Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Artikel DS

Berdoa Bahasa Indonesia Saat Sujud

Pertanyaan:
 
Bolehkah berdoa di dalam sujud dengan bahasa Indonesia?
 
Jawaban:
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Berdoa di dalam sujud shalat fardhu atau sunnah dengan bahasa selain bahasa Arab, permasalahan ini terjadi perbedaan pendapat diantara madzhab yang empat, 
 
1. Madzhab Hanafiyyah, berpendapat makruh berdoa di dalam shalat dengan selain bahasa Arab, dan arti makruh bagi para ulama terdahulu adalah haram.
 
2. Madzhab Malikiyyah, berpendapat makruh bagi yang mampu dan diperbolehkan bagi yang tidak bisa.
 
3. Madzhab Syafi'iyyah dan Hanabilah, membagi permasalahan menjadi doa yang ma'tsur (langsung datang dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) dan doa yang tidak ma'tsur, untuk doa yang ma'tsurmaka tidak boleh dengan bahasa selain bahasa Arab bagi yang mampu dan diperbolehkan bagi yang tidak mampu, sedangkan untuk doa yang tidak ma'tsur (seperti dalam pertanyaan ibu) maka sama sekali tidak boleh dengan selain bahasa Arab. [Lihat: Al Mausu'ah  Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah (juz: 12/ hal: 172)].
 
 
Akan tetapi mungkin bisa dipertimbangkan fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, beliau berpendapat bahwa berdoa dengan bahasa selain bahasa Arab boleh bagi yang tidak bisa bahasa Arab sama sekali baik di dalam shalat atau di luar shalat, karena seseorang yang tidak bisa bahasa Arab jikalau diperintahkan untuk berdoa dengan bahasa Arab maka hal ini termasuk dari mewajibkan sesuatu yang ia tidak sanggupi, padahal Allah Ta'ala berfirman:
 
{ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا} [البقرة: 286]
 
Artinya: "Allah tidak membebani seseorang kecuali yang ia sanggupi." (QS. Al Baqarah: 267)
 
Kemudian beliau menegaskan bahwa permasalahan ini dibagi menjadi tiga:
 
Pertama, sesuatu yang tidak boleh dibaca di dalam shalat kecuali dengan bahasa Arab yaitu Al Quran.
 
Kedua, sesuatu yang boleh dibaca dengan bahasa Arab dan bahasa lainnya bagi yang tidak mampu berbahasa Arab, seperti doa-doa yang datang dari orang yang berdoa yang tidak ada riwayatnya dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
 
Dan ketiga, doa-doa yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam maka jika mampu dengan bahasa Arab hendaklah ia ucapkan dengan bahasa Arab, jika tidak mampu maka boleh dengan bahasanya sendiri. dengarkan fatwa beliau di dalam kaset Fatwa-Fatwa Al Haram Mekkah. 
 
Dan pendapat yng diambil
 
1. Sebagaimana perkataan Imam Asy Syafi'i rahimahullah "Merupakan kewajiban atas setiap muslim untuk belajar bahasa Arab yang dengannya bisa melaksanakan kewajibannya (yaitu beribadah sebagai hamba Allah)."
 
2. Jika memungkinkan bagi dia untuk berdoa dengan bahasa Arab yang datang dari Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam yang ia pahami artinya, maka hal ini adalah lebih utama dan hendaklah ia berdoa dengan doa yang meliputi seluruh perkara akan tetapi jangan terlalu panjang, sehingga mudah dipelajari, dihapal. Akan tetapi jika tidak memungkinkan bagi dia, maka boleh berdoa dengan bahasanya dan lebih baik lagi doanya tersebut merupakan terjemahan dari doa yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
 
3. Dalil-dalil yang digunakan oleh para ulama rahimahumullah yang membolehkan berdoa dengan selain bahasa Arab bagi siapa yang tidak mampu, dengan catatan penting dia harus belajar secepatnya sehingga bisa membenarkan dan menyempurnakan ibadah-ibadahnya;
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ».
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang hamba berada paling dekat dari Rabbnya ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa". Hadits riwayat Muslim (no. 1111)
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَشَفَ السِّتَارَةَ وَالنَّاسُ صُفُوفٌ خَلْفَ أَبِى بَكْرٍ فَقَالَ:... وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ.
 
Artinya: "Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallammembuka kain penutup dan kaum muslimin dalam keadaan bershaf-shaf di belakang Abu bakar, lalu beliau bersabda: "…Sedangkan di dalam sujud maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa maka seraya cepat dikabulkan bagi kalian". Hadits riwayat Muslim (no. 1102)
 
Sebagian ulama berpendapat, kalau tidak diperbolehkan berdoa di dalam sujud kecuali dengan bahasa Arab, berarti yang tidak bisa berdoa dengan bahasa Arab tidak akan bisa melaksanakan dan mendapatkan kemuliaan akan hadits-hadits ini.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ:  ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو.
 
Artinya: "Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "…Kemudian ia memilih doa yang paling ia sukai". Hadits riwayat Bukhari (no. 835).
 
Sebagian ulama berpendapat, berarti ia boleh memilih doa yang ia inginkan dengan bahasa apapun, akan tetapi Imam Ahmad rahimahullah berpendapat maksud hadits ini adalah memilih doa yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallamWallahu a'lam.

*)Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Selasa, 2 Shafar 1433H, Dammam KSA.

 

 

Sudah Ada Takdir Lalu Untuk Apa Beramal?

Pertanyaan:


Apakah Allah sudah menentukan orang-orang mana yang masuk surga atau masuk neraka sebelum dilahirkan seperti takdir mati, rezeki dan sebagainya yang dicatat dalam Kitab Lauh Mahfudz?

Lalu manusia ikhtiarnya harus bagaimana?
 
 
 
Jawaban:
 
 
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Benar, Allah Ta’ala telah menentukan takdir seluruh makhluk, baik berupa kematian, rezeki, jodoh bahkan masuk neraka atau surga.
 
Semuanya sudah tercatat di Al Lauh Al Mahfuzh, hal ini berdasarkan beberapa dalil, baik dari Al Quran Al Karim atau Sunnah yang shahih.
 
Dalil dari Al Quran:
 
{ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ} [الحج: 70]
 
Artinya: Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lohmahfuz) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”.
 
{إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ} [يس: 12]
 
Artinya: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Yasiin: 12.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
أي: جميع الكائنات مكتوب في كتاب مسطور مضبوط في لوح محفوظ، والإمام المبين هاهنا هو أم الكتاب. قاله مجاهد، وقتادة، وعبد الرحمن بن زيد بن أسلم،
 
Artinya: “Maksudnya adalah seluruh yang terjadi telah tertulis di dalam Kitab, tertulis dan tersebut di dalam Al Lauh Al Mahfuzh, dan Al Imam Al Mubin di sini maksudnya adalah induknya kitab (Ummu Al Kitab), sebagaimana yang dinyatakan oleh Mujahid, Qatadah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslamrahimahumullah”. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 6/568.
 
Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah:
 
والمقصود أن قوله وكل شيء أحصيناه في إمام مبين وهو اللوح المحفوظ وهو أم الكتاب وهو الذكر الذي كتب فيه كل شيء يتضمن كتابة أعمال العباد قبل أن يعملوها
 
Artinya: “Maksud dari Firman Allah وكل شيء أحصيناه في إمام مبين adalah Al lauh Al Mahfuzh dan ia adalah Ummu Al Kitab dan ia juga yang disebut dengan Adz Dzikr yang telah ditulis di dalamnya segala sesuatu yang mencakup penulisan amalan-amalan seluruh hamba sebelum mereka melakukannya”. Lihat kitab Syifa Al ‘Alil, hal. 40.
 
{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ} [الأنعام: 59]
 
Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Al An’am: 59.
 
{ قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَى (51) قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى (52)} [طه:   51 -52]}
 
Artinya: “Berkata Firaun: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?". “Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa”. QS. Thaha: 51-52.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ - قَالَ - وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»
 
Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir makhluk-makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi dan Asy-Nya di atas air”. HR. Muslim.
 
عَنْ عَلِىٍّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ»
 
Artinya: “Ali radhiyallahu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kalian, tidak seorang jiwapun melainkan telah dituliskan Allah tempatnya di surga dan neraka”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
« مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلاَّ وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ».
 
Artinya: “Tidak seorangpun kecuali sudah ditentukan tempatnya dari surga dan neraka”. HR. Muslim.
 
Lalu kalau sudah ditentukan kenapa harus beramal?
 
Atau pertanyaan lain, kalau sudah ditentukan bagaimana seorang muslim menyikapinya?
 
Maka perhatikan beberapa hal berikut …
 
1. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita agar kita beramal, berusaha mencari jalan yang diridhai Allah Ta’ala dengan petunjuk dari Allah Ta’ala yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena segala sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah ditakdirkan atasnya.
 
عَنْ عَلِىٍّ - رضى الله عنه - قَالَ كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فِى جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الأَرْضَ فَقَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ) الآيَةَ .
 
Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:
 
{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)} [الليل: 7]
 
Artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. QS. Al Lail: 5-7.
 
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
 
وفي هذه الأحاديث النهي عن ترك العمل والاتكال على ما سبق به القدر بل تجب الأعمال والتكاليف التي ورد الشرع بها وكل ميسر لما خلق له لا يقدر على غيره.
 
Artinya: “Di dalam hadits-hadits ini terdapat larangan untuk meninggalkan amal dan bersandar dengan apa yang telah ditakdirkan, akan tetapi wajib beramal dan mengerjakan beban yang disebutkan oleh syariat, dan setiap sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah diciptakan untuknya, yang tidak ditakdirkan atas selainnya”. Lihat kitab Al Minhaj, Syarah Shahih Muslim., 16/196.
 
2. Ketahuilah kehidupan dunia diciptakan Allah untuk suatu hikmah yaitu menguji siapa yang beriman dan tidak.
 
Allah Ta’ala berfirman: 
 
{الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ } [الملك: 2]
 
Artinya: “(Dia Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. QS. Al Mulk: 2.
 
Kehidupan dunia ini adalah lahan ujian, dimana Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan diutusnya para Rasul-Nya ‘alaihimussalam dan diturunkannya kitab-kitab-Nya, siapa yang beriman kepada para Rasul dan mengamalkan apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut, maka dia akan menjadi penghuni surga yang diliputi dengan kebahagiaan dan siapa yang tidak beriman kepada para Rasul‘alaihimussalam, lalu akhirnya tidak mengerjakan apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut maka dia akan menjadi penghuni neraka dengan segala macam kesengsaraan di dalamnya.
 
Sebagian manusia sering bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan di atas dan tidak bertanya tentang rezeki yang berbeda-beda, padahal permasalahan di atas dan permasalahan rezeki satu sisi yang sama, yaitu hal ini adalah sesuatu yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh para makhluk dan hanya Allah yang mengetahui apa yang akan terjadi.
 
Maka wajib bagi kita untuk yakin dengan hikmah dan keadilan Allah Ta’ala, yaitu bahwa Dia tidak akan menyiksa seseorang tanpa dosa yang berhak atasnya untuk disiksa, itupun Allah telah memaafkan dari kebanyakan kesalahan kita.
 
Dan prinsipnya, adalah kita harus menerima terhadap perkara yang telah ditetapkan oleh Allah, baik yang bisa dirasiokan oleh akal kita atau tidak bisa, karena pemahaman kita yang sangat pendek, dan kelemahan serta kekurangan ada pada kita, bukan pada hikmah Allah Ta’ala, bahkan Allah Maha Suci tidak boleh ditanya apa yang Dia perbuat.
 
Allah Ta’ala berfirman:
 
{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} [الأنبياء: 23]
 
Artinya: “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai”. QS. Al Anbiya’: 23.
  
3. Jangan terlalu banyak bertanya dan menyibukkan diri dengan sejenis pertanyaan ini.
 
Jangan menyibukkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, karena akan sangat berpengaruh buruk kepada keimanannya sedikit-semi sedikit, perlahan-lahan.
 
Tetapi, yang harus kita imani adalah bahwa Allah telah:
1. Mengetahui seluruh takdir makhluk dengan ilmunya
2. Menuliskan takdir seluruh makhluk
3. Menghendaki seluruh yang terjadi
4. Menciptakan apapun yang terjadi.
 
Inilah yang diwajibkan atas seorang muslim mengimaninya.
 
Adapun hal yang dibelakang ini, sebagaimana yang disebut oleh sebagian ulama “Sirrul Qadar” (rahasia takdir), maka tidak boleh terlalu membebani diri dalam pencariannya, inilah maksud dari perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika seseorang bertanya kepada beliau tentang takdir:
 
عبد الملك بن هارون بن عنترة ، عن أبيه ، عن جده قال : أتى رجل علي بن أبي طالب رضي الله عنه فقال : أخبرني عن القدر ، ؟ قال : « طريق مظلم ، فلا تسلكه» قال : أخبرني عن القدر ؟ قال : بحر عميق فلا تلجه « قال : أخبرني عن القدر ؟ قال : » سر الله فلا تكلفه
 
Abdul Malik bin harun bin ‘Antharah mendapatkan riwayat dari bapaknya dari kakeknya, beliau berkata: “Seseorang mendatangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, lalu bertanya: “Beritahukan kepadaku tentang takdir?”, beliau menjawab: “Jalan yang gelap janganlah engkau jalani”, orang ini mengulangi pertanyaannya, dijawab oleh beliau: “Laut yang dalam maka janganlah engkau menyelam ke dalamnya”, orang ini mengulangi pertanyaannya, beliau menjawab: “Rahasia Allah  maka jangan engkau membebani dirimu”.  Lihat kitab Asy Syari’ah, karya Al Ajurry, 1/476. 
 
Semoga jawaban ini bisa menjadi penjelasan bagi yang menulisnya sebelum yang bertanya. Wallahu a’lam.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 30 Al Muharram 1433H, Dammam KSA. 

 

 

Hukum Menikahi Sepupu

Assalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,
 
Saya seorang muslim... saya mau tanya soal pernikahan dengan sepupu... saya mempunyai sepupu, dia anak dari adik kandung perempuan ayah saya, dia kristen, tapi saya sangat-sangat menyayangi dia, saya sempat berfikir jikalau memang boleh menurut islam, saya mau menikahi dia karena dia juga menyayangi saya...
 
Selain itu alasan saya mau menikahi dia adalah :
1. Ingin mengenalkan dia kepada Islam dan mengislamkan dia yang notabene di mana dia telah berkata walaupun dia kristen namun apabila ada yang ingin mengajarkan dan menuntun dia di dalam Islam dan orang itu orang yg ia sayangi maka ia bersedia untuk menikah dengan orang tersebut dan mempelajari islam lebih dalam dan berpindah memeluk islam. Bahkan 2 kakak laki2nya telah memeluk Islam semenjak menikah 
 
2. Saya sangat mencintai dia yang dimana saya sering mendengar curhat darinya bahwa lelaki yang ia temui selalu hanya menyakitinya saja dan hingga umurny yang ke-27 saat ini dia belum menemukan orang yang sesuai.
 
3. Jelas2 saya tidak rela dan tidak tega jikalau ia harus terus menerus memeluk agama kristen seumur hidupnya karena menurut saya agama yang paling sempurna dan diterima oleh Allah SWT adalah islam. Yang menjadi sandungan buat saya adalah dikatakan oleh nenek kami dari adat kami sebagai orang jawa dilarang menikah dengan sepupu, dan apabila kami tetap nekat maka keturunan kami akan cacat, saya tetap tidak peduli dengan hal itu, jikalau Allah mengizinkan saya akan memperjuangkannya. Mohon tanggapan dan pencerahan dari anda... 
 
Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayah kepada anda sekeluarga...amin.
 
Wassalammualaikum Wr Wb
 
NB: Jika ada Ayat-ayat Al-Quran , hadist ataupun sunnah yang bias mendukung tentang hal ini mohon juga di lampirkan. Terima kasih.
 
 
 
Jawaban:
 
Wa’alaikumussalam warahamatullahi wabarakatuhu, Alhamdulillah ana bikhair.
 
بسم الله الرحمن الرحيم
 
الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Fatwa Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa, No. Fatwa: 16075
 
Pertanyaan: “Bolehkah orang islam selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menikah dengan anak perempuan paman (saudara kandung bapak) dan anak perempuan bibi (saudari kandung ibu), anak perempuan bibi (saudari kandung bapak) sesuai dengan hukum-hukum Al Quran Al Karim?”
 
Jawab: Syari’at Islam adalah syari’at yang  mudah, sempurna dan jelas, tidak ada di dalamnya ifrath(melampaui batas) dengan mengharamkan anak perempuan paman (saudara kandung bapak) atau paman (saudara kandung ibu) atau tafrith (terlalu berlebihan) dengan memperbolehkan menikahi saudari (istri) dan anak perempuan dari saudari, hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala di dalam surat Al Ahzab ayat 50:
 
 
 
{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمً} [الأحزاب: 50]
 
 
Artinya: “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[1].
 
Meskipun bentuk redaksi di awal ayat ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamtidak melarang masuknya umat islam bersama beliau, karena asal hukum di dalam redaksi jika ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka umat islam masuk ikut di dalamnya kecuali jika ada dalil yang menunjukkan kepada pengkhususan sebuah hukum di dalamnya untuk Nabi  Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana penyerahan diri seorang wanita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan hal ini telah dinyatakan akan kekhususannya di akhir ayat, yaitu firman Allah di dalam surat Al Ahzab ayat: 50,
 
 
وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ
 
Artinya: “…dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu…”[2].
 
Semoga Allah memberikan taufik dan shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan atas Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
 
Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil : Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Shalih Al Fauzan,  Abdul Aziz Alu Syeikh, Bakr Abu Zaid.
 
Kalau boleh ditambahkan: Islam telah mengharamkan pernikahan dengan wanita-wanita yang ada kaitan mahram, seperti menikahi ibu, anak perempuan, anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan),  anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan), bibi (saudara perempuan kandung bapak), bibi (saudara perempuan kandung ibu). Oleh sebab itu menikahi mereka yang disebutkan di atas, diharamkan di dalam agama Islam, sedangkan selainnya seperti; anak perempuan bibi (saudara perempuan kandung bapak) atau anak perempuan paman (saudara laki-laki kandung bapak) atau anak perempuan paman (saudara laki-laki kandung ibu) atau anak perempuan bibi (saudara perempuan kandung ibu) maka dihalalkan menikahi mereka. Dalil akan hal ini adalah Firman Allah Ta’ala:
 
 
{ حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (23) وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (24)} [النساء: 23، 24]
 
Artinya: “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
 
“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”[3].
 
Perhatikan Firman-Nya:
 
 
وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ
 
Artinya: “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina[4].
 
Ketika menafsiri ayat ke 50 dari surat Al Ahzab:
 
 
وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ
 
Artinya: “…dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu…”[5]
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ini adalah sebuah keadilan antara ifrath dan tafrith, karena orang-orang Nashrani tidak menikahi kecuali jika antara laki-laki dan wanita terdapat tujuh keturunan atau lebih, sedangkan orang-orang Yahudi, mereka menikahi anak perempuan saudara yang laki-laki atau saudara yang perempuan, kemudian datanglah syari’at Islam yang sempurna dan suci ini dengan menghancurkan sikap ifrathnya orang-orang Nashrani dengan dimubahkannya (menikahi) anak perempuan paman atau bibi (saudara laki-laki atau saudara perempuan kandung bapak) dan anak perempuan paman atau bibi (saudara laki-laki atau saudara perempuan kandung ibu) dan mengharamkan apa yang telah dilebihkan oleh orang-orang Yahudi yang menghalalkan untuk menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki atau anak perempuan dari saudara perempuan, hal ini adalah merupakan keburukan dan malapetaka”[6]
 
Sedangkan apa yang diisukan bahwa menikah dengan kerabat dekat bisa menyebabkan banyak penyakit dan kecacatan terhadap keturunan pasangan tersebut, maka isu ini perlu bukti yang nyata, bahkan kebanyakan para ahli menepis isu ini dan merendahkannya setelah mereka melakukan penelitian-penelitian yang mendalam, bahkan lebih banyak mendatangkan efek kesehatan yang bagus yang didapatkan oleh kedua pasangan dan juga keturunannya.
 
Yang jelas, tidak ada keutamaan dari pernikahan dengan kerabat jauh dibandingkan pernikahan dengan kerabat dekat dan begitupula sebaliknya. Kalau seandainya di dalam pernikahan dengan kerabat dekat terdapat bahaya, tidak mungkin Allah Ta’ala menghalalkan untuk rasul-Nya sebagaimana yang terdapat di dalam surat Al Ahzab ayat 50 tadi.
 
Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menikahi Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anhapadahal beliau adalah anak perempuan bibi nabi dan juga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallammenikahkan anak perempuan beliau Fathimah dengan anak paman beliau Ali bin Abi Thalib dan masih saja salafush shalih menikah dengan para kerabat yang dihalalkan.
 
Sebenarnya perkara ini kembali kepada keadaan pasangan laki-laki dan wanita tersebut setelah taqdir Allah Ta’ala, adanya keturunan yang buruk rupanya, cacat mental atau fisiknya yang terdapat dari dua pasangan kerabat dekat tidak berarti cacat tersebut hanya pada pernikahan kerabat dekat, oleh sebab itu pasangan tersebut tidak usah risau ataupun cemas bahkan sampai ada niatan untuk menahan kehamilan karena khawatir akan mendapatkan keturunan yang tidak diinginkan, akan tetapi yang harus dilakukan oleh seorang hamba Allah yang beriman adalah mengambil usaha-usaha yang nyata dan ridha dengan ketetapan Allah Ta’ala.
 
Sedangkan menikahi seorang wanita Ahli Kitab, baik itu Yahudi ataupun Nashrani maka dihalalkan bagi laki-laki muslim dan tidak sebaliknya hal ini berdasarkan Firman Allah Ta’ala:
 
{ الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [المائدة: 5]
 
Artinya: “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi[7].
 
Lebih lagi jika diperakirakan dengan izin Allah Ta'ala sebab pernikahan ini, akhirnya wanita tersebut akhirnya memeluk agama Islam yang sangat mulia ini, maka menikahi wanita tersebut termasuk amal ibadah yang sangat mulia sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
 
انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللَّهِ فِيهِ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ  
 
Artinya: “Berjalanlah dengan perlahan sampai kamu turun di tanah mereka, lalu ajaklah mereka masuk ke dalam agama Islam dan beritahukanlah kepada mereka tentang pa yang diwajibkan atas mereka berupa hak-hak Allah, demi Allah, Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan sebabmu lebih baik bagimu daripada kamu memilki unta merah[8].
 
Untuk menambahkan pengetahuan maka kami tambahkan sebuah fatwa di bawah ini, insya Allah bermanfa’at: 
 
Fatwa Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa, No. Fatwa: 8828
 
Pertanyaan: “Apakah hukum berjabat tangan dengan wanita yang ajnabiyah (bukan mahram) dalam agama Islam, apakah anak perempuan paman (saudara laki-laki kandung bapak), anak perempuan paman (saudara laki-laki kandung ibu),  anak perempuan dari anak paman saya, istri saudara kandung saya, istri paman (saudara laki-laki kandung bapak) saya, istri paman (saudara laki-laki kandung ibu) saya dan demikian pula saudari istri saya dan anak perempuannya, juga bibi saya yaitu anak perempuan dari pamannya bapak, (bibi saya) yaitu anak perempuan dari pamannya ibu, dan juga anak perempuan anak paman saya, apakah wanita-wanita yang saya sebutkan di dalam pertanyaan dianggap sebagai wanita yang bukan mahram, bolehkah berjabat tangan dengan mereka dan apa hukum melihat mereka tanpa syahwat?”
 
Jawaban: “Anak perempuan paman (saudara kandung bapak)mu, anak perempuan paman (saudara kandung ibu)mu,  anak perempuan dari anak laki-laki pamanmu, istri saudara kandungmu, istri paman (saudara laki-laki kandung bapak)mu, istri paman (saudara laki-laki kandung ibu)mu  dan saudara perempuan istri dan anak perempuan saudara perempuan istrimu, seluruh dari yang anda sebutkan di dalam pertanyaan adalah ajnabiyyat (bukan mahram) bagi anda, tidak boleh anda melihat mereka baik dengan syahwat atau tidak dengan syahwat. Dan demikian pula bibimu yaitu anak perempuan pamannya bapakmu, saudara laki-laki ibumu yaitu anak perempuan pamannya ibu, tidak boleh bagi anda berjabat tangan dengan keduanya, tidak boleh juga melihat kepada keduanya, karena mereka berdua bukan mahram bagi anda dan anda bukan sebagai mahram bagi mereka berdua, sedangkan bibi anda yaitu saudara perempuan bapak atau saudara perempuan kakekmu dan terus meningkat maka mereka adalah mahram bagi anda dan demikian pula saudara perempuan ibumu, saudara perempuan nenekmu terus meningkat lagi maka mereka adalah marham bagimu.
 
Semoga Allah memberikan taufik, shalawat dan salam selalu tercurahkan atas nabi kita Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam.
 
Ketua         : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil         : Abdurrazzaq Afifi, Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud.
 
*) Disusun dan diterjemahkan oleh Ahmad Zainuddin, Dammam KSA.



[1] QS. Al Ahzab: 50
[2] QS. Al Ahzab: 50
[3] QS. An Nisa-’: 23-24
[4] QS. An Nisa-‘: 24
[5] QS. Al Ahzab: 50
[6] Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (6/442)
[7] QS. Al Ma-idah: 5
[8] Hadits riwayat Bukhari dan Muslim

 

 

Awas ... Maksiat Mengajak Teman-Temannya Yang Lain!

كان شداد بن أوس رضي الله عنه يقول: "إذا رأيت الرجل يعمل بطاعة الله فاعلم أن لها عنده أخوات, وإذا رأيت الرجل يعمل بمعصية الله, فاعلم أن لها عنده أخوات, فإن الطاعة تدل على أختها وإن المعصية تدل على أختها (فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى)
 
Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu berkata: "Jika kamu melihat seorang yang mengerjakan ketaatan kepada Allah, maka ketahuilah bahwa ketaatan tersebut mendatangkan saudara-saudara lain (=ketaatan-ketaatan lain) baginya. Dan jika kamu melihat seorang yang mengerjakan maksiat kepada Allah, maka ketahuilah bahwa maksiat tersebut mendatangkan saudara-saudara (=maksiat-maksiat lain) baginya, karena sesungguhnya sebuah ketaatan menunjukkan kepada saudaranya (=ketaatan lainnya) dan sebuah maksiat  menunjukkan kepada saudaranya (=maksiat lainnya), Allah berifrman:
 
(فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى)
 
Artinya: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa". "Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)". "Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah". "Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup". "Serta mendustakan pahala yang terbaik". "Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar". QS. Al Lail: 5-10. Lihat kitab Al Mafshal fi fiqh Ad Da'wat Ila Allah, 3/79.
 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
 
وقال بعض السلف: من ثواب الحسنة الحسنة بعدها، ومن جزاء السيئة السيئةُ بعدها
 
Artinya: "Sebagian ulama salaf (terdahulu dari generasi shahabat, tabi'ien dan tabi'ut tabi'ien) berkata: "Termasuk dari ganjaran sebuah kebaikan adalah (mengerjakan)  sebuah kebaikan setelahnya, dan termasuk dari balasan kesalahan/dosa adalah (mengerjakan) kesalahan/dosa setelahnya."
 
والآيات في هذا المعنى كثيرة دالة على أن الله، عز وجل، يُجازي من قصد الخير بالتوفيق له، ومن قصد الشر بالخذلان.
 
Artinya: "Dan ayat-ayat di dalam makna ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla, memberikan ganjaran kepada siapa yang bermaksud melakukan kebaikan yaitu dengan memberikan taufik kepadanya dan kepada siapa yang bermaksud dengan mengerjakan keburukan yaitu dengan kehinaan". Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah
 
Ingin contohnya…
 
Perhatikan perkataan Syaikhul Islam rahimahullah berikut ini:
 
و " الْمَعَازِفُ " هِيَ خَمْرُ النُّفُوسِ تَفْعَلُ بِالنُّفُوسِ أَعْظَمَ مِمَّا تَفْعَلُ حُمَيَّا الْكُؤُوسِ فَإِذَا سَكِرُوا بِالْأَصْوَاتِ حَلَّ فِيهِمْ الشِّرْكُ وَمَالُوا إلَى الْفَوَاحِشِ وَإِلَى الظُّلْمِ فَيُشْرِكُونَ وَيَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ وَيَزْنُونَ . وَهَذِهِ " الثَّلَاثَةُ " مَوْجُودَةٌ كَثِيرًا فِي أَهْلِ " سَمَاعِ الْمَعَازِفِ " : سَمَاعِ الْمُكَاءِ وَالتَّصْدِيَةِ أَمَّا " الشِّرْكُ " فَغَالِبٌ عَلَيْهِمْ بِأَنْ يُحِبُّوا شَيْخَهُمْ أَوْ غَيْرَهُ مِثْلَ مَا يُحِبُّونَ اللَّهَ.
 
Artinya: "Dan Al Ma'azif (alat-alat yang mengeluarkan musik atau musik itu sendiri, lihat kitab Fath Al Bari, karya Ibnu Hajar dan Majmu' Fatawa syeikhul Islam-pent) adalah pemabuknya jiwa, dia berbuat kepada jiwa lebih dahsyat daripada apa yang diperbuat oleh cangkir-cangkir panas (khamr), jika mereka telah mabuk dengan suara-suara (nyanyian) maka akan masuk ke dalam diri mereka kesyirikan dan condong kepada perbuatan-perbuatan fahisyah (zina dan segala yang mendekatkannya-pent) dan kepada perbuatan zhalim, maka akhirnya mereka melakukan kesyirikan, membunuh jiwa yang telah diharamkan oleh Allah serta berzina. Dan tiga perkara ini banyak terdapat pada orang-orang yang suka mendengar  musik; mendengarkan siulan dan tepuk tangan, adapun perihal kesyirikan maka banyak terdapat pada mereka yaitu dengan mencintai syeikh mereka atau selainnya seperti mereka mencintai Allah Ta'ala. Lihat Majmu' Fatwa, 10/417.
 
Coba perhatikan…
 
Pertama mendengarkan musik, kemudian menyebabkan…
 
Kedua melakukan kesyirikan, kemudian menyebabkan…
 
Ketiga membunuh jiwa yang diharamkan untuk dibunuh, terakhir menyebabkan kepada…
Keempat berzina.
 
Makanya… awas… maksiat ngajak teman-temannya yang lain. Wallahu 'alam
 
Semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Amin.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Kamis, 19 Rabi'uts Tsani 1432 H, Dammam KSA

 

Bagi anda Yang Luaskan Rezekinya

Tulisan ini saya tujukan kepada…

Seluruh muslim yang diluaskan rizkinya oleh Allah Ta'ala…

Seluruh orang muslim kaya yang tahu hakikat kekayaan sebenarnya…

Seluruh orang muslim yang mempunyai kelebihan harta dunia…

Mari perhatikan…

Bagaimana Allah Ta'ala menginginkan kebaikan untuk Anda-Anda…. sekarang…!!!

Dengan membukakan pintu-pintu kebaikan…

Agar Anda dengan leluasa beramal, bershadaqah, berinfaq, dan mengerjakan apapun…

Untuk meringankan derita kaum muslim dengan segala macam derita dan kesempitan mereka yang lagi diuji keimanannya oleh Allah Al-Hakim… 

Semoga mereka kembali hanya kepada Allah Ta'ala 
 
 
Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak ingin menjadi orang yang beruntung menurut Allah Ta'ala?
 
 
 
قَالَ الله تَعَالَى: {وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}
 
Artinya: "Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat keberuntungan”. QS. Al-Hajj: 77 
 
Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak ingin mendapatkan kebaikan yang sempurna dari Allah Ta'ala?
 
{لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ }
 
Artinya: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya". QS. Ali Imran: 92
 
Apakah Anda (Wahai orang kaya) tidak ingin mendapatkan ini:
 
a. Allah Ta'ala selalu memenuhi hajat Anda?
 
b. Allah Ta'ala selalu menghilangkan kesusahan Anda pada hari kiamat?
 
وعن ابن عمر رضي الله عنهما : أنَّ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : ((المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يُسْلِمُهُ . مَنْ كَانَ في حَاجَة أخِيه ، كَانَ اللهُ في حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كرَبِ يَومِ القِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ يَومَ القِيَامَةِ))
 
Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang muslim adalah saudara untuk muslim yang lain, tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya (muslim) maka niscaya Allah akan memenuhi kebutuhannya, barangsiapa yang menghilangkan kesusahan seorang muslim maka niscaya Allah akan menghilangkan kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat dan barangsiapa yang menutupi aib seorang msulim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat". HR. Bukhari dan Muslim

Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak ingin mendapatkan ini:
  
a. dimudahkan Allah Ta'ala urusan apapun di dunia dan akhirat?
 
 
b. selalu dalam pertolongan Allah Ta'ala?
 
وعن أَبي هريرة - رضي الله عنه - ،عن النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم -، قَالَ: ((مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا ، نَفَّسَ الله عَنْهُ كُربَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ ، وَمَنْ يَسَّر عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ الله في الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، والله في عَونِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ في عَونِ أخِيهِ ....)) رواه مسلم
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa RAsulullah shallahu 'alaihi wasallam bersabda: " barangsiapa yang menghilangkan kesusahan seorang muslim maka niscaya Allah akan menghilangkan kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat, barangsiapa yang memudahkan orang yang lagi dalam kesusahan maka niscaya Allah akan memudahkan atasnya kesusahan di dunia dan akhirat dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat, senantiasa Allah di dalam menolong seorang hamba selam dia menolong saudaranya". HR. Muslim.
 
Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak tergugah hati untuk mendapatkan ini semua padahal kesempatan di depan Anda:
 
a. Orang yang paling dicintai Allah Ta'ala?
 
b. Mengerjakan amalan yang paling dicintai Allah Ta'ala?
 
c. Ditetapkan kaki pada hari yang mana semua kaki terpeleset masuk ke dalam neraka (hari kiamat)?
 
"عن ابن عمر : أن رجلا جاء إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : يارسول الله أي الناس أحب إلى الله ؟ وأي الأعمال أحب إلى الله ؟ أحب الناس إلى الله تعالى أنفعهم للناس و أحب الأعمال إلى الله عز وجل سرور يدخله على مسلم أو يكشف عنه كربة أو يقضي عنه دينا أو تطرد عنه جوعا و لأن أمشي مع أخ في حاجة أحب إلي من أن أعتكف في هذا المسجد ، ( يعني مسجد المدينة ) شهرا و من كف غضبه ستر الله عورته و من كظم غيظه و لو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه رجاء يوم القيامة و من مشى مع أخيه في حاجة حتى تتهيأ له أثبت الله قدمه يوم تزول الأقدام ( و إن سوء الخلق يفسد العمل كما يفسد الخل العسل )"
 
Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma menceriatakan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah yang paling dicintai Allah Ta'ala? amalan apakah yang paling dicintai Allah Ta'ala?", Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Orang yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (orang lain) dan amalan yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah sebuah kebahagiaan yang dimasukkan ke dalam seorang muslim atau meringankan kesusahan atasnya atau membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa lapar darinya dan sungguh aku berjalan bersama seorang saudara (muslim) di dalam sebuah keperluan lebih aku cintai daripada aku beri'tikaf di dalam masjid ku (masjid Nabawi) ini selam sebulan, barangsiapa yang menahan amarahnya maka Allah akan menutup auratnya, barangsiapa yang bisa menahan murkanya kalau seandainya dia ingin tumpahkan murkanya maka dia sangat sanggup untuk menumpahkannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan penuh harapan pada hari kiamat, barangsaiapa yang berjalan dengan saudara dalam sebuah kebutuhan sampai selesai keperluannya maka Allah akan menetapkan kakinya pada hari seluruh kaki terpeleset (hari kiamat) dan sesungguhnya akhlak yang buruk menghancurkan amalan sebagaimana cuka merusak madu". HR. Ath-Thabarani di dalam Al-Mu'jamul Kabir dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilat Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 906.
 
Terakhir…bagi seluruh kaum muslimin…
 
Ingatlah beberapa pesan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada kita berikut ini:
 
عن أَبي موسى - رضي الله عنه - ، قَالَ: قَالَ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم -: ((المُؤْمِنُ للْمُؤْمِنِ كَالبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضَاً)) وشبَّكَ بَيْنَ أصَابِعِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
 
Artinya: "Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang mukmin bagi mukmin yang lain laksana satu bangunan saling menguatkan satu dengan yang lainnya". HR. Bukhari dan Muslim.
 
عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - : ((مَثَلُ المُؤْمِنينَ في تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمهمْ وَتَعَاطُفِهمْ ، مَثَلُ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ والحُمَّى)) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ
 
Artinya: "An Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan orang-orang beriman di dalam persahabatan dan kasih sayang serta kelembutan mereka, laksana satu jasad, jika satu anggota tubuh merasakan sakit maka seluruh anggota tubuh lainnya merasakannya dengan tidak bisa tidur dan rasa panas (demam)". HR. Bukhari dan Muslim
 
وعن أنس - رضي الله عنه - ، عن النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ: ((لاَ يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأخِيهِ مَا يُحِبُّ لنَفْسِهِ)) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ
 
Artinya: "Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sesuatu yang dia cintai untuk dirinya". HR. Bukhari dan Muslim.
 
*) Oleh Abu Abdillah Ahmad Zainuddin

 

 

Apakah Ada Orang Yang Sukses ?

Di Mekkah, di samping Baitullah, pada tanggal 26 Al Muharram 1433H/21 Desember 2011H, diselenggarakan Musabaqah Hifzh wa Tafsir Al Quran (Lomba Hafalan dan Tafsir Al Quran). Mungkin ada yang berbagi informasi, adakah kita atau keluarga atau kerabat kita yang ikut musabaqah ini?
 
Kalau ada yang mengikutinya, alhamdulillah, semoga dia yang ikut musabaqah ini diberikan kemudahan dan yang terbaik dari Allah Ta'ala. 
 
Sungguh dia-lah yang pantas disebut orang-orang yang terbaik, karena kategori orang terbaik, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

 
عن عثمان بن عفان -رضي الله عنه-، قَالَ : قَالَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: ((خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ))
 
Artinya: "Dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, beliau menuturkan: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari).
 
Sungguh inilah sebuah kesuksesan hakiki, di saat manusia memahami arti kesuksesan dengan pangkat yang tinggi, harta yang banyak, rumah yang mewah, menjadi publik figur duniawi, sukses dalam karir duniawi, sekolah tinggi di luar negeri, terkenal di mana-mana, tapi tidak dikenal oleh Allah Ta'ala sebagai hamba yang bertakwa.

 
Allah Ta'ala berfirman:
 
{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ} [آل عمران: 185]
 
Artinya: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali Imran: 185) 
 
Maka, rumus hidup sukses adalah "barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung".
 
Perhatikan contoh nyata yang pernah ada di muka bumi ini!
 
Abu Lahab = orang tidak sukses, karena dinyatakan masuk neraka bahkan sebelum dia meninggal, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Quran, padahal dia orang kaya, terkenal dan mempunyai kedudukan yang tinggi di masyarakat.
 
{تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)} [المسد: 1 - 5]
 
Artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al Masad: 1-5).
 
Ketidak suksesan Abu Lahab dapat dilihat dari beberapa poin: 
 
Pertama, dinyatakan sebagai orang yang penuh kerugian dan kehancuran. Berkata Ibnu Katsirrahimahullah:
 
فقوله تعالى: { تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ} أي: خسرت وخابت، وضل عمله وسعيه، {وَتَبَّ} أي: وقد تب تحقق خسارته وهلاكه.
 
“Firman Allah Ta’ala: {تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ} (Binasalah kedua tangan Abu Lahab), maksudnya adalah kedua tangannya rugi dan malang, perbuatan dan usahanya sia-sia, dan Firman Allah Ta’ala {وَتَبَّ} (dan sesungguhnya dia akan binasa), maksudnya adalah benar-benar terjadi kerugian dan kebinasaanya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah)
 
Kedua, Harta dan anaknya tidak bisa menolongnya. Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
وقوله: { مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ } قال ابن عباس وغيره: { وَمَا كَسَبَ } يعني: ولده. وَرُوي عن عائشة، ومجاهد، وعطاء، والحسن، وابن سيرين، مثله.
 
“Firman Allah Ta’ala: { مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ }, berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan lainnya: “{ وَمَا كَسَبَ } maknanya adalah: anaknya”. Makna seperti ini juga diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Mujahid, ‘Atha, al Hasan dan Ibnu Sirin rahimahumullah.
 
وذكر عن ابن مسعود أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما دعا قومه إلى الإيمان، قال أبو لهب: إذا كان ما يقول ابن أخي حقا، فإني أفتدي نفسي يوم القيامة من العذاب بمالي وولدي، فأنزل الله: { مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ } .
 
Disebutkan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika mendakwahi kaumnya kepada keimanan, Abu Lahab berkata: “Jika yang dikatakan keponokanku itu benar, maka sungguh menebus diriku dengan harta dan anakku, pada hari kiamat agar terlepas dari siksa, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat: { مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ }.
 
Ketiga, Disiksa di dalam neraka, bahkan sudah dinyatakan sebagai penghuni neraka ketika dia masih berjalan di atas muka bumi. Karena surat ini diturunkan ketika dia masih hidup.
 
Sungguh menyedihkan…. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kegagalan dan ketidaksuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
وقوله: { سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ } أي: ذات شرر ولهيب وإحراق شديد
 
“Firman Allah { سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ } yaitu, api yang mempunyai percikan bunga api dan gejolak dan panas yang sangat membakar.”
 
Keempat, Orang yang menyiksanya di neraka adalah istrinya sendiri. Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
{وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ} وكانت زوجته من سادات نساء قريش، وهي: أم جميل، واسمها أروى بنتُ حرب بن أمية، وهي أخت أبي سفيان. وكانت عونًا لزوجها على كفره وجحوده وعناده؛ فلهذا تكون يوم القيامة عَونًا عليه في عذابه في نار جهنم. ولهذا قال: {حَمَّالَةَ الْحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ} يعني: تحمل الحطب فتلقي على زوجها، ليزداد على ما هو فيه، وهي مُهَيَّأة لذلك مستعدة له
 
Firman Allah: { وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ } dan istrinya adalah seorang wanita terkemuka dari perempuan-perempuan Quraisy, dia dipanggil Ummu Jamil, dan namanya: Arwa bintu Harb bin Umayyah, dan dia adalah saudari Abu Sufyan. Dia adalah seorang yang bersekongkol dengan suaminya atas kekafiran, pengingkaran dan kecongkakan suaminya, oleh sebab inilah pada hari kiamat, dia akan menjadi penolongnya di dalam penyiksaannya di dalam neraka Jahannam. Oleh sebab inilah Allah Ta’ala berfirman: { حَمَّالَةَ الْحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ }  maksudnya yaitu dia akan membawa kayu bakar yang akan dia lemparkan kepada suaminya, agar bertambah siksa yang dirasakan suaminya. Istrinya ini (opada hari kiamat) disediakan dan disiapkan untuk itu.
 
Kawan pembaca…. sungguh kehinaan yang sangat hina!!!    
 
Faedah Emas sangat berarti dari Ibnu Katsir rahimahullah, beliau berkata:
 
من أحب شيئا وقدمه على طاعة الله، عذب به. وهؤلاء لما كان جمع هذه الأموال آثر عندهم من رضا الله عنهم، عذبوا بها، كما كان أبو لهب، لعنه الله، جاهدًا في عداوة الرسول، صلوات الله وسلامه عليه وامرأته تعينه في ذلك، كانت يوم القيامة عونًا على عذابه أيضا { فِي جِيدِهَا } أي: عنقها { حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ } [المسد: 5] أي: تجمع من الحطب في النار وتلقي عليه، ليكون ذلك أبلغ في عذابه ممن هو أشفق عليه -كان -في الدنيا،
 
Artinya: “Siapa yang mencintai sesuatu dan mendahulukannya di atas ketaatan kepada Allah, maka Allah akan menyiksa dengan yang dia cintai tersebut. Mereka yang mengumpulkan harta ini dan lebih mendahulukan diri mereka daripada mendapat kerelaan dari Allah atas mereka, maka mereka (yang tidak mengeluarkan zakat) akan disiksa dengannya. Sebagaimana Abu Lahab, semoga Allah melaknatnya, dia berjuang untuk memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan istrinya menolongnya di dalam perihal itu, maka pada hari kiamat istrinya juga merupakan penolong atas siksanya, Allah berfirman: { فِي جِيدِهَا }  maksudnya adalah di leher (istri)nya ada { حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ }  maksudnya adalah istrinya akan mengumpulkan kayu bakar di dalam neraka dan melemparkan padanya agar hal tersebut lebih pedih siksanya, karena disiksa oleh orang yang paling menyayanginya ketika di dunia.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Surat At Taubah Ayat 35).
 
Kebalikannya… 
 
Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu = orang sukses karena dinyatakan masuk surga oleh Rasulullahshallallahu 'alaihi wassalam padahal beliau mantan budak. Bahkan suara terompahnya didengar oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di depan beliau di dalam surga. Allahu Akbar!!!
 
عن أَبِى بُرَيْدَةُ قَالَ أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَدَعَا بِلاَلاً فَقَالَ « يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِى إِلَى الْجَنَّةِ مَا دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَطُّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى فَأَتَيْتُ عَلَى قَصْرٍ مُرَبَّعٍ مُشَرَّفٍ مِنْ ذَهَبٍ فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ فَقَالُوا لِرَجُلٍ مِنَ الْعَرَبِ فَقُلْتُ أَنَا عَرَبِىٌّ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ قَالُوا لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ قُلْتُ أَنَا قُرَشِىٌّ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ قَالُوا لِرَجُلٍ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ قُلْتُ أَنَا مُحَمَّدٌ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ قَالُوا لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ». فَقَالَ بِلاَلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِى حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَىَّ رَكْعَتَيْنِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «بِهِمَا»
 
Artinya: “Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Suatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammemanggil Bilal, beliau bersabda: “Wahai Bilal, dengan apa engkau mendahuluiku ke dalam surga, tidaklah aku masuk surga melainkan aku mendengar suara terompahmu di depanku,tadi malam aku telah masuk ke dalam surga, aku mendengar suar terompahku di depanku, lalu akau mendatangi sebuah istana persegi empat yng tinggi dari emas, aku bertanya: “Milik siapa ini?”, mereka menjawab: “Milik seorang lelaki dari kaum Arab”, aku berkata: “Aku orang Arab, milik siapakah istana ini?”, mereka berkata: “milik seorang lelaki dari kaum Quraisy”, aku berkata: “Aku orang Quraisy, milik siapakah istana ini?”, mereka menjawab: “Milik seseorang dari umat Muhammad”, aku berkata: “Aku Muhammad, milik siapakah istana ini?”, mereka menjawab: “Milik Umar bin Khaththab”. Bilal pun menjawab: “Wahai Rasulullah, tidak pernah aku mengumandangkan adzan melainkan shalat dua rakaat (setelahnya) dan tidaklah aku berhadats melainkan aku berwudhu pada waktu itu dan aku melihat bahwa Allah memiliki dua rakaat yang harus aku kerjakan setelahnya.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 7894).  
 
Apakah Anda Orang yang Sukses? Suksesnya Abu Lahab-kah atau suksesnya Bilal radhiyallahu ‘anhu? Wallahu a'lam.
 
*) Ditulis Ahmad Zainuddin
Kamis, 27 Al Muharram 1433H Dammam KSA

 

Subhanallah, Ada Manusia Yang Hidup Terus Setelah Matinya

Kawan…

Tulisan ini adalah ajakan untuk saya dan kaum muslim, agar menjadi orang berilmu agama, mengamalkannya kemudian mengajarkan dan menyebarkannya…

Kawan…
Mari tuntut ilmu agama, niscaya kamu bisa hidup terus setelah matimu…
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
 
 
«إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
 
Artinya: “Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya”.HR. Muslim.
 
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: 
 
وهذا منْ أعظمِ الادلةِ علَى شرفِ العلمِ وفضلِهِ وعظمِ ثمرتِه فإنَّ ثوابَهُ يَصلُ إلَى الرَّجلِ بعدَ موتِه ما دامَ ينتفعُ بِه فكأنَّه حيٌّ لم يَنقطعْ عملُه معَ مالَهُ مِن حياةِ الذِّكرِ والثناءِ فَجَريان أَجرِه عليهِ إذا انقطَعَ عنِ الناسِ ثوابَ أَعمالِهمْ حياةٌ ثانيةٌ
 
“Dan ini adalah bukti yang paling besar akan kemuliaan dan keutamaan ilmu serta keagungan hasilnya, karena sesungguhnya pahalanya akan sampai kepada seseorang (yang mengajarkan ilmu) setelah kematiannya selama ilmu tersebut diambil manfaatnya, seakan-akan dia hidup, tidak terputus amalnya bahkan dibarengi dengan ingatan dan pujian selalu untuknya, mengalirnya pahala kepadanya disaat seluruh manusia terputus dari mereka amalan mereka adalah merupakan KEHIDUPAN KEDUA. (Lihat kitab Miftah Dar As Sa’adah, karya Ibnul Qayyim rahimahullah).
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
 
« إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِى صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ ».
 
Artinya: “Sesungguhnya yang mendapati seorang mukmin dari amal dan kebaikannya setelah kematiannya adalah; sebuah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, seorang anak shalih yang dia tinggalkan, sebuah mushhaf Al Quran yang dia wariskan atau sebuah masjid yang dia bangun, sebuah rumah untuk para musafir yang kehabisan bekal yang dia bangun, sebuah sungai yang dia alirkan atau sebuah sedekah yang dia keluarkan dari hartanya ketika disaat sehat dan hidupnya, seluruhnya ini adalah amalan yang akan mendapatinya setelah kematiannya”. HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam shahih Al Jami’.
 
Mari perhatikan…ternyata semua amalan yang pahalanya akan mengalir kepada seseorang meskipun dia sudah meninggal, kuncinya pada ilmu agama. Subhanallah…!
 
Kawan… saya yakin… kita bisa berbuat untuk perihal ilmu…
1. Belajar ilmu agama
2. Mengamalkan ilmu agama
3. Mengajarkan dan menyebarkan ilmu agama, walau hanya menyebarkan kaset, cd, brosur, pengumuman kajian Islam bermanfaat,  dan semisalnya kepada orang lain.
Selamat berjuang untuk bisa hidup terus setelah kematian menjemput!
 
يَمُوْتُ الْعَالِمُ وَ يَبْقَى كِتَابُهُ
 
ORANG BERILMU BOLEH MENINGGAL TETAPI KITABNYA TETAP AKAN TERTINGGAL
 

*) oleh Ahmad Zainuddin, Rabu, 20 Rajab 1432 H Dammam KSA

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung