Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Artikel DS

Perhatikanlah Keagungan Allah Agar Tidak Beribadah Kecuali Kepada Nya

 Renungan tentang Keagungan Allah Ta'ala agar Tidak Beribadah Kecuali Kepada-Nya.
 
بسم الله الرحمن الرحيم و الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Tujuan tulisan ini adalah agar kita, seluruh kaum muslimin kembali, bertobat, beribadah, beriman hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
 

 
Ya Allah…Engkaulah satu-satunya Al-Khaliq (Maha Pencipta), seluruhnya selain Engkau adalah makhluk. 
 
Ya Allah…Engkaulah satu-satunya Al-Malik (Maha Raja), Penguasa di langit, di bumi, di lautan, di daratan dan di udara, dimanapun.
 
Ya Allah…Engkaulah satu-satunya Al-Mudabbir (Maha Pengatur) seluruh yang terjadi di bumi, di langit, di udara, dimanapun.
 
{ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ (59) أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ (60) أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (61) أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ (62) أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (63) أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (64) قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (65)} [النمل: 59 - 65]
 
Artinya: "Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?
 
"Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)".
 
"Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui".
 
"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?  Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya)".
 
"Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)".
 
"Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".
 
"Katakanlah: "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan". QS. An-Naml: 59-69.
 
{وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَى بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَذَلِكَ النُّشُورُ (9) مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ (10) وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (11){وَمَا يَسْتَوِي الْبَحْرَانِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ فِيهِ مَوَاخِرَ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (12) يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ (13)} [فاطر: 9 - 13]
 
Artinya: "Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu".
 
"Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah kemuliaan itu semuanya.  Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur".
 
"Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lohmahfuz).  Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah".
 
"Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur".
 
"Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari". QS. Fathir: 9-13.
 
Ya Allah…Engkaulah satu-satunya Al-Ghani (Maha Kaya), tidak membutuhkan apapun dan siapapun, seluruh makhluk sangat membutuhkan dan bergantung kepada-Mu.
 
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ} [فاطر: 15]
 
Artinya: "Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji". QS. Fathir: 15.
 
{لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ} [لقمان: 26]
 
Artinya: "Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji". QS. Luqman: 26
 
{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)} [الإخلاص: 1 - 4]
 
Artinya: "Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Sembahan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". QS. Al-Ikhlash: 1-4
 
Ya Allah…oleh sebab inilah kami tidak akan pernah beribadah kecuali hanya kepada-Mu…
 
Ya Allah…Engkaulah satu-satunya Al-Kabir (Maha Besar).
 
 
{وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (67)} [الزمر: 67]
 
Artinya: "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan". QS. Az-Zumar: 67.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ جَاءَ حَبْرٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَوْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُمْسِكُ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى إِصْبَعٍ وَالأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْجِبَالَ وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَسَائِرَ الْخَلْقِ عَلَى إِصْبَعٍ ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ فَيَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الْمَلِكُ. فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَعَجُّبًا مِمَّا قَالَ الْحَبْرُ تَصْدِيقًا لَهُ ثُمَّ قَرَأَ (وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ)
 
Artinya: "Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Seorang rahib Yahudi datang menemui Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata: "Wahai Muhammad atau wahai Abu al-Qasim,sesungguhnya Allah Ta'ala memegang langit-langit pada hari kiamat dengan satu jari, bumi dengan satu jari, gunung dan pohon dengan satu jari, air dan tanah dengan satu jari dan seluruh makhluk dengan satu jari, lalu Allah mengerak-gerakkan jari jemari tersebut dan berfirman: "Aku adalah Raja, Aku adalah Raja". Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tertawa karena merasa takjub dari apa yang telah dikatakan rahib tersebut, sebagai pembenaran apa yang telah ia katakan, kemudian beliau membaca:
 
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
 
Artinya: "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan".
 
Ya Allah…oleh sebab inilah kami tidak akan pernah beribadah kecuali hanya kepada-Mu…
 
Ya Allah…kami sangat yakin seluruh sembahan selain-Mu tidak punya apa-apa bahkan sampai kulit ari.
 
{يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ} [فاطر: 13]
 
Artinya: "Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari". QS. Fathir: 13.
 
Ya Allah…kami sangat yakin seluruh sembahan selain-Mu sangat lemah selemah rumah laba-laba.
 
{ مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ} [العنكبوت: 41]
 
Artinya: "Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui". QS. Al-Ankabut:41.
 
Ya Allah…sungguh lemahnya seluruh sembahan selain-Mu, sungguh mereka tidak bisa mencipta dan mempertahankan diri mereka sendiri, bahkan dari lalat sekalipun. bagaimana mereka bisa menolong selain mereka?!!
 
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ (73) مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (74)} [الحج: 73، 74]
 
Artinya: "Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu.Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah"."Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa". QS. Al-Hajj: 73-74.
 
Ya Allah…kami sangat yakin seluruh sembahan selain-Mu tidak akan pernah bisa mendengar permohonan kami, kalaupun mendengar maka mereka tidak akan bisa mengabulkan permohonan tersebut, bahkan nanti pada hari kiamat mereka jadi musuh orang yang menyembahnya.
 
{إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ} [فاطر: 14]
 
Artinya: "Jika kamu menyeru mereka (sembahan selain Allah), mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui". QS. Fathir: 14.
 
{وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ} [العنكبوت: 25]
 
Artinya: "Dan berkata Ibrahim: "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu mela'nati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun". QS. Al-'Ankabut: 25.
 
Ya Allah…Engkaulah satu-satunya Pencipta langit, bumi dan seluruh makhluk.
jika Engkau berkehendak mendatangkan mudarat kepada seseorang, maka seluruh sembahan selain-Mu tidak  ada yang bisa menolaknya.
 
jika Engkau berkehendak memberi rahmat kepada seseorang, maka seluruh sembahan selain-Mu tidak  ada yang bisa menahannya.
 
Mereka; seluruh sembahan selain-Mu adalah juga hamba-hamba-Mu yang lemah.
 
{ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ } [الزمر: 38]
 
Artinya: "Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri". QS. Az-Zumar: 38.
 
{خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ (10) هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (11) } [لقمان: 10، 11]
 
Artinya: "Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik". "Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah, sebenarnya orang-orang yang lalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata". QS. Luqman: 10-11.
 
{قُلْ أَرَأَيْتُمْ شُرَكَاءَكُمُ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا فَهُمْ عَلَى بَيِّنَتٍ مِنْهُ بَلْ إِنْ يَعِدُ الظَّالِمُونَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا إِلَّا غُرُورًا (40) إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا} [فاطر: 40، 41]
 
Artinya: "Katakanlah: "Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah.  Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Sebenarnya orang-orang yang lalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka". "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun". QS. Fathir: 40-41.
 
{ أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (191) وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ (192) وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَى لَا يَتَّبِعُوكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ أَدَعَوْتُمُوهُمْ أَمْ أَنْتُمْ صَامِتُونَ (193) إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (194)} [الأعراف: 191 - 194]
 
Artinya: "Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang". "Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan". "Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka atau pun kamu berdiam diri". "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar". QS. Al-A'raf: 191-194.
 
Ya Allah…kami sangat yakin seluruh sembahan selain-Mu tidak bisa memberi mudarat dan manfaat sedikitpun, bahkan mudaratnya sangatlah dekat daripada manfaatnya. 
 
{ قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [المائدة: 76]
 
Artinya: "Katakanlah: "Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". QS. Al-Maidah: 76.
 
 {وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ} [هود: 101]
 
Artinya: ”Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka". QS. Hud: 101.
 
{يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُ وَمَا لَا يَنْفَعُهُ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ (12) يَدْعُو لَمَنْ ضَرُّهُ أَقْرَبُ مِنْ نَفْعِهِ لَبِئْسَ الْمَوْلَى وَلَبِئْسَ الْعَشِيرُ (13)} [الحج: 12، 13]
 
Artinya: "Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh". "Ia menyeru sesuatu yang sebenarnya mudaratnya lebih dekat dari manfaatnya. Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat penolong dan sejahat-jahat kawan". QS. Al-Hajj: 12-13.
 
Ya Allah…kami sangat yakin seluruh sembahan selain-Mu, tidak memiliki apapun sampai seberat dzarrahpun.
 
{قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ } [سبأ: 22]
 
Artinya: "Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya". QS. Saba': 22
 
Ya Allah…lebih parah lagi…seluruh sembahan selain-Mu hanya makhluk dan tidak mampu menciptakan apapun.
 
{وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (20)} [النحل: 20]
 
Artinya: "Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang". QS. An-Nahl: 20.
 
Ya Allah…seluruh sembahan selain-Mu tidak bisa memberikan rizki apapun di langit dan di bumi.
 
{وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ شَيْئًا وَلَا يَسْتَطِيعُونَ} [النحل: 73]
 
Artinya: "Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit jua pun)". QS. An-Nahl: 73.
 
Ya Allah…Andaikata berhala-berhala itu sembahan yang berhak diibadahi, tentulah mereka tidak masuk neraka.
 
{ إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ (98) لَوْ كَانَ هَؤُلَاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ (99) لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمْ فِيهَا لَا يَسْمَعُونَ (100)} [الأنبياء: 98 - 100]
 
Artinya: "Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya". "Andaikata berhala-berhala itu tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya". "Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar". QS. Al-Anbiya': 98-100.
 
Ya Allah…setelah semua ini…
 
Kami sangat meyakini bahwa seorang yang beribadah baik dengan mendirikan sholat, berpuasa, membayar zakat, menunaikan haji, berdoa, mempunyai rasa takut, berharap, bertawakkal, berkeinginan, khusyu', meminta pertolongan, meminta perlindungan, meminta pertolongan dalam keadaan yang sangat sempit, menyembelih hewan, dan seluruh ibadah lainnya, jika diperuntukkan kepada selain-Mu, maka dia adalah orang yang paling sesat, karena dia beribadah kepada sembahan yang tidak akan pernah mengabulkan permintaannya sampai hari kiamat.
 
{قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (4) وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ (5)} [الأحقاف: 4، 5]
 
Artinya: "Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Qur'an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar". "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?". QS. Al-Ahqaf: 4-5.
 
Ya Allah…oleh sebab ini semualah kami tidak akan pernah beribadah kecuali hanya kepada-Mu…
 
{قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)} [الأنعام: 162، 163]
 
Artinya: "Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam". "Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". QS. al-An'am: 162-163.
 
Semoga bermanfaat, wallahu a'lam.
 
(Selesai ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad Zainuddin, Rabu sore, 4 Dzulhijjah 1431H di kota Dammam KSA)

 

"Terima Kasih Ya Nak... Atas Pemberiannya"

Sangat Sedih Rasanya.....Saat orang tuaku berkata kepadaku: "Terima kasih ya nak…, atas pemberiannya"

Si Fulan berkata kepada penulis: "Hati saya sangat sakit sekali, perasaan saya hancur, sedih, malu, haru, semua rasa bercampur, ketika orangtua saya berkata kepada saya: "Terima kasih ya nak…, atas pemberiannya",

Penulis bertanya: "Coba ceritakan dari awalnya, mungkin akan lebih jelas kejadiannya".

 
Si Fulan kemudian bercerita: "Ceritanya, orangtua saya minta dikirimi uang dalam jumlah tertentu, dan mereka berkata: "Kirimkan segera ya..",  maka hari itu saya langsung transfer permintaan tersebut kepada orangtua saya, besoknya saya telpon orangtua untuk memberitahukan bahwa uangnya sudah ditransfer, saya berkata kepada orangtua: "Semoga bermanfaat", mereka menjawab: "Uang yang kamu kirim itu sebenarnya, untuk beli celana panjang bapakmu, karena bapakmu mempunyai celana cuma satu, yang hijau itu aja, padahal beliau sering ikut kajian Islam, kalau celana kotor, maka beliau tidak bisa ikut kajian, yang jelas terima kasih ya nak…atas pemberiannya". 

Si fulan pun terdiam sejenak sambil mengatur nafas, menahan tangis, kemudian dia berkata: "Semoga orangtua saya diampuni oleh Allah Ta'ala dari segala dosa dan kesalahan serta diberikan husnul khatimah di akhir hidup mereka, Allahumma amin".
 
Kawan pembaca…
 
Cerita di atas adalah cerita nyata, penulis ketika mendengar cerita tersebut hanya bisa meneteskan air mata sambil mengingat-ingat ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallamtentang berbakti kepada kedua orangtua:
 
1. Perintah berbakti kepada orangtua disebutkan setelah perintah beribadah kepada Allah semata, hal ini menunjukkan akan sangat tingginya kedudukan berbakti kepada orangtua di dalam Islam.
 
 
{وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا} [الإسراء: 23]
 
Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia danhendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.  Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". QS. Al Isra: 23
 
2. Perintah berbakti kepada orangtua lebih ditekankan lagi ketika mereka sudah dalam keadaan lanjut usia, karena kalau sudah lanjut usia, mereka dalam keadaan:
 
a. kadang tidak mempunyai tempat tinggal akhirnya tinggal di tempat anaknya.
b. kadang tidak mempunyai penghasilan akhirnya mereka sering minta kepada anaknya.
c. kadang menginginkan sesuatu yang kurang bermanfaat, akhirnya membuat bingung anaknya.
d. Tua renta yang kesusahan mengerjakan kegiatan pribadi secara sewajarnya, seperti buang air besar, buang air kecil dan semisalnya yang menjijikkan, akhirnya anaknya yang mengurusnya.
 
Maka dari sinilah rahasianya, Allah Ta'ala memerintahkan kepada anak:
a. untuk berbakti kepada orangtua,
b. untuk jangan mengucapkan perkataan "ah" kepada mereka,
c. untuk jangan membentak dan mengucapkan perkataan yang baik kepada mereka,
terutama dalam keadaan mereka tua. Lihat Tafsir An Nasafi, 2/283.
 
Coba perhatikan hadits di bawah ini:
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ ».
 
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kehinaan baginya, kehinaan baginya, dan kehinaan baginya!!", lalu ada yang bertanya kepada beliau: “Bagi siapakah kehinaan itu wahai Rasulullah?”, Rasulullah  shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang mendapati kedua orangtuanya dalam keadaan tua (jompo), salah satunya atau keduanya kemudian ia tidak masuk surga". HR. Muslim
 
3. Sungguh tidak pantas seorang anak mendapatkan ucapan terima kasih dari orangtua, karena berbakti adalah kewajiban anak, mari perhatikan riwayat berikut: 
 
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى مَالاً وَوَلَدًا وَإِنَّ أَبِى يُرِيدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالِى فَقَالَ « أَنْتَ وَمَالُكَ لأَبِيكَ ».
 
Artinya: "Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma bercerita: "Sesungguhnya ada seseorang berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai harta dan anak dan sesungguhnya bapakku ingin mengambil/memusnahkan hartaku"?, Rasulullah shallallahu 'alaih wasallam menjawab: "Kamu dan hartamu adalah milik bapakmu". HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani.
 
Sungguh Indah perkataan Imam Qurthubi rahimahullah: “Orang yang bahagia adalah orang yang menggunakan kesempatan emas ini untuk berbakti kepada kedua orangtuanya agar ia tidak luput dari (kesempatan emas ini yaitu masuk surga) dengan meninggalnya kedua orangtuanya. Dan orang yang celaka adalah orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, terlebih lagi orang yang telah diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya”. Lihat Tafsir Al Qurthubi, 10/242.
 
Kawan pembaca…Baktilah…sebelum terlambat!
 
Ditulis oleh seorang anak yang menginginkan kedua orangtuanya dan seluruh orangtua kaum muslim masuk surga. Allahumma amin.
 
Ahmad Zainuddin,Dammam KSA, Selasa 14 Shafar 1432H.         

Beberapa Alasan Menolak Kebenaran

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, و صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Saudaraku pembaca yang budiman…
Kalau ada yang bertanya, "Kalau memang itu ajaran dan keyakinan  berdasarkan dari Al Quran dan As Sunnah serta dipahami oleh para shahabatradhiyallahu ‘anhum, lalu kenapa kebenaran itu tidak diikuti, diamalkan dan diajarkan, malah ditolak, dicela, diremehkan?"

Jawabannya saudaraku pembaca…
Ada beberapa perkara kenapa seseorang menolak kebenaran dan tidak mau mengikutinya alias "ngeyel" dalam kesalahan meskipun jelas-jelas keliru dan salah kaprah, perhatikan beberapa perkara berikut:
 
Pertama, Kebodohan
Kebodohan adalah penyakit mematikan, seseorang akan menjadi musuh yang paling sangar terhadap sesuatu yang ia bodoh di dalamnya, sebagaimana perkataan sebagian orang:
الناس أعداء ما جهلوا
"Manusia adalah musuh akan sesuatu yang ia tidak ia ketahui" 
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah mengatakan di dalam Nuniyyahnya:
والجهل داء قاتل وشفاؤه*** أمران في التركيب متفقان
نص من القرآن أو من سنة*** وطبيب ذاك العالم الرباني
"Dan kebodohan itu adalah penyakit yang mematikan, obatnya *** adalah dua perkara yang disepakati"
"(yaitu) nash dari Al Quran atau dari As Sunnah *** dan dokternya adalah seorang alim yang rabbani"

Dan kebodohan adalah salah satu tanda hari kiamat, mari perhatikan hadits di bawah ini:
(عن عَبْدِ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا)
Artinya: "Riwayat dari shahabat Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash radhiyallahu 'anhuma,beliau berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan mencabutnya dari manusia akan tetapi mengambilnya dengan mewafatkan para ulama, sampai jika tidak tersisa satu orang alimpun maka akhirnya manusia menjadikan pemimpin-pemimpin yang bodoh (sebagai pengganti ulama), lalu orang-orang yang bodoh tersebut ditanya dan memberi fatwa tanpa ilmu, maka akhirnya mereka sesat dan menyesatkan." HR. Bukhari dan Muslim.
(عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ ، وَتَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ ، وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ - وَهْوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ - حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمُ الْمَالُ فَيَفِيضُ)
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah hari kiamat datang sampai dicabut ilmu, banyak gempa, waktu saling mendekat, timbul fitnah-fitnah dan banyak al harj –yaitu pembunuhan, pembunuhan- sampai berlimpah diantara kalian harta sehingga berlimpah ruah." HR. Bukhari.
 
Al Quran Al Karim sudah menjelaskan bahwa, orang yang mengetahui tidak akan sama dengan yang tidak mengetahui dari segala sisi dan hanya orang yang berakal berilmu yang dapat menerima pelajaran, mohon perhatikan ayat yang suci ini:
{قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ} [الزمر: 9]  
Artinya: "Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?!" sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” QS. Az Zumar: 9.
 
Cara yang paling tepat untuk menghilangkan kebodohan ini adalah dengan menuntut ilmu dan selama ia menuntut ilmu maka selama itu pula ia dikatakan orang yang berilmu, coba perhatikan perkataan seorang ulama salaf yang terkenal dengan ilmunya yaitu Sa'id bin Jubair rahimahullah, beliau berkata:
(لاَ يَزَالُ الرُّجُلُ عَالماً مَا طَلَبَ العِلْمَ ، فَإِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ عَلِمَ فَقَدْ جَهِلَ)
Artinya: "Seseorang masih dikatakan alim selama ia menuntut ilmu, dan jika ia mengira bahwasanya ia telah mempunyai ilmu maka ia telah bodoh." Lihat Tadzkirat As Sami' wa Al Mutakallim, hal. 60.

Kedua, Taqlid buta terhadap kebiasaan nenek moyang yang salah
Kalau yang satu ini adalah kebiasaan orang-orang kafir, musyrik dan munafiq. Coba perhatikan firman Allah berikut ini:
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ} [البقرة: 170]
Artinya: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah", mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. Al-Baqarah: 170)
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ } [لقمان: 21]
Artinya: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (QS. Luqman: 21).

Dan perhatikanlah, bagaimana Nabi Ibrahim 'alihis salam mendebat mereka akan kebiasaan buruk mereka, hal ini tertuang di dalam firman Allah Ta'ala:
{وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ (51) إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ (52) قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ (53) قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (54) قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللَّاعِبِينَ (55) قَالَ بَلْ رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (56) وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ (57)} [الأنبياء: 51 - 57]
Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya"(51). "(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?"(52). "Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya"(53). "Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata"(54). "Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main"(55). "Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu"(56). "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya"(57). QS. Al Anbiya’: 51-57.

Cukuplah cerita Nabi Ibrahim 'alaihis salam ini sebagai pelajaran yang sangat berarti, bagi orang-orang yang masih bersikukuh dengan kebiasaan nenek moyangnya meskipun perbuatan nenek moyang tersebut sebuah kesalahan yang fatal.
 
Ketiga, Belum mendengar kebenaran sebelumnya, akhirnya kaget ketika diberitahukan akan kebenaran tersebut
 
Pada poin ini mari kita perhatikan perkataan kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam ketika mereka diajak untuk beriman hanya kepada Allah semata dan mempercayai bahwasanya beliau adalah seorang yang diutus oleh Allah untuk mereka:
{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ (23) فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ (24) إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ فَتَرَبَّصُوا بِهِ حَتَّى حِينٍ (25)} [المؤمنون: 23 - 26]
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa(kepada-Nya)?".(23) "Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.(24) "Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu"(25) QS. Al Mukminun : 23-25.

Sering kita mendengar, ada yang berkata: "Dia datang dengan sesuatu yang baru, kita tidak pernah mendengarnya dan mengenalnya", mari kita perhatikan riwayat di bawah ini:
(عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عَبَّادٍ الدِّيلِىِّ - وَكَانَ جَاهِلِيًّا أَسْلَمَ – فَقَالَ: َرأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَصَرَ عَيْنِى بِسُوقِ ذِى الْمَجَازِ يَقُولُ « يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تُفْلِحُوا ». وَيَدْخُلُ فِى فِجَاجِهَا وَالنَّاسُ مُتَقَصِّفُونَ عَلَيْهِ فَمَا رَأَيْتُ أَحَداً يَقُولُ شَيْئاً وَهُوَ لاَ يَسْكُتُ يَقُولُ « أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تُفْلِحُوا ». إِلاَّ أَنَّ ورَاءَهُ رَجُلاً أَحْوَلَ وَضِىءَ الْوَجْهِ ذُو غَدِيرَتَيْنِ يَقُولُ: إِنَّهُ صَابِئٌ كَاذِبٌ. فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوا: ُمحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ يَذْكُرُ النُّبُوَّةَ. قُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ الَّذِى يُكَذِّبُهُ قَالُوا عَمُّهُ أَبُو لَهَبٍ)
Artinya: "Dari Rabi'ah bin Abbad Ad Daili –pada waktu itu termasuk dari orang Jahiliyyah kemudian masuk ke dalam agama Islam-, beliau bercerita: "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan mata kepalaku di pasar Dzil Majaz, beliau menyeru: "Wahai manusia, katakanlah laa ilaaha illallahu, maka kalian akan beruntung", beliau memasuki gang-gangnya dan manusia mengerumuni beliau, tidak ada satupun yang mengatakan sesuatu dan beliau tidak diam, beliau berkata: "Wahai manusia, katakanlah laa ilaaha illallahu, maka kalian akan beruntung", akan tetapi dibelakangnya ada seseorang yang juling mata, bagus wajah, rambutnya dibelah dua, ia berkata: "Sesungguhnya ia adalah murtad, pendusta", aku bertanya: "Siapakah ini?" mereka menjawab: "Dia adalah Muhammad bin Abdullah, ia mengaku mendapatkan kenabian", aku bertanya lagi: "Lalu siapakah ini?", mereka menjawab: "Pamannya, Abu Lahab". Hadits riwayat Imam Ahmad di dalam Musnad dan disebutkan oleh Imam Al Albani di dalam Shahihus Sirah An Nabawiyyah (hal:143).

Keempat, Ghuluw (Sikap terlalu berlebihan-lebihan) dalam mengagungkan seseorang melebihi kedudukan sewajarnya
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata kepada seseorang yang bernama Al Harts bin Al Huth: "Sesungguhnya kebenaran itu tidak dikenal karena orangnya akan tetapi ketauhilah kebenaran maka anda akan tahu orang yang mempunyai kebenaran". Lihat kitab Talbis Iblis, hal: 101.

Kebenaran itu akan selalu ada dan ia adalah satu-satunya cara untuk mengetahui kebenaran seseorang, jadi kebenaran adalah sarana yang menilai seseorang, ia adalah timbangan dan standar kebenaran itu sendiri.

Ketauhilah… Semoga Allah merahmati kita selalu, bahwa ghuluw terhadap seseorang bisa menyebabkan butanya mata hati untuk membedakan antara yang benar dan salah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang umatnya untuk terlalu ghuluw terhadap seseorang sehingga tidak masuk kepada kehancuran yang di dapatkan umat-umat sebelum umatnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:
(عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما سَمِعَ عُمَرَ - رضى الله عنه - يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ: سَمِعْتُ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « لاَ تُطْرُونِى كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ »)
Artinya: "Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya beliau telah mendengar Umar radhiyallahu 'anhu berkata diatas mimbar: "Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian berlebihan memuji-muji aku sebagaimana orang-orang Nashrani memuji Isa bin Maryam, karena sesungguhnya aku adalah hanya hamba, maka katakanlah: "Hamba Allah dan utusan-Nya". Hadits riwayat Al Bukhari, no. 3445.
 
Ghuluw mendatangkan akibat yang sangat buruk, coba perhatikan –semoga Allah merahmati kita-:
{اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ} [التوبة: 31]
Artinya: "Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." QS. At Taubah: 31.
 
Akibat buruk ini juga sangat dimengerti oleh para shahabat Nabi Muhammad ridhwanullahi 'alaihim, mari kita perhatikan perkataan pakar tafsir yang disebut habrul ummah oleh para ulama, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma ketika ada orang menentang As Sunnah dengan perkataan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma:
(يُوشكُ أَنْ تَنزلَ عَليكُم حِجارة من السماءِ ؛ أَقولُ لَكُم : قالَ رسولُ الله- صلى الله عليه وعلى آله وسلمَّ- وتقُولونَ : قالَ أَبو بكر وعُمر )
Artinya: "Hampir saja turun kepada kalian batu-batuan dari langit, aku mengatakan kepada kalian: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda", tapi kalian malah mangatakan: "Abu Bakar dan Umar berkata (demikian)." Hadits riwayat Ahmad (no. 3121).

Dan tidak bersikap ghuluw terhadap seseorang juga dipraktekkan oleh para imam ahlus sunnah, diantaranya imam ahlus sunnah Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika beliau ditanya tentang penulisan buku-buku filsafat, beliau menyarankan untuk menulis hadits dan riwayat-riwayat saja, lalu si penanya menyatakan bahwa Abdullah bin Mubarak –seorang imam, ahli ilmu, ibadah, wara', zuhud yang sangat terkenal di zamannya, rahimahullah menulis akan hal tersebut, lalu dijawab oleh Imam Ahmad rahimahullah:
ابْنُ المُبَارَك لَمْ يَنْزِلْ مِنَ السَّمَاءِ إِنَّمَا أَمَرَنَا أَنْ نَأْخُذَ العِلْمَ مِنْ فَوْق
Artinya: "Ibnul Mubarak tidak turun dari langit, kita hanya diperintahkan mengambil ilmu dari fauq (Artinya dari atas dan maksudnya berasalkan dari Al Quran dan As Sunnah)." Lihat kitab: Thabaqat Al Hanabilah (1/131).   

Kelima, Bertaqlid kepada seorang pandai tapi sesat atau ahli ibadah yang bodohAllah Ta'ala berfirman di dalam Al Quran Al Karim:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ } [التوبة: 34]
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari al ahbar (orang-orang alim Yahudi) dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih." QS. At Taubah: 34.
 
Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah: "As Suddi berkata: "Al Ahbar dari Yahudi dan ar rahib dari Nashrani", dan memang maknanya adalah seperti yang dikatakan, karena sesungguhnya al ahbar adalah para ulama Yahudi, sebagaimana firman Allah Ta'ala di dalam surat Al Ma-idah ayat 63".

Kemudian beliau berkata juga: "Dan maksud dari ayat ini adalah peringatan dari para ulama buruk dan para ahli ibadah yang menyesatkan, sebagaimana perkataaan Sufyan bin 'Uyainah: "Siapa yang rusak dari para ulama kita maka di dalam dirinya ada persamaan dengan orang-orang Yahudi dan siapa yang rusak dari para ahli ibadah kita maka di dalam dirinya ada persamaan dengan orang-orang Nashrani". Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (4/137-138).
 
Keenam, Kesombongan
Sebagian manusia menolak kebenaran karena sebuah sifat yaitu al kibru atau kesombongan, Allah Ta'ala kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memperingatkan kepada umat Islam akan buruknya sifat kesombongan, mari kita perhatikan nash-nash di bawah ini:

- Allah tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri:
{إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ} [النحل: 23]

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong". QS. An Nahl: 23.
- Ayat yang lain:
{مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ} [لقمان: 28]
Artinya: "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." QS. Luqman: 18.

- Orang-orang yang sering mendebat ayat-ayat Allah, di dalam diri mereka ada kesombongan:
{إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} [غافر: 56]
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." QS. Ghafir: 56.
- Surga bukan tempat bagi orang-orang yang sombong dan menginginkan kedudukan tinggi di dunia
{ تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ } [القصص: 83]
Artinya: "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” QS. Al Qashash: 83.
 
- Tidak masuk surga seseorang yang mempunyai sifat sombong meskipun sedikit
(عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ »)
Artinya: "Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat dzarrah.” Hadits riwayat Muslim (no. 91) dan At Tirmidzi (no. 2130).
 
Ibnu Hajar berkata: "Makna dzarrah, dikatakan adalah sesuatu yang paling kecil ditimbang dan dikatakan pula adalah sinar yang terlihat di cahaya Matahari seperti ujung jarum, dikatakan pula maknanya adalah semut kecil." Lihat: Fathul Bari, karya Ibnu Hajar (1/70).
 
- Akibat sombong kebenaran ditolak dan manusia direndahkan
(الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ)
Artinya: "Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia". Hadits riwayat Muslim (no. 91).

Imam Muhammad bin Ahmad Adz Dzahabi rahimahullah berkata: "Sebagian salaf Ash Shalih (Orang-orang terdahulu dari para shahabat, tabi'in dan tabi' at tabi'in ) mengatakan: "Dosa pertama kali yang dimaksiati Allah dengannya adalah kesombongan, Allah Ta'ala berfirman:
{وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ} [البقرة: 34]
Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir". QS. Al Baqarah: 34. 

Imam Adz Dzahabi berkata: "Maka barangsiapa yang menyombongakan diri sebagaimana yang dikerjakan oleh Iblis maka tidak akan bermanfa'at keimanannya." (Lihat: Al Kabair, karya Imam Adz Dzahabi hal. 194)
 
Ketujuh, Fanatisme (At Ta'ashshub)
Kebenaran akan ditolak jika terdapat sikap fanatisme di dalam menghadapi sebuah perkara, karena sifat fanatisme ini akan menjadikan ditolaknya argumen atau pendapat yang  tidak sesuai dengan pegangan seseorang yang mempunyai sikap fanatisme.

Kedelapan, Hasad
Orang Yahudi tidak mengakui kenabian Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallambukan karena tidak mengetahui bahwasanya beliau adalah Rasulullah akan tetapi salah satu sebabnya adalah hasad. Perhatikan cerita ini:
Ibnu Hisyam di dalam kitab sejarahnya menyebutkan sebuah cerita tentang Ummul Mukminin Shafiyyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Aku adalah anak yang paling dicintai oleh bapakku dan pamanku Abu Yasir, tidak pernah sama sekali aku bertemu dengan keduanya dan mereka berdua bersama anak mereka, kecuali aku diikutkan, kemudian ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sampai ke kota Madinah, dan singgah di daerah Quba, tempatnya Bani 'Amr bin 'Auf, pergilah bapakku Huyay bin Ahkthab dan pamanku Abu Yasir bin Akhthab pada waktu pagi hari, dan mereka tidak pulang kecuali ketika menjelang terbenam matahari, mereka berdua datang dalam keadaan capek dan letih, berjalan dengan pelan sekali. Lalu aku menemui mereka berdua dengan senang hati sebagaimana biasanya, maka demi Allah tidak satupun dari keduanya menoleh kepadaku, akibat rasa susah yang mereka rasakan, dan aku mendengar pamanku bertanya kepada bapakku Huyay bin Akhthab: "Apakah memang benar dia (yaitu Nabi yang dijanjikan di dalam kitab Taurat-pent)?", bapakku menjawab: "Iya, demi Allah", pamanku bertanya lagi: "Apakah kamu mengetahuinya dan menetapkannya?", dijawab oleh bapakku: "Iya", kemudian pamanku bertanya: "Lalu bagaimana sikap yang ada di dalam dirimu tentangnya?", bapakku menjawab: "Memusuhinya selama aku masih hidup". Lihat: As Sirah An Nabawiyyah, karya Ibnu Hisyam (1/518-519).

Cerita dengan alur yang sama juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya tentang seorang shahabat yang bernama Abdullah bin Salam yang masuk Islam, setelah beliau mengajukan beberapa pertanyaan kepada Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam kemudian dijawab oleh beliau dengan jawaban yang benar dan akhirnya Abdullah bin Salam menyatakan dirinya masuk ke dalam Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi ia berkata kepada Nabi Muhammad shallallhu 'alaihi wasallam:
(يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ الْيَهُودَ قَوْمٌ بُهُتٌ ، فَاسْأَلْهُمْ عَنِّى قَبْلَ أَنْ يَعْلَمُوا بِإِسْلاَمِى ، فَجَاءَتِ الْيَهُودُ فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « أَىُّ رَجُلٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلاَمٍ فِيكُمْ » . قَالُوا خَيْرُنَا وَابْنُ خَيْرِنَا وَأَفْضَلُنَا وَابْنُ أَفْضَلِنَا . فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَسْلَمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلاَمٍ » . قَالُوا أَعَاذَهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ . فَأَعَادَ عَلَيْهِمْ ، فَقَالُوا مِثْلَ ذَلِكَ ، فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ عَبْدُ اللَّهِ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ . قَالُوا شَرُّنَا وَابْنُ شَرِّنَا . وَتَنَقَّصُوهُ . قَالَ هَذَا كُنْتُ أَخَافُ يَا رَسُولَ اللَّهِ)
Artinya: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah orang-orang penipu, maka tanyalah mereka sebelum mereka mengetahui tentang bahwa aku sudah Islam." Kemudian datanglah orang-orang Yahudi dan ditanya oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam: "Bagaimanakah menurut kalian Abdullah bin Salam?" mereka menjawab: "(Dia adalah) orang yang paling baik dari kami dan anak dari seorang yang paling baik", lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallambertanya lagi: "Bagaimana pendapat kalian jika Abdullah bin Salam masuk Islam?"mereka menjawab: |"Semoga Allah melindunginya dari hal itu," kemudian Nabi mengulangi pertanyaan beliau dan dijawab dengan jawaban yang sama, maka keluarlah Shahabat Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu menuju mereka dan mengucapkan: "Asyhadu an laa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadar Rasulullah," lalu orang-orang Yahudi berkata: "(Dia adalah) orang yang paling buruk diantara kami dan anak yang paling buruk diantara kami." Dan merekapun merendahkannya (Abdullah bin Salam), dan beliau berkata: "Hal inilah yang aku takutkan, wahai Rasulullah." Hadits riwayat Bukhari (no. 3329).

Kesembilan, Keyakinan seseorang bahwa menerima kebenaran akan menjauhkan  kedudukannya
Mari kita perhatikan hadits di bawah ini, semoga Allah Ta'ala memberikan ilmu yang bermanfa'at bagi kita dan seluruh kaum muslimin:
"Dari shahabat Abdullah bin Abbasradhiyallahu 'anhuma beliau berkata, saya telah diberitahukan oleh Abu Sufyan dari mulutnya langsung ke mulut saya, beliau berkata: "Aku pergi tatkala ada perkara antaraku dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, suatu saat ketika aku berada di negeri Syam didatangkan surat dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallamkepada Heraklius, yang membawanya adalah Dihyah Al Kalbi radhiyallahu 'anhu,kemudian diberikan kepada raja Bushra dan raja Bushra memberikannya kepada Heraklius, kemudian Heraklius berkata: "Apakah disini ada orang yang berasal dari kampung orang yang mengaku dirinya nabi ini?" lalu orang-orang pun menjawab:"Iya", kemudian aku dipanggil bersama sebagian orang-orang Quraisy lalu aku masuk menemui Heraklius, kemudian kami didudukkan di hadapannya, dan ia bertanya:"Siapakah di antara kalian yang paling dekat keturunannya dengan orang yang mengaku menjadi nabi itu?" Kemudian aku (Abu Sufyan) menjawab: "Saya," kemudian mereka mendudukkanku di depannya, dan mendudukkan kawan-kawanku di belakangku. Kemudian ia memanggil ahli terjemahnya dan berkata: "Katakan kepada mereka, aku akan bertanya tentang orang yang mengaku sebagai Nabi tersebut, jika orang ini berbohong maka dustakanlah ia", berkata Abu Sufyan: "Demi Allah, jikalau mereka tidak menghalangiku untuk berbohong maka niscaya aku bohongi mereka," kemudian ia berkata kepada penerjemahnya: "Tanya dia, bagaimanakah keturunannya diantara kalian?" aku menjawab: "Ia diantara kami adalah orang yang mempunyai keturunan yang tinggi," ia bertanya: "Apakah nenek moyang keturunan dari raja?" aku jawab: "Tidak," lalu ia bertanya: "Apakah pernah kalian menuduhnya berbohong sebelum ia mengatakan apa yang ia katakan sekarang?" aku jawab:"Tidak", ia bertanya: "Apakah yang mengikutinya orang-orang yang terhormat atau orang-orang yang lemah dari mereka?" aku menjawab: "Yang mengikutinya adalah orang-orang yang lemah" ia bertanya: "Apakah mereka bertambah banyak atau berkurang?" aku menjawab: "Tidak, bahkan bertambah," ia bertanya: "Apakah ada seseorang yang murtad dari agamanya setelah masuk ke dalamnya, disebabkan marah terhadapnya?" aku menjawab: "Tidak," Ia bertanya: "Apakah kalian memeranginya?" aku menjawab: "Iya" ia bertanya: "Lalu bagaimanakah peperangan kalian melawannya?" aku menjawab: "Peperangan diantara kami dan dia seimbang, dia bisa mengalahkan kami dan kami bisa mengalahkannya," ia bertanya: "Apakah dia mengingkari perjanjian?" aku menjawab: "Tidak dan kami pada masa perjanjian ini tidak mengetahui apa yang ia kerjakan," ia berkata: "Demi Allah aku tidak mengatakan kecuali hal ini," ia bertanya: "Apakah ada yang mengatakan perkataan ini sebelumnya?" aku menjawab: "Tidak," kemudian ia berkata kepada penerjemahnya: "Katakan kepadanya, aku telah bertanya kepada Anda tentang keluarganya diantara kalian dan anda mengaku bahwasanya ia (yang mengaku jadi nabi-pent) diantara kalian mempunyai keluarga yang mulia, dan demikian pula para rasul diutus di dalam kemuliaan leluhurnya, dan saya telah bertanya kepada anda, apakah di dalam nenek moyangnya adalah seorang raja, maka anda mengaku tidak, lalu aku katakan jikalau dari nenek moyangnya ada seorang raja, maka aku katakan ia meminta kerajaan nenek moyangnya, dan saya bertanya kepada anda tentang pengikutnya, apakah orang-orang yang lemah atau yang mulia, lalu anda menjawab orang-orang yang lemah mereka maka mereka adalah pengikut para rasul, dan saya bertanya kepada anda, apakah kalian menuduhnya berbohong sebelum ia mengatakan apa yang ia katakan, maka anda mengaku tidak, maka akupun mengetahui bahwasanya ia tidak pernah meninggalkan dusta kepada manusia kemudian ia berdusta terhadap Allah, dan saya bertanya kepada anda, apakah ada seorang dari mereka yang murtad dari agamanya setelah ia masuk ke dalamnya disebabkan karena murka kepadanya, maka anda menjawab tidak, maka demikianlah iman jika bercampur dengan kelegaan hati, dan saya bertanya kepada anda apakah mereka bertambah atau berkurang, maka anda menjawab bahwasanya mereka bertambah jumlahnya, demikianlah keimanan ketika sempurna, dan saya bertanya kepada anda, apakah kalian memeranginya, maka anda mengaku bahwasanya kalian memeranginya dan peperangan diantara kalian dengannya seimbang, ia bisa mengalahkan kalian dan kadang kalian mengalahkannya maka demikianlah para rasul diberi ujian, kemudian akhirnya bagi mereka kesudahan perkara, dan saya bertanya kepada anda apakah ia melanggar perjanjian maka anda mengaku bahwasanya ia tidak melanggar perjanjian, dan demikian pula para rasul mereka tidak mengingkari perjanjian, dan saya bertanya kepada anda, apakah ada seseorang yang mengatakan seperti perkataan ini sebelumnya, maka anda mengaku tidak, maka saya mengatakan jikalau ada seseorang telah mengatakan perkataan ini sebelumnya maka akan saya katakan bahwa ia mengikuti sebuah perkataan yang dikatakan sebelumnya," kemudian ia bertanya: "Dengan apa ia menyuruh kalian?"maka aku jawab: "Menyuruh kami mengerjakan shalat, membayar zakat, menyambung tali silaturrahim, dan memiliki sifat 'afaf" (tidak meminta-minta), kemudian ia berkata: "Jika benar apa yang anda katakan maka ia sesungguhnya adalah seorang nabi, dan aku telah mengetahui bahwasanya ia akan benar-benar datang, dan aku tidak mengira bahwasanya ia dari kalian (orang Arab). Jikalau aku mengetahui aku bisa menemuinya maka sungguh aku akan mencintainya, dan seandainya aku di sisinya niscaya aku akan basuh kedua telapak kakinya, dan sungguh pasti kekuasaannya akan sampai kepada apa yang di bawah kedua telapak kakiku." Kemudian ia meminta surat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu membacanya, di dalamnya tertulis: "Dengan Nama Allah Ar Rahman Ar Rahim, dari Muhammad Rasulullah kepada Heraklius pemimpin agung Romawi, semoga keselamatan atas yang mengikuti petunjuk, Amma ba'du: sesungguhnya saya mengajakmu dengan panggilan Islam, masuklah ke dalam agama Islam maka anda akan selamat, dan masuklah ke dalam Islam maka Allah akan memberikan kepadamu dua kali lipat ganjaran, dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya atasmu dosa Al Arisiyyin."  (Maksudnya adalah para petani dan para tukang kebun di daerah itu, lihat: Fath Al Bari, karya Ibnu Hajar (12/412) dan Al Minhaj Syarah Shahih Muslim (6/226).

Dan Allah berfirman:
{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ} [آل عمران: 64]
Artinya: "Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." QS. Ali Imran: 64.

Setelah membaca surat orang-orang di sekitarnya saling bersahutan dengan suara keras dan terjadi kegaduhan, lalu kami diperintahkan untuk keluar. Aku berkata kepada kawan-kawanku ketika kami keluar, perkara Ibnu Abi Kabsyah (Yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, orang kafir Quraisy menjulukinya seperti itu sebagai ejekan terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Lihat: Fath Al Bari, karya Ibnu Hajar (12/412) dan kitab Al Minhaj Syarah shahih Muslim (2/226).) Sudah besar sampai-sampai ditakuti oleh orang-orang Bani Ashfar (Yaitu orang-orang Romawi, maksudnya agama atau ajaran yang dibawa Rasulullah semakin kuat, menyebar dan besar sampai diatkuti oleh orang Romawi yang waktu itu merupakan salah satu imperium terbesar. Lihat: Fath Al Bari, karya Ibnu Hajar (9/452) dan Al Minhaj Syarah Shahih Muslim (2/226).) Maka masih saja aku yakin dengan perkara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau akan menang sampai akhirnya Allah memasukkanku ke dalam agama Islam", Az Zuhri berkata: "Kemudian Heraklius memanggil para petinggi kerajaan Romawi dan mengumpulkan mereka di dalam rumahnya, kemudian berkata: "Wahai orang-orang Romawi, apakah kalian menginginkan keberuntungan dan petunjuk sampai akhir zaman, dan tetap kekuasaan kalian?" Maka merekapun melarikan diri sebagaimana keledai-keledai liar berlarian mencari jalan keluar ke pintu-pintu, dan ternyata mereka mendapatkan pintu-pintu tersebut tertutup, kemudian Heraklius berkata: "Datangkanlah mereka kepadaku", kemudian di datangkanlah mereka, lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku menguji kekuatan kalian atas agama kalian, dan aku telah melihat dari kalian yang aku senangi", maka akhirnya mereka sujud kepadanya dan merekapun meridhainya". Hadits riwayat Al Bukhari (no. 7) dan Muslim (no. 4707).

Dari riwayat yang panjang di atas, dapat diambil pelajaran bagaimana kekuasaan dan tahta adalah salah satu faktor yang menyebabkan manusia menolak kebenaran, lihatlah Heraklius yang telah benar-benar mengetahui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang rasul Allah yang diutus ke muka bumi ini akan tetapi ketika melihat rakyatnya meninggalkannya akibat pernyataannya maka iapun enggan masuk ke dalam agama Islam ini, enggan menerima kebenaran. Wallahu a'lam.

Kesepuluh, Pernyataan-pernyataan yang jauh dari kebenaran, misalnya:
- Kebenaran itu bersama golongan mayoritas. Pernyataan ini dibantah oleh nash-nash dari ayat-ayat Al Quran ataupun hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, karena tidak semua yang mayoritas itu selalu benar:
{ وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ (116) إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (117)} [الأنعام: 116، 117]
Artinya: "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)."[116] "Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk"[117]. QS. Al An’am: 116-117.
{وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ} [يوسف: 103]
Artinya: "Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya". QS. Yusuf: 103.
{إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ} [ص: 24]
Artinya: "…Kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini…". QS. Shaad: 24.
(عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن عَمْرٍو  رضي الله عنهما, قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:"طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ"، قُلْنَا: وَمَا الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ:"قَوْمٌ صَالِحُونَ قَلِيلٌ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ")
Artinya: "Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kebahagiaan bagi yang ghuraba-", kami bertanya: "Lalu siapakah ghuraba-'?" beliau menjawab: "Orang-orang shalih sedikit di tengah-tengah manusia buruk yang banyak, yang menentang mereka lebih banyak daripada yang mengikuti." Hadits riwayat Ahmad (no. 6650) dan Ath Thabarani di dalam Al Mu'jamul  Kabir (no. 1457) serta dishahihkan oleh Imam Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah (no. 1619).

- Kelemahan dan minoritas pengikutnya adalah tanda bahwasanya sesuatu itu salah, penyataan ini bertentangan dengan beberapa dalil di bawah ini:
{ قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ} [الشعراء: 111]
Artinya: "Mereka berkata: "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" QS. Asy Syu’ara: 111.
(عن ابْنُ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - :"عُرِضَتْ عَلَىَّ الأُمَمُ ، فَجَعَلَ النَّبِىُّ وَالنَّبِيَّانِ يَمُرُّونَ مَعَهُمُ الرَّهْطُ ، وَالنَّبِىُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ")
Artinya: "Dari Abdullah bin Abbas, radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam"Diperlihatkan kepadaku beberapa umat manusia, ada seorang nabi dan dua orang nabi berjalan sedang bersama mereka sekelompok orang, dan ada seorang nabi tidak ada seorangpun bersamanya." Hadits riwayat Al Bukhari (no. 5705) dan Muslim (no. 549).

Kesebelas, Mengikuti hawa nafsu maka akhirnya kebenaran ditolak
Salah satu penyebab terbesar kenapa seorang masih saja mengerjakan perbuatan syirik padahal ia mengetahui bagaimana bahayanya akibat dari perbuatan tersebut atau kenapa seseorang masih melakukan perbuatan bid'ah padahal jelas-jelas hal tersebut tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah mengikuti hawa nafsu.
Allah Ta'ala berfirman: 
{أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ} [الجاثية: 23]
Artinya: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" QS. Al Jatsiyah: 23.
 
Sudah tahu yang benar, kenapa masih disembunyikan
Sebagian manusia mengetahui kebenaran akan tetapi ia menyembunyikannya, penyebabnya diantaranya:

1. Takut memberitahukan yang benar karena kecintaan kepada teman
Ini bertentangan dengan manhaj para shalaf Ash shalih. Mari kita perhatikan riwayat berikut ini:
(عن هُزَيْلِ بْنِ شُرَحْبِيلَ قَالَ سُئِلَ أَبُو مُوسَى عَنِ ابْنَةٍ وَابْنَةِ ابْنٍ وَأُخْتٍ فَقَالَ لِلاِبْنَةِ النِّصْفُ وَلِلأُخْتِ النِّصْفُ ، وَأْتِ ابْنَ مَسْعُودٍ فَسَيُتَابِعُنِى . فَسُئِلَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأُخْبِرَ بِقَوْلِ أَبِى مُوسَى فَقَالَ لَقَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُهْتَدِينَ ، أَقْضِى فِيهَا بِمَا قَضَى النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « لِلاِبْنَةِ النِّصْفُ ، وَلاِبْنَةِ ابْنٍ السُّدُسُ تَكْمِلَةَ الثُّلُثَيْنِ ، وَمَا بَقِىَ فَلِلأُخْتِ » . فَأَتَيْنَا أَبَا مُوسَى فَأَخْبَرْنَاهُ بِقَوْلِ ابْنِ مَسْعُودٍ ، فَقَالَ لاَ تَسْأَلُونِى مَا دَامَ هَذَا الْحَبْرُ فِيكُمْ")
Artinya: "Dari Hudzail bin Syurahbil, beliau berkata: "Abu Musa radhiyallahu 'anhu ditanya tentang (bagian yang didapat dari harta warisan) bagi seorang anak perempuan dan seorang cucu perempuan dari anak laki-laki dan seorang saudara perempuan, Abu Musa menjawab: "Bagi anak perempuan mendapatkan bagian setengah dan suadara perempuan juga setengah. Datangilah Abdullah bin Mas'ud maka ia akan mengikutiku", lalu Abdullah bin Mas'ud ditanya dan diberitahukan perihal pendapat Abu Musa Al Asy'ari, beliau berkata: "Sungguh aku telah sesat kalau begitu dan bukanlah aku termasuk dari orang-orang yang diberi petunjuk (jika aku mengambil pendapatnya Abu Musa), aku akan menghukumi permasalahan ini dengan apa yang telah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tentukan; anak perempuan mendapat bagian setengah, cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam sebagai penyempurnaan dua pertiga dan sisanya bagi saudari wanita". Kemudian kami mendatangi Abu Musa dan kami beritahukan pendapat Abdullah bin Mas'ud, maka beliau berkata: "Janganlah kalian tanya aku selama ada ulama ini diantara kalian". Hadits riwayat Al Bukhari (no. 6736).

Dari riwayat di atas, kita perhatikan bagaimana seorang shahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu tidak segan-segan mengatakan yang benar meskipun menyelisihi teman beliau yaitu shahabat Abu Musa radhiyallahu 'anhu.
 
Begitulah para shalaf Ash shalih, salah satu manhaj dalam beragama yang mereka ajarkan adalah jauh dari sikap berlebih-lebihan, sebagaimana dalam perkataan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
(مَنْ كان مُسْتنّا فَلْيَسْتن بمَنْ قَدْ مَاتَ أولئكَ أَصْحابُ مُحمد - صلى الله عليه وسلم - كانوا خَيرَ هذه الأمَّة ، وأَبَرها قُلوبا ، وأَعْمقَها عِلْما ، وأَقَلّها تَكلفا ، قَوم اخْتارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَة نَبيه - صلى الله عليه وسلم - ونَقلِ دينه فَتَشبَّهوا بأَخْلاقِهِم وطَرائِقِهم ؛ فَهُمْ كانوا عَلَى الهَدْي المُستقِيم)
Artinya: "Barangsiapa yang bersuri tauladan maka bersuri tauladanlah dengan orang yang sudah meninggal, yaitu para shahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam mereka adalah orang-orang yang paling baik dari umat ini, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling  jarang membebani diri dengan sesuatu yang tidak syar'i. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah untuk bershahabat dengan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam dan dipilih untuk menyampaikan agama beliau, maka serupakanlah kalian dengan budi pekerti mereka dan jalan-jalan mereka, karena mereka berada diatas petunjuk yang lurus."Diriwayatkan oleh Al Baghawi di dalam kitab Syarhus Sunnah (1/214) dan Ibnu Abdil Barr di dalam Jami' bayan Al ilm wa fadhlih (2/97).

2. Tekanan sosial
Seseorang menyembunyikan kebenaran akibat tekanan sosial yang ia dapatkan, mari kita baca riwayat di bawah ini:
(عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما: أَنَّ هِلاَلَ بْنَ أُمَيَّةَ قَذَفَ امْرَأَتَهُ عِنْدَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - بِشَرِيكِ بْنِ سَحْمَاءَ ، فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - «الْبَيِّنَةَ أَوْ حَدٌّ فِى ظَهْرِكَ» . فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا رَأَى أَحَدُنَا عَلَى امْرَأَتِهِ رَجُلاً يَنْطَلِقُ يَلْتَمِسُ الْبَيِّنَةَ . فَجَعَلَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ «الْبَيِّنَةَ وَإِلاَّ حَدٌّ فِى ظَهْرِكَ» فَقَالَ هِلاَلٌ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ إِنِّى لَصَادِقٌ ، فَلَيُنْزِلَنَّ اللَّهُ مَا يُبَرِّئُ ظَهْرِى مِنَ الْحَدِّ ، فَنَزَلَ جِبْرِيلُ ، وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ (وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ) فَقَرَأَ حَتَّى بَلَغَ (إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ) فَانْصَرَفَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا فَجَاءَ هِلاَلٌ ، فَشَهِدَ ، وَالنَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ «إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ أَنَّ أَحَدَكُمَا كَاذِبٌ فَهَلْ مِنْكُمَا تَائِبٌ» . ثُمَّ قَامَتْ فَشَهِدَتْ فَلَمَّا كَانَتْ عِنْدَ الْخَامِسَةِ وَقَّفُوهَا ، وَقَالُوا إِنَّهَا مُوجِبَةٌ . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَتَلَكَّأَتْ وَنَكَصَتْ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهَا تَرْجِعُ ثُمَّ قَالَتْ لاَ أَفْضَحُ قَوْمِى سَائِرَ الْيَوْمِ ، فَمَضَتْ . فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « أَبْصِرُوهَا فَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أَكْحَلَ الْعَيْنَيْنِ سَابِغَ الأَلْيَتَيْنِ خَدَلَّجَ السَّاقَيْنِ ، فَهْوَ لِشَرِيكِ بْنِ سَحْمَاءَ » . فَجَاءَتْ بِهِ كَذَلِكَ ، فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « لَوْلاَ مَا مَضَى مِنْ كِتَابِ اللَّهِ لَكَانَ لِى وَلَهَا شَأْنٌ »)
Artinya: "Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa Hilal bin Umayyah menuduh istrinya berzina dengan Syarik bin Sahma-' di depan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Hilal: "Bukti atau cambuk di atas punggungmu", dijawab oleh Hilal: "Wahai Rasulullah jika salah seorang diantara kita melihat seseorang di atas istri kita, apakah kita harus mencari bukti (lagi)", dan masih saja Nabi mengucapkan: "Bukti atau cambuk di atas punggungmu", kemudian Hilal berkata: "Demi yang mengutusmu dengan kebenaran sungguh aku adalah seorang yang jujur, maka niscaya Allah akan benar-benar menurunkan sesuatu yang melepaskan punggungku dari cambukan, kemudian datanglah Jibril dan menurunkan kepada beliau, ayat:
{وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ (6) وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (7) وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ (8) وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ (9)} [النور: 6 - 9]
Artinya: "Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. [6] Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.[7] Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta.[8] dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar[9]". QS. An Nur: 6-9.

Kemudian Nabipun pulang dan meminta didatangkan istri (Hilal) dan datanglah Hilal bersaksi. Lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa salah seorang dari kalian berdua telah berdusta, apakah ada diantara kalian yang bertaubat?" kemudian si istri berdiri dan bersaksi, lalu ketika sumpah yang kelima kali mereka menghentikannya dan mereka berkata:"Sesungguhnya sumpah yang kelima itu mewajibkan", berkata Abdullah bin Abbasradhiyallahu 'anhuma: "Lalu si istri inipun agak melambatkan dan mundur sehingga kami mengira bahwa ia akan mencabut kembali pernyataannya kemudian ia berkata:"Aku tidak akan menghinakan kaumku pada seluruh hari ini", kemudian ia pergi. Lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah kalian perhatikan wanita tersebut, jika ia melahirkan bayi yang matanya sangat hitam, pantatnya gemuk, gempal betisnya, maka ia adalah milik Syarik bin Sahma-'",ternyata memang ia melahirkan yang demikian itu, lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kalau bukan saja telah ada di dalam Al Quran maka niscaya akan ada sesuatu diantara aku dan ia". Hadits riwayat Al Bukhari (no. 4747).

Begitulah bagaimana akhirnya seseorang menyembunyikan kebenaran karena tidak mau mendapatkan tekanan sosial dari negara, kabilah, masyarakat, guru, murid, para pengikut dan lain-lainnya. Maka wajar kalau sering terdengar perkataan: "Jangan melawan arus, ikuti orang banyak aja, selamat". Hal ini jualah –setelah taqdir Allah Ta'ala- yang menjadikan paman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam Abu Thalib menolak untuk masuk ke dalam agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam, mari kita perhatikan riwayat di bawah ini:
(عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ: أَخْبَرَنِى سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَوَجَدَ عِنْدَهِ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِى أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، فَقَالَ « أَىْ عَمِّ قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ: أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ,  فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ ، وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَأَبَى أَنْ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ)

Artinya: "Dari Az Zuhri, berkata: "Aku telah diberitahukan oleh Sa'id bin Al Musayyab, beliau mendapatkan riwayat dari bapaknya: "Ketika Abu Thalib dalam keadaan sekarat, datanglah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepadanya. Ternyata Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah bin Al Mughirah telah berada disisinya, lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai pamanku, katakanlah laa ilaaha illallahu, sebuah kalimat aku akan jadikan alasan untuk membelamu dengannya disisi Allah Ta'ala", lalu Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah bin Al Mughirah berkata: "Apakah kamu benci kepada ajarannya Abdul Muthallib, maka masih saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajaknya dan keduanya juga selalu mengulang perkataan tersebut, sampai akhirnya perkataan terakhir Abu Thalib menunjukkan bahwa dia berada pada ajaran Abdul Muthallib, dan enggan untuk mengatakan kalimat laa ilaaha illallah." Hadits riwayat Bukhari (no. 3884) dan Muslim (no. 141).
 
Begitulah akhir cerita dari Abu Thalib karena tekanan dan desakan sosial maka tetap tidak mau mengikuti kebenaran. Wallahul musta'an.   

Para pembaca yang dirahmati Allah…
Di penghujung tulisan ini mari kita selalu mengingat hadits Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam di bawah ini, ketika dalam situasi antara memegang kebenaran dan menghadapi tekanan sosial, kita selalu tegar dengan kebenaran yang datang dari Allah Ta'ala dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
(كَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ رضي الله عنه: سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ, فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ». وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ)
Artinya: "'Aisyah radhiyallahu 'anha menulis surat kepada Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu"Semoga keselamatan atasmu, Amma ba'du: Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mencari keridhaan Allah meskipun dibenci manusia maka Allah akan mencukupkan baginya kebutuhan kepada manusia dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia padahal itu dimurkai Allah maka Allah menggantungkannya kepada manusia.” Semoga keselamatan atasmu." Hadits riwayat At Tirmidzi (no. 2414) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, (no. 2311).
 
Maksud dari "Allah menggantungkannya kepada manusia" adalah Allah akan menjadikan manusia menguasainya dan menyakiti dan menzhaliminya". Lihat Tuhfat Al Ahwadzi tentang syarah hadits ini.
 
Semoga bisa menjadi obat bagi yang suka ngeyel…
Semoga bisa menjadi obat bagi yang sudah tahu salah tapi masih suka ngeyel.
Semoga bisa menjadi obat bagi yang sudah tahu syirik tapi masih suka ngeyel.
Semoga bisa menjadi obat bagi yang sudah tahu bidah tapi masih suka ngeyel.
Semoga bisa menjadi obat bagi yang sudah tahu maksiat dan dosa tapi masih suka ngeyel.

و صلى الله على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين  و الحمد لله رب العالمين

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Jumat 29 Dzulhijjah 1432H, Dammam KSA

Hukum Parfum Bagi Perempuan

 Assalamu’alaikum ya Pak Ustad Zain, Apa kabarnya nih? Mudah-mudahan sehat selalu adanya Amiin.  
Pak Ustad, Saya ada pertanyaan yang butuh jawaban sebagai berikut:

1.      Apakah hukumnya perempuan ikut sholat berjamaah di Mesjid, baik sholdat fardhu maupun sholat taraweh?
2.      Apakah boleh bagi perempuan menggunakan parfum jika hendak bepergian baik ke mesjid maupun ke luar bersama mahramnya?

Demikian Pak Ustad Zain, sebelumnya saya haturkan terima kasih atas jawabannya, semoga Allah membalas kebaikan dan memberikan pahala buat Pak Ustad…

 Donny

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
alhamdulillah baik pak, semoga kita dan kaum muslim selalu diberikan kebaikan oleh Allah Ta'ala di dunia dan akhirat. Allahumma amin.

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبيبنا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Pertanyaan ke 1: Apakah hukumnya perempuan ikut sholat berjamaah di Mesjid, baik sholdat fardhu maupun sholat taraweh?

Jawaban:  Perempuan diperbolehkan ikut shalat berjamaah di masjid, baik untuk shalat fardhu atau shalat tarawih, tetapi tidak diwajibkan atasnya. Dan jika seorang istri meminta kepada suaminya untuk pergi shalat berjama’ah di masjid, maka suami tidak boleh melarangnya.
Hal ini berdasarkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ كَانَتِ امْرَأَةٌ لِعُمَرَ تَشْهَدُ صَلاَةَ الصُّبْحِ وَالْعِشَاءِ فِى الْجَمَاعَةِ فِى الْمَسْجِدِ ، فَقِيلَ لَهَا لِمَ تَخْرُجِينَ وَقَدْ تَعْلَمِينَ أَنَّ عُمَرَ يَكْرَهُ ذَلِكَ وَيَغَارُ قَالَتْ وَمَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْهَانِى قَالَ يَمْنَعُهُ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ » .

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Seorang istri Umar radhiyallahu ‘anhu ikut shalat Shubuh dan Isya’ berjama’ah di masjid, lalu istri ini ditanya: “Kenapa engkau pergi (ke masjid) padahal engkau mengetahui bahwa Umar membenci  dan menyemburui hal tersebut?” istri ini menjawab: “Lalu apa yang menghalangi dia untuk melarangku?”, Umar berkata: “Yang menghalanginya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“Jangan kalian larang hamba-hamba Allah perempuan untuk pergi ke masjid-masjid Allah”. HR. Bukhari dan Muslim, dan ini lafazh dari riwayat Bukhari.

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - « إِذَا اسْتَأْذَنَتِ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَمْنَعْهَا » .

Artinya: “Salim bin Abdullah rahimahullah meriwayatkan dari bapaknya yaitu Abdullah bin Umarradhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang istri kalian meminta izin untuk pergi ke masjid maka janganlah dia melarangnya”. HR. Bukhari.


عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ » .

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika istri-istri kalian meminta izin pada malam hari untuk pergi ke masjid, maka izinkanlah mereka”. HR. Bukhari.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Sebaik-baik shaf lelaki adalah yang paling pertama dan seburuk-buruknya adalah yang paling terakhir, dan sebaik-baik shaf bagi para perempuan adalah yang paling terakhir dan seburuk-buruknya adalah yang paling pertama”. HR. Muslim.
Hadits ini juga bisa dijadikan sebagai dalil penguat tentang diperbolehkannya seorang wanita pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah.

Tetapi perlu diperhatikan bahwa shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjidnya. Hal ini berdasarkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ ».

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jangan kalian larang istri-istri kalian untuk pergi ke masjid, tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”. HR. Abu Daud dan dihasankan di dalam kitab Irwa Al Ghalil, no. 515.  

عنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُوَيْدٍ الأَنْصَارِىِّ عَنْ عَمَّتِهِ أُمِّ حُمَيْدٍ رضي الله عنها امْرَأَةِ أَبِى حُمَيْدٍ السَّاعِدِىِّ رضي الله عنهما أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُحِبُّ الصَّلاَةَ مَعَكَ. قَالَ « قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى ».

Artinya: “Abdullah bin Suwaid Al Anshari meriwayatkan dari bibinya yang bernama Ummu Humaidradhiyallahu ‘anha, dia adalah istrinya Abu Humaid As Sa’idy radhiyallahu ‘anhu, bahwa Ummu Humaidradhiyallahu ‘anha pernah datang menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka shalat bersama engkau”, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sungguh aku benar-benar mengetahui bahwa kamu suka shalat bersamaku, dan shalatmu di kamar kecilmu lebih baik daripada shalatmu di kamar besarmu, dan shalatmu di kamar besarmu lebih baik daripada shalatmu di rumah dan shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kampungmu, dan shalatmu di masjid kampungmu lebih baik daripada shalatmu di masjidku”. HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan dihasankan di dalam kitab Shahih At Targhib Wa At Tarhib, no. 340.

Pertanyaan 2 : Apakah boleh bagi perempuan menggunakan parfum jika hendak bepergian baik ke mesjid maupun ke luar bersama mahramnya?

Jawaban: haram bagi perempuan menggunakan parfum jika hendak bepergian baik ke masjid maupun ke luar rumah bersama mahramnya.
Hal ini berdasarkan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَة رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلاَتٌ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jangan kalian larang hamba-hamba perempuan Allah untuk pergi ke masjid-masjid Allah akan tetapi hendaknya mereka keluar dalam keadaan tafilat”. HR. Abu Daud dan dishahihkan di dalam kitab Irwa’ Al Ghalil, no. 515.
Makna “Tafilat” adalah tidak memakai minyak wangi. Lihat kitab An Nihayah fi Gharib Al Hadits, karya Ibnu Al Atsir.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا خَرَجَتِ الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْتَغْتَسِلْ مِنَ الطِّيبِ كَمَا تَغْتَسِلُ مِنَ الْجَنَابَةِ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jika seorang wanita keluar rumah menuju masjid, hendaklah dia mandi membersihkan minyak wangi sebagaimana dia mandi junub”. HR. An Nasai dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadist Ash Shahihah, no. 1031.

عَنْ أَبِى مُوسَى رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِىَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِى زَانِيَةً ».

Artinya: “Abu Musa radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap mata berzina dan seorang wanita jika memakai minyak wangi lalu lewat di sebuah majelis (perkumpulan), maka dia adalah wanita yang begini, begini, yaitu seorang wanita pezina”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 2019.

عَنْ زَيْنَبَ الثَّقَفِيَّةِ رضي الله عنها أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَيَّتُكُنَّ خَرَجَتْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ تَقْرَبَنَّ طِيبًا ».

Artinya: “Zainab Ats Tsaqafiyyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perempuan mana saja yang pergi ke masjid maka jangan sekali-kali dia mendekati (memakai) minyak wangi”. HR. An Nasai dan dishahihkan di dalam kitab Shahih An Nasai, no. 5131.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Perempuan mana saja yang telah memakai minyak wangi maka tidak boleh shalat isya’ bersama kami”. HR. Muslim.

عنْ موسى بن يسار عن أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه : أَنَّ امْرَأَةً مَرَّتْ بِهِ تَعْصِفُ رِيحُهَا فَقَالَ : يَا أَمَةَ الْجَبَّارِ الْمَسْجِدُ تُرِيدِينَ؟ قَالَتْ : نَعَمْ. قَالَ : وَلَهُ تَطَيَّبْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ قَالَ فَارْجِعِى فَاغْتَسِلِى فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« مَا مِنِ امْرَأَةٍ تَخْرُجُ إِلَى الْمَسْجِدِ تَعْصِفُ رِيحُهَا فَيَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهَا صَلاَتَهَا حَتَّى تَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهَا فَتَغْتَسِلَ ».

Artinya: “Musa bin Yasar meriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang wanita melewati beliau dan bau wanginya menyebar, lalu Abu Hurairah bertanya: “Wahai hamba perempuan Allah Yang Maha Perkasa, apakah anda ingin pergi ke masjid?”, wanita ini menjawab: “Iya”, Abu Hurairah bertanya: “Dan untuk itukah anda memakai minyak wangi?”, wanita ini menjawab: “Iya”, Abu Hurairah berkata: “Pulang dan mandilah, karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang wanita keluar pergi menuju masjid dan menyebar bau wanginya akan diterima oleh Allah dari shalatnya sampai dia kembali ke rumahnya dan mandi”. HR. Al Baihaqi dan dishahihkan  di dalam kitab Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, karya Al Albani.
Dan jika seorang wanita ingin pergi ke masjid atau keluar rumah dengan tujuan apapun, maka janganlah dia menjadi penggoda bagi para lelaki yang bukan mahramnya,  karena dia melakukan beberapa hal, seperti; tidak menutup aurat sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, tidak menjaga perkataan dan perbuatan dan semisalnya yang berpotensi menjadi godaan bagi para lelaki yang bukan mahramnya. wallahu a'lam.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
 Posted in: 

Airport Jeddah Bukan Miqot Untuk Berihram | Untaian Artikel Menggapai Haji Mabrur ( Bag 10)

رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Miqat terbagi menjadi dua:
1. Miqat Zamani
Yaitu bulan-bulan yang telah ditentukan untuk melakukan amalan ibadah haji yang apabila dilakukan diluar waktu tersebut tidak sah. Bulan-bulan itu ialah: Syawwal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.

{الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ}

Artinya: ” (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji”. (QS. Al Baqrah: 197)

وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَشْهُرُ الْحَجِّ شَوَّالٌ وَذُو الْقَعْدَةِ وَعَشْرٌ مِنْ ذِى الْحَجَّةِ .

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Bulan-bulan haji Syawwal, Dzul Qo’dah, dan Sepuluh hari (pertama) dari Dzulhijjah. HR. Bukhari.

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – مِنَ السُّنَّةِ أَنْ لاَ يُحْرِمَ بِالْحَجِّ إِلاَّ فِى أَشْهُرِ الْحَجِّ .

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Termasuk Sunnah, tidak boleh berihram (untuk haji) kecuali pada bulan-bulan haji”. (HR. Bukhari)
2. Miqat Makani
Yaitu tempat-tempat yang telah ditentukan untuk memulai ihram bagi yang ingin melakukan haji maupun umrah.
Tempat-tempat itu ialah:
  1. Dzulhulaifah (yang sekarang disebut oleh orang awam Bir Ali), bagi penduduk Madinah.
  2. Al Juhfah (Rabigh), bagi penduduk Syam, Mesir, dan Maroko. Al Juhfah dekat dengan Rabigh yang sekarang dijadikan miqat sebagai gantinya.
  3. Qarnul Manazil (As-Sail Al-Kabir), bagi penduduk Najd, dikenal dengan As Sail Al Kabir (di daerah Taif).
  4. Yalamlam (As Sa’diyyah), bagi penduduk Yaman.
  5. Dzatu ‘Irqin, bagi penduduk Irak dan yang datang dari daerah timur.
Wajib bagi yang melewati miqat-miqat ini untuk berihram darinya dan diharamkan melewatinya tanpa berihram, jika menuju mekkah bermaksud menunaikan haji atau umrah, baik dari jalan darat, laut atau udara.
Sedangkan bagi penduduk Mekkah dan yang berada diantara miqat dengan Mekkah memulai ihram dari rumah masing-masing. Sedang yang melewati selain miqat hendaklah disejajarkan dengan miqat terdekat. Ini berdasarkan hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau meriwayatkan:

وَقَّتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ وَلأَهْلِ الشَّامِ الْجُحْفَةَ وَلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ. قَالَ « فَهُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ فَمَنْ كَانَ دُونَهُنَّ فَمِنْ أَهْلِهِ وَكَذَا فَكَذَلِكَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّونَ مِنْهَا ».

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menentukan miqat untuk penduduk Madinah Dzul Hulaifah, untuk penduduk Syam Al-Juhfah, untuk penduduk Najd Qarnul Manazil, untuk penduduk Yaman Yalamlam, beliau bersabda: “Miqat-miqat itu bagi penduduknya dan bagi yang melewatinya yang bukan dari penduduknya, siapa yang ingin melaksanakan haji atau umrah, dan barangsiapa yang berada di dalam miqat-miqat itu dari penduduknya maka berihram dari tempatnya, begitupula penduduk kota Mekkah berihram dari Mekkah”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Sedang penduduk Irak maka miqatnya adalah Dzatu ‘Irq, berdasarkan riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَّتَ لأَهْلِ الْعِرَاقِ ذَاتَ عِرْقٍ.

Artinya: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menentukan miqat penduduk Irak Dzatu ‘Irq”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Abu Daud, no. 1744)
Hal-hal Penting yang berkaitan dengan Miqat:
1) Tidak disyaratkan harus berihram di tempat miqat yang sudah ditentukan, tetapi boleh disana atau boleh dengan sejajar dengannya. (Lihat kitab Al Ijaz yang dikarang oleh An Nawawi, hal. 09)
2) Tidak diperbolehkan bagi yang melewati miqat melalui udara dan dia menginginkan untuk menunaikan haji atau umrah, untuk mengakhirkan berihram sesampainya di airpot Jeddah, karena beberapa sebab:
  • Karena airport Jeddah bukan miqat yang telah ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Karena airport Jeddah berada di dalam miqat.
  • Karena berarti yang berihram di airport Jeddah sudah meninggalkan salah satu kewajiban manasik haji atau umrah yaitu berihram di miqat.
3) Siapa yang di dalam perjalanannya dtidak mendapati miqat yang sudah ditentukan maka, dia berihram jika sejajar dengan awal miqat yang dia dapati. Dan jika tidak ada yang sejajar maka berihram ketika berada di tempat yang jaraknya antara dia dan Mekkah sekitar 1 hari 1 malam perjalanan. (Lihat kitab Mansak , karya An Nawawi, hal. 09 dan Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 17/41)
4) Barangsiapa yang datang dari negaranya menuju kota Madinah dan singgah di airport Jeddah, kemudian baru ke kota Madinah, maka dia berihram dari kota Madinah dan tidak ada kewajiban apa-apa atasnya, karena dia berihram dari kota madinah. (Lihat Fatawa Ibnu Utsaimin, 21/313,337)
5) Barangsiapa yang ingin menunaikan haji atau umrah dan melewati miqat tanpa berihram di miqat, mak dia harus kembali ke miqat yang dia lewatiu dan berihram di sana, jika dia tidak kembali dan berihram setelah miqat maka wajib atasnya membayar fidyah yaitu dengan menyembelih 1 kambing”. Hal ini berdasarkan fatwa dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ نَسِىَ مِنْ نُسُكِهِ شَيْئًا أَوْ تَرَكَهُ فَلْيُهْرِقْ دَمًا.

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yang lupa dari sesuatu ibadah haji/umrahnya atau telah meninggalkannya maka hendaklah dia menumpahkan darah (yaitu menyembelih hewan yang sah dikurbankan)”. (HR. Malik di dalam Al Muwaththa’, Al Baihaqi dan dishahihkan sanadnya sampai ke Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma oleh Al Albani di dalam kitab Irwa Al Ghalil, 4/299)
Nasehat untuk jama’ah haji Indonesia dari Indonesia yang langsung pergi ke Mekkah dan otomatis harus berihram di miqat yang dia lewati ketika di dalam pesawat.
1) Pakailah kain ihram dari mulai menaiki pesawat ketika mau terbang menuju Mekkah jika di perakirakan sulit untuk mengganti pakaian dengan dua kain ihram di pesawat, dan ini untuk para lelaki yang ingin berihram.
2) Berihramlah di pesawat ketika sejajar dengan miqat yang dilewati.
3) Jika anda belum berihram di miqat di lewati maka anda harus kembali ke miqat yang dilewati tadi.
4) Jika anda berihram di airport Jeddah maka wajib bagi anda membayar fidyah yaitu, menyembelih 1 ekor kambing.
5) Tidak benar keyakinan bahwa berihram harus atau wajib dalam keadaan suci dari hadats besar atau kecil, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memperbolehkan bagi Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha yang sedang nifas untuk berihram sebagaimana dalam riwayat Muslim di dalam kitab Shahihnya.
Ahmad Zainuddin
Selasa 20 Dzulqa’dah 1432H
Dammam, KSA.

Mengenal Ihram dan Larangan-Larangannya | Untaian Artikel Menggapai Haji Mabrur (Bag 08)

بسم الله الرحمن الرحيم , الحمد لله رب العالمين و صلى الله عليه و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Pengertian Ihram
Ihram secara bahasa berasal dari kata أحرم يحرم إحراماً, yaitu seseorang jika berniat haji atau umrah dan melaksanakan sebab dan syarat-syaratnya, siapa yang telah melepaskan pakaian yang membentuk tubuhnya dan menjauhi seluruh perkara yang dilarang syariat Islam ketika ihram, seperti; minyak wangi, nikah, berburu dan semisalnya, berarti dia berihram.
Dan asal kata ihram artinya adalah larangan, seakan-akan seorang yang sedang ihram dilarang dari beberapa hal.
Makna lain dari seorang yang berihram di bulan-bulan suci adalah jika dia masuk ke dalam tanah suci. (Lihat kitab An NIhayah fi Gharib Al Atsar, karya Ibnu Al Atsir, 12/3)
Jadi, arti ihram secara mudah dipahami adalah niat masuk ke dalam ibadah haji atau umrah. (Lihat kitab Manasik Al Hajj wa al Umrah, karya syeikh DR. Sa’id bin Wahf Al Qahthani)
Jika seseorang yang ingin melakukan haji atau umrah sampai di miqat, maka dia harus berihram dan sebelum berihram dianjurkan melakukan hal-hal berikut:

1) Dianjurkan memotong kuku, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْفِطْرَةُ خَمْسٌ – أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ – الْخِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Fitrah manusia ada lima; khitan, menghabiskan bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, menipiskan kumis”. (HR. Bukhari dan Muslim)
2) Dianjurkan mandi yang mengangkat hadats besar.

عَنْ ثَابِتٍ رَأَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَجَرَّدَ لإِهْلاَلِهِ وَاغْتَسَلَ.

Artinya: “Tsabit radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan pernah melihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melepaskan pakaiannya dan mandi untuk berihram”. (HR. Tirmidzi)
Bahkan wanita haid dan nifaspun dianjurkan mandi untuk berihram:

قَالَ النبي صلى الله عليه و سلم لأسماء بنت عميس رضي الله عنها « اغْتَسِلِى وَاسْتَثْفِرِى بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِى ».

Artinya: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaih wasallam bersabda kepada Asma binti Umais yang sedang nifas dan ingin berihram: “Mandi, tutup dengan pembalut dan beihramlah”. (HR. Muslim)
3) Dianjurkan memakai minyak wangi di kepala, janggut dan badan.

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْرِمَ يَتَطَيَّبُ بِأَطْيَبِ مَا يَجِدُ ثُمَّ أَرَى وَبِيصَ الدُّهْنِ فِى رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ بَعْدَ ذَلِكَ.

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika ingin berihram beliau memakai minyak wangi paling wangi yang beliau dapati, maka aku melihat bekas minyak wangi tersebut di kepala dan jenggot beliau setelah”. (HR. Muslim)
4) Untuk laki-laki berihram dengan memakai dua kain ihram, dan diutamakan berwarna putih karena dia adalah warna sebaik-baik pakaian.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما, قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم: « وَلْيُحْرِمْ أَحَدُكُمْ فِى إِزَارٍ وَرِدَاءٍ وَنَعْلَيْنِ ».

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaknya salah seorang dari kalian berihram di dalam (memakai) kain sarung, surban dan dua sandal”. (HR. Ahmad)
untuk wanita diperbolehkan memakai pakaian apa saja yang diperbolehkan oleh syari’at ketika keluar rumah.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتِ : الْمُحْرِمَةُ تَلْبَسُ مِنَ الثِّيَابِ مَا شَاءَتْ إِلاَّ ثَوْبًا مَسَّهُ وَرْسٌ أَوْ زَعْفَرَانٌ وَلاَ تَتَبَرْقَعُ وَلاَ تَلَثَّمُ وَتَسْدُلُ الثَّوْبَ عَلَى وَجْهِهَا إِنْ شَاءَتْ.

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Wanita muhrim memakai dari pakaian apa saja yang dia kehendaki kecuali pakaian yang terkena wars (tanaman kuning yang dipakai untuk mewarnai kain) atau za’faran, dan tidak boleh memakai burqu’ (sesuatu yang dipakai menutupi wajah sehingga hampir menutup mata), tidak menutup mulut, dan menjulurkan kain di atas wajahnya jika dia menginginkan”. (HR. Al Baihaqi dan dishahihkan di dalam kitab Irwa Al Ghalil, 4/212)
5) Ketika sudah di atas kendaraan menghadap kiblat dan berniat di dalam hati untuk melakukan manasik.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ أَهَلَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ اسْتَوَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ قَائِمَةً .

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berihram ketika hewan tunggangannya berdiri tegak”. (HR. Bukhari)
Bagi yang berhaji tamattu’ berniat melaksanakan ibadah umrah, dan mengucapkan: “Allahumma labbaika ‘umratan atau Labbaika Umratan”.
Bagi yang haji qiran berniat melaksanakan ibadah haji dan umrah secara bersamaan dan mengucapkan: “Allahumma labbaika umratan wa hajjan atau labbaika umratan wa hajjan “,
sedangkan bagi yang haji ifrad berniat melaksanakn ibadah haji saja dan mengatakan: “Labbaika hajjan atau Allahumma labbaika hajjan”.
6) Apabila khawatir tidak bisa menyempurnakan umrah maupun hajinya, disyari’atkan mengucapkan:

إِنْ حَبَسَنِيْ حَابِسٌ فَمَحِلّيِ حَيْثُ حَبَسْتَنِيْ

Artinya: “Jika ada sesuatu yang menghalangiku maka tempat bertahallulku dimana Engkau menahanku”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Mulai di sini dia merupakan orang yang berihram atau disebut Muhrim.
Dan semenjak itu disunnahkan baginya membaca talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ, إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ“

Disunnahkan untuk mengeraskan talbiyah bagi laki-laki,

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « جَاءَنِى جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ مُرْ أَصْحَابَكَ فَلْيَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ فَإِنَّهَا مِنْ شِعَارِ الْحَجِّ ».

Artinya: “Zaid bin Khalid al Juhaniy radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril telah mendatangiku, lalu berkata: “Wahai Muhammad perintahkan shahabat-shahabatmu agar mengangkat suara mereka dengan mengucapkan talbiyah, karena sesungguhnya ia adalah syiar haji”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 830)
Sedang bagi wanita hanya dengan suara yang rendah. Talbiyah ini terus dibaca dan berhenti sampai ingin melaksanakan thawaf
Dan semenjak itu pula sudah diberlakukan baginya larangan-larangan ihram, diantaranya;
1) Bersetubuh sebelum tahallul awal. Dalilnya Firman Allah Ta’ala:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji”. (QS. Al Baqarah: 197)
Rafats artinya bersetubuh. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 2/242.
• Barangsiapa bersetubuh sebelum tahallul awal, maka:
1. Dia berdosa
2. Hajinya telah batal
3. Harus melanjutkan sisa manasik haji
4. Wajib melaksanakan haji pada tahun selanjutnya
5. Wajib membayar fidyah dengan menyembelih sapi atau onta lalu dibagikan kepada para fakir di tanah suci dan tidak memakan darinya.
• Namun bila bersetubuh setelah tahallul awal dan belum melakukan thawaf ifadhah:
1. Dia berdosa
2. Hajinya sah
3. Dia harus memperbarui ihram dia yaitu dengan pergi keluar tanah haram dengan pakaian ihram memulai ihram di sana kemudian ke Makkah untuk thawaf Ifadhah.
4. Dia juga diwajibkan membayar fidyah, yaitu menyembelih kambing dan dibagikan kepada fakir miskin di tanah suci dan tidak memakan darinya.
• Apabila seorang istri dipaksa bersetubuh oleh suaminya maka dia tidak terkena hukuman apabila telah menolak semampu mungkin.
• Apabila seseorang ihram bersetubuh karena lupa maka tidak terkena hukuman.
2) Memakai pakaian berjahit bagi laki-laki.
• Bagi orang laki-laki yang sedang ihram tidak diperbolehkan memakai pakaian yang berjahit.
• Maksud dari pakaian berjahit adalah pakaian yang dibuat sesuai dengan bentuk badan. Maka tidak diperbolehkan memakai kemeja, celana luar maupun dalam, sorban, topi, peci, jubah, ghamis, burnus (baju yang mempunyai penutup kepala), sepatu yang menutupi mata kaki, kaos tangan maupun kaki dan yang sejenisnya.
• Dalilnya, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam ketika ditanya tentang pakaian muhrim:

لاَ تَلْبَسُوا الْقُمُصَ وَلاَ الْعَمَائِمَ وَلاَ السَّرَاوِيلاَتِ وَلاَ الْبَرَانِسَ وَلاَ الْخِفَافَ إِلاَّ أَحَدٌ لاَ يَجِدُ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسِ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ

Artinya: “Janganlah kalian memakai ghamis, surban, celana, burnus (baju yang mempunyai penutup kepala) serta sepatu khuf (yang menutupi dua mata kaki) kecuali seseorang yang tidak mempunyai sandal, maka hendaknya ia memakai sepatu khuf dan memotong di bawah dua mata kaki”. (HR. Bukhari dan Muslim)
• Dan jika ia mengerjakan larangan ini dengan sengaja tanpa ada udzur maka:
1. Dia berdosa
2. Wajib baginya menebus fidyah baik dengan berpuasa tiga hari di tanah suci atau memberi makan enam fakir miskin setiap orang setengah sha’ atau menyembelih kambing.
• Dan kalau ia mempunyai udzur keperluan maka ia wajib membayar fidyah yang disebutkan di atas tapi ia tidak berdosa.
3. Menutup kepala bagi laki-laki.
• Yang dimaksud penutup kepala seperti: peci, topi, sorban atau lainnya yang menutup dan menempel di kepala. Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang pakaian muhrim:

لاَ تَلْبَسُوا الْقُمُصَ وَلاَ الْعَمَائِمَ وَلاَ السَّرَاوِيلاَتِ وَلاَ الْبَرَانِسَ

Artinya: “Janganlah kalian memakai ghamis, surban, celana, burnus (baju yang mempunyai penutup kepala)…”. (HR. Bukhari dan Muslim)
• Apabila penutup itu berjauhan dengan kepala maka diperbolehkan, seperti atap mobil atap rumah, tenda, payung dan yang lainnya. Dalilnya:

عَنْ أُمِّ الْحُصَيْنِ رضي الله عنها قَالَتْ حَجَجْتُ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- حَجَّةَ الْوَدَاعِ فَرَأَيْتُ أُسَامَةَ وَبِلاَلاً وَأَحَدُهُمَا آخِذٌ بِخِطَامِ نَاقَةِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَالآخَرُ رَافِعٌ ثَوْبَهُ لِيَسْتُرَهُ مِنَ الْحَرِّ حَتَّى رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ. رواه مسلم

Artinya: “Ummul Hushain radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku pernah menunaikan haji bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Haji Wada’, aku melihat Usamah dan Bilal, salah seorang dari keduanya menuntut tali kekang onta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang lain mengangkat kainnya untuk melindungi beliau dari panas, sehingga beliau melempar Jumrah ‘Aqabah”. (HR. Muslim)
• Dan jika ia mengerjakan larangan ini dengan sengaja tanpa ada udzur maka:
1. Dia berdosa
2. Wajib baginya menebus fidyah baik dengan berpuasa tiga hari di tanah suci atau memberi makan enam fakir miskin setiap orang setengah sha’ atau menyembelih kambing.
• Dan kalau ia mempunyai udzur keperluan maka ia wajib membayar fidyah yang disebutkan di atas tapi ia tidak berdosa.
4. Memakai cadar atau kaos tangan bagi wanita.
• Bagi wanita muhrim tidak diperbolehkan menutup mukanya dan tidak boleh mengenakan sarung tangan. Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya tentang pakaian muhrim:

لاَ تَنْتَقِبُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسُ الْقُفَّازَيْنِ .

Artinya: “Seorang wanita muhrim tidak boleh memakai niqab dan dua sarung tangan”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
• Kecuali apabila di depan para laki-laki yang bukan mahram, maka tetap menutup mukanya. Dalilnya:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا إِلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ.

Artinya: “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: “Ada dua pengendara melewati kami dan kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan muhrim, jika mereka melewati kami maka seorang dari kami mengulurkan jilbabnya dari kepala sampai ke wajahnya, jika telah lewat maka kami buka (jilbab kami)”. (HR. Abu Daud dan dihasankan haditsnya oleh Al Albani sebagai riwayat pembantu di dalam Jilbabul Mar’ah)
• Dan jika ia mengerjakan larangan ini dengan sengaja tanpa ada udzur maka:
1. Dia berdosa
2. Wajib baginya menebus fidyah baik dengan berpuasa tiga hari di tanah suci atau memberi makan enam fakir miskin setiap orangnya setengah sha’ atau menyembelih kambing.
• Dan kalau ia mempunyai udzur keperluan maka ia wajib membayar fidyah yang disebutkan di atas tapi ia tidak berdosa.
5. Memakai wewangian
Bagi yang berihram dilarang memakai wangi-wangian, kecuali aroma yang tersisa yang dipakai sebelum ihram. Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَلاَ تَلْبَسُوا شَيْئًا مِنَ الثِّيَابِ مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ وَلاَ الْوَرْسُ

Artinya: “Janganlah kalian memakai pakain yang terkena Za’faran (sejenis minyak wangi) dan wars (tanaman yang digunakan untuk mewarnai sutera)”. (HR. Bukhari dan Muslim)
• Dan jika ia mengerjakan larangan ini dengan sengaja tanpa ada udzur maka:
1. Dia berdosa
2. Wajib baginya menebus fidyah baik dengan berpuasa tiga hari di tanah suci, atau memberi makan enam fakir miskin setiap orang setengah sha’, atau menyembelih kambing.
• Dan kalau ia mempunyai udzur maka ia wajib membayar fidyah yang disebutkan di atas tapi ia tidak berdosa.
6. Mencukur atau menggundul rambut kepala
Dilarang mengambil rambut kepala dengan cara dicukur, dicabut, dibakar atau cara yang lain. Larangan ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Dalilnya Firman Alah Ta’ala:

وَلاَ تَحْلِقُواْ رُؤُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ .

Artinya: “Dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya”. (QS. Al Baqarah: 196)
• Dan jika ia mengerjakan larangan ini dengan sengaja tanpa ada udzur maka:
1. Dia berdosa
2. Wajib baginya menebus fidyah baik dengan berpuasa tiga hari di tanah suci, atau memberi makan enam fakir miskin setiap orang setengah sha’, atau menyembelih kambing.
• Dan kalau ia mempunyai udzur keperluan maka ia wajib membayar fidyah yang disebutkan di atas tapi ia tidak berdosa.
7. Memotong atau mencabut kuku
• Dilarang juga memotong atau mencabut kuku. Dalilnya diqiyaskan dengan mencukur rambut.
• Dan jika ia mengerjakan larangan ini dengan sengaja tanpa ada udzur maka:
1. Dia berdosa
2. Wajib baginya menebus fidyah baik dengan berpuasa tiga hari di tanah suci, atau memberi makan enam fakir miskin setiap orang setengah sha’, atau menyembelih kambing.
• Dan kalau ia mempunyai udzur keperluan maka ia wajib membayar fidyah yang disebutkan di atas tapi ia tidak berdosa.
• Tetapi jika kukunya pecah maka diperbolehkan baginya mengambil yang menyakitinya dan tidak ada fidyah baginya.
8. Bercumbu
• Saat ihram tidak diperbolehkan bercumbu atau melakukan perbuatan yang mengawali persetubuhan seperti bercengkrama yang menimbulkan syahwat, berpelukan, berciuman, berpegangan yang disertai dengan syahwat. Dalilnya Firman Allah Ta’ala:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ.

Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji”. (Al Baqarah: 197)
• Dan jika larangan ini dilanggar maka tidak ada ada fidyah baginya cuma ia harus bertaubat karena telah melakukan salah satu larangan ihram.
9. Meminang atau melakukan akad nikah
• Selama ihram tidak diperbolehkan meminang atau melakukan akad nikah. Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لا يَنْكِحُ المحرِمُ، ولا يُنْكِح، ولا يخطب [ولا يُخطب عليه].

Artinya: “Seorang muhrim tidak menikahi atau menikahkan atau melamar (atau dilamar). (HR. Muslim)
• Dan jika larangan ini dilanggar maka tidak ada ada fidyah baginya akan tetapi dia harus bertaubat karena telah melakukan salah satu larangan ihram.
10. Berbuat kekerasan seperti bertengkar, berkelahi dan semisalnya
• Dilarang dalam ibadah haji melakukan kefasikan, dalilnya Firman Allah Ta’ala:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji”. (QS. Al Baqarah: 197)
11. Berburu binatang darat
• Apabila seseorang yang berihram berburu binatang darat, maka dia dihukum dengan:
Menyembelih binatang ternak yang setara dan mirip dengan binatang buruannya, seperti apabila membunuh kijang dia harus menyembelih kambing yang bukan domba dan seterusnya.Yang menentukan kemiripan ini adalah dua orang yang adil (shalih).
• Apabila tidak mendapatkan binatang ternak yang setara maka memilih salah satu diantara dua hal:
1. Buruan itu dihargai dengan uang dan uang itu dipakai untuk membeli makanan yang disedekahkan bagi fakir miskin untuk setiap miskin setengah sha’ (sekitar dua setengah liter).
2. Atau memperkirakan harganya kalau dipakai membeli makanan mendapatkan berapa sha’, lalu untuk setiap sha’ berpuasa satu hari.
• Dalil Firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْتُلُواْ الصَّيْدَ وَأَنتُمْ حُرُمٌ وَمَن قَتَلَهُ مِنكُم مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاء مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَو عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِّيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ عَفَا الله عَمَّا سَلَف وَمَنْ عَادَ فَيَنتَقِمُ الله مِنْهُ والله عَزِيزٌ ذُو انْتِقَام.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu, sebagai had-ya yang di bawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa”. (QS. Al Maidah: 95)
Pembagian-pembagian penting:
Pelaku larangan ihram tidak melebihi tiga keadaan;
1) Pelaku sengaja dan tidak ada alasan, maka dia harus bayar fidyah dan berdosa.
2) Pelaku sengaja dan mempunyai alasan yang dibenarkan syariat, maka dia harus bayar fidyah dan tidak dianggap berdosa.
3) Pelaku tidak sengaja, tidak mengetahui, dipaksa atau dalam keadaan tidur, maka dia tidak dikenakan sangsi apa-apa, meskpun dia bersetubuh.
4) Pelaku
Pembagian Larangan Ihram berdasarkan fidyah:
1) Larangan ihram yang tidak ada fidyah, seperti akad nikah.
2) Larangan ihram yang fidyahnya menyembelih onta atau sapi adalah bersetubuh sebelum tahallul awal.
3) Larangan ihram yang fidyahnya menyembelih hewan sepertinya, atau semisal dengannya atau bersedekah dengan seharganya adalah berburu hewan buruan darat yang liar.
4) Larangan ihram yang fidyahnya boleh menyembelih kambing, atau puasa 3 hari di tanah suci atau memberi makan kepada 6 fakir miskin adalah; mencukur rambut, mengunting kuku, memakai minyak wangi, menutup kepala bagi laki-laki dan memakai pakaian yang berjahit. (Lihat kitab Jami’ Al Manasik, karya Syeikh Sulthan Al ‘Ied, hal. 83-86)
Ahmad Zainuddin
Selasa, 13 Dzulqa’dah 1432H
Dammam, KSA.

Sebelum Anda Menghajikan atau Mengumrahkan Orang Lain | Untaian Artikel Menggapai Haji Mabrur (Bag 07)

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Syarat Menghajikan orang lain:
Sudah pernah melakukan haji atau umrah untuk dirinya.
Hal ini berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ. قَالَ « مَنْ شُبْرُمَةَ ». قَالَ أَخٌ لِى أَوْ قَرِيبٌ لِى. قَالَ « حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ ». قَالَ لاَ. قَالَ « حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ ».

Artinya: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki berkata: “Labbaika ‘an Syubrumah (Aku memenuhi panggilan-Mu atas nama Syubrumah”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapa Syubrumah?”, laki-laki itu menjawab: “Saudaraku atau kerabatku”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sudah berhajikah kamu?“, laki-laki menjawab: “Belum”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berhajilah atas dirimu kemudian hajikan atas Syubrumah“. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani kitab Irwa Al Ghalil, 4/171)
Syarat orang yang dihajikan atau diumrahkan atasnya:
1) Orang yang sudah meninggal dunia.
Hal ini berdasarkan hadits:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّى نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ قَبْلَ أَنْ تَحُجَّ أَفَأَحُجَّ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ حُجِّى عَنْهَا ، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ » . قَالَتْ نَعَمْ . فَقَالَ « فَاقْضُوا الَّذِى لَهُ ، فَإِنَّ اللَّهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ » .

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa: “Seorang wanita mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk berhaji, lalu beliau meninggal sebelum menunaikan haji, bisakah aku menunaikan atasnya haji?”, beliaumenjawab: “Iya, hajikanlah atasnya, bukankah jika ibumu mempunyai hutang, kamu akan membayarnya?”, wanita ini menjawab: “Iya”, Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:”Maka bayarlah, karena sesungguhnya Allah lebih berhak untuk dibayar”. (HR. Bukhari)
2) Orang yang sudah tidak mampu untuk menunaikan haji karena sangat tua dan sakit yang terus menerus dan tidak memungkinkan baginya untuk menunaikan haji.

عنِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ أَرْدَفَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْفَضْلَ بْنَ عَبَّاسٍ يَوْمَ النَّحْرِ خَلْفَهُ عَلَى عَجُزِ رَاحِلَتِهِ ، وَكَانَ الْفَضْلُ رَجُلاً وَضِيئًا ، فَوَقَفَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لِلنَّاسِ يُفْتِيهِمْ ، وَأَقْبَلَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ وَضِيئَةٌ تَسْتَفْتِى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَطَفِقَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا ، وَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا ، فَالْتَفَتَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَنْظُرُ إِلَيْهَا ، فَأَخْلَفَ بِيَدِهِ فَأَخَذَ بِذَقَنِ الْفَضْلِ ، فَعَدَلَ وَجْهَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهَا ، فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ فِى الْحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ أَبِى شَيْخًا كَبِيرًا ، لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِىَ عَلَى الرَّاحِلَةِ ، فَهَلْ يَقْضِى عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ « نَعَمْ » .

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Al Fadhl bin Abbas pernah dibonceng oleh Rasululah shallallahu ’alaihi wasallam pada hari Nahr (tanggal 10 Dzulhijjah) di atas hewan tunggangan beliau yang tua, Al Fadhl adalah seorang pemuda yang tampan, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti untuk memberi fatwa kepada mereka (yang bertanya), lalu datanglah seorang wanita cantik dari daerah Khats’am meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban Allah atas hamba-Nya di dalam perkara haji telah didapati oleh bapakku dalam keadaan sangat tua, beliau tidak sanggup untuk duduk di atas kendaraan, bolehkah aku menghajikan atas namanya?”, beliau menjawab: Artinya: “(iya) hajikanlah atasnya”. (HR. Bukhari)

عَنْ أَبِى رَزِينٍ – قَالَ حَفْصٌ فِى حَدِيثِهِ رَجُلٌ مِنْ بَنِى عَامِرٍ – أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِى شَيْخٌ كَبِيرٌ لاَ يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلاَ الْعُمْرَةَ وَلاَ الظَّعْنَ. قَالَ « احْجُجْ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ ».

Artinya: “Abu Razin radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku adalah seorang yang tua renta, tidak mampu haji dan umrah serta tidak bias menunggai kendaraan, Nabi bersabda: “Haji dan umrahkanlah atas bapakmu”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Abu Daud, no. 1588)
Perkara-perkara Penting Tentang Menghajikan dan Mengumrahkan Orang Lain:
1) Tunaikanlah amanat orang lain.
- Karena itu adalah perintah syari’at Islam.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tunaikan amanah kepada siapa yang berhak mendapatkannya dan janganlah kamu khianati orang yang mengkhianatimu”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 423)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhotbah pada haji Wada’:

وَمَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَانَةٌ فَلْيُؤَدِّهَا إِلَى مَنِ ائْتَمَنَهُ عَلَيْهَا

Artinya: “Dan Barangsiapa yang memiliki amanah maka hendaklah ia menunaikan kepada yang berhak mendapatnya”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Fikh As Sirah, 1/456)
- Karena Ancaman akan menunggu bagi siapa yang tidak amanah

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : الْقَتْلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ يُكَفِّرُ كُلَّ ذَنْبٍ إِلاَّ الأَمَانَةَ يُؤْتَى بِصَاحِبِهَا وَإِنْ كَانَ قُتِلَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقَالَ لَهُ : أَدِّ أَمَانَتَكَ فَيَقُولُ : رَبِّ ذَهَبَتِ الدُّنْيَا فَمِنْ أَيْنَ أُؤَدِّيهَا فَيَقُولُ : اذْهَبُوا بِهِ إِلَى الْهَاوِيَةِ حَتَّى إِذَا أُتِىَ بِهِ إِلَى قَرَارِ الْهَاوِيَةِ مَثُلَتْ لَهُ أَمَانَتُهُ كَيَوْمِ دُفِعَتْ إِلَيْهِ فَيَحْمِلُهَا عَلَى رَقَبَتِهِ يَصْعَدُ بِهَا فِى النَّارِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنَّهُ خَرَج مِنْهَا هَوَتْ وَهَوَى فِى أَثَرِهَا أَبَدَ الآبِدِينَ وَقَرَأَ عَبْدُ اللَّهِ (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنَّ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا)

Artinya: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Mati di jalan Allah (di dalam medan pertempuran) menghapuskan seluruh dosa kecuali amanah (yang belum ditunaikan) akan didatangkan orang yang diberi amanah, jika dia meninggal di jalan Allah, maka akan dikatakan kepadanya: “Tunaikan amanatmu”, dia menjawab: “Wahai Rabbku, telah sirna dunia, maka bagaimana aku akan menunaikannya”, (Allah) berfirman: “Pergilah (masuk) ke neraka Hawiyah, sampai jika dia sudah dibawa ke dasar neraka Hawiyah, diumpamakan baginya amanahnya sebagaimana hari dia diberikan amanah itu, lalu diletakkan di atas pundaknya, kemudian dia menaiki dengan membawa (amanah tadi) di dalam neraka sampai jika ia merasa dirinya telah keluar darinya, (ketika itu) jatuh amanah dan setelahnya jatuh juga dia ke dalamnya untuk selama-lamanya, kemudian Abdullah membaca ayat:

{ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا }

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”. QS. An Nisa: 58. (Atsar riwayat Al Baihaqi dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih At Targhib Wa AtTarhib, no. 2995)
- Indahnya seorang yang terpercaya dalam menjaga amanah.

عَنْ أَبِيهِ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – « الْخَازِنُ الأَمِينُ الَّذِى يُؤَدِّى مَا أُمِرَ بِهِ طَيِّبَةً نَفْسُهُ أَحَدُ الْمُتَصَدِّقَيْنِ » .

Artinya: “Abu Musa Al Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang Penjaga amanah yang menunaikan apa yang diperintahkan atasnya dengan jiwa baik, maka dia termasuk seorang yang bersedekah”. (HR. Bukhari)
2) Kerjakan dengan maksimal. Jika seseorang diberi amanah untuk menghajikan orang lain, maka hendaklah dia menghajikan orang lain tersebut dengan maksimal, melengkapi seluruh hal yang merupakan kewajiban dan rukun serta memilih manasik haji yang paling utama seperti; haji tamattu’ kecuali orang yang mewakilkan memilih manasik haji yang lain. (Lihat Fatwa Ibnu Utsaimin, 21/149)
3) Sakit yang masih bisa sembuh dan masih memungkinkan dia menunaikan haji, tidak boleh dihajikan atasnya. (Lihat Fatawa Ibnu Baz, 16/413 dan fatwa Komite Tetap untuk riset ilmiyyah dan fatwa kerajaan Arab Saudi, 11/77, 80 dan 81)
4) Boleh menunaikan haji atas orang lain tanpa meminta musyawarah dan izin dari pihak keluarga yang dihajikan atasnya. (Lihat Fatwa Ibnu Utsaimin, 21/149)
5) Buta bukan sebagai alasan yang dibenarkan syari’at untuk diperbolehkan dihajikan atasnya. (Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 16/123)
6) Seorang yang meninggalkan shalat tidak diboleh dihajikan dan disedekahkan atasnya. (Lihat Fatwa Ibnu Baz, 16/424-427 dan Ibnu Utsaimin, 21/45)
7) Tidak harus menyebutkan nama orang yang dihajikan atasnya tetapi cukup dengan meniatkan di dalam hati, namun jika ingin mengucapkan maka juga baik. (Lihat Fatwa Komite Tetap untuk Riset Imiyyah dan fatwa Kerajaan Arab Saudi, 11/82 dan kitab Mufid Al Anam, hal.29)
8) Mengambil harta untuk menunaikan haji dan bukan haji untuk mengambil harta dan keuntungan. Maksudnya adalah jika dikatakan kepada orang yang menghajikan orang lain: “Ambillah uang ini dan hajikan atas si fulan”, maka jika masih tersisa dari biaya yang diberikan harus dikembalikan, kecuali jika dikatakan: “Ambillah uang ini dan hajikan atas si fulan, jika sisa itu milikmu”. (Lihat fatwa Ibnu Utsaimin, 21/172-173)
Ahmad Zainuddin
Kamis 8 Dzulqa’dah 1432H
Dammam, KSA.
 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung