Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Artikel DS

Hukum Berdakwah Dengan Cerita Dusta

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu 

Ustadz, seringkali ana mendapatkan email yg berisikan suatu kisah/cerita yg dimaksudkan agar kita mengambil hikmah didalamnya ataupun dimaksudkan sbg dakwah.
 
Yg ingin ana tanyakan adalah bagaimana hukum kisah/cerita hikmah tsb jika:
1. Kisah/cerita tsb merupakan kisah nyata.
2. Kisah/certia tsb merupakan karangan saja.
3. Kisah tsb merupakan kisah nyata namun berasal dari sumber non-muslim yg kemudian diubah redaksinya menjadi kisah yg "islami."
 
Jazakallahu khairan



 
 
 
 
 
 
 
Jawaban:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu, wa jazakumullah khairan.
 
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari perhatikan beberapa poin di bawah ini:
 
 
Pertama, kisah atau cerita asal hukumnya diperbolehkan jika kisah itu benar, dalilnya adalah beberapa ayat suci yang ada di dalam Al Quran Al Karim yang menunjukkan akan kebolehan bercerita, dari ayat-ayat yang menunjukkan akan hal tersebut misalnya:
 


{ لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ}
 
Artinya: "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman". QS. Yusuf:111.
 
{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ }
 
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka; tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". QS. Al Baqarah:62.
 
{لَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ }
 
Artinya: "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir". QS. Al A’raf:176.
 
{نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ}
 
Artinya: "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui". QS. Yusuf:3.
 
{فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ }
 
Artinya: "Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan kemalu-maluan, ia berkata:"Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami".Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya).Syu'aib berkata:"Janganlah kamu takut.Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". QS. Al Qashash:25.
 
Dan kalau kita perhatikan Al Quran Al Karim, maka akan kita dapatkan penuh dengan cerita-cerita umat-umat terdahulu, semenjak Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad 'alaihimash shalatu wassalam, agar kaum muslimin bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Wallahu a'lam
 
Kedua, Cerita-cerita yang ada di dalam Al Quran Al Karim, hadits-hadits yang shahih, cerita-cerita para shahabat radhiyallahu 'anhum, para tabi'in, para ulama setelahnya rahimahumullah dengan sanad yang benar maka sudah mencukupi untuk dijadikan sebagai bahan renungan, dakwah, nasehat dan sebagainya, yang bermanfa'at bagi umat manusia khususnya umat muslim.

 

Ketiga, Berbohong adalah dosa besar sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama yang mengarang kitab tentang dosa-dosa besar, diantaranya Imam Adz Dzahabi dan yang lainnya rahimahumullah,karena dosa berbohong di ancam masuk neraka. Hadits-hadits yang berkenaan dengan dosa berbohong:
 
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ ، حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا.
 
Artinya: "Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada surga, sesungguhnya seseorang benar-benar berkata jujur sehingga ia menjadi shiddiq (orang yang terpercaya), dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka dan sungguh seseorang benar-benar berdusta sehingga ditulis di sisi Allah sebagai tukang dusta". Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.
 
مِنْ أَفْرَى الْفِرَى أَنْ يُرِىَ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَ.
 
Artinya: "Termasuk dari dusta yang paling besar adalah kedua matanya memperlihatkan (menceritakan) sesuatu yang tidak pernah dilihat olehnya." Hadits riwayat Bukhari.
 
فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِى أَحَدَ شِقَّىْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ - قَالَ وَرُبَّمَا قَالَ أَبُو رَجَاءٍ فَيَشُقُّ - قَالَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الْجَانِبِ الآخَرِ ، فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ الأَوَّلِ ، فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الْجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الْجَانِبُ كَمَا كَانَ ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُولَى . قَالَ قُلْتُ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ... وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ.
 
Artinya: “lalu kami berangkat mendatangi seseorang yang berbaring terlentang, dan seorang lagi berdiri di sampingnya sambil memegang serokan besi pengait bara, lalu menghampiri muka temannya dan mengoyak mulut hingga ke tengkuknya dan tulang hidungnya hingga ke tengkuknya, dan matanya hingga ke tengkuknya, lalu dia berpindah ke sisi tubuh temannya bagian yang lain, lalu melakukan hal yang serupa, tatkala selesai mengoyak bagian kedua, sisi tubuh bagian pertama kembali seperti sedia kala, dan dia mengulanginya lagi seperti kali pertama, aku berkata: “Subhanallah (Maha suci Allah)! Siapa mereka berdua?”…”Adapun lelaki yang mulut, hidung dan matanya dikoyak hingga tengkuknya, adalah seorang yang keluar dari rumahnya, lalu memberitakan kabar bohong yang samapi ke seluruh penjuru dunia”.  HR. Bukhari
 
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ. رواه مسلم
 
Artinya: "Cukuplah seorang manusia dikatakan telah berdusta, jika ia mengatakan setiap sesuatu yang ia dengar." Hadits riwayat Muslim
 
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ، وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ، وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلْقُهُ.
 
Artinya: "Aku penjamin sebuah rumah di kebun surga bagi siapa yang meninggalkan pertikaian meskipun ia benar, dan penjamin sebuah rumah di tengah-tengah surga bagi siapa yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, dan penjamin sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi siapa yang baik akhlaqnya." Hadits riwayat Abu Daud dan dihasankan oleh Imam Al Albani di dalam kitab Shahihul Jami'.
 
 
Keempat, Petunjuk terbaik adalah petunjuknya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, termasuk di dalamnya petunjuk untuk berdakwah, karena berdakwah adalah ibadah maka tidak ada contoh yang terbaik dalam berdakwah kecuali petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Allah Ta'ala berfirman:
 
{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ}
 
Artinya: "Katakanlah, "Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". QS. Yusuf:108.
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
 
Artinya: "Amma ba'du, maka sesungguhnya sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullahi dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang mengada-ada dan setiap bid'ah itu sesat". Hadits riwayat Muslim.
 
Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berdakwah dengan kisah-kisah bohong, begitupula para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.
 
Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceritakan sebab kebinasaan Bani Israel, tidak lain adalah karena mereka mendongeng, berkisah
 
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ لمَّا هَلَكُوا قَصُّوا
 
Artinya: “Sesungguhnya Bani Israel ketika binasa mereka berdongeng”. HR. Ath Thabarani di dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1681.
 
Ibnu Al Atsir rahimahullah berkata :
 
“Arti “Ketika binasa mereka berdongeng” adalah mereka bersandar kepada ucapan dan meninggalkan amal, maka hal itu penyebab kebinasaan mereka, atau kebalikannya, yaitu mereka binasa dengan meninggalkan amal dan akhirnya mereka hanya mendongeng”. Lihat kitab An Nihayah Fi Gharib al Ahadits.  
 
Berkata Al Albani rahimahullah:
“Dapat juga dikatakan, bahwa sebab kehancuran mereka  adalah para dai mereka memperhatikan kisah-kisah dan hikayat tanpa fikih dan ilmu yang bermanfaat yang mengenalkan kepada manusia perihal agama mereka, akhirnya hal itu membawa mereka kepada amal shalih (tanpa ilmu dan pemahaman), maka ketika mereka melakukan itu mereka binasa”. Lihat kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1681.
 
Berkata Ibnu Al Jauzy rahimahullah:
“Para Ahli Kisah tidak dicela dari sisi namanya ini, karena Allah Azza wa Jalla berfirman:
 
نَحْنُ نَقصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ القَصَص
 
Dan juga berfirman:
فَاقْصُص القَصَص
 
Tetapi para ahli kisah dicela, karena kebanyakan mereka terlalu mudah menyebutkan kisah-kisah tanpa menyebutkan ilmu yang bermanfaat, kemudian kebanyakan mereka keliru dalam penyampaian dan terkadang bersandar dengan sesuatu yang kebanyakan mustahil”. Lihat kitab Talbis Iblis, hal. 150.
 
Berkata Al Hafizh Al ‘Iraqy rahimahullah:
 
“Termasuk penyakit mereka adalah berbicara kepada kebanyakan orang awam dengan sesuatu yang tidak sampai akal mereka kepadanya, maka akhirnya mereka terprosok ke dalam keyakinan-keyakinan yang buruk, ini kalau seandainya cerita itu benar, apalagi kalau seandainya cerita itu sesuatu yang batil!!!”. Lihat kitab Tahdzir al Khawash, karya As Suyuthy, hal. 180.
 
Berkata Ibnu Al Jauzy rahimahullah:
 
“Seorang yang suka berkisah meriwayatkan kepada orang-orang awam hadits-hadits yang munkar, dia menyebutkan kepada mereka yang kalau seandainya dia mencium bau ilmu (sedikit saja dari kisah tersebut), niscaya dia tidak akan menceritakannya, akhirnya orang-orang awam keluar dari sisinya belajar hal-hal yang batil, jika ada seorang ahli ilmu yang mengingkari mereka, mereka akan menjawab: “Kami telah mendapatkan ini dengan lafazh “Akhbarana” (telah diberitahukan kepada kami) dan hadatsana (dia telah meriwayatkan kepada kami) (artinya kisah ini ada sanadnya), berapa banyak para ahli kisah merusak makhluk dengan hadits-hadits yang palsu, berapa banyak warna tubuh telah menguning gara-gara kelaparan, berapa banyak yang bertekad untuk bepergian ke sebuah tempat, berapa banyak orang yang melarang dirinya dari sesuatu yang telah dihalalkan, berapa banyak yang meninggalkan untuk meriwayatkan hadits dengan sangkaan darinya hal itu menyelisihi diri di dalam hawa nafsunya, berapa banyak orang yang menjadikan anaknya yatim dengan sikap zuhudnya padahal dia masih hidup, berapa banyak yang tidak mau bergaul dengan istrinya tidak menunaikan hak istrinya, maka akhirnya si istri bukanlah seorang yang janda bukan pula seorang yang mempunyai suami”. Lihat kitab al Maudhu’at, 1/32.
 
Perkataan Ibnu Al Jauzy di atas menjelaskan bahwa berapa banyak penyimpangan-penyimpangan syariat dilakukan oleh sebagian orang akibat cerita-cerita palsu yang mereka dengan dari para ahli kisah, berupa kisah zuhud, wara’ dan sebagainya.
 
Dari sinilah sebagian ulama terdahulu mencela para ahli kisah ini di dalam rangka berdakwah:
 
Ahmad bin Hanbal berkata:
“Manusia yang paling pendusta adalah para ahli kisah dan para peminta-minta, sungguh orang-orang sangat membutuhkan para ahli kisah yang jujur, karena mereka menyebutkan kematian dan siksa kubur”, kemudian beliau ditanya: “Apakah engkau menghadiri perkumpulannya?”, beliau menjawab: “Tidak”. Lihat kitab Al Adab Asy Syar’iyyah, karya Ibnu Muflih Al Hanbaly, 2/82.
 
InsyaAllah dari poin-poin yang sudah disampaikan di atas bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, wallahu a’lam.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Jumat 21 Al Muharram 1433H, Dammam KSA.

 

 

Sikap Muslim Dalam Menghadapi Fitnah

Mukaddimah

 
Berlindunglah Kepada Allah Ta'ala dari fitnah, karena Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallamsering sekali berdoa meminta perlindungan dari Allah agar tidak terkena fitnah.
 
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bahkan sudah memperingatkan umatnya akan timbulnya fitnah, sebagaimana dalam sebuah hadits shahih:
 
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ ». قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ قَالَ « الْقَتْلُ »
 
Artinya: "Zaman akan semakin dekat, dicabutnya ilmu, akan timbul fitnah-fitnah, dimasukkan (ke dalam hati) sifat kikir dan akan banyak al harj", mereka (para shahabat) bertanya: "Apakah al harj,wahai Rasulullah?", beliau menjawab: "Pembunuhan". HR. Bukhari dan Muslim.
 
 
Fitnah jika sudah datang maka akan datang bersamaan dengannya kerusakan sampai hari kiamat. Allah Ta'ala telah memperingatkan adanya fitnah, coba perhatikan firman-Nya:
 
{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال: 25]       
 
Artinya: "Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya". (QS. 8:25). 
  
Makna fitnah adalah sesuatu yang genting, berubah-rubah, tidak ada stabilitas dan semisalnya, akibat dari penyimpangan terhadap ajaran islam.

Kaidah-kaidah penting untuk seorang muslim dalam menghadapi fitnah:
 
1. Jika timbul fitnah, maka hendaklah hadapi dengan sikap hati-hati, tidak gegabah dan penuh kesabaran.
 
Hadapi dengan lemah lembut dan ramah tamah, karena Sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:
 
« إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ ».
 
Artinya: "Sesungguhnya kelemah lembutan (keramah tamahan) tidaklah ada di dalam sebuah perkara kecuali menghiasinya dan tidak dicabut (kelemah lembutan) dari sesuatu kecuali memburukkannya". HR. Bukhari dan Muslim.
 
Hadapi dengan sikap hati-hati (tidak gegabah) dan kesabaran, berdasarkan sabda Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam kepada Asyajj Abdul Qais radhiayallahu 'anhu:
 
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ
 
 
 
 

Artinya: "Sesungguhnya di dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu; kesabaran dan pelan-pelan (tidak gegabah)". HR. Muslim.
 
2. Tidak menghukumi sesuatu kecuali sesudah mengetahui kejadian sebenarnya, sesuai dengan kaedah fiqih:
 
الحكم على الشيء فرع عن تصوره
 
Artinya: "Menghukumi sesuatu itu adalah termasuk bagian tentang gambaran sesuatu tersebut."
 
Dan perlu diingat, suatu perkara tidak bisa diketahui kecuali dengan dua: dari kabar kaum muslim yang terpercaya dan dari berita orang yang meminta fatwa akan perkara tersebut meskipun orang yang minta fatwa tersebut adalah orang fasik.
 
3. Hendaklah selalu memegang sikap adil dan pertengahan (tidak berlebih-lebihan).
Karena firman Allah Ta'ala:
 
{وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى} [الأنعام: 152]
 
Artinya: "…Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu…," (QS. 6:152).
 
Juga firman Allah Ta'ala:
 
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ } [المائدة: 8]
 
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan." (QS. 5:8).
 
Dan arti sikap adil dan sikap pertengahan bukanlah berarti membenarkan yang salah dan menyalahkan yang batil tetapi menempatkan standar kesalahan dan standar kebenaran sesuai dengan syari'at Islam bukan dengan hawa nafsu, harap diperhatikan point ini.
 
4. Selalu bersatu dalam kesatuan kaum muslim di bawah kepemimpinan yang sah.
 
Karena hal inilah yang ditunjukkan Allah dalam firman-Nya:
 
{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ} [آل عمران: 103]
 
Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. 3:103).
 
Dan berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:
 
عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ
 
Artinya: "Hendaklah kalian berjama'ah (di dalam kesatuan kaum muslimin) dan jauhilah dari perpecahan". HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani.
 
Dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berpecah belah ketika sudah jelas keterangan dan dalil bagi dia, firman Allah Ta'ala:
 
{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (105)} [آل عمران: 104، 105]
 
Artinya: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (QS. 3:104) Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat." (QS. 3:105).
 
5. Slogan, bendera, visi dan yang semisalnya yang dibawa ketika fitnah harus ditimbang oleh seorang muslim dengan timbangan syari'at agama Islam, timbangannya Ahlu Sunnah wal Jama'ah.
 
Dan timbangan yang digunakan ada dua macam: pertama, timbangan yang digunakan untuk mengukur apakah bendera, visi, misi, slogan merupakan agama Islam, kalau tidak, berarti kebalikan Islam yaitu kekufuran. Dan kedua, timbangan yang digunakan untuk mengukur apakah bendera, visi, misi dan yang semisalnya sesuai dengan islam yang benar, kalau tidak, berarti kebalikan Islam yang benar adalah Islam yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
 
Allah Ta'ala berfirman:
 
{وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ} [الأنبياء: 47]
 
Artinya: "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan". (QS. 21:47).
 
6. Setiap perkataan dan perbuatan di dalam setiap fitnah harus ada dhawabith (ukuran yang tepat).
 
Karena tidak semua perkataan yang anda anggap baik itu cocok untuk dikatakan dalam fitnah tertentu, begitu pula tidak semua perbuatan yang anda anggap baik itu cocok untuk diperbuat di dalam fitnahtertentu.
 
Karena setiap perkatan ataupun perbuatan akan mendatangkan beberapa perkara yang lain.
Oleh sebab itu ada riwayat dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
 

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لاَ تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ إِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً.

 
Artinya: "Tidak anda berbicara dengan suatu kaum sebuah pembicaraan yang tidak bisa dipahami oleh akal mereka kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian dari mereka". HR.Muslim.
 
7.    Jika terjadi fitnah, maka bersatulah dengan kaum muslimin apalagi para ulama.
 
Dan para ulama yang merupakan referensi (tempat kembali kaum muslimin) adalah mereka yang mempunyai dua sifat: pertama, dari ulama Ahlus sunnah yang mengerti tentang tauhid, sunnah dan yang lainnya yang berdasarkan pemahaman para shahabat nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dan kedua, yang benar-benar paham akan hukum-hukum islam secara menyeluruh, paham akan kaedah-kaedah dasar, akar-akar permasalahan, sehingga mereka tidak mempunyai kesamaran dalam menghadapi permasalahan.
 
8. Seorang muslim tidak boleh menurunkan hadits-hadits tentang fitnah yang disebutkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kepada fitnah yang lagi berlangsung, misalkan dengan mengatakan : "Inilah fitnah yang disebutkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, atau dengan mengatakan: "Inilah orang yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, padahal fitnah tersebut masih berlangsung belum selesai, boleh kita mengatakan seperti itu ketika fitnah tersebut sudah selesai sebagai pernyataan seorang muslim akan berita yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
 
Tulisan ini disarikan dari kitab berjudul "Adh Dhawabit Asy Syar'iyyah Limauqif Al Muslim Min Al Fitan" (kaidah-kaidah Syariat tentang sikap seorang muslim dalam menghadapi keadaan-keadaan genting), karya Syeikh Shalih Alu Syeikh hafizhahullah, Menteri Urusan Agama Islam, Wakaf, Dakwah dan Penyuluhan untuk Kerajaan Arab Saudi. Alih Bahasa: Abu Abdillah Ahmad Zainuddin.[]

 
 
 

 

 

Belajar Untuk Mengatakan "Saya Tidak Tahu"

بسم الله الرحمن الرحيم
 

الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد
 

 
عن مَسْرُوقٍ قال كنا عِنْدَ عبد اللَّهِ جُلُوسًا وهو مُضْطَجِعٌ بَيْنَنَا فَأَتَاهُ رَجُلٌ فقال: يا أَبَا عبد الرحمن إِنَّ قَاصًّا عِنْدَ أَبْوَابِ كِنْدَةَ يَقُصُّ وَيَزْعُمُ أَنَّ آيَةَ الدُّخَانِ تجيء فَتَأْخُذُ بِأَنْفَاسِ الْكُفَّارِ وَيَأْخُذُ الْمُؤْمِنِينَ منه كَهَيْئَةِ الزُّكَامِ فقال عبد اللَّهِ وَجَلَسَ وهو غَضْبَانُ: (يا أَيَّهَا الناس اتَّقُوا اللَّهَ من عَلِمَ مِنْكُمْ شيئاً فَلْيَقُلْ بِمَا يَعْلَمُ وَمَنْ لم يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ الله أَعْلَمُ فإنه أَعْلَمُ لِأَحَدِكُمْ أَنْ يَقُولَ لِمَا لَا يَعْلَمُ الله أَعْلَمُ فإن اللَّهَ عز وجل قال لِنَبِيِّهِ صلى الله عليه و سلم: قُلْ ما أَسْأَلُكُمْ عليه من أَجْرٍ وما أنا من الْمُتَكَلِّفِينَ  

Artinya: "Masruq rahimahullah berkata: "Kami pernah duduk bersama Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau sambil tiduran di antara kami, lalu datang seorang laki-laki dan berkata: "Wahai Abu Abdirrahman (panggilan untuk Abdullah bin Mas'ud-pent), ada seorang tukang dongeng di daerah Kindah (sebuah tempat di daerah Kufah-pent) bercerita dan mendakwakan tentang ayat di dalam surat Ad-Dukhan, (bahwa akan ada asap yang datang pada hari kiamat-pent) lalu mencabut jiwa-jiwa orang kafir dan mengambil orang-orang beriman seperti terjadinya flu terhadap mereka, lalu Abdullah bin Mas'udradhiyallahu 'anhu duduk dalam keadaan marah dan berkata: "Wahai manusia, takutlah kepada Allah, barangsiapa di antara kalian yang mengetahui sesuatu maka katakanlah sesuatu yang dia ketahui saja dan barangsiapa yang tidak mengetahui maka katakanlah: "Allah a'lam (Allah lebih mengetahui)", karena sesungguhnya orang yang paling berilmu dari kalian adalah seseorang yang mengatakan terhadap apa yang dia tidak ketahui: "Allah a'lam (Allah lebih mengetahui)", sesungguhnya Allah telah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam: "Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan." QS. Shaad: 86". HR. Bukhari, no. 4531 dan Muslim, no. 7244.
 
عن ابن مَسْعُودٍ رضي الله عنه قال: (إن الذي يُفْتِي النَّاسَ في كل ما يستفتي لَمَجْنُونٌ)
 
Artinya: "Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya yang berfatwa kepada manusia di setiap apa yang ditanyakan kepadanya, adalah benar-benar orang gila". Riwayat shahih oleh ad-Darimi (1/171), ath-Thabarani di dalam al-Mu'jam al-Kabir, no. 7923, al-Khathib di dalam kitab al-Faqih wa al-mutafaqqih (2/417) dari riwayat al-A'masy dari Abu Wa'il dari Abdullah bin Mas'udradhiyallahu 'anhu
 
عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: (يا بردها على الكبد!! أن تقول لما لا تعلم الله أعلم)
 
Artinya: "Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: "Sungguh sangat sejuk di dalam hati…ketika kamu mengatakan sesuatu yang kamu tidak ketahui: "Allah a'lam (Allah lebih mengetahui)". Riwayat shahih oleh Ad-Darimi (1/175,176), Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh Dimasyq (42/510) dan al-Khathib di dalam kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih (2/362) dari riwayat 'Atha' ni as-saib dari Abul Bakhtari dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.
 
عن ابن عمر رضي الله عنهما: (أنه سئل عن شيء فقال لا ادري ثم قال أتريدون أن تجعلوا ظهورنا جسوراً لكم في نار جهنم، أن تقولوا أفتانا ابن عمر بهذا) (صحيح)
 
Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma pernah ditanya tentang sesuatu, lalu beliau menjawab: "Laa adri (saya tidak tahu), kemudian beliau berkata: "Apakah kalian ingin menjadikan punggung kami jembatan bagi kalian di neraka Jahannam, kalian mengatakan: "Ibnu Umar telah berfatwa dengan ini". Riwayat shahih oleh al-Fasawi di dalam kitab al-Ma'rifah wa at-Tarikh (1/hal. 266) dan al-Khathib di dalam kitab al-Faqih Wa al-Mutafaqqih (2/hal: 364) dan Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh Dimasyq (31/hal. 168) dari riwayat  Ibnul Mubarak dari haiwah bin Syuraih dari 'Uqbah bin Muslim. 
 
عن ابن عمر رضي الله عنهما: (أن رجلا سأله عن مسألة؟ فقال: لا علم لي بها، فلمَّا أدبر الرجل قال ابن عمر: نِعْمَ ما قال ابن عمر!! سُئِلَ عَمَّا لا يعلم فقال: لا علم لي بها)
 
Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma pernah ditanya oleh seseorang tentang sebuah permasalahan, beliau menjawab: "Saya tidak ada ilmu tentang permasalahan itu", ketika orang tersebut berpaling, Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: "Sungguh baik perkataan Ibnu Umar!!, ditanya tentang sesuatu yang dia tidak ketahui maka dia mengatakan: "Saya tidak ada ilmu tentang permasalahan itu". Riwayat shahih ad-Darimy (1/no. 179), al-Hakim (3/no. 6378) dan Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh Dimasyq (31/hal. 168) dari riwayat Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
 
عن خالد بن أسلم قال: خرجنا مع عبد الله بن عمر نمشي فلحقنا أعرابي، فقال: أنت عبد الله بن عمر؟ قال: نعم، قال: سألت عنك فدللت عليك فأخبرني: أترث العمة؟ فقال ابن عمر: لا أدري، فقال: أنت لا تدري ولا ندري، قال: نعم اذهب إلى العلماء بالمدينة فسلهم، فلمَّا أدبر؛ قَبَّل ابنُ عمرَ يديه فقال: نعمَّ ما قال أبو عبد الرحمن سُئل عمَّا لا يدري فقال: لا أدري)
 
Artinya: "Khalid bin Aslam berkata: "Kami pernah berjalan bersama Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, lalu ada seorang A'rabi (dari kampung Arab) menghampiri kami dan berkata: "Apakah engkau Abdullah bin Umar?", beliau (Abdullah bin Umar) menjawab: "Iya", orang dari kampung Arab ini berkata: "Aku bertanya tentang engkau lalu aku diberi unjuk tentang keberadaan engkau, maka sekarang beritahukanlah kepadaku: "Apakah bibi mewarisi?", Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma menjawab: "Laa adri (saya tidak tahu)", orang tersebut berkata: "Kamu tidak mengetahuinya dan kitapun tidak mengetahuinya, (bagaimana ini?), Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: "Iya (demikian), pergilah kepada para ulama di kota Madinah, bertanyalah kepada mereka", ketika hendak pergi orang tersebut mencium kedua tangan Abdullah bin Umar seraya berkata: "Sungguh baik apa yang dikatakan Abu Abdirrahman (yaitu: Abdullah bin Umar) ditanya tentang sesuatu yang dia tidak ketahui maka beliau menjawab: "Saya tidak tahu". Riwayat Hasan oleh al-Baihaqi di dalam kitab as-Sunan al-Kubra (4/no. 7021) dan disebutkan oleh Ibnu hajar di dalam kitab Taghligh at-Ta'liq (3/hal. 5) dari beberapa riwayat berasal dari Ahmad bin Syu'aib, beliau berkata: "Aku telah diberitahukan oleh Bapakku, beliau mendapatkan riwayat dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Khalid bin Aslam dia berkata:…"   
 
عن عبد الرحمن بن أبي ليلى قال: (أدركت عشرين ومائة من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فما كان منهم مُحَدِّثٌ إلا وَدَّ أنَّ أخاه كفاه الحديث، ولا مفت إلا وَدَّ أنَّ أخاه كفاه الفتيا). (حسن)
 
Artinya: "Abdurrahman bin Abi Layla berkata: "Aku telah bertemu dengan 120 orang dari shahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka tidak ada seorang di antara mereka sebagai juru bicara kecuali menginginkan kawannya yang mencukupkan pembicaraan dan tidak seorangpun dari mereka sebagai pemberi fatwa kecuali menginginkan kawannya yang lain yang menyampaikan fatwa". Riwayat hasan di sebutkan oleh Ibnul Mubarak di dalam kitab Zuhud,no. 58, ad-Darimi (1/135), Ibnu Hibban di dalam kitab ats-Tsiqat (9/hal. 215) dan yang lainnya dari riwayat 'Atha bin Saib dari Abdurrahman bi Abi layla. 
 
عن ابن حصين قال: (إِنَّ أَحَدَهُمْ لَيُفْتِي في الْمَسْأَلَةِ وَلَوْ وَرَدَتْ على عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ لَجَمَعَ لها أَهْلَ بَدْرٍ)
 
Artinya: "Ibnu Hushain rahimahullah berkata: "Sungguh seorang dari mereka suka memberi fatwa dalam sebuah permasalahan, seandainya permasalahan tersebut sampai kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu niscaya beliau mengumpulkan para pejuang peperangan Badr". Riwayat hasan oleh al-Baihaqi di dalam kitab al-Madkhal (1/no. 803) dan dari jalannya Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh Dimasyq (38/hal. 410, 411) dari beberapa riwayat dari Abi Syihab al-Hannath dari Ibnu Hushain dengan riwayat ini.
 
قال سفيان الثوري رحمه الله: (أدركت الفقهاء وهم يكرهون أن يجيبوا في المسائل والفتيا، ولا يفتون حتى لا يجدوا بُداً من أن يفتوا)
 
Artinya: "Sufyan ats-Tsaury rahimahullah berkata: "Aku menemui para ahli fikih, mereka membenci untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan permintaan fatwa dan mereka tidak berfatwa sampai tidak mendapatkan alasan kecuali harus berfatwa". Riwayat shahih dikeluarkan oleh al-Ajurry di dalam kitab Akhlaq al-ulama, no. 80, dari Ja'far bin Muhammad Ash Shundali, beliau berkata: "Kami telah diberitahukan oleh Muhammad bin al-Mutsanna, beliau berkata: "Aku telah mendengar Bisyr bin al-Harits  berkata: "Aku telah mendengar al-Mua'fa bin Imran menyebutkan tentang Sufyan…".
 
وعن الأعمش قال: (ما سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ - يَعْنِيِ النَّخَعِي- يقول قطُّ حَلالٌ ولا حَرَامٌ، إنَّما كان يقول: كانوا يكرهون، وكانوا يستحبُّون)
 
Artinya: "al-A'masy rahimahullah berkata: "Aku tidak pernah mendengar sekalipun Ibrahim an-Nakha-i mengatakan halal tidak haram, dia hanya mengatakan: "Mereka membencinya dan mereka menganjurkannya". Sanadnya hasan diriwayat oleh ad-Darimi (1/184) beliau berkata: "Kami telah diberitahukan oleh Harun, dia mendapatkan riwayat dari Hafsh, dia mendapatkan riwayat dari al-A'masy.
 
عن الشَّعْبِيِّ قال : (لَا أَدْرِي نِصْفُ الْعِلْمِ).
 
Artinya: "Asy-Sya'bi rahimahullah berkata: "Perkataan "Aku tidak tahu" adalah setengah ilmu". Riwayatnya shahih dikeluarkan oleh ad-Darimi (1/180) dan al-Baihaqi di dalam kitab al-Madkhal (1/ no. 810) dari riwayat-riwayat dari Abu 'Uwanah dari Mughirah dari Asy-Sya'bi.
 
عن عبد الله بن يزيد بن هرمز قال: (يَنْبَغِي لِلْعَالِمِ أَنْ يُوَرِّثَ جُلَسَاءَهُ من بَعْدِهِ لَا أَدْرِي حتى يَكُونَ ذلك أَصْلًا في أَيْدِيهِمْ يَفْزَعُونَ إلَيْهِ، فَإِذَا سُئِلَ أَحَدُهُم عَمَّا لا يَدْرِيِ قَاَلَ لا أَدْرِيِ).
 
Artinya: "Abdullah bin Yazid bin Hurmuz rahimahullah berkata: "Semestinya bagi seorang yang berilmu untuk mewariskan kepada murid-muridnya setelahnya, perkataan "Saya Tidak Tahu", sampai itu menjadi prinsip di tangan-tangan mereka, mereka selalu condong kepadanya, jika salah seorang mereka ditanya tentang sesuatu yang dia tidak ketahui, dia mengatakan: "Saya tidak Tahu".  Riwayat shahih di keluarkan oleh al-Fasawi di dalam kitab al-ma'rifat wa at-Tarikh (1/hal. 367) dari beberapa jalan dari Ibnu Wahb dari Malik, beliau berkata: "Aku telah mendengar Abdullah bin Yazid bin Hurmuz berkata: "…".
 
عن يَحْيَى بن سَعِيدٍ قال:سَأَلْتُ ابْنًا لِعَبْدِ اللَّهِ بن عُمَرَ عن مَسْأَلَةٍ فلم يَقُلْ فيها شيئا فَقِيلَ له إنَّا لَنُعْظِمُ أَنْ يَكُونَ مِثْلُكَ ابن إمَامِ هُدًى تُسْأَلُ عن أَمْرٍ ليس عِنْدَكَ فيه عِلْمٌ، فقال أَعْظَمُ وَاَللَّهِ من ذلك عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ من عَرَفَ اللَّهَ وَعِنْدَ من عَقَلَ عن اللَّهِ أَنْ أَقُولَ ما ليس لي بِهِ عِلْمٌ أو أُخْبِرَ عن غَيْرِ ثِقَةٍ)
 
Artinya: "Yahya bin Sa'id rahimahullah berkata: "Aku bertanya kepada anak Abdullah bin Umarradhiyallahu 'anhuma tentang sebuah permasalahan, beliau tidak menjawab sesuatupun dari pertanyaan tersebut, lalu ada yang berkata kepada beliau: "Sungguh kami merasa sangat keheranan, orang sepertimu, anaknya seorang pemimpin (di dalam ilmu) yang memberikan petunjuk, ditanya sebuah perkara dan kamu tidak mempunyai ilmu di dalamnya, maka beliau (anak Abdullah bin Umar) menjawab: "Demi Allah lebih heran lagi dari itu, di sisi Allah dan bagi orang yang mengenal Allah, bagi orang yang mengetahui akan Allah yaitu aku mengatakan sesuatu yang aku tidak memilki ilmu akannya atau aku diberitahukan dari orang yang tidak dipercaya". Riwayat shahih dikeluarkan oleh asy-Syafi'ie di dalam kitab al-Musnad (1/hal. 342) dan di dalam kitab al-Umm (6/104), ad-Darimi di dalam al-Musnad (1/no. 114) dari beberapa riwayat dari Sufyan bin 'Uyainah dari Yahya bin Sa'id. 
 
وقال أحمد بن حنبل قال سمعت الشافعي قال سمعت مالكاً قال سمعت ابن عجلان قال: (إذا أغفل العالم لا أدري أصيبت مقاتله)
 
Artinya: "Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: "Aku telah mendengar asy-Syafi'ie berkata: "Aku telah mendengar Malik berkata: "Aku telah mendegar bin 'Ajlan berkata: "Jika seorang yang berilmu lalai dari perkataan "Saya tiak tahu", maka perkataannya terkena kesalahan". Riwayat shahih oleh al-Ajurry di dalam kitab akhlaq al-Ulama (no. 106), al-Baihaqi di dalam kitab al-Madkhal (1/812) dan dari jalannya Ibnu Shalah meriwayatkan di dalam kitab Adab al-Mufti dan al-Mustafti (1/177), beliau berkata: "Riwayat sanadnya agung dan jarang sekali karena di dalamnya terkumpul para imam yang tiga, sebagian meriwayatkan sebagian yang lain"

 
تعلموا لا أدري... ولا تقل أدري
فإنك إن قلتَ أدري سألوك حتى لا تدري... وإن قلتَ لا أدري علموك حتى تدري.
قاله الشيخ محمد عثمان الخميس – حفظه الله – في كلماته "نصيحة لمن يتصدر الفتوى" الجمعة 12/12/ 2008
 
*) Diterjemahkan oleh Ahmad Zainuddin
 

 

Jangan Berlebihan Dan Jangan Meremehkan

Janji Iblis kepada Allah Ta’ala setelah dikeluarkan dari surga:

{قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17)}
 
Artinya: Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” QS. Al A’raf: 16-17.
 
 Makna dari: “dari jalan Engkau yang lurus”
 
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “dari agama-mu yang lurus." Abdullah bin Mas’udradhiyallahu ‘anhu berkata: “dari Al Quran.” Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: “dari Islam.” Mujahidrahimahullah berkata: “dari kebenaran”
 
Seluruh tafsiran masuk ke dalam sebuah makna yaitu: dari jalan yang mengantarkan kepada Allah Ta’ala.
Makna dari: “kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka.”
 
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: “dari sisi kehidupan akhirat, yaitu dengan mendustakan hari kebangkitan, surga dan neraka.”
 
Makna dari: “dan dari belakang mereka”
 
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “saya akan senangkan kepada mereka tentang kehidupan dunia mereka”.
 
Abu Shalih rahimahullah berkata: “saya akan meragu-ragukan kepada mereka tentang kehidupan akhirat dan menjauhkan mereka darinya”.
 
Makna dari: “dari kanan mereka”.
 
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Saya akan samarkan kepada mereka perkara agama mereka.”
 
Abu Shalih berkata: “aku akan ragu-ragukan kepada mereka kebenaran.”
 
Makna dari: “dari kiri mereka”.
 
Al Hasan Al Bashri berkata: “Saya akan memerintahkan dan mendorong mereka untuk melakukan dosa dan memperindah dosa tersebut dalam pandangan mereka”.
 
Abdullah bin Abbas berkata: “dan Iblis tidak mengatakan “saya akan menggangu mereka dari atas mereka, karena dia mengetahui bahwa Allah dari atas mereka”.
 
Salah satu tipu daya Iblis/setan terhadap manusia sesuai dengan janjinya di atas: Meletakkan kepada manusia sikap ghuluw (terlalu berlebihan) atau sikap taqshir (terlalu meremehkan).
 
قال بعض السلف: ما أمر الله تعالى بأمر إلا وللشيطان فيه نزغتان، إما إلى تفريط وتقصير وأما إلى مجاوزة وغلو ولا يبالي بأبها ظفر
 
Tidak Allah memerintahkan sebuah perintah melainkan setan memeliki dua tipu daya di dalamnya; baik berupa sikap condong kepada terlalu meremehkan dan merendahkan atau sikap terlalu conodng kepada melampaui batas dan berlebihan, dan dia (setan/iblis) tidak perduli dengan mana dari dua sikap tersebut dia mendapatkan keuntungan. 
 
Contoh-contohnya:
  • Ada orang terlalu meremehkan di dalam melakukan hal-hal yang wajib di dalam bersuci (berwudhu dsb) dan ada orang yang terlalu berlebihan di dalam bersuci, sehingga membasuh yang tidak perlu dibasuh.
  • Ada orang yang terlalu meremehkan di dalam makan, minum sehingga menyakiti badan dan ada orang yang terlalu berlebihan di dalam makan, minum di luar batas kemampuan sehingga mendatangkan badan.
  • Ada orang yang terlalu meremehkan kedudukan para nabi ‘alaihimusslam dan para kerabatnya sampai membunuh mereka da nada orang yang terlalu berlebihan mengagungkan mereka sampai menyembah mereka.
  • Ada orang yang terlalu meremehkan dalam berhubungan sosial dengan orang lain, terlalu menyendiri, tidak mau bergaul dan ada orang yang terlalu berlebihan dalam hal ini, bergaul dengan siapa saja sampai bergaul kepada orang yang suka berbuat maksiat atau dosa.
  • Ada orang yang terlalu meremehkan dalam menuntut ilmu agama, tidak mau menuntut, menganggap tidak penting dan ada orang yang terlalu berlebihan menuntut ilmu agama, dengan cara mengoleksi ilmu tanpa di amalkan.
  • Ada orang yang terlalu meremehkan kesehatan, melarang dirinya makan sesuatu yang sebenarnya baik buat kesehatan dan ada orang yang terlalu berlebihan seluruh makanan dan minuman dimakan sampai yang harampun dimakan atau diminum.
  • Ada orang yang terlalu meremehkan dengan tidak mau dan tidak menganggap penting menikah dan ada orang yang terlalu berlebihan sampai melakukan perbuatan zina.
  • Ada orang yang terlalu meremehkan kedudukan para ulama dan ada yang terlalu berlebihan di dalam hal ini, shingga mereka menyembah ulama tersebut selain Allah ta’ala.
  • Ada orang yang terlalu meremehkan fatwa ulama dan orang yang terlalu berlebihan dengan fatwa mereka sehingga lebih mengedapankan fatwa mereka dibandingkan dengan Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
 
Jika dilihat dosa dan kesalahan yang dilakukan anak keturunan Adam ‘alaihissalam, sebabnya tidak lebih dari dua trik iblis ini yaitu; terlalu condong kepada sikap meremehkan atau terlalu condong kepada sikap berlebihan.
 
Silahkan contoh lainnya bisa dicari sendiri. Semoga bermanfaat. 
 
 
Dinukil dari kitab Mawarid Al Aman Al Muntaqa Ighatsat Al Lahafan fi Mashayid Asy Syaithan, karya Syeikh Ali Hasan bin Abdul Hamid hafizhahullah, oleh Ahmad Zainuddin, Dammam KSA, Ahad,19 Jumadal Akhirah 1432 H.

 

Ketinggalan Sholat Karena Sibuk Bekerja

Saya sering ketingalan melaksanakan sholat Dhuhur karena kesibukan kerjaan, seperti pada waktu shoalat itu bertepatan dengan waktu mengendarai kendaraan untuk menjemput anak-anak di sekolah, mohon dijelaskan hukumnya Ustadz?
 
Jawaban: 
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم  و بارك على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين, أما بعد:
 
Saudaraku seiman…
 
Kalau yang dimaksudkan ketinggalan adalah sampai tidak mengerjakan shalat zhuhur atau shalat-shalat wajib lainnya, maka ini termasuk dosa besar, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenjelaskan:
 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ »
 
Artinya: “Abdullah bin Buraidah meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perjanjian yang terjadi antara kita dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, maka siapa yang meninggalkannya sungguh telah kafir”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 4143.
 
عن جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنه يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ»
 
Artinya: “Jabir bi Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jarak antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. HR. Muslim. 
 
Adapun jika yang dimaksudkan ketinggalan adalah ketinggalan berjamaah di masjid maka ketauhilah, muslim lelaki yang tidak ke masjid untuk melaksanakan shalat wajib secara berjamaah, maka sungguh dia sudah ketinggalan sangat banyak keutamaan, diantaranya;

Pertama, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa sebaik-baiknya perkerjaan yang paling dicintai Allah adalah mengerjakan shalat pada waktunya.

عن عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنه - قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ»
 
Artinya: Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?”, beliau menjawab: “Shalat pada waktunya”, kemudian aku bertanya lagi: “Kemudian apa?”, beliau menjawab: “Kemudian berbakti kepada kedua orangtua”. HR. Bukhari dan Muslim.
Kedua, Keutamaan shalat berjamaah
 
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً » 
 
 
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan dari shalat sendirian dengan 27 derajat”. HR. Muslim.
 
Ketiga, Keutamaan shaf pertama
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا »
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jikalau orang-orang mengetahui apa yang ada di dalam mengumandangkan adzan dan shaf pertama (berupa pahala), kemudian mereka tidak mendapatkan (orang yang berhak atas itu) kecuali mereka berundi atasnya, maka niscaya mereka berundi, dan jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam bersegera pergi ke masjid (berupa pahala), maka mereka niscaya akan berlomba-lomba kepadanya, dan jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam shalat Isya’ dan shubuh (berupa pahala) niscaya mereka akan mendatangi keduanya meskipun dalam keadaan merangkak”. HR. Bukhari dan Muslim.

Keempat, Keutamaan berjalan ke masjid

Kelima, Keutamaan orang yang menunggu shalat berjamaah.

 
 
Dan masih banyak yang lainnya dari keutamaan-keutamaan yang didapatkan dari shalat wajib berjamaah. 
 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ »
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallambersabda: “Shalatnya seseorang berjamaah melebihi atas shalatnya di rumah dan pasarnya sebanyak 20an derajat dan hal itu disebabkan karena jika salah seorang dari kalian berwudhu dan dia menyempurnakan wudhunya kemudian dia mendatangi masjid tidak memasukinya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkan kecuali shalat, maka tidaklah dia melangkah satu langkah melainkan diangkat baginya dengan satu langkah tersebut satu derajat dan dihapuskan dengannya satu kesalahan hingga dia memasuki masjid, jika dia masuk masjid maka dia dianggap di dalam shalat selama shalat menahannya. Dan para malaikat bershalawat kepada salah seorang dari kalian, selam dia duduk di tempat shalatnya yang dia shalat disitu, para malaikat berdoa: “Wahai Allah, ampunilah dia, rahmati dia, berikan taubat kepadanya’”, selama dia tidak mengganggu di dalamnya dan tidak berhadats”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
Subhanallah…keutamaan-keutamaan yang begitu luar biasa, tidak didapat kecuali seorang yang pergi ke masjid untuk shalat berjamaah.
 
Setelah ini, insyaAllah kita terutama para lelaki muslim, senantiasa tidak akan melalaikan shalat berjamaah di masjid dan senantiasa selalu mengkondisikan diri kita agar siap melapangkan waktu untuk melakukan shalat berjamaah.
 
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Ahad 16 Al Muharram 1433, Dammam KSA

 

 

Penyebab Tidak Istiqamah


"Ternyata Dari Penyebab Tidak Istiqamah adalah Tidak Ikhlas"
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Sering seseorang mengeluh, “Ibadah sebulan maksiat setahun.”
 
Sering seseorang mengadu, “Taat kepada Allah seminggu dosanya sebulan.”
 
Sering seseorang mengadu tidak istiqamah di dalam iman, ibadah dan ketaatan!!!
 
Ternyata salah satu penyebabnya adalah tidak ikhlas..
 
Salah satu penyebabnya adalah ingin dilihat oleh selain Allah Ta’ala, ingin diberikan pujian, sanjungan oleh selain Allah Ta’ala.
 
Mari kita perhatikan ayat-ayat mulia berikut ini:
 
{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ} [فصلت: 30]
 
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". QS. Fushshilat: 30.
 
Kemudian perhatikan perkataan para ulama tafsir yang dibawakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya:
 
Pendapat Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu tentang ayat ini:
 
عن سعيد  بن نمران  قال: قرأت عند أبي بكر الصديق هذه الآية: {إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا} قال: هم الذين لم يشركوا بالله شيئا
 
Artinya: “Sa’id bin Nimran rahimahullah berkata: “Aku membaca ayat ini di depan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu:
 
{ إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا}
 
Beliau berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.”
 
قال أبو بكر، رضي الله عنه: ما تقولون في هذه الآية: { إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا } ؟ قال: فقالوا: { رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا } من ذنب. فقال: لقد حملتموها على غير المحمل، { قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا } فلم يلتفتوا إلى إله غيره. وكذا قال مجاهد، وعكرمة، والسدي، وغير واحد  
 
Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bertanya: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini:
{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا}
 
Mereka menjawab: “(yang mengatakan) Rabb kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah (jauh) dari dosa”, maka Abu Bakar berkata: “Sungguh  kalian telah membawa kepada selain maknanya”, maksudnya adalah “Mereka mengatakan “Rabb kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah”, maka mereka tidak menoleh kepada sembahan selain-Nya.”
 
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan ayat ini: 


عن عكرمة قال: سئل ابن عباس رضي الله عنهما: أي آية في كتاب الله أرخص؟ قال قوله: {إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا} على شهادة أن لا إله إلا الله
 
Artinya: “Ikrimah rahimahullah berkata: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat manakah di dalam Kitab Allah (al Quran) yang paling ringan”, beliau menjawab: firman-Nya:
 
{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا}
 
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengucapkan rabb kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah”, dengan syahadat bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah.”
 
Umar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan ayat ini:
 
وقال الزهري: تلا عمر هذه الآية على المنبر، ثم قال: استقاموا -والله-لله بطاعته، ولم يروغوا روغان الثعالب
 
Artinya: “Az Zuhry rahimahullah berkata: “Umar radhiyallahu ‘anhu pernah membaca ayat ini di atas mimbar, kemudian beliau berkata: “Demi Allah, mereka istiqamah dengan taat hanya kepada Allah dan tidak melilit-lilit seperti ular.”
 
Abu Al ‘Aliyah rahimahullah berkata:
 
وقال أبو العالية: { ثُمَّ اسْتَقَامُوا } أخلصوا له العمل والدين
 
Artinya: “Kemudian mereka istiqamah, yaitu mengikhlaskan amal dan agama hanya kepada-Nya.”
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
 
قول تعالى: { إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا } أي: أخلصوا العمل لله، وعملوا بطاعة الله تعالى على ما شرع الله لهم.
 
 
Firman Allah Ta’ala:
 
{ إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا }
 
Maksudnya adalah mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala atas apa yang disyari’atkan Allah Ta’ala.
 
Studi Kasus…
 
Setelah ini, jangan heran ketika ada seorang bisa menjadi mantan orang shalih,
 
Jangan heran ketika seorang bisa menjadi mantan orang yang mentauhidkan Allah, 
 
Jangan heran, ketika seorang bisa menjadi mantan pengikut salaf Ash Shalih,
 
Jangan heran, ketika seorang bisa menjadi mantan kyai, ustadz bahkan mantan muslim, 
 
Jangan heran, ketika seorang bisa menjadi mantan penuntut ilmu, 
 
Jangan heran, ketika seorang bisa menjadi mantan ahli masjid, ahli ibadah, ahli shalat, puasa, sedekah, haji dan segala macam ibadah dan semua mantan dari kebaikan dan kataatan apapun kepada Allah Ta’ala. (Silahkan studi kasus sendiri terutama pada diri sendiri!).
 
Dari Penyebab semuanya adalah KARENA TIDAK IKHLAS…
 
Wallahu ‘alam.
 

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 16 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

Tukang Pijat Luar Biasa... Tanpa Pijat, Tanpa Rasa Sakit...Sembuh!!!!

Pertanyaan:
 
Assalamu alaikum. Afwan Ustadz. Ana mau tanya. 
 
Tetangga ana saat ini ada yg terkena musibah kecelakaan motor, dan mengalami patah tulang. Pilihannya ada 2 : operasi & tukang pijat tulang. Utk operasi biayanya sangat mahal & dlm bbrp kasus di sini ternyata juga hasilnya kurang baik & ber-efek samping. 
 
 
Utk tukang pijat tulang di sini ada 2 macam. Pertama, benar2 dipijat. Dan mnrt org yg pernah dipijat di sana, rasanya benar2 sakit. Sedangkan yg kedua, dlm praktek nya sang pemijat hanya membaluri tempat yg sakit/patah tulang dng air atau minyak. Dan si pasien tdk merasakan kesakitan apapun (ada tetangga saya yg lain yg pernah dipijat dng metode ini & alhamdulillah sembuh, walaupun tdk sembuh total spt sblm kecelakaan). 
 
Dlm praktek yg terakhir ini tdk ada amalan apapun bagi si pasien. Nah, tetangga saya yg baru kecelakaan ini mau berobat dng metode terakhir ini. Dan saya ditanyakan ttg "kehalalannya", khususnya dari sisi aqidah. Mohon bantuan antum, Ustadz. Jazakumullah khairan.  
 
Jawaban:
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صبحه, أما بعد:
 
Jika dalam praktek yang terakhir terdapat; 
  1. Pembacaan mantra-mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas dibaca baik dari artinya ataupun ucapan yang dibaca atau bacaan tidak dari bacaan Al Quran As Sunnah, maka ini perbuatan bid’ah dan setiap perbuatan bidah sesat.
  2. Atau tidak mau menjelaskan apa yang dibaca karena takut ketahuan, maka hal ini ditakutkan ini termasuk perbuatan bid’ah. 
  3. Permintaan kepada jin-jin atau kadang disebut dengan khadam, maka ini termasuk perbuatan syirik karena meminta sesuatu yang tidak boleh diminta kecuali kepada Allah Ta’ala, yaitu berupa kesembuhan dari penyakit. 
Karena Allah-lah satu-satunya yang menyembuhkan penyakit, mari perhatikan firman Allah yang menceritakan perkataan Ibrahim ‘alaihissalam kepada kaumnya:

{قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (75) أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ (76) فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ (77) الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81) وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ (82) رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (83)} [الشعراء: 75-83]
 
Artinya: “Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah”. “Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?”. “Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam”. “(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku”. “Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku”. “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”. “Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)”. “Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat". ”(Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh”. QS. Asyu’ara: 75-83.
 
Karena definisi kesyirikan adalah menyamakan selain Allah dengan Allah Ta’ala di dalam perkara yang khusus milik Allah Ta’ala.
 
Allah Ta’ala berfirman menceritakan tentang orang-orang musyrik yang masuk ke dalam neraka:
 
{تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (97) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (98)} [الشعراء: 97 99]
 
Artinya: Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata”. “Karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam". “Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa”.
 
Dan perlu diingat…! 
 
Bahwa kesembuhan yang dirasakan bukan sebagai standar bahwa pengobatan tersebut dibolehkan atau tidak, tetapi dibolehkan sebuah pengobatan jika tidak bertentangan dengan aqidah atau sunnah.
 
Dan satu lagi, menurut akal yang sehat dan kebiasaan penelitian ilmiyyah atau medis yang teruji, bahwa hal tersebut adalah merupakan obat dari penyakitnya, karena tidak lah Allah Ta’ala menurunkan penyakit kecuali ada obatnya.
 
عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ »
 
Artinya: “Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya, maka jika obat kena pada penyakitnya, niscaya sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla”. HR. Muslim.
 
Setelah ini semua, saya menyarankan untuk melakukan pengobatan yang tidak bertentangan dengan syariat dan sudah terbukti secara medis. Wallahu a’lam.
 
Ditulis oleh; Ahmad Zainuddin
Ahad, 16 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung