam Agama Islam.
 
- Shalat lima waktu adalah Rukun Islam Kedua.
 
عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » .
 
Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun di atas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, mengerjakan haji dan berpuasa di bulan Ramadhan". HR. Bukhari dan Muslim.
 
- Shalat adalah tiang agama, jika tiangnya roboh maka bangunan di atasnya akan roboh juga.
 
Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda:
 
« رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ »
 
Artinya: "Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, puncaknya yang tertinggi adalah jihad". HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah: 1122.
 
- Shalat adalah yang paling pertama akan dihisab oleh Allah, jika shalatnya baik, maka seluruh amalannya baik dan ia akan beruntung,  adapun jika shalatnya buruk maka seluruh amalnya buruk dan ia akan merugi.
 
عن أنس بن مالك - رضي الله عنه - عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: ((أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة: الصلاة، فإن صلحت صلح سائرُ عمله، وإن فسدت فسد سائرُ عمله)).
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Yang paling pertama akan dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah perkara shalat, jika shalatnya baik maka seluruh amal perbuatannya baik dan jika rusak maka seluruh amal perbuatannya rusak". HR. Ath Thabrani dan dishahihkan oelh Al Albani di dalam Silsilat al Ahadits Ash Shahihah, no. 1358.
 
- Menjaga shalat adalah wasiat terakhir Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika sekarat untuk umatnya.
 
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- حِينَ حُضِرَ جَعَلَ يَقُولُ « الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ».
 
Artinya: "Ummu Salamah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ketika dalam keadaan sekarat bersabda: "Jagalah shalat, jagalah shalat dan budak-budak kalian". HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 868.
 
- Shalat diwajibkan tanpa perantara Jibril 'alaihissalam tetapi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sendiri, yang langsung mendapatkan perintah kewajiban shalat ketika beliau melakukan Isra' dan Mi'raj.
 
- Semenjak anak-anak sudah diperintahkan shalat dan boleh dipukul jika tidak shalat pada waktu berumur 10 tahun.  
 
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ ».
 
Artinya: "Dari Amr bin Syu'aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu 'anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun dan pukul mereka jika tidak mengerjakannya, ketika mereka berumur 10 tahun dan pisahakanlah di dalam tempat-tempat tidur mereka". HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Irwal Al Ghalil, no. 298.
 
- Siapa yang kelupaan shalat lima waktu maka harus diqadha.
 
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ ».
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Barangsiapa yang kelupaan shalat, maka hendaklah dia dirikannya jika dia ingat, tidak ada penebus akannya kecuali hal itu". HR. Muslim
 
3. Keutamaan dan manfaat mendirikan shalat.
 
- Shalat mencegah dari perbuatan fahsya (setiap maksiat yang kotor, keji yang merupakan hawa nafsu manusia) dan mungkar (setiap maksiat yang diingkari oleh akal dan fitrah). Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman.
 
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
 
Artinya: "...dan dirikanlah salat.  Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…". QS. Al Ankabut: 45
 
- Menghapuskan dosa dan kesalahan, yang mana setiap manusia seorang yang sering melakukan kesalahan.
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم-يَقُولُ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ ». قَالُوا لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ. قَالَ « فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا ».
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Apa pendapat kalian, jikalau ada sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, dia mandi darinya setiap hari sebanyak lima kali, apakah masih tersisa dari kotorannya sedikitpun?", para shahabat menjawab: "Tidak tersisa sedikitpun dari kotorannya". Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berasabda: "Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dengannya kesalaan-kesalahan". HR. Muslim
 
- Shalat merupakan cahaya bagi pelakunya di dunia dan akhirat sehingga nyaman hidup di dunia serta dijauhkan dari api neraka ketika di akhirat dan tidak dikumpulkan bersama Karun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf .
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ ذَكَرَ الصَّلاَةَ يَوْماً فَقَالَ « مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ ».
 
Artinya: "Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari menerangkan tentang shalat, beliau bersabda: "Barangsiapa yang selalu menjaganya (shalat), maka baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, sedangkan yang tidak menjaganya maka tidak ada baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, dan pada hari kiamat akan bersama Karun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf". HR. Ahmad dan Al Mundziri berkata di dalam At Targhib Wa At Tarhib: "Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang jayyid", tetapi ada sebagian ulama hadits yang melemahkan hadits ini.
 
Ibnu Qayyim (w:762H) berkata ketika mengomentari hadits ini:
 
وفيه نكتة بديعة وهو أن تارك المحافظة على الصلاة إما أن يشغله ماله أو ملكه أو رياسته او تجارته فمن شغله عنها ماله فهو مع قارون ومن شغله عنها ملكه فهو مع فرعون ومن شغله عنها رياسة ووزارة فهو مع هامان ومن شغله عنها تجارته فهو مع أبي بن خلف
 
Artinya: "Di dalam hadits ini ada poin menarik, yaitu orang yang meninggalkan penjagaan akan shalat, bisa karena disibukkan oleh hartanya atau kerajaannya atau kepemimpinannya atau perniagaannya, maka siapa yang disibukkan oleh hartanya sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Karun, dan siapa yang disibukkan oleh kerajaannya sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Fir'aun, siapa yang disibukkan oleh kementeriannya sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Haman dan siapa yang disibukkan oleh perniagaannya  sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Ubay bin Khalaf". Lihat kitab Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha.
 
Bersambung insyaAllah…
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Sabtu, 16 Rabiul Awwal 1432H, Dammam KSA

 

 

Perbaikilah Sujud Anda Karena Itulah Keadaan Paling Dekat Dengan Allah

بسم الله الرحمن الريحم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
 
Saudaraku pembaca…

 
Keadaan kita yang paling dekat dengan Allah Ta’ala adalah ketika sujud maka sempurnakanlah sujud kita.
 
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ»
 
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Keadaan paling dekat seorang hamba dari rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyak doa (di dalamnya).” HR. Muslim.


Saudaraku Pembaca… Mari kita lihat hadits-hadits berikut.

 
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - «أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ - وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ - وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ»
 
 
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota; dahi –beliau menunjukkan dengan tangannya ke atas hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan kedua ujung jari jemari, dan melipat baju dan rambut”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَرَأَى رَجُلاً يُصَلِّى مَا يُصِيبُ أَنْفَهُ مِنَ الأَرْضِ فَقَالَ «لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يُصِيبُ أَنْفَهُ مِنَ الأَرْضِ مَا يُصِيبُ الْجَبِينَ»
 
 
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda ketika melihat seseorang mengenakan yang hidung dari tanah: “Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak mengenakan hidungnya dari tanah sebagaimana kenanya dahi.” HR. Ad Daruquthni, no. 1335 dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Sifat Ash Shalah, 
 
 
عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ -رضى الله عنه- أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « أَتِمُّوا الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ، فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنِّى لأَرَاكُمْ مِنْ بَعْدِ ظَهْرِى إِذَا مَا رَكَعْتُمْ وَإِذَا مَا سَجَدْتُمْ»
 
 
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa dia telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sempurnakanlah ruku dan sujud, demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku benar-benar melihat kaliat dari belakang punggungku, jika kalaian ruku dan sujud. HR. Bukhari dan Muslim.
 
 
عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ الْبَدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لا تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يُقِيمُ فِيهَا الرَّجُلُ يَعْنِى صُلْبَهُ فِى الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ ».
 
 
Artinya: “Abu Masud Al Anshary Al Badry radhiyallah ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebuah shalat tidak sah di dalamnya seseorang tidak menegakkan punggungnya di dalam ruku’ dan sujud”. HR. Tirmidzi dan beliau berkata: “Hadits ini hadits hasan yang shahih.”
 
 
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ «اعْتَدِلُوا فِى السُّجُودِ ، وَلاَ يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ»
 
 
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tegaklah di dalam sujud dan janganlah salah seorang dari kalian meletakkan kedua lengannya di atas tanah (ketika sujud) sebagaimana anjing”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
 
عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ زَيْدَ بْنَ وَهْبٍ قَالَ رَأَى حُذَيْفَةُ رَجُلاً لاَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ قَالَ مَا صَلَّيْتَ، وَلَوْ مُتَّ مُتَّ عَلَى غَيْرِ الْفِطْرَةِ الَّتِى فَطَرَ اللَّهُ مُحَمَّدًا -صلى الله عليه وسلم-
 
 
Artinya: “Sulaiman berkata: “Aku telah mendengar Zaid bin Wahb berkata: “Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu pernah melihat seseorang tidak menyempurnakan ruku dan sujud, lalu beliau berkata: “Kamu belum shalat, jika kamu mati maka kamu mati di atas selain fitrah yang telah Allah fitrahkan atas Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”
 
 
عَنْ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِىُّ :فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا ، وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ.
 

Artinya: “Abu Humaid As Sa’idy rahimahullah berkata (menceritakan shalatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: “Maka jika sujud, beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak merebahkannya dan tidak menggengamnya, dan mengarahkan ujung jari-jemari kakinya menghadap kiblat”. HR. Bukhari.
 
 
عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَكَعَ فَرَّجَ أَصَابِعَهُ وَإِذَا سَجَدَ ضَمَّ أَصَابِعَهُ الْخَمْسَ
 

Artinya: “Alqamah bin Wail meriayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu, belaiu berkata: “Senantiasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika ruku beliau merenggangkan jari-jemarinya dan jika sujud beliau merapatkan jari-jemarinya yang lima”. HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Sifat Ash Shalat.
 
 
 قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا راصَّاً عَقِبَيْهِ مُسْتَقْبِلًا بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ لِلْقِبْلَةِ
 
 
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal sebelumnya beliau bersamaku di ranjangku, ternyata aku dapati beliau dalam keadaan sujud merapatkan kedua tumitnya dan menghadap jeri-jemari kakinya ke kiblat”. HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Abani di dalam kitab Sifat Ash Shalat. 
 
 
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ
 
 
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pada suatu malam dari ranjang, lalu aku cari beliau, ternyata tanganku pada perut kedua telapak kaki beliau dan beliau di dalam masjid dan kedua telapak kaiki tersebut dalam keadaan berdiri tegak”. HR. Muslim.
 
 
عَنْ أَبِى حُمَيْدٍ السَّاعِدِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَجَدَ أَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ مِنَ الأَرْضِ وَنَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ
 
 
Artinya: “Abu Humaid “radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika sujud beliau mengenakan hidung dan dahinya dari tanah dan melebarkan kedua lengannya dari kedua samping tubuhnya dan meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua bahunya”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Irwa’ Al Ghalil, no. 309.
 
 
عَنْ مَيْمُونَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَجَدَ جَافَى بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى لَوْ أَنَّ بَهْمَةً أَرَادَتْ أَنْ تَمُرَّ تَحْتَ يَدَيْهِ مَرَّتْ
 
 
Artinya: Maimunah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika sujud beliau merenggangkan kedua tangannya sehingga jika ada anak domba ingin lewat di bawah kedua tangannya maka dia bisa lewat”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Abu Daud, no. 835.

 
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه أن رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم – قالَ « ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا»
 

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda (kepada seseorang yang buruk shalatnya): “Kemudian sujudlah sampai tuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian angkatlah sampai tuma’ninah dalam keadaan duduk, kemudian sujudlah sampai tuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian angkatlah sampai tuma’ninah dalam keadaan duduk, kemudian kerjakanlah hal itu di dalam seluruh shalatmu”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
Pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari hadits-hadits di atas:
1. Anggota tubuh yang harus dikenakan ketika sujud ada tujuh; yaitu dahi dan termasuk di dalamnya hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua jari-jemari kaki. 
2. Jika salah satu anggota sujud tidak diletakkan maka sujudnya tidak sah, dan jika sujud tidak sah maka shalatnya tidak sah.


Berkata An Nawawi rahimahullah :
 
 
فلو أخل بعضو منها لم تصح صلاته
 
 
Artinya: “Jikalau terlepas salah satu anggota darinya maka tidak sah shalatnya”. Syarah Shahih Muslim, karya An Nawawi, 4/208.
 

Berkata Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah:
 
 
" لا يجوز للساجد أن يرفع شيئاً من أعضائه السبعة, لأن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : ( أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ ) رواه البخاري (812) ومسلم (490)، فإن رفع رجليه أو إحداهما ، أو يديه أو إحداهما ، أو جبهته أو أنفه أو كليهما ، فإن سجوده يبطل ولا يعتد به ، وإذا بطل سجوده فإن صلاته تبطل . لقاءات الباب المفتوح للشيخ ابن عثيمين(2/99)
 
 
Artinya: “Tidak boleh bagi seorang yang sujud untuk mengangkat bagian dari anggota tubuh yang tujuh tersebut, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ““Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota; dahi –beliau menunjukkan dengan tangannya ke atas hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan kedua ujung jari jemari, dan melipat baju dan rambut.” HR. Bukhari (no. 812) dan Muslim (no. 490), maka jika dia mengangkat kedua kakinya atau salah satunya atau kedua tangannya atau salah satunya atau dahinya atau hidungnya atau keduanya, maka sujudnya batal dan tidak sah dan jika sujudnya batal maka shalatnya batal.” Lihat Liqaat Al Bab Al Maftuh, 99/2.


3. sujud harus tegak, kedua paha tidak menyentuh perut dan betis.
 
Berkata At Tirmidzi rahimahullah:
 
 
وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَمَنْ بَعْدَهُمْ يَرَوْنَ أَنْ يُقِيمَ الرَّجُلُ صُلْبَهُ فِى الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.
 
 
وَقَالَ الشَّافِعِىُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ مَنْ لَمْ يُقِمْ صُلْبَهُ فِى الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ فَصَلاَتُهُ فَاسِدَةٌ لِحَدِيثِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- «لاَ تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يُقِيمُ الرَّجُلُ فِيهَا صُلْبَهُ فِى الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ»
 

Artinya: “Perbuatan ini menurut para ulama dari para shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan ulama setelah mereka, mereka berpendapat hendaknya seseorang menegakkan punggungnya ketika ruku dan sujud.
 

Asy Syafi’ie dan Ahmad serta Ishaq rahimahumullah berkata: “Barangsiapa yang tidak menegakkan punggungnya ketika ruku dan sujud maka shalatnya rusak”, berdasarkan sabda Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam: ““Sebuah shalat tidak sah di dalamnya seseorang tidak menegakkan punggungnya di dalam ruku’ dan sujud”. Lihat Kitab Jami’ At Tirmidzi, no.

 
Berkata Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah:
 
 
أي: اجعلوه سجوداً معتدلاً ، لا تهصرون فينزل البطن على الفخذ، والفخذ على الساق ولا تمتدون أيضاً كما يفعل بعضُ النَّاس إذا سجد، يمتد حتى يقرب مِن الانبطاح، فهذا لا شكَّ أنَّه مِن البدع وليس بسنَّةٍ، فما ثبت عن النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم ولا عن الصحابة فيما نعلم أنَّ الإنسانَ يمدُّ ظهره في السجود ، إنَّما مَدُّ الظهر في حال الركوع ، أما السجود فإنَّه يرتفع ببطنه ولا يمده.
 
 
Berkata: “Sujudlah dengan tegak, jangan merunduk sehingga menurunkan perut di atas paha dan paha di atas betis, dan juga jangan terlalu memanjang sebagaimana yang dilakukan sebagian orang jika dia sujud, memanjang samapi mendekati dalam keadaan merebahkan diri, maka tidak diragukan ini adalah perbuatan bid’ah dan bukan dari sunnah, tidak tetap rwayatnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalalm dan para shahabatnya, sebagaimana yang kami ketahui bahwa seorang tidak merentangkan punggungnya ketika sujud tetpi merentangkannya ketika ruku, adapun ketika sujud dia mengangatkan perutnya dan tidak merentangkannya”. Lihat Kitab Asy Syarh Al Mumti’, 3/168. 
4. Mengangkat kedua lengan tangan ketika sujud 
 
Berkata Al Munawi rahimahullah:
 
 
أي لا يفرشهما على الأرض في الصلاة فإنه مكروه لما فيه من قلة الاعتناء بالصلاة
 
 
Artinya: “Maksudnya adalah tidak merebahkan kedua lengannya di atas tanah ketika sehalat, karena sesungguhnya hal tersebut makruh karena di dalamnya terlihat minimnya perhatian terhadap perkara shalat”. Lihat kitab At Taisir bi Syarh Al Jami’ Ash Shaghir, no. 1/336.
5. Mengarahkan jari jemari tangan dan kaki menghadap kiblat6. Jari jemari tangan di rapatkan ketika sujud.7. Meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan bahu atau telinga.8. Melebarkan kedua lengan tidak menyentuh kedua samping badannya, kecuali jika menganggu jamaah disampingnya.9. Merapatkan dan menegakkan kedua telapak kakinya serta mengahdapkannya ke kiblat. 10. Sujud dengan tuma’ninah, yaitu tidak bergerak ke gerakan lain sebelum menyempurnakan gerakan sujudnya.

 

Saudaraku pembaca…
 

Itu sebagian dari hadits-hadits tentang sujud, masih banyak yang lain, tetapi karena keterbatasan ilmu maka dicukupkan sampai disini. Semoga sujud kita lebih baik dan benar. Selamat mendekatkan diri kepada Allah dengan sujud.

 

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Selasa, 9 Shafar 1433H Dammam Arab Saudi

 

 
 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung