Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Artikel DS

Orang Inilah Yang Istghfarnya Butuh Kepada Istighfar

Pertama, Istighfar itu Harus Selalu…
قَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ تَقِيُّ الدِّينِ أَحْمَد ابْنُ تَيْمِيَّة رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى:
فَالْعَبْدُ دَائِمًا بَيْنَ نِعْمَةٍ مِنْ اللَّهِ يَحْتَاجُ فِيهَا إلَى شُكْرٍ وَذَنْبٍ مِنْهُ يَحْتَاجُ فِيهِ إلَى الِاسْتِغْفَارِ وَكُلٌّ مِنْ هَذَيْنِ مِنْ الْأُمُورِ اللَّازِمَةِ لِلْعَبْدِ دَائِمًا فَإِنَّهُ لَا يَزَالُ يَتَقَلَّبُ فِي نِعَمِ اللَّهِ وَآلَائِهِ وَلَا يَزَالُ مُحْتَاجًا إلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ . وَلِهَذَا كَانَ سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَإِمَامُ الْمُتَّقِينَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَغْفِرُ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ
 
Artinya: "Syeikhul Islam Ahmad bin Taimiyyah rahimahullah berkata: "Seorang hamba selalu di antara sebuah nikmat dari Allah yang membutuhkan syukur di dalamnya, dan sebuah dosa yang membutuhkan istighfar di dalamnya, setiap dari dua perkara ini adalah termasuk perkara-perkara yang selalu menghampiri seorang hamba, dia masih bergumul di dalam nikmat dan anugerah Allah dan masih selalu membutuhkan kepada taubat dan Istighfar. Oleh karena inilah pemimpin keturunan Adam dan orang-orang bertakwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam beristighfar di setiap saat." (Majmu' fatawa, 10/88).
 
Kedua, Jangan istighfar yang butuh kepada istighfar
 
قال القرطبي رحمه الله: قال علماؤنا: الاستغفار المطلوب هو الذي يحل عقد الإصرار ويثبت معناه في الجنان، لا التلفظ باللسان. فأما من قال بلسانه: أستغفر الله، وقلبه مصر على معصيته فاستغفاره ذلك يحتاج إلى استغفار، وصغيرته لاحقة بالكبائر. وروي عن الحسن البصري أنه قال: استغفارنا يحتاج إلى استغفار.
 
Artinya: "Berkata Al Qurtuby rahimahullah: "Ulama kita berkata: "Istighfar yang semestinya adalah yang melepaskan ikatan-ikatan meneruskan (dosa), yang tetap maknanya di dalam hati bukan hanya ucapan lisan. Adapun yang mengatakan dengan lisan "astaghfirullah" sedangkan hatinya bertekad meneruskan maksiatnya, maka istighfarnya itu membutuhkan kepada sebuah istighfar (lain), dosa-dosa kecilnya (yang ia perbuat) akan menyusul kepada dosa besar. Diriwayatkan bahwa Al Hasan Al Bashry berkata: "Istighfar kita membutuhkan kepada Istighfar". Lihat Tafsir Al Qurthuby.
 

وقال النووي: وعن الفضيل بن عياض رضي الله تعالى عنه : استغفار بلا إقلاع توبة الكذابين.
 
 
 
Artinya: "An Nawawi rahimahullah: Al Fudahil bin Iyadh radhiyallahu 'anhu berkata: "Istighfar dengan tidak melepaskan maksiat adalah taubatnya para tukang dusta". Lihat kitab Al Adzkar, Karya An Nawawi.
 
قال المناوي: تنبيه سئل أحدهم أيهما أفضل: التسبيح والتهليل والتكبير أو الاستغفار؟ فقال: يا هذا الثوب الوسخ أحوج إلى الصابون منه إلى البخور، ولا بد من قرن التوبة بالاستغفار لأنه إذا استغفر بلسانه وهو مصر عليه فاستغفاره ذنب يحتاج للاستغفار ويسمى توبة الكذابين . انتهى.
 
Artinya: "Al Munawi rahimahullah berkata: "Perhatian, seorang ulama ditanya: "Manakah yang lebih utama: Bertasbih, bertahlil, bertakbir atau istighfar?", dia menjawab: "Wahai kamu, pakaian yang kotor lebih butuh kepada sabun daripada minyak wangi, dan taubat harus dibarengi dengan istighfar, karena jika dia beristighfar dengan lisannya padahal dia terus melakukan (dosa)nya, maka istighfarnya adalah dosa yang membutuhkan kepada istighfar dan dinamai dengan taubatnya para tukang dusta". Lihat Fath Al Qadir, karya Al Munawi. 
 
قال ابن رجب: فأفضل الاستغفار ما اقترن به تركُ الإصرار ، وهو حينئذ توبةٌ نصوح ، وإنْ قال بلسانه : أستغفر الله وهو غيرُ مقلع بقلبه ، فهو داعٍ لله بالمغفرة ، كما يقول : اللهمَّ اغفر لي ، وهو حسن وقد يُرجى له الإجابة ، وأما من قال : توبةُ الكذابين ، فمرادُه أنَّه ليس بتوبة ، كما يعتقده بعضُ الناس ، وهذا حقٌّ ، فإنَّ التَّوبةَ لا تكون مَعَ الإصرار.
 
Artinya: "Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "jadi, istighfar paling utama adalah yang dibarengi dengan meninggal sikap meneruskan (melakukan dosa), dan dialah yang disebut Taubat Nasuh, dan jika mengucapkan dengan lisannya: "Astaghfirullah, dan dai tidak melepaskan dengan hatinya, maka dia (seperti) orang yang berdoa kepada Allah meminta ampunan, sebagaimana dia mengucapkan: "Ya Allah ampunilah aku", ini baik dan diharapkan baginya pengabulan (atas doanya), adapun yang berkata: "Taubatnya para tukang dusta, maka maksudnya adalah bukan taubat sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang, dn ini adalah sebuha kebenaran, karena sesungguhnya taubat tidak akan terjadi dengan meneruskan (maksiat). Lihat Jami' Al Ulum wa Al Hikam, karya Ibnu Rajab.
 
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Jumat, 4 Jumadal Ula 1432 H, Dammam KSA 
 

 

Kenapa Allah Menciptakan Manusia Ada Yang baik Dan Ada Yang Jahat

Pertanyaan:


Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh 

Ustadz boleh minta batuan jawab pertanyaan seorang sahabat ana? Apakah Allah itu adil karena mengapa Allah menciptakan ada baik ada jahat, kenapa tdk baik semua? 'Afwan tadi ditanya cuman ga bsa jawab, mohon bantuannya.
 
 
Jawaban:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعدك
 
Saudara terhormat… semoga kita selalu dibimbing oleh Allah Ta'ala di dalam kebaikan.
 
Pertama: Hendaknya diketahui pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan menyebabkan seseorang di dalam keragu-raguan yang tidak akan batasnya, dan yang menjadi kewajiban seorang muslim sebenarnya adalah mengimani takdir/ ketentuan Allah Ta'ala, baiknya ataupun buruknya.
 
Dan ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, coba perhatikan hadits berikut:
 
عن زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ رضي الله عنه: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : "...أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ ...". رواه ابن ماجه
 
Artinya: "Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "…(ketahuilah) bahwa apa saja yang telah ditakdirkan untukmu maka tidak akan meleset darimu dan apa saja yang tidak ditakdirkan untukmu maka tidak akan pernah mengenaimu". HR. Ibnu Majah.
 
Kedua: Perlu diketahui, bahwa para ulama menyatakan; bukan termasuk adab yang baik kepada Allah Ta'ala, jika dikatakan bahwa Allah Ta'ala menginginkan keburukan kepada hamba-hamba-Nya, meskipuan Allah-lah yang menciptakan dan mengadakan hal tersebut. Para ulama berdalil dengan Firman Allah Ta'ala:
 
(وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ) [الشعراء:80]
 
Artinya: "Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku". QS. Asy Syu'ara: 80.
Di dalam ayat ini Nabi Ibrahim 'alaihissalam tidak mengatakan: "Dan jika Allah menjadikanku sakit", tetapi beliau berkata: "Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku".
 
Begitu juga ketika Allah Ta'ala berfirman tentang Jin:
 
 (وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَداً) [الجن:10]
 
Artinya: "Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka". QS. Al Jinn: 10.
 
Di dalam ayat ini, kata أُرِيدَ (dikehendaki), disebutkan dalam bentuk kata kerja mabni lil majhul, artinya tidak disebutkan pelakunya, hal ini dikarenakan sedang menyebutkan tentang keburukan dan kerusakan, adapun ketika menyebutkan tentang kebaikan, maka para jin menyandarkannya kepada Allah Ta'ala dan ini termasuk adab mereka kepada Rabb mereka.
 
Oleh sebab inilah Ali bin Thalib radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa:
 
وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ.
 
Artinya: "Dan seluruh kebaikan berada di kedua tangan-Mu dan keburukan bukan kepada-Mu". HR. Muslim.
 
Jika ada yang berkata: "Kita melihat di sekitar kita ada yang sakit, ada yang berbuat maksiat, dosa dan keburukan-keburukan lainnya, bagaimana ini?"
 
Maka dijawab:
 
Pertama: Sesungguhnya seluruh perbuatan Allah adalah baik dan penuh dengan hikmah, tidak ada sekiditpun keburukan meskipun hal tersebut dirasakan buruk oleh sebagian makhluk, karena keburukan tersebut berasal dari sebab yang mereka kerjakan sendirin dan berdasarkan pilihan yang mereka pilih.
 
Allah Ta'ala berfirman:
 
 
{ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ} [الشورى: 30]
 
Artinya: "Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". QS. Asy Syura: 30.
 
Kedua: hal-hal buruk yang kita lihat, sesungguhnya itu adalah objek sebuah takdir Allah Ta'ala, atau lebih jelasnya kita katakan: "Kita dapati di sebagian makhluk menghasilkan keburukan seperti ular, kalajengking, penyakit-penyakit menular, penyakit-penyakit mematikan, kemiskinan, kemarau, banjir dan masih banyak yang lain. Seluruhnya itu, jika dilihat untuk manusia maka ia adalah sebuah keburukan, karena hal-hal tersebut tidak cocok dan buruk untuk manusia, akan tetapi jika dilihat bahwa hal tersebut adalah takdir Allah dan kekuasaan-Nya maka seluruh hal tersebut adalah baik, karena tidaklah Allah mentakdirkannya kecuali untuk sebuah hikmah, baik diketahui ataupun tidak hikmah tersebut oleh manusia. 
 
Akan tetapi yang dituntut dari kita untuk mengimaninya adalah bahwa hal-hal tersebut merupakan takdir Allah Ta'ala yang Maha Adil dan Maha Hakim (Bijaksana, meletakkan sesuatu pada tempatnya).
 
Dan ketahuilah bahwa Allah telah memberikan pengarahan kepada kita, untuk tidak memasukkan diri kita di dalam pertanyaaan-pertanyaan seperti ini dan hendaklah kita tunduk dan menyerahkan diri, tetapi tetap berusaha. Allah berfirman:
 
(لا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ) [الأنبياء:23]
 
Artinya: "Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai". QS. Al Anbiya': 23.
 
Demikian jawaban singkat semoga bermanfaatوالله أعلم .
 
*)Dijawab oleh Ahmad Zainuddin, Selasa, 1 Jumadal Ula 1432 H, Dammam KSA

 

 

Pujiaan Dalam Hujatan

Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai AlQuran & Sunnah dengan paham As Salafush Shaleh, Aku pun dipanggil Wahabi 
 
Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah Ta’ala, tidak kepada Nabi & Wali.…  Aku pun dituduh Wahabi
 
Ketika aku meyakini Al-Quran itu kalam Ilahi, bukan makhluq…. Aku pun diklaim sebagai Wahabi
 
 
 
Ketika aku takut mengkafirkan dan memberontak penguasa yang dzalim, Aku pun dipasangi platformWahabi
 
Ketika aku tidak lagi shalat, ngaji serta ngais berkah di makam-makam keramat… Aku pun dijulukiWahabi
 
Ketika aku putuskan keluar dari tarekat sekte sufi yang berani menjaminku masuk surga… Aku pun diembel-embeli Wahabi
 
Ketika aku katakan tahlilan dilarang oleh Imam Syafi’i... Aku pun dihujat sebagai Wahabi
 
Ketika aku tinggalkan maulidan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah ajarkan… Aku pun dikirimi “berkat”  Wahabi
 
Ketika aku takut mengatakan bahwa Allah Ta’ala itu di mana-mana sampai di tubuh babipun ada…  Akupun dibubuhi stempel Wahabi
 
Ketika aku mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanjangkan jenggot, memotong celana diatas dua mata kaki…. Aku pun dilontari kecaman Wahabi
 
Ketika aku tanya apa itu Wahabi…?
 
Mereka pun gelengkan kepala tanda tak ngerti
 
Ketika ku tanya siapa itu wahabi…?
 
Mereka pun tidak tahu dengan apa harus menimpali
 
Tapi…!
 
Apabila Wahabi mengajakku beribadah sesuai dengan AlQuran dan Sunnah… Maka aku rela mendapat gelar Wahabi!
 
Apabila Wahabi mengajakku hanya menyembah dan memohon kepada Allah I… Maka aku Pe–De memakai mahkota Wahabi!
 
Apabila Wahabi menuntunku menjauhi syirik, khurafat dan bid’ah… Maka aku bangga menyandang baju kebesaran Wahabi!
 
Apabila Wahabi mengajakku taat kepada Allah Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam … Maka akulah pahlawan Wahabi!
 
Ada yang bilang.…. Kalau pengikut setia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam digelari Wahabi, maka aku mengaku sebagai Wahabi.
 
Ada yang bilang….. Jangan sedih wahai “Pejuang Tauhid,” sebenarnya musuhmu sedang memujimu,
 
Pujian dalam hujatan….!
 
Oleh: Ahmad Zainuddin
Seorang yang dulunya penganut tarekat shufi

 

Prioritas Yang Terbaik

 Sebagian manusia menjalani hidupnya di jalan yang terbalik, memprioritaskan sesuatu padahal hal tersebut terbalik atau salah. Di bawah ini contoh-contohnya:
 
Pertama, Sebagian manusia lebih memilih menyembah dan beribadah kepada selain Allah Ta'ala, padahal sembahan itu lemah, tidak mencipta bahkan diciptakan, tidak memiliki apa, apalagi sampai berkuasa, mencipta dan mengatur, daripada menyembah dan beribadah kepada Allah yang Maha Pencipta, Pengatur dan Berkuasa.
 
{ ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ} [لقمان: 30]
 
Artinya: "Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar". QS. Luqman: 30.
 
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ (73) مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (74)} [الحج: 73، 74]
 
Artinya: "Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah". "Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa". QS. Al Hajj: 73-74.
 
{يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ} [فاطر: 13]
 
Artinya: "Dia (Allah) yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari". QS. Fatir: 13.
 
Kedua, Sebagian manusia terutama muslim lebih memilih untuk menciptakan cara beribadah sendiri, yang pastinya banyak kesalahan dan juga ditolak oleh Allah Ta'ala. Meninggalkan cara beribadah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebagai merupakan khalilullah, seseorang yang memang diutus oleh Allah Ta'ala untuk mengajarkan dan menunjuki seluruh manusia dan jin tentang cara beribadah yang benar dan diridhai oleh-Nya.
 
{يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ} [المائدة: 67]
 
Artinya: "Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir". QS. Al Maidah: 67.
 
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [الأنعام: 153]
 
Artinya: "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa". QS. Al An'am: 153.
 
{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32)} [آل عمران: 31، 32]
 
Artinya: "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". "Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". QS. Ali Imran: 31-32.
 
عن عَائِشَة رضي الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ». رواه مسلم
 
Artinya: "Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Barangsiapa yang melakukan sebuah amalan yang bukan dari perkara kami maka amalan tersebut tertolak". HR. Muslim.
 
Ketiga, Sebagian manusia lebih mementingkan kehidupan dunia yang sementara, yang hina, yang rendah bahkan lebih rendah bangkai hewan yang cacat, yang tidak memiliki nilai sama sekali bahkan walau hanya setetes air yang jatuh dari satu jemari dibandingkan dengan seluruh lautan, bahkan lagi, yang tidak senilai dengan satu sayap nyamuk. Meninggalkan kehidupan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal. Apapun yang diinginkan ada.
 
{وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى} [الأعلى: 17]
 
Artinya: "Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal". QS. Al A'la:17.
 
{وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ} [فصلت: 31]
 
Artinya: " di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta". QS. Fushshilat: 31.
 
{ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } [السجدة: 17]
 
Artinya: "Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". QS. As Sajdah: 17.
 
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ ». رواه الترمذي
 
Artinya: "Sahal bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jikalau duni senilai dengan satu sayap nyamuk disisi Allah maka seorangyang kafir tidak akan di berikan seteguk air darinya". HR. Tirmidzi.
 
عن مُسْتَوْرِد رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ - وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ - فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ ». رواه مسلم.
 
Artinya: "Dari Mustawrid radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat kecuali laksana sesorang dari kalian mencelupkan telunjukknya ke dalam lautan, maka perhatikan bagaimanakah dia (air) kembali (jatuh dan dibandingkan dengan lautannya)". HR. Muslim.
 
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْىٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ « أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ ». فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَىْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ « أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ ». قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ « فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ ».
 
Artinya: "Jabir radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallammemasuki pasar dari sebuah perkampungan dan orang-orang disekeliling beliau, beliau melewati bangkai kambing yang cacat kupingnya, lalu beliau menghampirinya dan memegang kupingnya kemudian beliau bersabda: "Siapakah dianatara kalian yang menginginkan bangkai ini menjadi miliknya dengan harga satu dirham?", para shahabat menjawab: "Kami tidak menginginkannya walau seberapapun harganya, apa yang kami bisa lakukan dengannya?", beliau bersabda: "Maukah kalian bangkai ini untuk kalian (sebagai hadiah)?", para shahabat menjawab: "Demi Allah,  jikalau dia hidup maka dia mempunyai aib karena dia cacat kupingnya, apalgi dalam keadaan bangkai?!", beliau bersabda: "Demi Allah, sungguh dunia lebih hina bagi Allah dari bangkai ini atas kalian". HR. Muslim. 
 
Keempat, Sebagian manusia lebih betah duduk dihadapan tv nonton, yang acaranya maksiat menghasilkan dosa, dibanding dengan duduk di dalam masjid yang diganjar dengan doa malaikat untuknya agar mendapatkan ampunan dari Allah Ta'ala.
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ ». رواه مسلم
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Shalatnya seseorang berjama'ah melebihi shalatnya di rumah dan pasarnya sebanyak 25 derajat, yang demikian itu karena seseorang dari kalian jika dia berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu dia mendatangi masjid, tidaklah mendatanginya kecuali menginginkan shalat, maka tidaklah dia melangkahkan satu kaki kecuali diangkatkan untuknya dengan satu langkanya tadi satu tingkatan, dan dihapuskan darinya dengan satu langkahnya tadi satu kesalahan samapi dia masuk ke dalam masjid dan jika telah masuk ke dalam masjid maka ia adalah di dalam shalat selama shalat tersebut menahannya (keluar dari masjid). Dan para malaikat bershalwat atas seorang dari kalaian selama ia di tempatnya yang ia shalat di dalamnya, para malaikat berdoa: "Ya Allah rahmatilah dia , ya Allah ampuni dia, ya Allah berikan taubat kepadanya", selama dia tidak mengganggu di dalamnya dan selam tidak berhadats". HR. Muslim.
 
Kelima, Sebagian manusia lebih betah, bahkan berjam-jam, sampai-sampai istri/suami/anak-anaknya dilalaikan, membaca status-status membersnya di situs-situs jejaring sosial yang tidak bermanfaat bahkan tidak sedikit mendatangkan bahaya dan dosa, daripada membaca Al Quran dan buku-buku lainnya yang bermanfaat dan mendatang pahala pastinya. Membaca AL Quran satu hurufnya di ganjar sepuluh kebaikan, mendegarkannya mendatangkan rahmat Allah, pandainya membacanya bersama malikat yang mulia dan yang berjuang membacanya meskipun agak kesulitan mendapatkan dua pahala.
 
 عن عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم َرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ». رواه الترمذي
 
Artinya: Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (al Quran) maka baginya sebab bacaan tersebut mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan Alif laam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf,  laam satu huruf,n dan mim satu huruf". HR. Tirmidzi.
 
{وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} [الأعراف: 204]
 
Artinya: "Jika dibacakan Al Quran maka dengar dan simaklah semoga kalian dirahmati". QS. Al A'raf: 204.
 
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ ». رواه مسلم
 
Artinya: "Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Bahwa Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang pandai membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan baik, dan yang membaca al Quran dalanm keadaan terbata-bata dan sulita baginya maka ia akan mendapatkan dua pahala". HR. Muslim.
 
Keenam, Sebagian manusia sangat semangat mencari penghidupan dunia bahkan dibela-bela sampai lembur-lembur, seakan-akan hidup selamanya padahal hanya sementara, dibanding dengan semangat mencari ilmu syar'ie di majelis-majelis ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan juga akhiratnya yang kekal. 
 
Ketujuh, Sebagian manusia lebih semangat memenuhi panggilan bosnya daripada memenuhi panggilan Rabbnya Allah Ta'ala.
 
Kedelapan, Sebagian manusia lebih bersemangat mengajak orang berbuat maksiat, dia menjadi pelopor maksiatnya daripada menjadi penunjuk kepada kebaikan dan ketaatan.
 
Kesembilan, Sebagian manusia lebih bersemangat mengumpulkan harta di dunia padahal harta dunia tidak bisa di bawa mati dan tidak bermanfaat setelah kematian jika tidak digunakan di jalan Allah, lebih bersemangat daripada mengumpulkan bekal untuk kehidupan setelah mati.
 
Dan biarkanlah contoh-contoh ini berhenti di angka sembilan, angka yang ganjil, karena Allah mencintai yang ganjil. Padahal masih banyak lagi contoh-contoh yang lain, atau kalau mau improve saja sendiri dengan merenung dan intsrospeksi.

 
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Ahad malam, 29 Dzulhijjah 1431H 
 

 

 

Wanita Berpakaian Tetapi Terlanjang

"Benarkah wanita berpakaian tapi telanjang tidak masuk surga bahkan tidak mencium bau wanginya?"

بسم الله الرحمن الرحيم , الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد وآله و صحبه اجمعين, أما بعد:
 
Dibawah ini ada pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban atas hadits:
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا»
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Dua golongan dari penghuni neraka yang belum aku temui; suatu kaum  yang selalu membawa cemeti bagaikan ekor-ekor sapi, dengannya dia memukuli manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, cenderung tidak taat, berjalan melenggak-lenggok, rambut mereka seperti punuk onta, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga padahal bau surga tercium dari jarak sekian". HR. Muslim.
 
Makna "berpakaian tapi telanjang":
 
-Wanita yang diberi nikmat tapi tidak bersyukur kepada Allah Ta'ala.
 
-Wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan membiarkan sebagian yang lain.
 
-Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga memperlihatkan warna kulit dan apa yang ada di belakang pakaian tersebut.
 
-Wanita yang memperhatikan dunia (termasuk pakaian, mode dsb) tetapi tidak memperhatikan ibadah dan kehidupan akhirat. 
 
Lihat penjelasan ini di dalam kitab Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, karya An Nawawi.
 
Mungkin bisa ditambahkan, wanita yang memakai pakaian ketat sehingga bentuk tubuhnya terlihat.Wallahu a'lam.
 
 

Pertanyaan 1:
Bagaimana dengan hadist ini: Disebutkan dalam hadits:

“Barangsiapa yang berjumpa Allah dengan tanpa mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun, niscaya ia masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa Allah dengan mempersekutukannya pada sesuatu... pun, niscaya ia masuk neraka.”
 (HR. Muslim).

Bukankah makna dari hadist ini bahwa satu-satunya dosa besar yg tidak terampuni adalah merpersekutukan Allah/syirik besar'?
 
Jawaban untuk pertanyaan 1:
Dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah Ta'ala adalah kesyirikan, jika pelakunya meninggal di dalam kesyirikan tersebut dan tidak bertaubat darinya selama hidupnya, dalilnya:
 
Allah Ta'ala berfirman:
 
{ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا } [النساء:48]
 
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.  Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar". QS. An Nisa': 48.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ » . متفق عليه
 
Artinya: "Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Siapa yang meninggal dalam keadaan mensyirikkan Allah dengan sesuatu maka niscaya dia masuk neraka". HR. Bukhari dan Muslim.
 
Tetapi perlu diingat, bukan berarti dosa selain syirik tidak memasukkan seseorang ke dalam neraka. Seorang pelaku dosa selain syirik, maka di akhirat akan di bawah kehendak Allah Ta'ala, jika Allah menghendaki untuk mengampuninya, maka dia akan diampuni, sedangkan jika Allah menghendaki dia disiksa dulu di neraka kemudian dikeluarkan darinya maka itupun bisa juga terjadi.
 
Jadi, yang membedakan adalah, jika ada pelaku syirik dan meninggal dalam kesyirikan belum bertaubat darinya, maka kekal abadi di neraka, adapun pelaku dosa selain syirik dan meninggal dalam dosanya, belum bertaubat darinya maka orang ini sesuai dengan kehendak Allah Al Hakim (Maha Bijaksana, meletakkan segala perkara pada tempatnya), bisa Allah ampuni atau bisa Allah siksa di neraka.
 
Silahkan baca hadits-hadits yang ada di dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim yang menyebutkan bahwa ada seorang yang masuk ke dalam neraka kemudian dikeluarkan darinya.
 
Pertanyaan ke 2:
Apakah dosa wanita diatas termasuk syirik besar? sehingga dia kekal di neraka? Bukankah Allah tidak akan menyia2kan amalan kebaikan hambanya walaupun hanya sebesar biji zarah (asalkan hamba itu tidak syirik besar).
 
Jawaban untuk pertanyaan ke 2:
Wanita yang disebutkan di dalam hadits tidak melakukan syirik besar, tetapi telah melakukan dosa besar, karena di dalam hadits disebutkan ancaman yang khusus bagi wanita yang melakukan perbuatan tersebut.
 
Dan para ulama mendefinisikan dosa besar adalah: setiap dosa yang Allah akhiri hukumannya dengan neraka atau kemurkaan atau laknat atau siksa, dan ini adalah pendapat Abdullah bin Abbasradhiyallahu 'anhuma, Al Hasan al Bashri. Lihat syarah Shahih Muslim, karya An Nawawi. Ini permasalahan pertama yang perlu didudukkan.
 
Yang kedua, seseorang bisa saja akan kekal di dalam neraka bukan hanya karena syirik tetapi juga karena sebuah kekafiran. Dan kekafiran lebih luas daripada kesyirikan dari sisi sebabnya. Lebih jelasnya, mari perhatikan contoh di bawah ini:
 
- sesorang mendustakan Al Quran dan Hadits, maka dia dihukumi sebagai kafir tetapi dia tidak mensyirikkan Allah Ta'ala. Lihat QS. Al Ankabut: 68.
 
- seseorang menyombongkan diri dengan syari'at Allah Ta'ala dan menolak mengerjakannya, padahal dia mengakui kebenarannya, maka dia dihukumi sebagai kafir tetapi dia tidak mensyirikkan Allah Ta'ala. Lihat QS. Al Baqarah: 34.
 
- seseorang ragu akan kebenaran Al Quran dan Hadits,  maka dia dihukumi sebagai kafir tetapi dia tidak mensyirikkan Allah Ta'ala. Lihat QS. Al Kahfi: 35-38.
 
- seseorang berpaling dari syari'at Allah Ta'ala, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Ta'ala, maka dia dihukumi sebagai kafir tetapi dia tidak mensyirikkan Allah Ta'ala. Lihat QS. Al Ahqaf: 3
 
- seseorang berlaku sifat munafik yaitu dilisannya mengatakan beriman tetapi dihatinya tetap pada kekufuran, seperti yang terjadi di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. maka dia dihukumi sebagai kafir tetapi dia tidak mensyirikkan Allah Ta'ala. Lihat QS. Al Munafiqun: 3.
 
Nah, kalau sudah dipahami ini, oleh sebab inilah sebagian ulama menjelaskan kenapa wanita yang tersebut di dalam hadits di atas, tidak masuk surga bahkan tidak mencium baunya, sebabnya adalah: "Karena menghalalkan apa yang telah diharaman oleh Allah Ta'ala". Dan ini termasuk perbuatan kekufuran yang bisa menyebabkan seseorang kekal abadi di neraka.
 
Kalau ingin ditegaskan lagi, berarti setiap muslim yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Ta'ala, maka dia kafir, tentunya setelah iqamat Al hujjah (ditegakkan alasan) kepadanya.
 
Mari perhatikan perkataan Ibnu Qudamah rahimahullah:
 
ومن اعتقد حل شيء أجمع على تحريمه وظهر حكمه بين المسلمين وزالت الشبهة فيه للنصوص الواردة فيه كلحم الخنزير والزنا وأشباه هذا مما لا خلاف فيه كفر
 
Artinya: "Dan barangsiapa yang menghalalkan sesuatu yang telah disepakati keharamannya dan terlihat hukumnya berlaku ditengah-tengah kaum muslim serta hilangnya kesamaran di dalamnya karena terdapatnya dalil-dalil dalam permasalahan tersebut seperti daging babi, zina dan yang semisal ini yang tidak ada perselisihan di dalamnya maka perbuatan tersebut adalah bentuk kekafiran." Lihat al Mughni, karya Ibnu Qaudamah
 
Pertanyaan ke 3:
“Barangsiapa yang berjumpa Allah dengan tanpa mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun, niscaya ia masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa Allah dengan mempersekutukannya pada sesuatu pun, niscaya ia masuk neraka.” (HR. Muslim).

Apakah makna dari hadist diatas adalah: satu2nya dosa yg tidak akan terampuni adalah dosa syirik?
 
Jawaban untuk pertanyaan ke 3:
Makna hadits di atas adalah, siapa berjumpa dengan Allah Ta'ala nanti di akhirat dan selama hidupnya dia tidak menyekutukan Allah Ta'ala, maka dia akan masuk surga dan sebaliknya.
 
Tetapi yang perlu juga dicermati disini, terkadang seseorang tidak pernah berbuat syirik selam hidupnya, tetapi pernah bahkan sering melakukan maksiat dan dosa, contohnya dusta, tidak amanah, menzhalimi orang, tidak memakai jilbab dst.
 
Maka dosa-dosa ini harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Ta'ala, jika Allah menghendaki diampuni dan masuk surga, dan jika Allah menghendaki, orang tersebut akan disiksa dulu di neraka, sesuai dengan kehendak-Nya tetapi tidak akan kekal didalamnya, karena yang mengekalkan seseorang di dalam neraka adalah dosa syirik dan kekufuran.
 
Dan perlu diingat juga, bahwa syirik penekanannya lebih kepada menyekutukan Allah dalam ibadah sedangkan kufur penekanannya lebih kepada pendustaan, penolakan, keraguan atas syari'at-syari'at Allah Ta'ala.
 
Tetapi terkadang seorang musyrik dinamakan kafir dan seorang kafir dinamakan musyrik, mari perhatikan hal-hal di bawah ini:
 
( وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ ) المؤمنون/117
 
Artinya: "Dan barang siapa berdoa kepada semabahan  yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya.Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung". QS. Al Mu'minun: 117.
 
( ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ .إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ) فاطر/13، 14
 
Artinya: "Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari". "Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui". QS. Fathir: 13-14.
 
Di dalam surat Al Mu'minun Allah menamai orang yang berdoa kepada selain-Nya, sebagai orang kafir dan di dalam surat Fathir, Allah Ta'ala menamai orang yang berdoa kepada selain-Nya musyrik.
 
Hal ini menunjukkan bahwa kadang syirik dinamai kufur dan kadang kufur dinamai syirik.
 
Dan terkadang dibedakan, yaitu syirik penekanannya lebih kepada menyekutukan Allah Ta'ala dalam beribadah, adapun kufur bisa terjadi dengan pendustaan, penolakan, keraguan, berpaling, dan kemunafikan terhadap syari'at Allah Ta'ala. Lihat Syarah Shahih Muslim, karya An Nawawi.
 
Permasalahan ini penting untuk diketahui karena akan menjawab pertanyaan di bawah ini.
 
Pertanyaan ke 4:
Apakah benar dosa yg satu 'menghapuskan' amalan2 kebaikan yg lain? Apakah benar berlaku hukum krn nila setitik rusak susu sebelanga (nila nya bukan syirik)?.
 
Jawaban untuk pertanyaan ke 4:
Ada sebuah dosa yang bisa menghapuskan seluruh amalan perbuatan, yaitu dosa syirik dan kekufuran:
 
{وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [الزمر: 65]
 
Artinya: "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu:"Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". QS. Az Zumar: 65.
 
Pertanyaan ke 5:
Apakah wanita tersebut tidak 'dihisap' dulu? Maksudnya benar dia berdosa besar menghalalkan yg haram, tapi dia kan tidak syirik(mempersekutukan Allah). Bukankah tidak satupun manusia yg luput dari menzalimi dirinya? Walaupun berupa setitik nila. Jazakillah khair.
 
Jawaban untuk pertanyaan ke 5:
Yang harus dimengerti disini adalah, setiap manusia sampai orang kafir akan dihisab oleh Allah Ta'ala atas apa yang dia telah perbuat, kecuali yang dikecualikan Allah Ta'ala, yang dikecualikan adalah orang yang masuk surga tanpa hisab dan siksa. Allah Ta'ala berfirman:
 
{فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (102) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ (103) تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ (104) {أَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ (105)} [المؤمنون: 105-102]}
 
Artinya: "Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan". "Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam". "Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat". "Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?". QS. al Mu'minun: 102-105.
 
{وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ} [الأنبياء: 47]
 
Artinya: "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan". QS. Al Anbiya': 47.
 
{ وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا } [الكهف: 49]
 
Artinya: "Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun". QS. Al Kahfi: 49.
 
Ayat-ayat di atas memberikan penjelasan kepada beberapa hal:
1. Setiap manusia sampai kafir akan dihisab oleh Allah Ta'ala.
2. orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah akan kekal di dalam neraka.
3. Dihisabnya orang kafir sebagai bentuk pendirian hujjah kepada mereka atas perbuatan mereka dan sebagai bentuk penunjukkan keadilan Allah terhadap mereka.
 
Jadi, kalau ada seseorang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Ta'ala, maka ia dihukumi kafir (dan sekali lagi, tentunya setelah ditegakkan hujjah atasnya) dan meskipun kafir dia tetap akan dihisab oleh Allah Ta'ala. Dan orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah akan kekal di dalam neraka.
 
Pertanyaan ke 6:
Secara umum jenis syirik itu ada dua: Syirik Akbar (besar) dan Syirik Ashghar (kecil). Perbedaan antara syirik akbar dan syirik asghar adalah:

Syirik akbar;
Syirik akbar menghancurleburkan seluruh amal ibadah pelakunya.
Apabila dia meninggal d...unia dalam keadaan berbuat syirik akbar maka tidak mendapat ampunan Allah Subhannahu wa Ta'ala. Pelakunya tergolong murtad dari Islam. Di akhirat kelak pelakunya akan kekal dalam neraka selama-lamanya.

Adapun contoh syirik ashghar adalah bersumpah dengan nama selain Allah, sebagaimana sabda Rasulullah
 (shallallahu 'alaihi wasallam)

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ وَأَشْرَكَ

Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah kufur atau syirik. (HR Abu dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad)

Syirik Asghar (kecil);
Dosa syirik kecil tidak merusak seluruh amal ibadah. Pelakunya diampuni apabila Allah Subhannahu wa Ta'ala menghendakinya. Pelakunya tidak tergolong murtad dari Islam.

Di akhirat kelak pelakunya tidak akan kekal dalam neraka selama-lamanya. Jadi tindakan diatas tersebut termasuk syirik akbar atau syirik kecil/sedang ya?
 
 

Jawaban untuk pertanyaan ke 6:
Perlu didudukkan permasalahannya disini, yaitu memang benar pelaku dosa syirik kecil, tidak akan keluar dari agama Islam dan akan diampuni oleh Allah Ta'ala sesuai dengan kehendak-Nya.
 
Meskipun permasalahan ini (yaitu: syirik Ashghar termasuk dosa yang dibawah kekuasaan Allah untuk mengampuninya ataukah syirik kecil juga termasuk dosa yang tidak diampuni) masih diperbincangkan ulama, karena ada sebagian ulama yang menyatakan sampai syirik Ashghar tidak mendapat ampunan Allah Ta'ala. Karena Allah berfirman:
 
{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ...} [النساء: 48]
 
 Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik…". QS. An Nisa': 48.
Coba perhatikan ayat ini, أَنْ يُشْرَكَ , huruf أَنْ dan yang setelahnya, dalam ilmu nahwu dimaknai sebagai kata mashdar (asal kata) yang kalau diartikan menjadi "dosa syirik", dan dosa syirik disini bentuknyanakirah (yang tidak ditentukan) dalam redaksi peniadaan (yaitu tidak diampuni), berarti menunjukkan kepada keumuman, yang berarti dosa syirik apapun. Makanya sebagian ulama menyatakan samapi dosa syirik kecilpun masuk dalam surat An Nisa ayat 48 itu. Lihat majmu' fatawa wa rasail milik Ibnu Utsaimin rahimahullah.
 
Penjelasan di atas hanya sebagai tambahan saja, kembali ke pertanyaan…
 
Sedangkan tindakan di atas yaitu seorang wanita yang berpakaian tetapi telanjang, misalnya seorang wanita yang belum pakai jilbab meskipun sebagian besar tubuhnya ditutupi dengan pakaian, maka jenis perbuatan ini adalah dosa besar sebagaimana penjelasan yang disebutkan di atas, kecuali kalau dibarengi dengan keyakinan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Ta'ala, maka jenis perbuatan ini adalah sebuah kekufuran. Dan sudah kita jelaskan di atas bahwa kekufuranpun akan mengakibatkan seseorang masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya.
Jadi, perbuatannya wanita tersebut tidak ada hubungannya dengan syirik Akbar atau Ashghar.
 
Pertanyaan ke 7:
Yg masih sedikit belum jelas adalah tentang apa saja perbuatan/sikap/pendangan yang termasuk syirik besar/akbar sehingga termasuk kafir dan ...tidak terampuni dan kekal selamanya di neraka?

Apakah bila melakukan "salah satu" dari perbuatan HARAM (menghalalkan yang haram dan kita sudah tahu bahwa itu haram, yang artinya sudah menantang ALLAH yg artinya lagi ada kekuatan yang lebih besar dari ALLAh) seperti: 
- merokok atau menjual rokok
- meminum atau menjual alkohol,
- riba(menyimpan uang di bank konvensional),
- mengikuti segala bentuk asuransi konvensianal baik asuransi kesehatan/pendidika/kendaraan
- memproduksi atau menjual barang yang diduga kuat akan dikenakan untuk melakukan tindak kemaksiatan, seperti: menjual busana NON muslimah(celana jeans ketat,baju kaos lengan pendek,dll) atau menjual wewangian kepada orang yang akan menjadikannya sebagai pelengkap acara minum khamer atau perzinaan
- Dan yang haram2 (melanggar syariah islam baik Qur'am dan hadist).

Nah,apakah jika melakukan 'salah satu" dari perbuatan haram seperti contoh diatas atau perbuatan haram lainnya itu termasuk kafir yang menghapuskan semua amalannya yang lain, serta menyebabkan dia kekal di neraka? jazakillah khair....
 
Jawaban untuk pertanyaan ke 7:
Perlu didudukkan disini suatu hal;
 
Tidak semua pelaku dosa kecil atau dosa besar berarti mereka telah menghalalkan dosa tersebut.Karena mungkin saja seseorang melakukan perbuatan riba tetapi tidak meyakini bahwa riba' itu halal, bisa saja seseorang minum khamr atau menjual yang memabukkan tetapi tidak meyakini bahwa khamr itu halal, bisa saja orang berzina tetapi tidak meyakini bahwa zina itu halal, bisa saja seorang wanita tidak berjilbab tetapi tidak meyakini bahwa tidak berjilbab itu halal.
 
Jadi, harus dibedakan pelaku dosa dengan orang yang menghalalkan sebuah dosa. Dan tidak ada kelaziman antara keduanya.
 
Sedangkan kalau yang ditanyakan: apa saja perbuatan/sikap/pendangan yang termasuk syirik besar/akbar sehingga termasuk kafir dan ...tidak terampuni dan kekal selamanya di neraka?
 
Maka jawabannya: harus dipahami dengan baik dan benar definisi dan perbandingan antara syirik dan kufur, sehingga bisa terjawab pertanyaan ini dengan baik dan benar pula. Dan sepertinya di atas sudah dijelaskan tentang permasalahan ini, tetapi tidak mengapa diringkas biar mudah dipahami dan sebagai penekanan:
 
1. Syirik penekanannya lebih kepada beribadah kepada selain Allah Ta'ala adapun kufur penekanannya lebih kepada pendustaan, keraguan, menolak atas syari'at Allah Ta'ala.
 
2. Berarti kekufuran lebih luas daripada kesyirikan kalau dilihat dari sebabnya.
 
3. Tetapi, kadang syirik juga dinamakan kufur dan kufur dinamakan syirik, dalil-dalilnya silahkan lihat dan perhatikan penjelasan sebelumnya.
 
4. Memang ada kaum yang menggabungkan antara kekufuran dengan kesyirikan yaitu kaum ahli kitab. Kafir karena menolak kebenaran dan syirik karena menyekutukan Allah dalam ibadah dengan selain-Nya. Perhatikan firman Allah berikut ini:
 
 ( وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ . اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ ) التوبة/30، 31.
 
Artinya: "Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?". "Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". QS. At Taubah: 30-31.
 
Di dalam ayat ini Allah mensifati orang Yahudi dan Nashrani musyrik karena perbuatan mereka yang beribadah kepada selain Allah Ta'ala, sedangkan di dalam suart Al Bayyinah ayat 1,  Allah mensifati mereka dengan kekufuran;
 
 ( لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ ) البينة/1
 
Artinya: "Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata". QS. Al Bayyinah: 1.
 
Terakhir…
Jadi, jika kita misalkan, kalau ada seorang wanita tidak berjilbab, maka wanita tersebut telah melakukan dosa besar, sebagaimana dalam hadits di atas, sedangkan jika ada wanita yang tidak berjilbab dan meyakini jilbab tidak wajib, berarti terdapat suatu penghalalan apa yang diharamkan oleh Allah Ta'ala, maka perbuatan ini dikatakan sebagai sebuah kekufuran, tentunya kekufuran ini tidak serta merta disematkan kepada wanita tesebut, karena harus ada iqamat al hujjah (pendirian alasan) kepada wanita tersebut, kenapa dia melakukan ini?, apakah benar dia meyakini ini? Apakah dia tidak tahu hukum ini? dsb.
 
Dan seluruh penjelasan di atas, kalau kita mengambil pendapat yang menyatakan bahwa wanita yang berpakaian tetapi telanjang itu menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah Ta'ala.
Dan ada lagi yang berpendapat, bahwa maksud hadits di atas adalah wanita yang berpakaian tetapi telanjang tersebut bukan golongan pertama yang masuk surga dikarenakan dosanya, meskipun dia nantinya akan masuk surga tentunya karena kemurahan dan rahmat dari Allah Ta'ala. Wallahu a'lam
 
Saya berdoa dengan Nama-nama Allah Yang Husna dan Sifat-sifat-Nya yang 'Ulya semoga Allah selalu membimbingkan kita dan seluruh kaum muslim untuk lebih taat dan patuh atas perintah-perintah-Nya, sehingga tidaklah ajal menjemput kecuali kita bisa mengucapkan kalimat agung:لا إله إلا الله
 
Wallahu a'lam.
 
Dijawab oleh Ahmad Zainuddin Selasa, 1 Jumadal Ula 1432 H, Dammam KSA

 

Memaafkan Dan Berlapang Dada

Di bawah ini tertulis beberapa prinsip mulia Islam dalam etika berhubungan sosial dengan sesama makhluk terutama dengan seorang muslim.

 
 
 
Memaafkan atas sebuah kezhaliman lebih baik daripada mendendam, dibawa sampai ke akhirat.
 
Memaafkan seseorang yang pernah berbuat kezhaliman kepada kita, apapun bentuk kezhalimannya, adalah merupakan syariat Islam dan sesuatu yang diperintahkan di dalam Al Quran yan Mulia serta dicontohkan di dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang agung.
 
Memang berat…tapi ganjaran pahalanya juga sangat besar, yaitu diampuni Allah Ta'ala dosa-dosanya.
 
Mari kita perhatikan ayat dan hadits mulia berikut:
 
{ وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [النور: 22]
 
Artinya: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". QS. An Nur: 22.
 
Ayat ini diturunkan dalam menceritakan kisah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu, yang telah bersumpah untuk tidak lagi membiayai dan menafkahi Misthah bin Utsatsah radhiyallahu 'anhu, karena Misthah radhiyallahu 'anhu termasuk orang yang mengatakan berita dusta tentang Aisyah radhiyallahu 'anha.
 
Dan ketika Allah Ta'ala telah menurunkan ayat yang menjelaskan tentang keterlepasan Aisyahradhiyallahu 'anha dari segala tuduhan yang telah dibuat-buat kaum munafik tersebut, kemudian keadaan kaum muslim menjadi tenang kembali, Allah Ta'ala memberikan taubat-Nya kepada kaum beriman yang ikut berkata dalam berita ini, dan didirikan pidana atas yang berhak mendapatkan hukuman atas perbuatannya.
 
Maka Allah dengan kemuliaan dan kemurahan-Nya, mengajak Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhuuntuk memaafkan Misthah radhiyallahu 'anhu, yang juga merupakan anak bibi beliau, seorang miskin yang tidak mempunyai harta kecuali hanya dari pemberian Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhusaja, dan  Misthah radhiyallahu 'anhu termasuk dari kaum Muhajirin serta telah diterima taubatnya oleh Allah Ta'ala, apalagi Misthah radhiyallahu 'anhu sudah mendapatkan hukuman pidana atas perbuatannya tersebut. Lalu apa sikap Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu akhirnya, mari perhatikan hadits berikut:
 
أَنَّ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - زَوْجَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم – قَالَتْ: "... فَلَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ هَذَا فِى بَرَاءَتِى قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ - رضى الله عنه - وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحِ بْنِ أُثَاثَةَ لِقَرَابَتِهِ مِنْهُ ، وَفَقْرِهِ وَاللَّهِ لاَ أُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِى قَالَ لِعَائِشَةَ مَا قَالَ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ) قَالَ أَبُو بَكْرٍ بَلَى ، وَاللَّهِ إِنِّى أُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِى ، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِى كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ ، وَقَالَ وَاللَّهِ لاَ أَنْزِعُهَا مِنْهُ أَبَدًا
 
Artinya: "Aisyah radhiyallahu 'anha Istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Ketika Allah telah menurunkan keterlepasanku (dari berita dusta yang disebarkan kaum munafik), Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata tentang Misthah bin Utsatsah radhiyallahu 'anha, yang mana Misthah adalah orang yang beliau nafkahi, karena hubungan kekerabatannya dengan beliau dan karena kemiskiannya: "Demi Allah, selamanya aku tidak akan menafkahi Misthah sedikitpun, setelah apa yang ia katakan tentang Aisyah radhiyallahu 'anha", maka Allah-pun menurunkan ayat:
 
( وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ )
 
Artinya: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

 
Maka Abu bakar berkata: "Tentu, demi Allah, aku menginginkan agar aku diampuni Allah Ta'ala". Maka beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang dulu beliau beri nafkah. Dan beliau berkata:"Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan nafkah untuknya". HR. Bukhari dan Muslim. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah.
 
Kawan pembaca… saya yakin Anda paham ceritanya…
 
Jadi…Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang awalnya ingin menghentikan membiayai Misthahradhiyallahu 'anhu, disebabkan Misthah radhiyallahu 'anha termasuk orang yang ikut berkata akan berita dusta tentang Aisyah radhiyallahu 'anha yang telah diprakarsai oleh kaum munafik, tetapi setelah melihat ganjaran pahala yang begitu besar dari Allah Ta'ala jika beliau memaafkan Misthah radhiyallahu 'anhu, maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pun memilih untuk mendapatkan ganjaran tersebut, yaitu berupa ampunan dari Allah Ta'ala, daripada menyimpan dendam yang tiada habisnya. Allahu Akbar!.
 
Maafkanlah kesalahan saudara-saudara seiman kita, apapun kesalahannya, jangan dendam tersebut selalu menyesakkan dada kita, apakah kita tidak mau mendapatkan ampunan Allah Ta'ala. Memaafkan = Mendapat Ampunan Allah Ta'ala.
 
2. Memaafkan harus dibarengi dengan perasaan lapang dada.
 
Kesempurnaan sikap memaafkan adalah jika dibarengi dengan perasaan lapang dada, yang menganggap seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
 
Sebagian mungkin bisa memaafkan tetapi tidak bisa lapang dada, contohnya:
Si A telah memaafkan B, orang yang pernah berbuat salah kepadanya tetapi:
- si A tidak ingin lagi bertemu dengan si B,
- si A malas untuk berkumpul bersama dengan si B lagi,
- si A masih selalu mengungkit kesalahan si B,
- si A tidak mau lagi berurusan dengan si B,
- si A tidak lagi mau menolong si B, jika si B membutuhkan pertolongan,
dan contoh-contoh yang lain masih banyak. Mungkin bisa cari sendiri.
 
Padahal, kalau kita perhatikan ayat-ayat suci Al Quran, maka seorang muslim diperintah untuk memaafkan dengan dibarengi lapang dada, mari kita perhatikan:
 
{وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا} [النور: 22]
 
Artinya: "…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada…". QS. An Nur: 22.
 
Di dalam ayat yang mulia ini terdapat pelajaran yaitu: Perintah untuk memaafkan dan lapang dada, walau apapun yang didapatkan dari orang-orang yang pernah menyakiti. Lihat Tafsir al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan, karya As Sa'di rahimahullah.
 
{فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} [المائدة: 13]
 
Artinya: "…maka maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". QS. Al Maidah: 13.
 
Ayat yang mulia ini memberi beberapa pelajaran:
 
1. Sikap memaafkan yang dibarengi dengan perasaan lapang dada adalah sifatnya seorang Muhsin.
 
2. Seorang Muhsin keutamaannya adalah dicintai Allah Ta'ala. Dan keutamaan orang yang dicintai Allah Ta'ala adalah:
 
- Masuk surga
 
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضى الله عنه قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ « وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ». قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ».
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Seorang lelaki pernah datang kepada Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: "Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?", beliau menjawab:"Apa yang telah kamu siapkan untuk hari kiamat?", lelaki itu menjawab: "Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya", Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maka sungguh kamu kan bersama yang kamu cintai".  HR. Bukhari dan Muslim.
 
- Diharamkan oleh Allah Ta'ala untuk masuk neraka.
 
عنْ أَنَسٍ رضى الله عنه قَال: قَالََ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « والله, لاَ يُلْقِى اللَّهُ حَبِيبَهُ فِى النَّارِ»
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Demi Allah, tidak akan Allah melemparkan orang yang dicintai-Nya ke dalam Neraka".HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2047.
 
- Dicintai oleh seluruh malaikat 'alaihimussalam dan diterima oleh penduduk bumi:
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، ثُمَّ يُنَادِى جِبْرِيلُ فِى السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ وَيُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى أَهْلِ الأَرْضِ »
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Jika Allah Tabaraka wa Ta'ala mencintai seorang hamba, maka Allah Ta'ala memanggil Jibril : "Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah fulan", maka Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril menyeru di langit: "Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah kalian fulan", maka  penduduk langitpun mencintainya dan diletakkan baginya penerimaan di tengah-tengah penduduk bumi". HR. Bukhari.
 
Semoga bermanfaat.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Ahad, 22 Rabi'uts Tsani 1432 H, Dammam KSA

 

 

(Jangan) Coba-coba di Jejaring Sosial


Bosan dengan istri atau suami… 

Nyoba situs jejaring sosial… 

e… ketemu ex pacar, akhirnya…

 
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Termasuk permasalahan sosial yang terjadi di era canggih informasi dan teknologi saat sekarang ini adalah, baik para suami atau para istri dengan mudahnya mengakses hubungan dengan seseorang tanpa ada seorang manusiapun yang bisa mengotrolnya kecuali orang yang mengedepankan rasamuraqabahnya kepada Allah Ta'ala saja. 
 
Akibatnya, hubungan kurang harmonis terjadi di antara pasangan suami istri, salah satu penyebabnya adalah pasangan di dunia maya (di situs jejaring sosial dan yang semisalnya) lebih romantis dan mesra dibanding dengan pasangannya di dunia nyata. Akhirnya, tidak sedikit gara-gara ini, sebuah keluarga yang asalnya "adem ayem," jadi berantakan bagaikan benang kusut yang tidak ada ujungnya. Wallahul musta'an.
 
 
 
 
Cobalah kawan…
 
Kita tingkatkan kwalitas muraqabah kita, selalu merasa diawasi oleh Allah Ta'ala Al Ghafur (Yang Maha Pengampun) dan Ar Rahim (Yang Maha Penyayang) tetapi jangan lupa…! Siksa Allah Ta'ala sangat pedih!
 
Ingatlah selalu kawan....
 
1. Allah Ta'ala mengetahui apa yang ada di dalam diri kita
 
{وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ} [البقرة: 235]
 
Artinya: "Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya". QS. Al Baqarah: 235.
 
2. Allah Ta'ala selalu mengawasi setiap sesuatu
 
{وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا } [الأحزاب: 52]
 
Artinya: "Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu". QS. Al Ahzab: 52.
 
3. Allah Ta'ala selalu bersama kita, mengetahui dan melihat kita.
 
{وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ} [الحديد: 4]
 
Artinya: "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan". QS. Al Hadid:4.
 
4. Allah mengetahui mata-mata yang berkhianat
 
{ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ} [غافر: 19]
 
Artinya: "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati".QS. Ghafir: 19.
 
5. Bukankah penciptaan kita tidak sia-sia, nanti ada pertanggung jawaban di hadapan Allah Ta'ala
 
{وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ} [ص: 27]
 
Artinya: "Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan kebatilan (sia-sia). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka". QS. Shaad:27.
 
{أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ } [المؤمنون: 115]
 
Artinya: "Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?". QS. Al Mukminun: 115. Wallahu a'lam. 
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung