Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Artikel DS

Aqiqoh Hanya Satu Kambing

Pertanyaan:
 
Hukum aqiqah, apabila kita punya anak laki-laki namun kita hanya mampu menyembelih satu kambing saja apa itu dibolehkan?
 

 
Jawaban:

 
Di dalam permasalahan ini terjadi perbedaan pendapat:

Pertama, Dua kambing untuk anak lelaki dan satu kambing untuk anak perempuan. Ini pendapatnya Madzhab Syafi’iyyah, Hanabilah, Zhahiriyyah dan ini adalah pendapatnya Ibnu Abbas, ‘Aisyah, Abu Tsaur dan Ishaq dan lainnya. Kedua, kambing untuk anak lelaki dan anak perempuan. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Al Hadawiyyah dan ini adalah pendapatnya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Urwah bin Zubairrahimahullah dan Asma’ binti Abu Bakar. Ketiga, Aqiqah untuk anak lelaki saja dan tidak ada aqiqah untuk anak perempuan. Dan ini pendapat dinukilkan dari Al Hasan Al Bashry, Muhammad biin Sirin dan Qatadah dan lainnya. (Lihat kitab Al Majmu’ karya An Nawawi, 8/447-448).

 
Jumhur Ulama mempunyai dalil yang sangat kuat:

 

عَنْ أُمِّ كُرْزٍ الْكَعْبِيَّةِ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ ».

 

Artinya: “Ummu Kurz Al Ka’biyyah radhiyallahu ‘anha, berkata: “Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Untuk seorang anak lelaki dua kambing yang sama dan ana perempuan 1 kambing”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah,no. 1655.
 

Hadits seperti ini juga terdapat dari riwayat: Aisyah, Asma’ binti Yazid dan yag lainnya.

Adapun sebagian ulama yang membolehkan untuk anak lelaki hanya disembelih satu kambing saja, terutama jika tidak mempunyai biaya kecuali hanya untuk menyembelih satu kambing, berdalilkan dengan beberapa dalil berikut:

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشً

 

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Al Hasan dan Al Husain satu domba satu domba”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Irwa Al Ghalil, no. 1167.
 

 عن عَبْدُ اللَّهِ بْن بُرَيْدَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِى بُرَيْدَةَ يَقُولُ كُنَّا فِى الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لأَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالإِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَنَحْلِقُ رَأْسَهُ وَنَلْطَخُهُ بِزَعْفَرَانٍ.
 

Artinya: “Abdullah bin Buraidah berkata: “Aku telah mendengar Bapakku Buraidah radhiyallahu ‘anhuberkata: “Kami dahulu di masa jahiliyyah, jika salah seorang dari kami kelahiran seorang anak lelaki, ia menyembelih satu kambing dan mengucurkan darahnya di kepala anak tersebut, ketika Allah mendatangkan Islam, kamipun menyembelih satu kambing dan menggundul rambut dan mengucurkan di kepalanya dengan Za’faran”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Abu Daud, no. 2843. 
 

Dan ini juga yang dikerjakan sebagian para shahabat radhiyallahu ‘anhum.
 

عن ابن عمر أنه كان يعق عن ولده بشاة شاة للذكور والإناث .
 

Artinya: “Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma senantiasa mengaqiqahi anak lelaki dan perempuannya dengan 1 kambing 1 kambing”. Atsar riwayat Malik di dalam kitab Al Muwaththa’ dan dishahihkan oleh Syeikh Syu’aib Al Arnauth.
 
 

عن عروة بن الزبير أنه كان يعق عن بنيه الذكور والإناث بشاة شاة
 

Artinya: “Diriwayatkan bahwa Urwah bin Zubair, beliau mengaqiqahi anak lelaki dan perempuannya dengan 1 kambing dan 1 kambing”. Atsar riwayat Malik di dalam kitab Al Muwaththa’ dan dishahihkan oleh Syu’aib Al Arnauth.

 

عن أسماء بنت أبي بكر :( أنها كانت تعق عن بنيها وبني بنيها شاة شاة الذكر والأنثى )
 

Artinya: “Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, beliau mengaqiqahi anak dan cucunya yang lelaki dan perempuan 1 kambing 1 kambing”.  Lihat Kitab Syarh As Sunnah, karya Al Baghawirahimahullah.
 

Berdasarkan ini maka, semestinya anak lelaki di aqiqahi dengan 2 kambing dan anak perempuan dengan 1 kambing, hal ini disebabkan beberapa sebab;
 

1.    Hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menceritakan bahwa Al Hasan dan Al Husain diaqiqahi dengan 1 kambing 1 kambing, juga ternyata terdapat riwayat dengan 2 kambing 2 kambing.

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رضى الله عنهما بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ.
 

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain radhiyallahu ‘anhuma dengan 2 kambing 2 kambing”. HR. An Nasai, Al Albani berkata tentang riwayat 1 kambing 1 kambing: “Shahih akan tetapi riwayat 2 kambing 2 kambing lebih shahih”. Lihat kitab Shahih Abu Daud, 2/547.
 

2.    Riwayat yang menyebutkan untuk aqiqah anak lelaki 2 kambing terdapat tambahan riwayat dari riwayat yang shahih dan tambahan ini adalah tambahan yang diterima.
 

3.    Riwayat yang menyebutkan 2 kambing untuk anak lelaki merupakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan riwayat yang 1 kambing untuk anak lelaki merupakan perbuatan beliau, maka sabda didahulukan dari perbuatan beliau karena kemungkinan ada kekhususan di dalam masalah tersebut.

 
Tetapi…

 
Jika kita ingin mengumpulkan pendapat yang mengatakan untuk aqiqah anak lelaki 2 kambing dengan pendapat yang mengatakan untuk aqiqah anak lelaki 1 kambing adalah dengan cara bahwa yang paling sempurna dan sesuai dengan sunnah adalah menyembelih 2 kambing untuk aqiqah anak lelaki, dan jika tidak mampun dan hanya menyembelih 1 kambing maka sudah mencukupi dan terkena asal sunnah, yaitu menyembelih kambing untuk anak yang dilahirkan sebagai aqiqah.

Imam Nawawi rahimahullah berkata:
 
 

السنة أن يعق عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة فإن عق عن الغلام شاة حصل أصل السنة
 

Artinya: “Sunnahnya adalah seorng anak lelaki di aqiqahi dengan 2 kambing dan untuk anak perempuan diaqiqahi dengan 1 kambing, jika diaqiqahi anak lelaki dengan 1 kambing saja maka sudah tercapai asal sunnahnya”. Lihat kitab Al Majmu’, 8/429.

 

Berkata Ash Shan’any rahimahullah:
 

يجوز أنه - صلى الله عليه وسلم - ذبح عن الذكر كبشاً لبيان أنه يجزئ وذبح الأثنين مستحب
 

Artinya: “Dimungkinkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih 1 kambing atas anak lelaki untuk menjelaskan bahwa hal itu mencukupi dan menyembelih 2 kambing dianjurkan”. Lihat kitab Subul As Salam, 4/182.

 
Wallahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ahmad Zainuddin Sabtu, 9 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

 

Mana Yang Didahulukan: "Ibu Atau Suami"?

Tadi saya membaca tentang berbakti pada orangtua. saya seorang ibu dengan 2 anak. umur saya 40 tahun. ibu saya berumur 60 tahun. beliau menginginkan saya untuk bersamanya, yang berarti saya harus meninggalkan suami. apa yang harus saya putuskan? suami sedang dalam masa susah karena kami sedang dalam mati penghidupan dan terlilit hutang.  Sekarang ini saya dan anak beserta suami tinggal di rumah ibu suami, mohon nasehatnya.
 
Jawaban:
 

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Telah diketahui bersama bahwa Ta’at kepada orangtua terutama ibu adalah merupakan perintah dan bentuk ketaatan kepada Allah yang paling agung, bahkan Allah menggandengkan ketaatan kepada-Nya dengan berbakti kepada orangtua. Allah Ta’ala berfirman:
 
{ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا } [النساء: 36]
 
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak”. QS. An Nisa’: 36.
 
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Allah menginginkan berbuat baik kepada keduanya dengan kelembutan dan tingkah laku yang lemah, maka tidak membantah keras keduanya dalam menjawab, tidak menajamkan pandangan kepada keduanya, tidak mengangkat suara di atas suara mereka berdua, tetapi bersikap di hadapan keduanya seperti seorang budak di hadapan tuannya, merendah di hadapan keduanya”. Lihat kitab Al Az Zawajir ‘an iqtiraf Al Kabair, 2/66.
 
Dan terkhusus untuk berbuat baik kepada Ibu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyatakan hal ini:
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ ».
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang pernah datang menemui Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”, beliau menjawab: “Ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Kemudian ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab:“Kemudian  ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Kemudian bapakmu”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيكَرِبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ، ثُمَّيُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ, يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ ، ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِالأَقْرَبِ فَالأَقْرَبِ »
 
Artinya: “Al Miqdam bin Ma’di Karib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mewasiatkan kepada untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada bapak-bapak kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada kerabat kalian yang paling dekat kemudian seterusnya”. HR. Bukhari di dalam kitab Al Adab Al Mufrad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat al Ahadits Ash Shahihah, no. 1666.
 
Tetapi…
 
Jika seorang wanita sudah menikah maka hak suami lebih di dahulukan daripada hak orangtua, mari perhatikan penjelasan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “firman Allah Ta’ala:
 
{فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ} [النساء: 34]
 
Artinya: Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. QS. An Nisa’: 34.
 
Berkonsekwensi kewajiban taatnya istri terhadap suami secara mutlak, berupa pelayanan, bepergian bersamanya, tinggal bersamanya, dan hal lainnya sebagaimana yang telah ditunjukkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tentang Al Jabal Al Ahmar dan di dalam hadits tentang sujud dan hadits lainnya.
 
Sebagaimana wajib bagi seorang wanita taat kepada kedua orangtua, karena sesungguhnya setiap ketaatan kepada kedua orangtua berpindah kepada suami dan tidak tersisa kewajiban atas seorang wanita sebuah ketaatan untuk kedua orang tua, ketaatan kepada orangtua wajib karena hubungan pertalian darah dan kewajiban taat kepada suami wajib karena hubungan yang disebabkan perjanjian.” (Lihat kitab Majmu’ Al Fatawa: 23/260-261).
 
Beliau juga berkata: “Tidak ada kewajiban atas seorang wanita setelah menunaikan hak Allah dan rasul-Nya lebih wajib dibandingkan menunaikan hak suami”. Lihat kitab Majmu’ Al Fatawa: 23/275.
 
Saya nasehatkan kepada ibu yang bertanya agar senantiasa mentaati perintah suami tetapi juga jangan sampai mengabaikan sang ibu semampu mungkin, tentunya juga seorang suami tidak diperbolehkan memutuskan hubungan istrinya dengan sang ibu dari istri tersebut, semoga Allah memudahkan  kita semua dan mewafatkan ibu dan seluruh orangtua kita di dalam husnul khatimah.Wallahu a’lam.
 
وصلى الله و سلم و باك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين
 
*) Dijawab oleh Ahmad Zainuddin, Sabtu 8 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

 

Pertayaaan Syeikh Sa Ad bin Nashir Asy Syitsry Hafizhahullah Tentang memberikan Pertolongan Kepada Saudara-Saudara Kita Di Dar Al Hadits Dammaj Yaman

Segala Puji hanya milik Allah Rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga selalu diberikan kepada seorang yang paling mulia dari para Nabi dan Rasul, amma ba’du:
 

Mengacu dari Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
 

« انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا »
 

Artinya: “Tolong saudaramu dalam dia berbuat zhalim atau keadaan dia terzhalimi”, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits shahih.
 
Dan mengacu kepada keinginan untuk menghentikan pertumpahan darah saudara-saudara kami dari para penuntut ilmu dari daerah Dammaj dan sekitarnya.

 
Dan mengacu kepada keinginan menjadikan orang-orang yang melampaui batas kembali kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga akhirnya mereka akan selamat dari tanggung jawab mereka berupa penumpahan darah seorang muslim, yang mereka bertemu dengannya pada hari kiamat, sehingga mereka akan termasuk menjadi pelaku yang disebutkan di dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam“Seorang muslim masih akan terdapat keluasaan di dalam agamanya selama tidak terkena darah yang haram.”
 

Dan mengacu kepada keinginan untuk menghilangkan kezhaliman, karena kezhaliman berakibat buruk di dunia dan akhirat, sebagimana firman Allah Ta’ala: 
 

{فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ } [فاطر: 37]
 

Artinya: “Dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolongpun”. QS. Fathir: 37.
 
Sebagaimana yang diriwayatkan di dalam hadits shahih, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah benar-benar akan membiarkan untuk seorang yang berlaku zhalim, sehingga jika Dia mencabut nyawanya, Dia (Allah)  tidak akan melepasnya”,kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat:
 
{ وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ} [هود: 102]
 
Artinya: “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim.  Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. QS. Huud: 102.
 
Oleh sebab inilah maka saya tujukan kepada seluruh kaum muslim di timur dan barat bumi, agar berusaha untuk menolong saudara-saudara mereka dari kalangan para penuntut ilmu di kota Dammaj dan sekitarnya.
 
Dan memberikan pertolongan dapat dilakukan dengan beberapa hal:
 
Yang pertama: Berdoa kepada Allah 'Azza wa Jalla dan bersimpuh kepada-Nya Maha suci Allah,semoga Allah menghentikan tumpahnya darah saudara-saudara kita di sana, dan menjauhkan mereka dari kezhaliman, menyelamatkan mereka dari kekejian para musuh, hal ini berdasarkan dari nash-nash syar’ie yang memerintahkan kita untuk berdoa kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan di dalam doa tersebut Allah telah menjanjikan kaum beriman dikabulkan doa mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
 
{ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ }
 
Artinya: “Dan Rabbmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian”.QS. Ghafir: 60.
 
Dan sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
 
{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ }
 
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. QS. Al Baqarah: 186.
 
Dan sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengabulkan doa salah seorang dai kalian selama dia tidak tergesa-gesa (ingin mendapatkan kabulannya)”.
 
Perkara kedua:
 
Setiap orang yang mampu menolong mereka dengan apapun dari bentuk pertolongan, maka wajib baginya untuk mengerjakan hal tersebut, karena menolong mereka mengakibatkan beberapa hal;
  • Berhentinya pertumpahan darah,
  • Mengakibatkan akan tersebarnya ilmu,
  • Keselamatan jiwa,
  • Terjauhkan dari kezhaliman,
  • dan hal-hal lainnya yang merupakan tujuan-tujuan syariat yang akan tercapai dari akibat menolong mereka.
 
Maka siapa saja yang mampu menolong mereka dengan sarana apapun baik dengan perkataan, tulisan, dengan pemberian nasehat atau dengan usaha untuk perdamaian dan menjauhi dari tempat peperangan.
 
Atau pertolongan dengan materi, dengan memberikan mereka senjata atau kekuatan atau berperang bersama mereka untuk menahan kezhaliman yang terjadi terhadap mereka.
 
Maka sesungguhnya ini adalah termasuk ibadah paling agung yang mendekat diri dengannya kepada Allah Azza wa Jalla.
 
Sesungguhnya nash-nash syar’i telah memerintahkan untuk menolong orang yang terzhalimi, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa muslim adalah saudara muslim, tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya, maksudnya yaitu tidak membiarkannya untuk sesorang berusaha memusuhi dan menzhaliminya.
 
Sebagaimana saya tujukan kepada saudara-saudara saya dari para penuntut ilmu di sana:
  • hendaknya mereka berpegang tegung dengan Allah Jalla wa ‘Ala,
  • hendaknya mereka bersandar kepada-Nya,
  • hendaknya mereka mengetahui bahwa kemenangan dii tangan Allah, Dia akan memberikan kemenangan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya.
Dan kapan mereka bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah pasti menolong mereka dan menjauhkan dari mereka kezhaliman dari para pelaku kezhaliman dari siapa yang berusaha menyakiti mereka, sebagaimana firman Allah ta’ala: 
 
{إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ} [آل عمران: 160]
 
Artinya: “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu”. QS. Ali Imran: 160.
 
{ وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ } [الروم: 47]
 
Artinya: “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”. QS. Ar Rum: 47.
 
Dan sebagaimana Firman Allah Ta’ala:
 
{إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ} [غافر: 51]
 
Artinya: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”. Qs. Ghafir: 51.
 
Oleh sebab itulah, saya mewasiatkan kepada mereka agar hati mereka bersandar kepada Allah dan tidak melihat kepada kekuatan dan apa saja yang mereka miliki dari sarana-sarana materi, karena sesungguhnya Yang Maha Mengatur di alam semesa adalah Rabb Yang mempunyai Keagungan dan Kebesaran, Maha Suci Allah, jika Dia menginginkan sesuatu maka Dia hanya mengatakan “Jadilah maka terjadilah”.
 
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah Jalla wa ‘Ala akan memberikan pertolongan dan kekuatan kepadanya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
 
{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ} [الطلاق: 3]
 
Artinya: “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya”. QS. Ath Thalaq: 3. Maksudnya yaitu Allah akan mencukupkannya maka dia tidak membutuhkan kepada seorangpun selain-Nya.
 
Oleh sebab inilah, saya berusaha menerangkan kepada saudara-saudarku kaum muslim bahwa menolong mereka para penuntut ilmu termasuk dari ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengannya, yang meninggal dari mereka adalah syahid, yang luka dari mereka di jamin oleh Allah Rabb yang mempunyai Keagungan dan Kebesaran, yang berperang dari mereka akan ditolong dengan izin Allah yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, Maha Kuat, Maha Agung, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang Berbuat apa saja yang Dia kehendaki.
 
Saya memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala, semoga Allah menjaga mereka dari segala keburukan dan menjauhkan mereka dari kezhaliman orang-orang yang berlaku zhalim, semoga Allah menghentikan tumpahnya darah mereka dan menjadikan setiap pelaku kebaikan yang membantu mereka, saling tolong menolong dengan mereka dan menolong mereka dengan kemampuan mereka (mendapatkan kebaikan-pen).
Ini (yang dapat sampaikan-pen), Allah yang lebih mengetahui dan semoga shalawat dan salam selalu diberikan kepada Nabi kita Muhammad, dan juga kepada para kerabat, para shahabat serta pengikut beliau, dengan salam yang berlimpah sampai hari kiamat.
 
*) Diterjemahkan oleh Ahmad Zainuddin, Sabtu, 7 Muharram 1433H Dammam KSA
 
Transkip bahasa Arab dari perkataan beliau:
 
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين. أما بعد:
فانطلاقًا من قول النبي صلى الله عليه وسلم: ((انصر أخاكَ ظالمًا أو مظلومًا)) كما ورد في الحديث الصحيح.
ورغبة في حقن دماء إخواننا من طلبة العلم من أهل دماج ومن حولها.
ورغبة في جعل المعتدِين يَعودون إلى الله –جل وعلا- فيَسلمون من أن يكون في ذممهم سفك دمٍ مسلم يلاقون الله به في يوم القيامة فيكونون من أهل قول النبي صلى الله عليه وسلم: ((لا يزال المسلم في فسحة من دينه ما لم يُصبْ دمًا حرامًا)).
ورغبة في إزالة الظلم؛ لأنّ الظلم سيء العاقبة دنيا وآخرة كما قال تعالى: {فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ}، وكما ورد في الحديث الصحيح أنّ النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إنّ الله ليملي للظالم حتى إذا أخذه لم يُفلِته)) ثم قرأ النبي صلى الله عليه وسلم قول الله –جل وعلا- {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ } 
ولذا فإني أتوجّه إلى المسلمين في مشارق الأرض ومغاربها بأن يسعّوا إلى نصرة إخوانهم من طلبة العلم في دماج وما حولها.
ونصرتها تكون بعدد من الأمور:
أوّل ذلكالدعاء بين يدي الله –جل وعلا- والتضرُّع إليه –سبحانه- أن يحقن دماء إخواننا هناك، وأن يُبعِد عنهم الظلم، وأن يسلّمهم من بَراثِن المعتدين، انطلاقًا من النصوص الشرعية التي رغّبت في دعاء الله -جل وعلا- ووعد الله فيها المؤمنين بإجابة دعائهم، كما قال -جلا وعلا- : {وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} وكما قال سبحانه: {وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ}، وكما ورد في الحديث أنّ النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إنّ الله يجيب دعاء أحدكم ما لم يَعجَل)).
الأمر الثاني: كل من استطاع نصرتهم بأيّ نوع من أنواع النصرة تعيّن عليه ذلك؛ لانّ نصرتهم يترتب عليها:
حقن الدماء.
ويترتب عليها: انتشار العلم.
وسلامة النفوس.
وابتعاد الظلم.
إلى غير ذلك من المقاصد الشرعية التي تحصل من نصرتهم.
فكل من استطاع نصرتهم بأيّ وسيلة، سواء بكلمة، أو مقالة، أو بتوجيه نصيحة، أو بالسعي في الإصلاح والابتعاد عن مواطن الحروب.
أو كانت النصرة مادية، بمدهم بسلاح، أو مدٍّ بقوة، أو بالمقاتلة معهم بدفع الظلم الواقع عليهم.
فإنّ هذا من أعظم القربات التي يُتقرّب بها إلى الله –جل وعلا- .
فإنّ النصوص الشرعية قد رغّبت في نصر المظلوم، وقد بيّن النبي صلى الله عليه وسلم أنّ المسلم أخو المسلم لا يظلمه، ولا يُسلِمه؛ يعني لا يتركه لمن يحاول الاعتداء عليه وظلمه.

كما إنني اتوجه لإخواني من طلبة العلم هناك:
أن يعتصموا بالله –جل وعلا-،
وأن يتوكلوا عليه -سبحانه-،
وأن يعرفوا أن النصر بيد الله ينصر من يشاء من عباده،
وأنهم متى توكلوا على الله فإن الله لابد أن ينصرهم وأن يُبعد عنهم ظلم الظالمين ممن يحاول الاعتداء عليهم، كما قال جل وعلا: {نْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ}، وكما قال سبحانه: {وَكَانَ حَقّاً عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ}، وكما قال جل وعلا: {نَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ}.
ولذلك فإني أوصيهم بأن تعتمد قلوبهم على الله، وأن لا ينظروا إلى قوتهم ولا إلى ما لديهم من أسباب مدية، فإنّ المتصرف في الكون هو رب العزة والجلال سبحانه إذا أراد شيئا فإنما يقول له كن فيكون، ومن توكل على الله فإن الله جل وعلا سينصره وسيؤيده؛ كما قال تعالى: {وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ} أي كافيه؛ فلا يحتاج إلى أحد سوى ربه.

ولذلك فإني أحاول أن أبيّن لإخواني المسلمين أنّ نصرة هؤلاء من طلبة العلم من القربات التي يُتقرّب بها إلى الله عز وجل، ميتهم شهيد، وجريحهم في كفالة رب العزة والجلال، ومقاتلهم منصورٌ بإذن الحي القيوم القوي العزيز القادر على كل شيء الفّعال لما يريد.

أسأل الله –جل وعلا- أن يحميهم من كل سوء وأن يُبعد عنهم ظلم الظالمين، وأن يَحقن دماءهم، وأن يجعل كل صاحب خير ممن يعضدهم ويعاونهم ويساعدهم بما استطاع.
هذا والله أعلم وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وأتباعه، وسلم تسليما كثيرًا إلى يوم الدين
.
 
Link suara beliau terhadap pernyataan ini:

 

 

Beberapa Tanda-tanda Orang Sihir Dan Dukun

Disusun oleh: Kepala Urusan Amr bil Ma'ruf aa Nahyi 'anil Munkar (divisi urusan penegakkan kebaikan dan pencegahan kemungkaran) Di Kota Riyadh, Pusat Kantor Al Faruq Al Faishaliyah, Kerajaan Arab Saudi.
 
Alih Bahasa: Islamic Cultural Center (ICC) Dammam, Divisi Indonesia
 
Sambutan Disampaikan oleh Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin rahimahullah
 
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang,
 
 
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, semoga shalawat dan salam tercurah kepada semulia-mulia nabi dan rasul, nabi kita Muhammad, kepada keluarga, sahabat-sahabat, dan para pengikutnya.
 
Sambutan Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Ar-Rajihi -hafizhahullah-
 
Amma ba'du, saya telah menelaah Lembaran Penyuluhan yang berjudul: (DIANTARA TANDA-TANDA TUKANG SIHIR DAN DUKUN)  yang diterbitkan oleh markas Al Faruq dan Al Faishaliyyah, saya lihat merupakan lembaran yang bermanfaat bagi seorang muslim, menjelaskan tentang tanda-tanda tukang sihir dan dukun, agar menjauhi mereka. Dengan ini akan melindungi akidah seorang muslim, karena tukang sihir yang berhubungan dengan setan telah kafir kepada Allah 'azza wa jalla. Dan wajib bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari para tukang sihir, dukun, ahli nujum, dan tukang ramal, dan melindungi diri dengan wirid-wirid yang syar'i yang berasal dari kitabullah dan sunnah nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, dan mengobati dengan ruqyah yang sesuai syariat.
 
Oleh karena itu, penyebaran lembaran ini di kalangan kaum muslimin sangat bermanfaat, dan merupakan salah satu bentuk tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
 
Saya mohon kepada Allah agar semua diberi keikhlasan dalam beramal, benar dalam berucap, serta teguh dan istiqamah dalam agama. Sesungguhnya Allah-lah penolong dalam hal ini dan Maha Kuasa untuk mengabulkannya.
 
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.
 
 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالْحَسَنِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. مسند أحمد (رقم الحديث:9171)
 
Dari shahabat Bin Malik Anas radhiyallahu 'anhu berkata:
”Siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan apa yang diucapkannya, maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam." (Hadis Riwayat Imam yang Empat [Abu Daud, Tirmizi, Nasa'i, dan Ibnu Majah] dan Al Hakim).
 
  • Bertanya kepada orang yang sakit tentang namanya dan nama ibunya.     
  • Meminta hewan untuk disembelih dengan cara tertentu tanpa menyebut nama Allah, dan kadang melumurkan darahnya pada tempat yang sakit pada diri orang yang sakit; atau menyuruhnya untuk melemparkan sembelihan tersebut ke tempat yang sudah tak berpenghuni lagi, atau ke sebuah batu atau pohon-pohon tertentu.
  • Membaca jampe-jampe, rajah-rajah, dan komat-kamit dengan ucapan yang tidak dapat dipahami.
  • Meminta sesuatu yang aneh yang bertujuan agar tidak bisa dipenuhi seperti sebelas ekor tikus yang ditangkap pada saat orang tidur siang; atau tikus yang yatim atau kera buta. Jika orang yang sakit tersebut tidak dapat memenuhinya, dia meminta uang yang banyak dan mengesankan kepada orang sakit tersebut bahwa uang ini adalah nilai persembahan untuk raja jin yang diminta mendatangkan permintaan tersebut.
  • Kadang-kadang tukang sihir atau dukun itu menebak nama orang yang datang kepadanya, atau nama ibunya, atau negeri asalnya, atau permasalahan yang membuat dia datang. Hal ini termasuk bantuan setan kepadanya.
  • Meminta sisa-sisa sesuatu seperti baju, atau pakaian dalam, atau sisir, atau kuku-kuku, atau rambut, maupun gambar.
  • Memberikan kepada orang yang sakit itu selembar kain berbentuk segi tiga atau segi empat yang dibungkus di dalam kulit, atau dalam potongan logam, yang berisi permintaan tolong yang bersifat syirik, angka-angka serta huruf-huruf yang besar maupun kecil kemudian diperintahkan untuk dikalungkan di leher atau di lengan atau meletakannya di bawah bantal.
  • Memberikan kepada orang yang datang kepadanya – baik orang yang sakit atau yang lainnya – air yang didalamnya terdapat lembaran-lembaran yang bertuliskan rajah-rajah dan permintaan tolong kepada setan; dan memerintahkannya untuk mandi dengan air tersebut di tempat yang sudah tak berpenghuni atau di kuburan yang sudah tak dikunjungi manusia.
  • Menyuruh untuk mengenakan pakaian yang dipenuhi oleh rajah-rajah dan simbol-simbol pada hari-hari tertentu
  • Termasuk tanda-tanda tukang sihir adalah menghinakan dan merendahkan Al-Qur'anul Karim dengan benda-benda najis, baik berupa menuliskan ayat-ayat dengan najis atau melumurinya dengan benda-benda najis seperti darah haid, sebagai persembahan yang diberikan oleh tukang sihir agar dilayani setan-setan.
  • Memberikan kepada orang yang sakit lembaran-lembaran kertas yang di dalamnya terdapat dedaunan kering atau benda-benda untuk dibakar dan asapnya dikenakan ke badan. 
  • Memerintahkan membawa kulit serigala atau gigi-giginya atau mengikat ikatan-ikatan hitam di mobilnya.
  • Memberikan sesuatu yang aneh seperti telor yang ditulisi rajah-rajah; atau gembok yang dibungkus dengan kulit atau rajah-rajahan.
  • Di antara tanda-tanda dukun adalah membaca telapak tangan atau cangkir.
  • Di antara tanda-tanda dukun adalah melemparkan kerang ke secarik kain atau kulit binatang buas, atau melemparkan dengan biji kapulaga atau biji kurma.
  • Menuliskan rajah-rajah atau simbol-simbol atau huruf-huruf yang terpisah [tidak bersambung] atau angka-angka atau segi empat maupun lingkaran-lingkaran. 
  • Memberikan kepada orang yang sakit sesuatu untuk dipendam di bumi. 
  • Menuliskan untuk orang sakit huruf-huruf yang terpisah-pisah pada bejana atau piring porselen atau sepotong kayu menggunakan alat tertentu dengan benda yang bisa dilarutkan atau za'faran; dan memerintahkan kepada orang yang datang kepadanya untuk melarutkannya dan meminumkannya kepada orang yang dimaksudkan. 
  • Kadang dukun memberikan cincin yang diukiri rajahan. 
  • Di antara tanda-tanda dukun adalah menuangkan cairan timah. 
  • Di antara tanda-tanda dukun adalah menggariskan sesuatu di atas pasir.[]


 

 

 

Penjagaan Diri Ala Rasullallahu 'Alaihi Wassalam VS ala Iblis

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Penjagaan Diri Ala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
 
    1.    Bacaan ketika keluar rumah.
 
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ ». قَالَ « يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ ».


Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jika sesorang keluar dari rumahnya kemudian membaca:
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ


(dengan nama Allah aku bertawakkal kepada Allah tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah). Maka pada saat itu dikatakan kepadanya engkau telah diberikan petunjuk, dicukupkan dan dijaga, serta setan-setan akan menjauh darinya, maka setan yang lain berkata: "Bagaimana kamu mengganggu seseorang yang telah diberikan petunjuk", dicukupkan dan dijaga (oleh Allah)". HR Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami’, no. 6419.
    
    2.    Bacaan ketika turun di sebuah tempat.
 
سَعْدَ بْنَ أَبِى وَقَّاصٍ يَقُولُ سَمِعْتُ خَوْلَةَ بِنْتَ حَكِيمٍ السُّلَمِيَّةَ تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ ».


Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata; “Khaulah binti Hakim As Sulaimiyyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang singgah di sebuah tempat lalu ia mengucapkan:
 
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ


(Aku  berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan yang tercipta). Maka tidak ada sesuatu apapun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu". HR Muslim.
 
    3.    Bacaan ketika pagi hari.

عُثْمَانَ - يَعْنِى ابْنَ عَفَّانَ - يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُمْسِىَ ».


Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ


(dengan nama Allah yang bisa membahayakan dengan namanya sesuatu apapun yang ada di bumi dan di langit dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui) tiga kali tidak akan tertimpa musibah mendadak sampai pagi dan siapa yang membacanya ketika pagi hari tiga kali maka tidak akan tertimpa musibah mendadak sampai sore”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Abi Daud, no. 5088.
 
    4.    Bacaan ketika bersetubuh.
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا ثُمَّ قُدِّرَ أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا ».


Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Jikalau seseorang ingin menggauli istrinya kemudian membaca:
 
بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا


(Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang engkau rizkikan kepada kami) kemudian ditakdirkan mereka berdua mempunyai anak, maka setan tidak akan bisa membahayakannya selamanya". HR Bukhari.
 
    5.    Bacaan meruqyah anak.
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - قَالَ كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ « إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ، أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ »


Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Senantiasa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallammembaca bacaan untuk perlindungan Al Hasan dan al Husain beliau bersabda: “Sesungguhnya bapak kalian berdua (nabi Ibrahim) sesantiasa membaca bacaan untuk perlindungan Ismail dan Ishaq, bacaannya adalah:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ


(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang yang beracun dan dari setiap mata yang menyakitkan)”. HR Bukhari.
 
    6.    Membaca surat Al Baqarah.
 
 أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ ». قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِى أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ.


Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah surat Al Baqarah sesungguhnya membacanya berkah dan meninggalkannya kerugian serta tukang sihir tidak bisa mengalahkannya”. HR Muslim.
 
    7.    Membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah.
 
عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ.


Artinya: Abu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:“Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah di waktu malam, maka Allah akan menjaganya". HR Bukhari dan Muslim.
    
    8.    Membaca ayat kursi ketika hendak tidur.
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه – قَالَ: لِى رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ » . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ ، يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « مَا هِىَ » . قُلْتُ قَالَ لِى إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) وَقَالَ لِى لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ ،


Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bercerita: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepadaku: “Apa yang dikerjakan oleh tawananmu tadi malam? Aku menjawab: "Wahai Rasulullah dia mengajariku beberapa bacaan, yang Allah akan memberikan manfaat kepadaku dengan bacaan tersebut, lalu akupun membebaskannya”, Nabi bertanya: “Apakah itu?”, aku menjawab: “Dia berkata kepadaku: “Jika kamu hendak menuju kasurmu maka bacalah ayat kursi dari awal ayat sampai selesai:
{ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ }


Dan dia berkata kepadaku: “Selalu akan ada penjaga bagimu dari Allah dan tidakan ada setan yang mendekatimu sampai pagi”. HR Bukhari.
 
   9.    Bangun pagi dengan mengucap nama Allah dan berwudhu lalu shalat subuh.
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ » .


Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Setan senantiasa mengikatkan pada tengkuk salah seorang dari kalian bila ia tidur  tiga ikatan, lalu ia memukul setiap ikatan (agar menjadi kuat) sambil berkata: "Malam masih panjang, maka tidurlah" bila ia terbangun, kemudian ia menyebut nama Allah, maka terbukalah satu ikatan, bila ia berwudhu, maka terbukalah satu ikatan, dan bila ia menunaikan shalat, maka terbukalah satu ikatan, sehingga iapun pada pagi itu dalam keadaan bersemangat dan berjiwa baik, bila tidak, maka ia akan berjiwa buruk dan malas". HR. Bukhari dan Muslim.
 
    10. Menutup bejana
 
عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ وَأَغْلِقُوا الْبَابَ وَأَطْفِئُوا السِّرَاجَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَحُلُّ سِقَاءً وَلاَ يَفْتَحُ بَابًا وَلاَ يَكْشِفُ إِنَاءً فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلاَّ أَنْ يَعْرُضَ عَلَى إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ تُضْرِمُ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ بَيْتَهُمْ


Artinya: "Jabir radhiyallah 'anhu berkata: bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tutuplah bejana, ikatlah geribah (tempat menyimpan air yang terbuat dari kulit-pen), tutuplah pintu, matikanlah lentera (lampu), karena sesungguhnya setan tidaklah mampu mengurai geribah yang terikat, tidak dapat membuka pintu, dan tidak juga dapat menyingkap bejanan (yang tertutup).Bila engkau tidak mendapatkan (tutup) kecuali hanya dengan melintangkan diatas bejananya sebatang ranting, dan menyebut nama Allah, hendaknya ia lakukan". HR Muslim.
Pada riwayat lain:
(غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فإن في السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فيها وَبَاءٌ، لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ ليس عليه غِطَاءٌ، أو سِقَاءٍ ليس عليه وِكَاءٌ، إلاَّ نَزَلَ فيه من ذلك الْوَبَاءِ). رواه مسلم


"Tutuplah bejana, dan  ikatlah geribah, karena pada setiap tahun ada satu malam (hari) yang padanya turun wabah. Tidaklah wabah itu melalui bejana yang tidak bertutup, atau geribah yang tidak bertali, melainkan wabah itu akan masuk ke dalamnya". HR Muslim.
 
 
    11. Makan tujuh kurma
 
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ ».


Artinya: "Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barang siapa yang setiap pagi hari makan tujuh biji buah kurma ajwa, niscaya pada hari itu ia tidak akan terganggu oleh racun atau sihir". HR. Bukhari dan Muslim.
 
Penjagaan Ala Iblis
 
  1. Pergi ke Kahin (orang yang mengaku mengetahui akan hal gaib yang akan datang), ‘Arraf (orang yang mengaku mengetahui akan hal gaib yang telah lalu) dan Sahir (orang yang membuat rajah, jimat, jampi-jampi untuk membahayakan orang yang disihir).
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan dalam berbagai haditsnya sebagaimana riwayat berikut :
مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً


Artinya: “Barang siapa mendatangi ‘Arraf (peramal) dan menanyakan sesuatu kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari”. HR Muslim.
 
عَن أَبِى هُرَيْرَةَ وَالْحَسَنِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ».


Artinya: " Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Barang siapa yang mendatangi kahin atau 'Arraf dan membenarkan apa yang yang ia katakan maka sungguh telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam". HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami', no. 5939.
 
عن عمران بن الحصين رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم    : لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم 


Artinya: "Dari Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu, ia menuturkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukan dari golongan kami, orang yang percaya kepada nasib sial dan yang minta diramal tentang nasib sialnya atau yang melakukan praktek dukun dan yang didukuni atau yang menyihir atau yang meminta bantuan sihir, dan barang siapa yang mendatangi  dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir pada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam". HR Al Bazzar dengan sanad yang baik dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2195.
 
   2.    Memakai jimat dengan segala macam bentuknya.
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ فَبَايَعَ تِسْعَةً وَأَمْسَكَ عَنْ وَاحِدٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا قَالَ « إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً ». فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ وَقَالَ « مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ ».
Artinya: "Uqbah bin Amir al Juhani radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam didatangi oleh sekitar sepuluh orang kemudian beliau membaiat sembilan dari mereka dan menahan satu orang, lalu mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, engkau telah membaiat sembilan dan engkau sisakan satu orang ini?", kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:"Sesungguhnya orang ini memakai jimat", kemudian orang ini memasukkan tanggannya lalu ia putuskan jimatnya kemudian nabi membaiatnya seranya bersabda: "Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka ia telah berbuat syirik". HR Ahmad dan dan dishahihkan oleh Imam Al Albani di dalam As Silsilah Ash Shahihah, no. 492.
 
  3. Pergi ke kuburan keramat bukan untuk ziarah tapi untuk ngalap berkah.
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِى وَثَناً لَعَنَ اللَّهُ قَوْماً اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ ».
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Ya Allah janganlah jadikan kuburanku berhala, Allah telah melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid". HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Ahkamul Janaiz.
 
  4. Meminta berkah atau perlindungan kepada pohon yang diyakini berkeramat.
 
عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.


Artinya: "Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu 'anhu menuturkan: “Suatu waktu kami pergi bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ke Hunain, dan kami dalam keadaan baru saja terlepas dari kekafiran (masuk Islam). Ketika itu orang-orang musyrik mempunyai sebatang pohon bidara yang disebut Dzat Anwath, mereka selalu mendatanginya dan meng-gantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon itu. Tatkala kami melewati sebatang pohon bidara, kami pun berkata: “Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka itu mempunyai Dzat Anwath.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
((اللَّـهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: “ اِجْعَلْ لَنَا إِلـهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ “، قَالَ: “ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ “، لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ))


“Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Itulah tradisi (orang-orang sebelum kamu). Dan demi jiwaku yang berada di Tangan-Nya, kalian benar-benar telah mengatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan-sesembahan.” Musa menjawab: Sungguh, kalian adalah kaum yang tidak mengerti". Pasti, kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian". HR At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Tirmidzi, no. 2180.
 
    5.    Minta tolong atau perlindungan kepada jin.
{وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا}


Artinya: "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan". QS Al Jin:6
 
أي: كان الإنس يعبدون الجن ويستعيذون بهم عند المخاوف والأفزاع (1) ، فزاد الإنس الجن رهقا أي: طغيانا وتكبرا لما رأوا الإنس يعبدونهم، ويستعيذون بهم، ويحتمل أن الضمير في زادوهم يرجع إلى الجن ضمير الواو (2) أي: زاد الجن الإنس ذعرا وتخويفا لما رأوهم يستعيذون بهم ليلجئوهم إلى الاستعاذة بهم، فكان الإنسي إذا نزل بواد مخوف، قال: " أعوذ بسيد هذا الوادي من سفهاء قومه ". [تفسير السعدي ص: 890]


Berkata Syeikh Al Mufassir Abdurrahman bin Nashir As Sa'diy rahimahullah (w:1376H): "Maksudnya adalah dahulu, manusia menyembah jin dan meminta perlindungan kepada mereka disaat ketakutan dan kegelisahan, maka jin bertambah sombong dan melampaui batas terhadap manusia, dikarenakan apa yang mereka lihat, yaitu ketika manusia menyembah dan meminta perlindungan kepada mereka. Dan mungkin yang dimaksudkan adalah bahwa pelaku dari kata kerja "mereka bertambah" adalah jin, maksudnya, jin menambah kepada manusia rasa takut dikarenakan apa yang mereka (jin) lihat dari manusia yang meminta perlindungan kepada mereka, agar manusia kembali meminta perlindungan dengan mereka (jin), dahulu jika seorang manusia jika singgah di sebuah danau yang ditakuti, dia berkata: "Aku berlindung kepada penguasa danau ini dari kaumnya yang jahat". Lihat Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Manan, hal: 890. Wallahu a'lam  
 
 
Ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad Zainuddin, Rabu, 29 Shafar 1432H

 

Indahnya Musim Dingin

بسم الله الرحمن الرحيم و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
عَنْ عَامِرِ بْنِ مَسْعُودٍ الْجُمَحِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : « الصَّوْمُ فِى الشِّتَاءِ الْغَنِيمَةُ الْبَارِدَةُ ».رواه أحمد و صححه الألباني في السلسلة
 
Artinya: " 'Amir bin Mas'ud Al Jumahi radhiyallahu 'anhu berkata: 'Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda: "Berpuasa di musim dingin adalah harta rampasan yang diperoleh tanpa melalui pertempuran". HR. Ahmad dan dihasankan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1922.
Abu As Sa'adat (Ibnu Al Atsir) rahimahullah berkata: "maksudnya ( harta rampasan perang yang diperoleh tanpa pertempuran) adalah tidak ada penat dan kesulitan di dalamnya, setiap yang disukai bagi mereka dinamakan barid, dikatakan pula maksudnya adalah harta rampasan yang tetap dan diam". Lihat an Nihayah fi Gharib Al Atsar (1/293). 
Syeikh Al Mubarakfury rahimahullah berkata: "(kenapa dinamakan harta rampasan perang yang diperoleh tanpa pertempuran?) karena keberadaan pahala  tanpa rasa letih yang berlebihan, dan disebutkan di dalam kitab Al Faik fi gharib Al hadits wa al atsar; al ghanimah al baridah harta rampasan perang yang diperoleh tanpa pertempuran) adalah harta rampasan yang datang dengan anugerah tanpa di nyalakan sebelumnya dengan api peperangan dan dimulai dengan panasnya pertempuran di dalam kesusahan, dikatakan pula maksudnya adalah keadaan yang baik, yang diambikan dari al 'aisy al barid (kehidupan yang sejahtera)".  Lihat Tuhfat al Ahwadzi (3/427). 
 
قال عمر بن الخطاب - رضي الله عنه -:((الشِّتَاءُ غَنِيْمَةُ العَابِد)) . أخرجه أحمد في الزهد و ابن أبي شيبة في مصنفه
 
Artinya: "Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Musim dingin adalah harta rampasannya ahli ibadah".  Atsar Shahih diriwayatkan oleh Ahmad di dalam kitab Az Zuhd, hal : 118, Ibnu Abi Syaibah (9742- 34468).
 
قال ابن مسعود رضي الله عنه:
 مَرْحَباً بِالشِّتَاءِ ! فِيْهِ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ ، أمَّا لَيْلُهُ فَطَوِيْلٌ لِلْقَائِمِ ، وَأَمَّا نَهَارُهُ فَقَصِيْرٌ لِلصَّائِمِ.  أخرجه الديلمي كما في كنز العمال (12/ 322)
 
 
Artinya: "Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Selamat datang musim dingin! Di dalamnya turun rahmat, adapun malamnya, sangatlah panjang untuk orang yang beribadah (pada malam hari), sedangkan siangnya, pendek untuk orang yang berpuasa". Diriwayatkan oleh Ad Dailami, lihat: Kanzul Ummal (12/322). 
  
 
 
عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ  رحمه الله، قَالَ : كَانَ يَقُولُ إذَا جَاءَ الشِّتَاءُ :  يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ طَالَ اللَّيْلُ لِصَلاَتِكُمْ ، وَقَصُرَ النَّهَارُ لِصِيَامِكُمْ فَاغْتَنِمُوا. مصنف ابن أبي شيبة (3/ 100).
 
Artinya: "Jika masuk musim dingin Ubaid bin Umair rahimahullah berkata: "Wahai Ahli Quran, malam sungguh panjang untuk shalat kalian dan siang sungguh pendek untuk puasa kalian, maka pergunakanlah sebaik-baiknya". Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (3/100).
 
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Sabtu, 12 Muharram 1432H, Dammam KSA
 

 

I Love You Full

  Pertanyaan:
Assalamu 'alaikum warahmatullahana mau bertanya tentang hukum mengungkapkan rasa cinta kepada seorang wanita, namun belum mampu menikah, hanya ingin mengungkapkannya saja? jazakallahu khairan.
 
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
 
Saudaraku…
 
Pengungkapan rasa cinta kepada seorang wanita yang belum dinikahinya adalah tidak boleh, karena akan menjerumuskan kepada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, diantaranya; 
Pertama, menghantarkan kepada perbuatan zina 

Kedua, atau kepada perbuatan-perbuatan yang menghantarkan kepada perbuatan zina, seperti berdua-duaan tanpa ada manusia yang melihat.
 
Allah Ta’ala telah memperingatkan kita untuk tidak mendekati perbuatan zina dan maksud dari tidak mendekati perbuatan zina adalah menjauhi segala sarana yang menghantarkan kepada perbuatan zina.
 
Allah Ta’ala berfirman:
 
{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا } [الإسراء: 32]
 
Artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk". QS. Al Isra: 32.
 
Di dalam ayat ini Allah Ta'ala melarang seluruh hamba-Nya untuk berbuat zina dan mendekatinya yaitu dengan melakukan sebab-sebab dan sarana-sarana yang menghantarkan kesana. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsiri ayat di atas.
 
Larangan mendekati zina, lebih keras daripada larangan melakukannya, karena berarti larangannya mencakup seluruh sebab dan sarana yang menghantarkan kepada zina. Karena siapa yang berdiri di sekitar batas terlarang dikhawatirkan akan masuk ke dalamnya. Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman, karya As Sa'dy ketika menafsiri ayat di atas.
 
Ayat di atas juga, mengabarkan bahwa zina adalah perbuatan jenis fahisyah, yang maknanya adalah yang perbuatan yang buruk menurut syari'at Islam, akal dan fitrah manusia, karena di dalamnya terdapat sikap lancang terhadap hak Allah Ta'ala, hak pasangannya dan pengrusakan terhadap hubungan suci dan tercampurnya keturunan. Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman, karya As Sa'dy ketika menafsiri ayat ini.

Ketiga, Menyibukkan diri kepada sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti;

· Dapat menghabiskan waktu dengan selalu memikirkan kira-kira cintanya ditolak atau diterima,

· Dapat menghabiskan materi dengan menyatakan selalu siap berkorban, apapun sampai cintanya diterima,

· Dapat menghabiskan tenaga dan perasaaan dengan selalu mencari-cari perhatian kepada wanita tersebut sampai cintanya, bahkan kadang lupa atau tidak nafsu makan dan aktifitas lainnya,

· Dapat menghilangkan nyawa, Jika cintanya ditolak, maka akan patah hati dan tidak sedikit yang melakukan perbuatan nekat sampai BUNUH DIRI,

· Dapat menghancurkan akidah, yaitu jika cintanya ditolak maka dia mengunakan jasa dukun agar bisa cintanya diterima (cinta ditolak dukun bertindak).
 
Perhatikan pernyataan berikut dan cerita-cerita setelahnya, semoga bisa menjadi pelajaran jangan sampai mengumbar syahwat di jalan yang diharamkan Allah Ta’ala:
 
قال يحيى بن معاذ: "من أرضى الجوارح باللذات فقد غرس لنفسه شجر الندامات".
 
Berkata Yahya bin Muadz rahimahullah: “Barangsiapa yang merelakan anggota tubuhnya dengan kelezatan-kelezatan (yang diharamkan), maka sungguh dia telah menanam bagi dirinya pohon penyesalan.”
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
وفيها  (278 هـ)  توفي عبدة بن عبد الرحيم قبحه الله.
ذكر ابن الجوزي أن هذا الشقي كان من المجاهدين كثيرا في بلاد الروم، فلما كان في بعض الغزوات والمسلون محاصروا بلدة من بلاد الروم إذ نظر إلى امرأة من نساء الروم في ذلك الحصن فهويها فراسلها ما السبيل إلى الوصول إليك ؟ فقالت أن تتنصر وتصعد إلي، فأجابها إلى ذلك، فلما راع المسلمين إلا وهو عندها، فاغتم المسلمون بسبب ذلك غما شديدا، وشق عليهم مشقة عظيمة، فلما كان بعد مدة مروا عليه وهو مع تلك المرأة في ذلك الحصن فقالوا: يا فلان ما فعل قرآنك ؟ ما فعل علمك ؟ ما فعل صيامك ؟ ما فعل جهادك ؟ ما فعلت صلاتك ؟ فقال: اعلموا أني أنسيت القرآن كله إلا قوله (ربما يود الذين كفروا لو كانوا مسلمين ذرهم يأكلوا ويتمتعوا ويلهيهم الامل فسوف يعلمون) [ الحجر: ]
 
“Pada tahun (278H), telah wafat Abdah bin Abdurrahim –semoga Allah memburukkannya-, telah disebutkan oleh Ibnul Jauzy bahwa orang malang ini dulunya termasuk dari seorang lelaki yang sering berjihad di negeri Romawi, ketika dalam beberapa peperangan dan pada waktu itu kaum muslim mengepung sebuah daerah dari kekuasan Romawi, lelaki sang mujahid yang terkena godaan ini memandang kepada seorang wanita dari bangsa Romawi di benteng tersebut, maka akhirnya lelaki ini menginginkan wanita tersebut, lalu ia menyurati wanita tersebut; “Bagaimana agar aku bisa sampai kepadamu?”, wanita ini menjawab: “Kamu masuk ke dalam agama Nashrani lalu kamu naik menemuiku”, lalu lelaki ini menerima ajakan tersebut”, maka ketika kaum muslim mengepung malah dia berada bersama wanita tersebut, kejadian itu sangat menyakitkan dan memberatkan kaum muslim, setelah beberapa waktu berlalu, kaum muslim melewati benteng tersebut dan si lelaki ini sedang bersama wanita tersebut di benteng itu, mereka (kaum muslim) bertanya kepada lelaki tersebut: “Wahai Fulan, Apa yang telah Al Quranmu terhadapmu?, apa yang telah dikerjakan oleh ilmumu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan puasamu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan oleh jihadmu terhadapmu? Apa yang telah diperbuat shalatmu terhadapmu?”, lelaki ini menjawab: “Ketahuilah kalian semuanya, sesungguhnya aku telah lupa Al Quran kecuali Firman-Nya:
 
{رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3)} [الحجر: 2، 3] 
 
Artinya: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)”. QS. Al Hijr: 2-3. Lihat kitab Al Bidayah wa An Nihayah, karya Ibnu Katsir rahimahullah.
 
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: 
 
ويروي أنه كان بمصر رجل يلزم المسجد للأذان والصلات فيه وعليه بهاء الطاعة ونور العبادة فرقى يوما المنارة على عادته للأذان وكان تحت المنارة دارا لنصراني فاطلع فيها فرأي إبنة صاحب الدار فافتتن بها فترك الأذان ونزل إليها ودخل الدار عليها فقالت له ما شأنك وما تريد قال اريدك قالت لماذا قال قد سلبت لبي وأخذت بمجامع قلبي قالت لا أجيبك إلى رية أبدا قال أتزوجك قالت أنت مسلم وأنا نصرانية وأبي لا يزوجني منك قال اتنصر قالت إن فعلت أفعل فتنصر الرجل ليتزوجها وأقام معهم فى الدار فلما كان فى آثناء ذلك اليوم رقى إلى سطح كان فى الدار فسقط منه فمات فلم يظفر بها وفاته دينه.
 
Dikisahkan bahwa di Mesir ada seorang lelaki yang senantiasa selalu ke masjid untuk mengumandangkan adzan dan shalat di dalamnya, terlihat pancaran ketaatan dan cahaya ibadah dari wajahnya, suatu hari seperti kebiasaannya dia naik ke atas menara untuk mengumandangkan adzan, di bawah menara ada sebuah ruman milik seorang yang beragama Nashrani, dia melirik ke dalam rumah tersebut ternyata dia mendapati anak perempuan sang pemilik rumah yang beragama Nashrani tadi, akhirnya dia terpedaya dengan wanita tersebut, dia tinggalkan adzan dan turun menemuinya, ia masuk ke dalam rumahnya. Wanita ini bertanya: “Apa denganmu?, apa yang kamu inginkan?”, lelaki ini menjawab: “Saya menginginkanmu”, wanita ini bertanya: “Kenapa?”, lelaki ini menjawab: “Karena kamu sudah mencuri jiwaku dan mengambil seluruh hatiku”, wanita berkata: “Aku tidak akan menurutimu kepada sebuah keraguan selamanya”, lelaki ini berkata: “Aku akan menikahimu”, wanita berkata: “Kamu seorang muslim, saya seorang wanita yang beragama Nashrani, bapak saya tidak akan menikahkanku kepadamu”, lelaki ini menjawab: “Saya akan masuk ke dalam agama Nashrani”, wanita ini menjawab: “Jika kamu mengerjakannya maka aku akan mengerjakannya (yaitu menuruti permintaanmu)”, maka akhirnya lelaki ini masuk ke dalam agama Nashrani untuk menikahi wanita tersebuit, dan dia tinggal bersama mereka di dalam rumah tersebut. Dan ketika pada hari itu dia naik ke atas loteng yang ada di atas rumah, lalu dia jatuh darinya, maka akhirnya dia tidak mendapatkan wanita tersebut dan telah kehilangan agamanya. Lihat kitab Al Jawab Al Kafy, karya Ibnul Qayyimrahimahullah.
 
Saudaraku…
 
Jika anda ingin menikahinya demi terjaganya kesucian anda, maka datanglah kepada kedua orangtuanya, semoga Allah Ta’ala menolong Anda.
 
سنن النسائي - مكنز (10378، بترقيم الشاملة آليا)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُمُ الْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ»
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Tiga orang yang berhak atas Allah Azza wa Jalla menolong mereka, seorang budak yang ingin melunasi pembayaran atas dirinya, seorang yang menikah yang menginginkan kesucian, seorang yang berjihad di jalan Allah”. HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 3050.
 
Dijawab oleh Ahmad Zainuddin Selasa, 4 Muharram 1433H, Dammam KSA

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung