Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Artikel DS

Orang Inilah Yang Istighfarnya Butuh Kepada Istighfar


وَقَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ تَقِيُّ الدِّينِ أَحْمَد ابْنُ تَيْمِيَّة - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى - :
فَالْعَبْدُ دَائِمًا بَيْنَ نِعْمَةٍ مِنْ اللَّهِ يَحْتَاجُ فِيهَا إلَى شُكْرٍ وَذَنْبٍ مِنْهُ يَحْتَاجُ فِيهِ إلَى الِاسْتِغْفَارِ وَكُلٌّ مِنْ هَذَيْنِ مِنْ الْأُمُورِ اللَّازِمَةِ لِلْعَبْدِ دَائِمًا فَإِنَّهُ لَا يَزَالُ يَتَقَلَّبُ فِي نِعَمِ اللَّهِ وَآلَائِهِ وَلَا يَزَالُ مُحْتَاجًا إلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ . وَلِهَذَا كَانَ سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَإِمَامُ الْمُتَّقِينَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَغْفِرُ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ
Artinya: "Syeikhul Islam Ahmad bin Taimiyyah rahimahullahberkata: "Seorang hamba selalu di antara sebuah nikmat dari Allah yang membutuhkan syukur di dalamnya, dan sebuah dosa yang membutuhkan istighfar di dalamnya, setiap dari dua perkara ini adalah termasuk perkara-perkara yang selalu menghampiri seorang hamba, dia masih bergumul di dalam nikmat dan anugerah Allah dan masih selalu membutuhkan kepada taubat dan Istighfar. Oleh karena inilah pemimpin keturunan Adam dan orang-orang bertakwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam beristighfar di setiap saat". (Majmu' fatawa, 10/88).
 
Kedua: Tapi jangan Istighfar yang butuh kepada Istighfar
 
قال القرطبي رحمه الله: قال علماؤنا: الاستغفار المطلوب هو الذي يحل عقد الإصرار ويثبت معناه في الجنان، لا التلفظ باللسان. فأما من قال بلسانه: أستغفر الله، وقلبه مصر على معصيته فاستغفاره ذلك يحتاج إلى استغفار، وصغيرته لاحقة بالكبائر. وروي عن الحسن البصري أنه قال: استغفارنا يحتاج إلى استغفار
 
Artinya: "Berkata Al Qurtuby rahimahullah: "Ulama kita berkata: "Istighfar yang semestinya adalah yang melepaskan ikatan-ikatan meneruskan (dosa), yang tetap maknanya di dalam hati bukan hanya ucapan lisan. Adapun yang mengatakan dengan lisan "astaghfirullah" sedangkan hatinya bertekad meneruskan maksiatnya, maka istighfarnya itu membutuhkan kepada sebuah istighfar (lain), dosa-dosa kecilnya (yang ia perbuat) akan menyusul kepada dosa besar. Diriwayatkan bahwa Al Hasan Al Bashry berkata: "Istighfar kita membutuhkan kepada Istighfar". Lihat Tafsir Al Qurthuby.
 
وقال النووي : وعن الفضيل بن عياض رضي الله تعالى عنه : استغفار بلا إقلاع توبة الكذابين
 
Artinya: "An Nawawi rahimahullah: Al Fudahil bin Iyadh radhiyallahu 'anhu berkata: "Istighfar dengan tidak melepaskan maksiat adalah taubatnya para tukang dusta". Lihat kitab Al Adzkar, Karya An Nawawi.
 
قال المناوي: تنبيه سئل أحدهم أيهما أفضل: التسبيح والتهليل والتكبير أو الاستغفار؟ فقال: يا هذا الثوب الوسخ أحوج إلى الصابون منه إلى البخور، ولا بد من قرن التوبة بالاستغفار لأنه إذا استغفر بلسانه وهو مصر عليه فاستغفاره ذنب يحتاج للاستغفار ويسمى توبة الكذابين . انتهى
 
Artinya: "Al Munawi rahimahullah berkata: "Perhatian, seorang ulama ditanya: "Manakah yang lebih utama: Bertasbih, bertahlil, bertakbir atau istighfar?", dia menjawab: "Wahai kamu, pakaian yang kotor lebih butuh kepada sabun daripada minyak wangi, dan taubat harus dibarengi dengan istighfar, karena jika dia beristighfar dengan lisannya padahal dia terus melakukan (dosa)nya, maka istighfarnya adalah dosa yang membutuhkan kepada istighfar dan dinamai dengan taubatnya para tukang dusta". Lihat Fath Al Qadir, karya Al Munawi. 
 
قال ابن رجب: فأفضل الاستغفار ما اقترن به تركُ الإصرار ، وهو حينئذ توبةٌ نصوح ، وإنْ قال بلسانه : أستغفر الله وهو غيرُ مقلع بقلبه ، فهو داعٍ لله بالمغفرة ، كما يقول : اللهمَّ اغفر لي ، وهو حسن وقد يُرجى له الإجابة ، وأما من قال : توبةُ الكذابين ، فمرادُه أنَّه ليس بتوبة ، كما يعتقده بعضُ الناس ، وهذا حقٌّ ، فإنَّ التَّوبةَ لا تكون مَعَ الإصرار 
 
Artinya: "Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "jadi, istighfar paling utama adalah yang dibarengi dengan meninggal sikap meneruskan (melakukan dosa), dan dialah yang disebut Taubat Nasuh, dan jika mengucapkan dengan lisannya: "Astaghfirullah, dan dai tidak melepaskan dengan hatinya, maka dia (seperti) orang yang berdoa kepada Allah meminta ampunan, sebagaimana dia mengucapkan: "Ya Allah ampunilah aku", ini baik dan diharapkan baginya pengabulan (atas doanya), adapun yang berkata: "Taubatnya para tukang dusta, maka maksudnya adalah bukan taubat sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang, dn ini adalah sebuha kebenaran, karena sesungguhnya taubat tidak akan terjadi dengan meneruskan (maksiat). Lihat Jami' Al Ulum wa Al Hikam, karya Ibnu Rajab.
 
 
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Jumat, 4 Jumadal Ula 1432H, Dammam KSA

 

Beberapa Fatwa Untuk Perempuan Muslimah

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله وسلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لُعِنَتِ الْوَاصِلَةُ وَالْمُسْتَوْصِلَةُ وَالنَّامِصَةُ وَالْمُتَنَمِّصَةُ وَالْوَاشِمَةُ وَالْمُسْتَوْشِمَةُ مِنْ غَيْرِ دَاءٍ. قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَتَفْسِيرُ الْوَاصِلَةِ الَّتِى تَصِلُ الشَّعْرَ بِشَعْرِ النِّسَاءِ وَالْمُسْتَوْصِلَةُ الْمَعْمُولُ بِهَا وَالنَّامِصَةُ الَّتِى تَنْقُشُ الْحَاجِبَ حَتَّى تَرِقَّهُ وَالْمُتَنَمِّصَةُ الْمَعْمُولُ بِهَا وَالْوَاشِمَةُ الَّتِى تَجْعَلُ الْخِيلاَنَ فِى وَجْهِهَا بِكُحْلٍ أَوْ مِدَادٍ وَالْمُسْتَوْشِمَةُ الْمَعْمُولُ بِهَا. رواه أبو داود و صححه الألباني.
 
Artinya: "Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: "Dilaknat al-washilah (wanita yang menyambung rambutnya), al-mustawshilah (wanita yang meminta disambungkan rambutnya),an-namishah (wanita yang mencukur alisnya), al-mutanammishah (wanita yang minta dicukur alisnya) dan al- wasyimah (wanita yang bertato) serta al-mustawsyimah (wanita yang minta ditato) tanpa ada penyakit." Abu Daud rahimahullah berkata: "Dan tafsir dari al-washialah adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut wanita, dan al-mustawshilahadalah yang meminta untuk diperbuat demikian dan an-namishah adalah wanita yang mencukur alis mata sehingga menjadi tipis dan al-mutanammishah adalah wanita meminta untuk diperbuat demikian dan al-wasyimahadalah wanita yang menjadikan gambar di wajahnya dengan pacar atau dengan tinta dan al-mustawsyimah adalah waita yang meminta untuk diperbuat demikian. Hadits riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani.
 
عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُتَوَشِّمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ. قَالَ: فَبَلَغَ امْرَأَةً فِى الْبَيْتِ يُقَالُ لَهَا أُمُّ يَعْقُوبَ فَجَاءَتْ إِلَيْهِ فَقَالَتْ: بَلَغَنِى أَنَّكَ قُلْتَ كَيْتَ وَكَيْتَ. فَقَالَ: مَا لِى لاَ أَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. فَقَالَتْ: إِنِّى لأَقْرَأُ مَا بَيْنَ لَوْحَيْهِ فَمَا وَجَدْتُهُ. فَقَالَ إِنْ كُنْتِ قَرَأْتِيهِ فَقَدْ وَجَدْتِيهِ أَمَا قَرَأْتِ ( مَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا) قَالَتْ بَلَى. قَالَ: فَإِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْهُ. قَالَتْ: إِنِّى لأَظُنُّ أَهْلَكَ يَفْعَلُونَ. قَالَ اذْهَبِى فَانْظُرِى. فَنَظَرَتْ فَلَمْ تَرَ مِنْ حَاجَتِهَا شَيْئاً فَجَاءَتْ فَقَالَتْ: مَا رَأَيْتُ شَيْئاً. قَالَ: لَوْ كَانَتْ كَذَلِكَ لَمْ تُجَامِعْنَا. مسند أحمد
Artinya: "Dari 'Alqamah rahimahullah: "Dari Abdullah (bin Mas'ud) radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:"Allah Ta’ala melaknat al-wasyimat, al-mustawsyimat, al-mutanammishat dan al-mutalafijat (wanita-wanita yang merenggangkan giginya untuk kecantikan) orang-orang yang mengganti ciptaan Allah."
 
Perawi berkata: "Lalu hal tersebut didengar oleh seorang wanita yang biasa dipanggil dengan Ummu Ya'qub, ia mendatangi Ibnu Mas’ud dan berkata: "Saya diberitahukan bahwa engkau telah berkata begini-begini”.
 
Beliau (Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu) menjawab: "Kenapa aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam kitab Allah Ta’ala (al-Quran)”.
 
"Si wanita berkata: "Sungguh saya telah periksa di dalam Mushhaf akan tetapi saya tidak dapatkan."
 
Ibnu Mas'ud  radhiyallahu ‘anhu berkata: "Jika anda membacanya maka anda akan dapatkan, bukankah  anda membaca:
 
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا [الحشر : 7]
 
Artinya: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah..." (QS. 59:7)
Wanita menjawab: "Iya",
 
Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata: "Kalau begitu, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang tentang hal demikian itu.
 
Si wanita berkata: "Sungguh aku mengira istri anda telah melakukannya."
 
Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu menjawab: "Masuklah dan silahkan lihat",
 
lalu wanita tadipun memeriksa dan tidak mendapatkan apa-apa, lalu ia kembali (Ibnu Mas'ud) dan berkata: "Saya tidak mendapatkan apa-apa".
 
Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata: "Kalau seandainya istri saya mengerjakan demikian maka dia tidak akan bersama kita". Hadits riwayat  Ahmad.
 
 
Fatwa tentang seorang wanita menghilangkan bulu kumis, kedua betis dan lengan dan yang semisalnya
 
Fatwa no.10896.
 
Pertanyaan:
 
"Apakah arti an namsh? Bolehkah seorang wanita untuk menghilangkan bulu janggut, bulu kumis, bulu kedua betis dan bulu kedua tangan jika bulu-bulu tersebut terlalu kelihatan pada diri wanita tersebut dan menyebabkan kebencian suami, apakah hukumnya?"
 
Jawaban:
 
"Segala puji bagi Allah dan semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan untuk Rasul-Nya dan para kerabat beliau serta para shahabat beliau, amma ba'du: "An namsh adalah: "Mengambil bulu alis, dan ia tidak diperbolehkan, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melaknat an-namishah dan al-mutanammishah, dan diperbolehkan bagi  wanita untuk menghilangkan bulu yang terkadang tumbuh di dalam dirinya seperti bulu janggut dan kumis dan bulu di kedua betisnya dan tangannya”.
 
Wa billahit taufiq, dan semoga Allah melimpah shalawat dan salamnya kepada Nabi kita Muhammad dan kepada para keliarga beliau serta para shahabat.
 
Komite Tetap Untuk Pembahasan Ilmiyyah Dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi
 
Ketua         : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil         : Abdurrazaq Afifi
Anggota     : Abdullah bin Ghudayyan 
 
 
 
Fatwa tentang menyamakan alis mata untuk berhias di hadapan suami.
 
Fatwa no. 16406.
 
Pertanyaan:
 
"Apa hukumnya menyamakan bulu alis, dan lebih lagi bagi wanita yang ingin berhias bagi suaminya atau bagi tunangannya, baik ada yang memintanya berbuat demikian atau tidak, cuma dia hanya ingin berhias dan lebih lagi jika alis tersebut sangat lebar dan warnanya hitam pekat dan bulu alisnya panjang lebat hampir menyambungkan dua alis tersebut sehingga menjadi rata?”
 
Jawaban:
 
"Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk mengambil dari rambut alis, baik itu dengan mengguntinggnya, atau mencabutnya atau mencukurnya, karena sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
 
لَعَنَ اللَّهُ  النامصات و الْمُتَنَمِّصَاتِ
 
"Allah melaknat an namishat dan al-mutanammishat." Lihat sunan An-Nasa-'I, juz 8/149, no: 5109. dan an-namishah adalah wanita yang mengambil bulu alisnya dan al-mutanammishah adalah wanita yang meminta kepada wanita lain untuk menghilangkan bulu alisnya dan an-namsh bukan termasuk berhias bahkan ia adalah pemburukan dan pengrobahan terhadap ciptaan Allah dan jika suaminya memerintahkan yang demikan, maka tidak diperbolehkan baginya untuk menta'atinya, karena hal tersebut adalah maksiat dan tidak boleh menta'ati seorang makhluq di dalam maksiat (kepada Allah Ta’ala)."
 
Komite tetap untuk pembahasan ilmiyyah dan fatwa Kerajaan Arab Saudi
 
Ketua         : Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil         : Syeikh Abdurrazaq Afifi
Anggota     : Syeikh Abdullah bin Ghudayyan 
                   : Syeikh Abdul Aziz Al Syeikh, Syeikh Shalih Al Fauzan, Syeikh Bakr Abu Zaid
 
 
 
Fatwa tentang bulu alis yang tersambung bagi wanita
 
Pertanyaan:
 
"Apakah boleh mengambil bulu alis jika bulu tersebut bersambung (dengan sebelahnya) diatas hidung dan memburukkan wajah apalagi jika panjang dan membahayakan, dan saya, demi Allah, tidak mengikuti orang-orang kafir dan orang-orang Yahudi dan model akan tetapi hal tersebut telah memprburuk wajah saya dan bukan seluruh bulu alis akan tetapi yang tersambung diatas hidung, ia mempuburk dan membahayakan saya, wassalam?"
 
Jawaban:
 
"Syeikh menjawab: "Sedangkan menghilangkan bulu seperti ini dengan mencabutnya maka ini adalah haram, tidak diperbolehkan karena hal itu adalah an-namsh dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat an-namishah dan al-mutanammishah, dan sedangkan menghilangkannya (bulu alis yang tersambung tadi) tanpa mencabutnya seperti mengguntingnya dan mencukurnya maka hal ini tidak mengapa, meskipun sebagian ulama berpendapat: bahwasanya yang demikian itu (menghilangkannya dengan menggunting/mencukurnya/mencabutnya) haram dan termasuk an-namsh dan semestinya bagi wanita ini  membiarkannya, maksudnya tidak merubahnya dengan sesuatu kecuali jika membahayakannya, yang mana sebagian bulu ini turun diatas kedua matanya sehingga menyakiti keduanya atau menghalangi antara dia dan penglihatannnya, maka tidak mengapa baginya untuk menggunting bulu yang menyakiti matanya." Fatwa dari syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dari acaraNurun 'Ala Ad Darb.
 
 
Fatwa tentang Operasi Kecantikan
 
Pertanyaan:
 
"Seorang pendengar juga bertanya: "Apa hukum melakukan operasi kecantikan?"
 
Jawaban:
 
"Syeikh menjawab: "Operasi kecantikan terbagi menjadi dua macam:
 
1. Operasi kecantikan dengan menghilangkan 'aib yang didapatkan oleh seorang manusia akibat kecelakaan atau yang lainnya, maka hal ini tidak mengapa dan tidak ada dosa di dalamnya, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan bagi seorang laki-laki yang terpotong hidungnya dalam perperangan untuk mengambil hidung dari emas agar menghilangkan keburuk rupaan yang disebabkan karena terpotong hidungnya dan karena laki-laki yang telah mengerjakan operasi kecantikan ini bukan maksudnya meningkatkan dirinya kepada kebaikan yang lebih sempurna dari apa yang telah diciptakan oleh Allah atasnya akan tetapi ia menginginkan untuk menghilangkan 'aib yang telah ia dapatkan,
 
2. Sedangkan macam kedua adalah operasi kecantikan tambahan yang bukan untuk menghilangkan 'aib maka hal ini adalah haram dan tidak diperbolehkan ole sebab itu Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam melaknat an-namishahal-mutanammishahal-wasyirahal-mustawsyirah dan al-wasyimah serta al-mustwasyimah karena di dalamnya terdapat perubahan kecantikan yang menyempurnakan yang bukan untuk menghilangkan 'aib, sedangkan tentang seorang dokter yang ditetapkan termasuk dari pelajarannya adalah materi ini maka tidak mengapa baginya untuk mempelajarinya akan tetapi dia tidak melakukannya langsung akan sesuatu yang di dalamnya ada keharaman akan tetapi orang yang minta hal tersebut darinya diberi nasehat bahwasanya ini adalah haram dan tidak diperbolehkan maka di dalmnya ada faedah, karena nasehat jika dari dokter itu sendiri karena kebanyakan orang sakit atau yang meminta operasi kecantikan ini akan merasa puas lebih dari puas apabila orang lain yang menasehatinya. Fatwa dari Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dari acara Nurun 'Ala Ad Darb.    
 
 
Fatwa tentang Mencabut Uban
 
Pertanyaan:
 
"Seorang wanita bertanya: "Apakah hukum mencabut uban?"
 
Jawaban:
 
"Iya, mencabut uban jika ubannya di wajah maka hal tersebut termasuk dosa besar, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat an-namishah dan al-mutanammishah, para ulama berpendapat an-namsh adalah mencabut bulu wajah, sedangkan dari selainnya maksudnya dari selain bulu wajah, seperti uban kepala maka para ulama memamkruhkannya, mereka mengatakan: "Dimakruhkan mencabut uban ini", dan saya tidak tahu apa yang akan dikerjakan oleh orang yang mempunyai uban ini jika setiap kali selembar dari rambutnya memutih lalu ia langsung mencabutya maka orang tersebut akan mencabuti seluruh rambut kepalanya karena uban itu seperti api menyala di atas kepala sebagaiman perkataan Nabi Zakariyya ‘alaihissalam:
 
وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا [مريم : 4]
 
Artinya: "Kepalaku telah bernyala (ditumbuhi) uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbku." (QS. 19:4). Fatwa dari Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dari acaraNurun 'Ala Ad Darb.
 
 
Ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad Zainuddin, ICC Dammam KSA

 

Musuh Yang Tidak Terlihat

Musuh Yang Melihat Kita Dan Kita Tidak Bisa Melihatnya, Tapi Tetap Harus Jadi Musuh
 
بسم الله الرحمن الرحيم
 
Sungguh berat menghadapi seorang musuh yang bisa melihat kita dan kita tidak bisa melihatnya, tapi harus dan tetap menjadi musuh, dialah setan/Iblis.
 
Allah Ta'ala  berfirman:
 
{ يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ } [الأعراف : 27]
 
"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya.  Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman". QS Al A'raf: 27
 
Allah Ta'ala berfirman:
 
{ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ } [فاطر : 6]
 
"Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala". QS Fathir: 6
 
{وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا } [الإسراء :53]
 
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: " Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia". QS Al Isra: 53
 
{وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ } [الأنعام : 112]
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan". QS Al An'am: 112
 
Tapi...ternyata ada yang bisa mengalahkan musuh tersebut, siapakah mereka:
 
1. Orang yang Ikhlash dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Allah Ta'ala berfirman:
 
{ قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (36) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (37) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (38) قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41)} [الحجر : 36 - 41]
 
"Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)". QS Al Hijr: 36-41
 
2. Hamba Allah yang beriman dan bertawakkal
 
{فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (98) إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (99)} [النحل : 98، 99]
 
"Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk". "Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya". QS An Nahl: 98-99
 
3. Hamba Allah yang menyandarkan dirinya kepada Allah
 
{إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا} [الإسراء : 65]
 
"Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, Kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga". QS Al Isra: 65
 
Ya Allah menangkanlah kami dari musuh-musuh kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
 
*) Ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad Zainuddin 
 

 

Ramalan Nanti Malam Gerhana Bulan Boleh Percanya Atau Tidak

Assalamu'alaikum,  
Ustadz, semoga Allah menjaga antum sekeluarga.

Kami dapat kabar dari sms ataupun dari internet bahwa dalam waktu dekat akan terjadi gerhana, bagaimana kita harus menyingkapi ramalan seperti ini. Bahkan sebagian mereka sudah ada yg ancang-ancang utk melakukan sholat gerhana. 
 
Mohon penjelasannya.
 
 
Jawaban:
 
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

 
Pengetahuan tentang prakiraan cuaca dan termasuk di dalamnya tentang prakiraan gerhana Matahari ataupun Bulan tidak termasuk ke dalam perkara meramal yang diharamkan dan tidak juga termasuk ke dalam pengakuan tentang ilmu gaib yang merupakan kesyirikan, karena prakiraan tersebut berdasarkan perkara-perkara yang bisa digunakan di dalamnya panca indra dan percobaan ilmiyyah serta melihat kepada kebiasaan yang terjadi terhadap ciptaan-ciptaan Allah Ta’ala.
 
Mungkin bagi sebagian orang, hal ini adalah gaib karena bukan ahlinya, tetapi bagi seorang yang menyibukkan dirinya dengan ilmu perhitungan jalannya planet-planet bukan suatu yang gaib.
 
Tetapi perlu diperhatikan bahwa, hal tersebut hanya sebatas prakiraan tidak pasti dan tidak boleh dipastikan tetapi dikatakan “Dengan kehendak Allah Ta’ala akan terjadi begini dan begini”.
 
Karena Allah Ta’ala lah yang satu-satu-Nya yang Maha Pengatur, Pencipta dan Berkuasa, tiada sekutu bagi-Nya.
 
Yang harus dilakukan jika ada gerhana Bulan atau Matahari adalah; 

1. Merasakan bahwa ini adalah tanda kekuasaan Allah Ta’ala yang dengannya Dia menakuti manusia.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
« إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ، وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ »
 
“Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah 2 tanda kekuasaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak trejadi gerhana karena kematian seseorang akan tetapi Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya”. HR. Bukhari. 

2. Merasa takut sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallambukan malah dijadikan rekreasi atau tontonan. 

3. Beribadah dengan berdoa, beristighfar, bertakbir dan bersedekah.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
«إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا»
 
 Artinya: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah 2 tanda kekuasaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian dan kehidupan seseorang, jika kalian melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedakahlah”.  HR. Bukhari.
 
«إِنَّ هَذِهِ الآيَاتِ الَّتِى يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ»
 
Artinya: “Tanda-tanda kekuasaan ini yang diutus oleh Allah terjadi tidak karena kematian seseorang atau karena kehidupannya, akan tetapi Allah menakut-nakuti dengannya hamba-hamba-Nya, maka jika kalian melihat sesuatu dari hal itu maka bersegrlah mengingat Allah, berdoa dan meminta ampun kepada-Nya”. HR. Bukhari dan Muslim.

4. Dan jika nantinya benar terjadi Gerhana Bulan maka jangan lupa untuk mengerjakan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu shalat gerhana dan diharapkan dengan sangat untuk mempelajari tata cara shalat gerhana yang sesuai dengan contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam.
 
Ditulis oleh: Ahmad Zainuddin
Jumat, 14 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

Jangan Takut Dituduh Ujub Atau Riya

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Di zaman sekarang sebagian orang dengan beraninya “menjual” pemikiran sesatnya di tengah orang banyak.
 
Bahkan pemikiran sesat yang dia ‘jual’ terkadang disepakati oleh seluruh kaum muslim, bahkan manusia seluruhya akan kesesatannya!!! Tetapi dia dengan beraninya ‘menjual’ pemikiran sesatnya di tengah orang banyak. Wallahu al musta’an. (hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan).
 
Berbicara tentang agama seenak perutnya, ayat dipelintir, hadits dihina dsb…
 
Berbicara tentang agama sekehendaknya tanpa ilmu dari Al Quran dan sunnah…
 
Menulis tentang perkara agama semaunya tanpa ada rasa takut sama sekali kepada Allah Al Jabbar…
 
Padahal Allah Ta’ala berfirman:
 
{وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ } [الأنعام: 93]
 
Artinya: “Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”.
 
 
{لَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (116) مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (117)} [النحل: 116 - 711]
 
Artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”. “(Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih”. QS. An Nahl: 116-117.
 
Lihat pedihnya siksa orang-orang yang berkata tentang Allah, agama-Nya, Rasul-Nya… tanpa dasar ilmu yang benar.!!!
 
Sebagian orang ada yang menghina Allah, menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, menghina Al Quran, menghina ajaran-ajaran Islam dengan mudah dan beraninya, dia sadari atau tidak.
 
Di zaman sekarang sebagian orang dengan lantangnya “menjajakan” pemikiran kafir dan syiriknya di tengah orang banyak.
 
Bahkan pemikiran kafir dan syirik yang dia ‘jajakan’ terkadang disepakati oleh seluruh kaum muslim bahkan Fir’aun atau Abu Jahal tidak menyebarkan kekafiran dan kesyirikan yang begitu nyata tersebut.
 
Sebagian orang dengan beraninya mengajak, menyeru jamaahnya untuk beribadah kepada selain Allah, berdoa kepada selain Allah Ta’ala, beristightsah kepada selain Allah Ta’ala.
Tentunya penyebaran-penyebaran kesesatan, kekafiran dan kemusyrikan ini tidak dilakukan secara personal, tetapi bahkan kadang sudah tingkat internasional dan bahkan dilakukan secara terorganisir dan rapi.
 
Melihat kejadian seperti ini, sudah seharusnya kaum muslim yang senantiasa berpegang teguh kepada Al Quran dan Sunnah Nabi yang shahih berdasarkan pemahaman para shahabatnya radhiyallahu ‘anhumbersinergi, saling merangkul, jalan bersama, yang kurang dilengkapi, yang sudah merasa lengkap semoga selalu bisa istiqamah dan tetap menerima masukan kawan-kawannya dari kaum muslim yang satu metode beragama dengannya.
 
Sebagaimana mereka dengan semangatnya, membuat berbagai planning untuk penyebaran kesesatan yang mereka pelopori.
 
Sebagaimana mereka dengan semangatnya, mengeluarkan sumber daya yang mereka miliki untuk penyebaran kekafiran dan kesyirikan yang mereka anut.
 
Sebagaimana mereka dengan keteguhannya mengerahkan semua kekuatan dan potensi untuk penyebaran kemusyrikan yang mereka anggap itu bukan sebagai kesyirikan.
Maka, kita juga harus berani tampil tangguh untuk menjual ‘Barang dagangan Allah Ta’ala’ yang sangat mahal ini.
 
عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ خَافَ أَدْلَجَ وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ »
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Barangsiapa yang takut, maka hendaknya dia berjalan di awal malam, dan barangsiapa yang berjalan di awal malam maka dia akan sampai kepada yang diinginkan, ingatlah sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal dan ketauhilah bahwa sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no 954.
 
Makna Hadits dari penjelasan Ath Thiby rahimahullah 
 
Ini adalah perumpamaan yang dibuat oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk seseorang yang berjalan menuju kehidupan akhirat (akhirat oriented), maka sesungguhnya syetan ada yang menghadang di jalannya dan hawa nafsu serta angan-angan dusta adalah pembantu-pembantunya (syetan).
 
Jika dia hati-hati di jalannya dan dan mengikhlaskan niat di dalam amalannya maka dia akan aman dari syetan dan gangguannya dan siapa saja yang memotong jalan dengan sekutu-sekutunya.
 
Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa menjalani jalan menuju akhirat sulit dan mendapatkannya tidak mudah, tidak di dapat dengan usaha yang ringan (sekedarnya), makanya beliau bersabda: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya barang dagangan Allah”, maksudnya adalah barang-barangnya dari nikmat yang ada di surga”, “mahal”, maksudnya adalah tinggi derajatnya, “Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga”, maksudnya harganya adalah amalan yang tetap, yang ditujukkan oleh Firman Allah Ta’ala:
 
 {وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا} [الكهف: 46]
 
Artinya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. QS. AL Kahfi: 46.
 
Dan juga dengan Firman-Nya:
 
{إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ } [التوبة: 111]
 
Artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. QS. At Taubah: 111. Lihat kitab Tufat Al Ahwadzi.
 
Kita harus berani menghilangkan segala rasa tawadhu’ semu yang menjadikan seseorang melempemtidak mau mendakwahkan agama Allah yang sempurna ini.
 
Sebagian orang mengatakan:
 
“Masih banyak orang-orang yang lebih pinter dari saya, siapa saya?!”.
 
“Siapa yang mengetahui kemampuan dirinya maka Allah akan merahmati dirinya”.
 
“Masih banyak yang lebih berkompeten daripada saya”.
 
Dan lainnya dari pernyataan-pernyataan yang sepertinya indah tetapi karena tidak digunakan tidak pada tempatnya menjadi tawadhu’ semu yang menjadikan seseorang melempem tidak mau, tidak semangat berdakwah.
 
Jika kita yakin berada di jalan Al Quran dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamberdasarkan pemahaman para shahabat radhiyallahu ‘ahum, maka kita harus berani dalam menjajakan syariat Allah, menyebarkannya ditengah kerusakan yang kian meningkat, seberani mereka yang menyebarkan kesesatan, kekafiran dan kemusyrikan tadi, bahkan harus lebih berani daripada mereka karena Allah hanya akan menolong para rasul-Nya dan orang-orang beriman.
 
{ إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ} [غافر: 51]
 
Artinya: Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”. QS. Ghafir: 51.
 
Ayo para Ustadz Ahlus Sunnah… sekarang saatnya menyampaikan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat cocok di semua tempat, waktu dan keadaan, jangan takut Anda dikatakan riya’, ketika Anda sendiri yang ternyata harus mengumumkan kajian Anda, dikarenakan tidak ada yang menolong Anda.
 
Ayo para Ahli Dakwah Ahlus Sunnah…sekarang saatnya menyampaikan agama Allah yang sempurna ini dengan dalil-dalinya, jangan takut dikatakan ‘ujub jika Anda sendiri yang tenyata harus mengumumkan kajian Anda jika tidak ada yang menolong Anda.
Ayo Kaum muslim, bergembira dan bersyukurlah ketika Anda ditakdirkan oleh Allah Ta’ala untuk berperan dengan semampunya, sebisanya dalam menyampaikan agama Allah Ta’ala beserta dalil-dalilnya, sungguh Anda adalah orang yang dipilih Allah ta’ala, karena tidak semua mempunyai kesempatan dan berkesempatan.
 
Tentunya…!!! 
 
Tetap dengan menjaga hati dan niat atas amalan yang diperbuat, yaitu hanya berharap wajah dan pahala Allah semata, karena inilah yang merupakan syarat utama diterima amal dan dakwah kita oleh Allah Ta’ala.
 
Jangan ingin dilihat kecuali oleh Allah dan jangan ingin diberikan sanjungan dan pujian apapun kecuali dari Allah Ta’ala.
 
Allah Ta’ala menceritakan tentang orang yang bersedekah:
 
{إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا} [الإنسان: 9]
 
Artinya: “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. QS. Al Insan: 9.
 
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Kamis 13 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

 

Jangan Remehkan Dosa (Meskipun) Kecil

Tulisan ini adalah nasehat bagi penulis dan pembaca untuk tidak meremehkan dosa, apakah itu dosa kecil atau besar.
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

 1. Memang sebagian besar ulama Islam membagi dosa itu ada yang besar dan kecil, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam Al Quran dan Sunnah:
 
 
{إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا} [النساء: 31]
 
Artinya: "Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)". QS. An Nisa: 31.
 
Ath Thufi berkata: "Di dalam ayat ini terdapat pembagian dosa-dosa kepada besar dan kecil, dan sesungguhnya menjauhi seluruh dosa besar merupakan penghapus لاشله dosa kecil". Lihat Al Isyarat Al Ilahiyyah, 2/23-24.
 
{الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ} [النجم: 32]
 
Artinya: "(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari Al lamam (dosa-dosa kecil). Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya". QS. An Najm: 32.
 
Kebanyakan para ulama tafsir dari genereasi terdahulu dan belakangan berpendapat bahwa Al Lammamadalah: dosa-dosa kecil. 
 
Lihat kitab Al Kabair, karya Adz Dzahaby dan ditahqiq oleh Syeikh Masyhur Hasan Salman.
 
Dan Hadits yang menunjukkan bahwa dosa itu terbagi menjadi besar dan kecil:
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه -  قَالَ قَالَ رسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ»
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Shalat lima waktu, mengerjakan shalat jumat kepada shalat jumat (setelahnya) dan puasa di bulan Ramadhan kepada bulan Ramadhan (setelahnya) merupakan penebus dosa diantaranya selama menjauhi dosa-dosa besar". HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 3322.
 
عَنْ أَنَسٍ - رضى الله عنه - قَالَ سُئِلَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - عَنِ الْكَبَائِرِ قَالَ «الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ» 
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallampernah ditanya tentang dosa-dosa besar?", beliau menjawab: "Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua, membunuh seseorang, bersaksi palsu". HR. Bukhari dan Muslim.
 
Oleh sebab inilah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
 
 
وقد دل القرآن والسنة وإجماع الصحابة والتابعين بعدهم والأئمة على أن من الذنوب كبائر وصغائر...
 
Artinya: "Dan sungguh telah ditunjukkan oleh Al Quran, Sunnah dan Ijma' para shahabat, tabi'ien setelah mereka serta para imam, bahwa dosa itu ada yang besar dan kecil…". Lihat Ad Da'u wa ad Dawa'.
 
Dan definisi dosa besar menurut Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma dan Al Hasan Al Bashrirahimahullah adalah:
 
الكبائر كل ذنب ختمه الله تعالى بنار أو غضب أو لعنة أو عذاب 
 
Artinya: "Dosa besar adalah setiap dosa yang ditutup Allah dengan (ancaman masuk) neraka, (mendapatkan) kemurkaan, (mendapatkan) laknat atau (mendapatkan) siksa". Lihat Syarah Shahih Muslim, karya An Nawawi.
 
2. Tetapi, meskipun ada pembagian dosa, jangan sekali-kali meremehkan sebuah dosa, baik kecil apalagi dosa besar.
 
Allah Ta'ala berfirman tentang orang-orang munafik yang menyebarkan berita dusta tentang istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Aisyah radhiyallahu 'anha dan mereka mengira bahwa perbuatan tersebut ringan dan remeh padahal:
 
{...وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ}
 
 
Artinya"…dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.  Padahal dia pada sisi Allah adalah besar". QS. An Nur: 15. Lihat Tafsir Ibnu Katsir.
 
Dan terkadang amalan tersebut remeh, rendah menurut kita, ternyata di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, menurut para shahabat radhiyallahu 'anhum tergolong dosa yeng membinasakan dan akhirnya menyeburkannya ke dalam neraka.
 
عَنْ أَنَسٍ - رضى الله عنه - قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - الْمُوبِقَاتِ 
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan perbuatan-perbuatan yang di mata kalian lebih tipis daripada rambut, tetapi kami di zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menganggapnya sebagai dosa-dosa yang membinasakan".HR. Bukhari.
 
Seorang yang beriman sangat takut akan sebuah dosa yang dia lakukan, adapun seorang yang sering melakukan dosa sangat meremehkan dosa yang dia lakukan.
 
عَنِ الْحَارِثِ بْنِ سُوَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدِيثَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - وَالآخَرُ عَنْ نَفْسِهِ قَالَ «إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ» 
 
Artinya: "Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir (yang selalu berbuat dosa) memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu ia berkata demikian (mengipaskan tangannya di atas hidungnya) untuk mengusir lalat tersebut". HR. Bukhari.
 
Dan… Perhatikan! Perhatikan! Perhatikan!
 
Perkataan penuh makna dan pelajaran di bawah ini, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
 
وههنا أمر ينبغي التفطن له وهو أن الكبيرة قد يقترن بها من الحياء والخوف والاستعظام لها ما يلحقها بالصغائر وقد يقترن بالصغيرة من قلة الحياء وعدم المبالاة وترك الخوف والاستهانة بها ما يلحقها بالكبائر بل يجعلها في أعلى رتبها وهذا أمر مرجعه إلى ما يقوم بالقلب. 
 
Artinya: "Dan disini ada sebuah perkara yang harus dicermati, yaitu bahwa sebuah dosa besar terkadang dibarengi dengan sifat malu, rasa takut dan pengagungan akan beratnya dosa tersebut yang menjadikannya dikategorikan dengan dosa-dosa kecil, dan (sebaliknya) terkadang sebuah dosa kecil dibarengi dengan sedikit rasa malu, tidak mengacuhkan, tidak takut dan sikap meremehkan dengan dosa tersebut yang menjadikannya dikategorikan dengan dosa-dosa besar, bahkan menjadikannya di tingkatan yang paling tinggi (dari dosa-dosa besar itu). Dan perkara ini kembalinya kepada apa yang terbetik di dalam hati". Lihat kitab Madarij As Salikin, karya Ibnul Qayyim.
 
Sebagian orang terlalu PEDE dengan banyaknya amalan dan terlalu merasa aman dari ancaman siksa atas dosa-dosanya.
 
Yang benar adalah tetaplah beramal dan berharap amalannya diterima dan takutlah sebuah dosa dan berharap Allah Ta'ala mengampuninya.
 
قَالَ ابْنُ عَوْنٍ رحمه الله: " لَا تَثِقْ بِكَثْرَةِ الْعَمَلِ، فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي تُقْبَلُ مِنْكَ أَمْ لَا، وَلَا تَأْمَنْ ذُنُوبَكَ، فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي هَلْ كُفِّرَتْ عَنْكَ أَمْ لَا، إِنَّ عَمَلَكَ عَنْكَ مُغَيَّبٌ مَا تَدْرِي مَا اللهُ صَانِعٌ فِيهِ، أَيَجْعَلُهُ فِي سِجِّينَ ، أَمْ يَجْعَلُهُ فِي عِلِّيِّينَ "
 
Artinya: "Ibnu 'Aun rahimahullah berkata: "Jangan terlalu yakin dengan banyaknya amal, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui, apakah amalan Anda diterima atau tidak?, dan jangan pula terlalu merasa aman dengan dosa-dosa Anda, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui, apakah diampuni dosa Anda atau tidak?, sesungguhnya amalan Anda gaib dari Anda, Anda tidak mengetahui apa yang Allah perbuat terhadap amalan Anda, apakah Allah jadikannya di dalam Sijjin (buku catatan dosa)? Ataukah dijadikan-Nya di dalam 'Illyyin (buku catatan amal shalih)?".Lihat Kitab Syu'ab Al Iman, karya Al Baihaqi.
 
Pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan in adalah:
 
1. Jangan sekali-kali meremehkan sebuah dosa
2. dosa kecil ditambah dosa kecil ditambah dosa kecil lainnya dan seterusnya akan menjadi segunung dosa, bahkan bisa menjadi dosa besar.
 
Ath Tahbarani rahimahullah berkata: 
 
أن الإصرار على الصغائر حكمه حكم مرتكب الكبيرة الواحدة على المشهور.
 
Artinya: "Sesungguhnya selalu melakukan dosa-dosa kecil maka hukumnya adalah hukum pelaku sebuah dosa besar, menurut pendapat yang terkenal (diantara para ulama)". Lihat Kitab Al Mu'jam Al Awsath, karya Ath Thabrani, no. 3759.
 
Bilal bin Sa'ad seorang tabi'ie rahimahullah berkata:
 
 
لا تنظر إلى صغر المعصية وانظر إلى عظمة من عصيت
 
Artinya: "Janganlah kamu lihat kepada kecilnya sebuah maksiat akan tetapi lihatlah agungnya Yang kamu maksiati".
 
خلِّ الذنوب صغيرها * وكبيرها ذاك التقى
Tinggalkanlah semua dosa kecilnya # Dan besarnya, yang demikian itulah ketakwaan
 
واصنع كماشٍ فوق * أرض الشوك يحذرُ ما يرى
Berbuatlah seperti seorang yang berjalan di atas # Tanah yang penuh denga duri dan berhati-hati atas apa yang dia lihat.
 
لا تحقرن صغيرةً * إن الجبال من الحصى
Janganlah sekali-kali kamu menghina sebuah dosa kecil # Sesungguhnya gunung-gunung berasal dari bebatuan kecil. Wallahu a'lam
 
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Ahad, 6 Jumadal Ula 1423H, Dammam KSA.

 

Biar Yang 'Alim Menjawab

Caranya orang bodoh yang bertanya dan orang alim yang menjawab, jangan dibalik!
 
Seiring terbukanya sarana informasi dan komunikasi yang sangat mudah dan cepat, bermunculan pula tulisan-tulisan yang berkaitan dengan agama, jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan agama, artikel-artikel yang berkaitan tentang agama, buku bermacam-macam membicarakan permasalahan-permasalahan agama yang bermacam-macam.
 
Bahkan, kadang ada pertanyaan yang tidak pantas menjawabnya kecuali seorang alim dengan Al Quran beserta tafsirnya, hadits beserta kaidah dan penjelasannya, fikih beserta kaidah dan ushulnya dan bahasa Arab beserta kaidah-kaidahnya, e…ternyata dijawab oleh orang bodoh dengan semuanya yang disebutkan tadi.
 
Tidak sedikit, ada yang mengatakan, "Ini halal, itu haram, ini mubah, itu dianjurkan, ini makruh, ini wajib, itu sunnah, ini syirik, itu bid'ah, tanpa ada dalil satupun dari Al Quran atau As Sunnah berdasarkan pemahaman para shahabat radhiyallahu 'anhum
 
Semuanya memberi fatwa, semuanya berbicara tentang sebuah permasalahan agama, yang kalau seandainya Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma disodorkan dengan permasalahan agama yang sama, niscaya akan mengumpulkan seluruh kaum Anshar dan kaum Muhajirin radhiyallahu 'anhum, meminta pendapat mereka dalam menjawab permasalahan tersebut. 
 
Kadang ironis, akibat canggihnya teknologi, yang sebenarnya idealnya menjadi sarana agar lebih beriman dan bertakwa kepada Allah Ta'ala,  e…malah dijadikan ajang untuk bertanya kepada siapa saja tanpa melihat siapa yang ditanya atau untuk tampil berharap dijadikan Ahli Fatwa seluruh dunia.Wallahul musta'an. 
 
Tulisan di bawah ini hanya untuk mengingatkan diri pribadi dan kaum muslim sekalian. Semoga bermanfaat:

 
1. Tugasnya orang bodoh tentang agama bertanya dan tugasnya orang alim tentang agama menjawab. Allah Ta'ala befirman:
 

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النحل: 43]
 
Artinya: "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui". QS. An Nahl: 43.


Berkata Syeikh Al 'Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa'di  rahimahullah (w: 1376H): "Keumuman ayat ini di dalamnya terdapat sanjungan terhadap ulama dan sesungguhnya tingkatan ilmu yang tertinggi adalah pengetahuan akan Kitabullah (Al Quran) yang diturunkan oleh-Nya. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan siapa yang tidak mengetahui, untuk kembali kepada mereka (ulama) di seluruh perkara. Di dalam ayat ini, mencakup penetapan dan rekomendasi bagi ulama, karena diperintahkan untuk bertanya kepada mereka, dan hal tersebut mengeluarkan orang bodoh untuk diikuti, maka ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah mengamanati mereka atas wahyu dan Kitab-Nya, dan mereka (ulama) diperintahkan untuk mensucikan diri mereka dan bersifat dengan sifat sempurna". Lihat Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan, karya Syeikh Al Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa'di. (1/572).
 
Jalaluddin As Suyuthi rahimahullah (w: 911) menyebutkan sebuah riwayat:
 

لا ينبغى للعالم أن يسكت عن علمه ولا ينبغى للجاهل أن يسكت عن جهله قال الله {فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون } [النحل : 43]
 

Artinya: "Tidak pantas bagi seorang alim untuk diam atas ilmunya dan tidak pantas untuk orang bodoh untuk diam atas kebodohannya, Allah Ta'ala berfirman:
 

{ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النحل: 43]
 

Artinya: "… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui". QS. An Nahl: 43.
 
Diriwayatkan oleh Ath Thabrani rahimahullah (w: 360H) di dalam Al Mu'jam Al Awsath (no. 5365) dari Jabir radhiyallahu 'anhu. Berkata Al Haitsami rahimahullah (w: 807): "Di dalam (sanad) hadits ini terdapat perawi Muhammad bin Ahmad, dan ulama telah bersepakat akan kelemahannya". Diriwayatkan juga oleh Ad Dailami (no. 7784). Lihat Jami' Al Ahadits, karya Jalaluddin As Suyuthi.
 
2. Jangan sok tahu tentang Agama, sangat berbahaya!

Saya mengajak diri saya dan kaum muslim untuk memperhatikan ancaman yang begitu keras, bagi orang yang membuat kedustaan terhadap Allah Ta'ala, yaitu dengan berbicara tentang tentang Allah atau agama-Nya tanpa ilmu atau dasar pengetahuan.
 

{وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ} [الأنعام: 93]
 

Artinya: "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". QS. Al An'am: 93.
           
Imam Al Qurthubi rahimahullah (w: 671H) berkata –ketika mengomentari ayat di atas-: "Dan termasuk contoh ini adalah orang yang menolak fikih dan sunnah-sunnah serta apa-apa yang dijalani oleh para salaf (orang terdahulu) berupa sunnah-sunnah, lantas ia berkata: "Terbesit di dalam benak saya hal ini", atau dengan mengatakan: "Perasaan saya berbicara seperti ini", lalu mereka menghukumi dengan apa yang terbesit di dalam hati mereka atau apa yang mereka rasakan dari perasaan mereka.  Mereka mengaku bahwa hal tersebut dikarenakan kebersihannya (hati mereka) dari kotoran dan terlepasnya dari perubahan-perubahan, lalu nampaklah bagi mereka ilmu (Al 'Ulum Al Ilahiyyah) dan hakikat ketuhanan (Al Haqaiq Ar Rabbaniyyah), akhirnya mereka mengetahui rahasia-rahasia yang menyeluruh dan mengetahui hukum-hukum cabang, kemudian meninggalkan hukum-hukum syariat yang menyeluruh, seraya mengatakan: "Ini adalah hukum-hukum syariatnya orang awam dan dikhususkan hanya untuk orang bodoh dan awam saja, sedangkan para wali dan orang khusus, mereka tidak memerlukan dalil-dalil itu". Lihat Al Jami' Li Ahkam Al Quran, karya Al Quthubi (7/41).   
 
Syeikh Al Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa'di (w: 1376H) rahimahullah berkata tentang Firman Allah Ta'ala di atas: "Tidak ada seorangpun yang lebih besar kezahlimannya dan lebih besar kesalahannya, daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah, yaitu dengan menyandarkan kepada Allah sebuah perkataan atau ucapan yang mana Allah Ta'ala berlepas darinya. Dan orang ini adalah makhluk yang paling zhalim karena di dalamnya terdapat kedustaan, yaitu merubah ajaran agama dari dasar dan cabangnya, serta menisbatkan hal tersebut kepada Allah termasuk kerusakan yang sangat besar". Lihat Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan, karya Syeikh Al 'Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa'di. (1/264).
 
Mari perhatikan juga, firman Allah Ta'ala:
 

{وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (116) مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (117)} [النحل: 116، 117].
 

Artinya: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung". "(Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih". QS. An Nahl: 116-117.
 
Ibnu Katsir rahimahullah (w: 774H) berkata: "Allah Ta'ala telah melarang untuk mengikuti jalannya kaum musyrik, yang telah menghalalkan dan mengharamkan hanya dengan sesuatu yang telah mereka sifati dan terbiasa dengannya tentang nama-nama berdasarkan pendapat-pendapat mereka. Dan termasuk dalam hal ini, seluruh orang yang membuat sesuatu yang baru yang tidak mempunyai dasar syariat atau yang telah menghalalkan sesuatu dari apa yang telah diharamkan oleh Allah atau mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah, hanya berdasarkan pendapat dan hawa nafsunya. Kemudian Allah mengancam akan hal tersebut, Allah berfirman:
 

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
 

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung".  
 
Maksudnya; (tidak beruntung) di dunia dan di akhirat, adapun dunia ancamannya adalah kesenangan yang sedikit, sedangkan di akhirat siksa yang pedih". Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir (2/590).
 
Malaikat Jibril 'alaihissalam dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja mengatakan: "Aku tidak tahu".
 
Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Jubair bin Muth'imradhiyallahu 'anhu, beliau bercerita:
 
 

َأنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ قَالَ فَقَالَ « لاَ أَدْرِى ». فَلَمَّا أَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ « يَا جِبْرِيلُ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ ». قَالَ لاَ أَدْرِى حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ. فَانْطَلَقَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ سَأَلْتَنِى أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ فَقُلْتُ لاَ أَدْرِى وَإِنِّى سَأَلْتُ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ فَقَالَ أَسْوَاقُهَا.
 

"Seseorang mendatangi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: "Wahai Rasulullah, daerah manakah yang paing buruk?", beliau menjawab: "Aku tidak tahu", ketika Jibril 'alaihissalammendatangi beliau, beliau bertanya: "Wahai Jibril, daerah manakah yng paling buruk?", Jibril menjawab: "Aku tidak tahu, tunggu sampai aku bertanya kepada Rabbku Azza wa Jalla",  lalu Jibril'alahissalam pun pergi, kemudian berdiam sesuai kehendak Allah Ta'ala, kemudian Jibril 'alahissalamdatang dan berkata: "Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau bertanya kepadaku tentang daerah manakah yang paling buruk? dan aku jawab; aku tidak tahu, dan sungguh aku telah bertanya kepada Rabbku Azza wa Jalla tentang daerah mana yang paling buruk?", Dia (Allah Azza wa Jalla) menjawab: "Pasar-pasarnya". HR. Ahmad dan Al Albani berkata di dalam kitab Sifat Al Fatwa wa Al Mufti wa Al Mustafti (hal. 9): "Dan Hadits ini telah diriwayatkan oleh Al Hakim dengan sanad yang baik". Lihat kitab Afat Al 'Ilm, hal. 142, karya Syeikh Muhammad bin Sa'id bin Rislan hafizhahullah.
 
2. Jangan jadi pencetus, pelopor, penyebar kesesatan khususya di dalam perkara agama, sangat sangat berbahaya!
 
Perhatian! untuk diri saya pribadi dan kaum muslim,
Umur kita terbatas…,
Hidup cuma sekali…,
Setelah mati yang ada hanya pertanggung jawaban di hadapan Allah Ta'ala..,
maka wahai kawan…jangan jadi pelopor, pencetus, penyebar kesesatan, khususnya di dalam perkara agama…,
 
inilah ancaman dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
 

« مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا »
 

Artinya: "Barangsiapa yang mengajak kepada sebuah petunjuk maka baginya pahala seperti pahalanya orang-orang yang mengikutinya, tidak mengurangi pahala tersebut (yang diberikan kepada pengajak sebuah petunjuk) dari pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang mengajak kepada sebuah kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosanya orang-orang yang mengikutinya, tidak mengurangi dosa tersebut (yang dikenakan kepada pengajak sebuah kesesatan) dari dosa-dosa mereka sedikitpun". HR. Bukhari dan Muslim. Wallahu a'lam.
 

*) Selesai ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Selasa, 7 Shafar 1432H

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung