Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Batasan Aurat Wanita Muslimah (Bag. 2)

Dari Abdullah ibn Umar, diriwayatkan Imam Timidzi, Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang memanjangkan pakainnya karena sombong, maka Allah ta’ala tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat.” Mendengar hadits ini, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah bagaimana dengan ujung-ujung pakaian mereka?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hendaknya para wanita memperpanjang satu jengkal.” Setelah mendengar jawaban tersebut, maka Ummu salamah langsung menanggapi: “Kalau begitu, hanya dua mata kaki satu jengkal, maka telapak-telapak kaki para perempuan akan terlihat.” Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya para perempuan tersebut memperpanjang pakaiannya satu hasta.”

Dari riwayat di atas, betapa para generasi salaf shalihin yang diridhai Allah, mempunyai rasa malu yang saat ini para wanita telah luntur rasa malunya. “Malulah kepada Allah ta’ala, dengan sebenar2nya malu. Siapa yang malu benar2nya malu kepada Allah, maka menjaga sekitar kepala, dan apa yang disekitar perut.” Dari Adbullah bin Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya rasa malu dan keimanan selalu bergandengan kedua-duanya. Jika salah satunya diangkat, maka akan terangkat kedua-duanya.”

Budaya malu juga merupakan sifat dari sifat Allah ta’ala. Sebuah hadits diriwayatkan Imam Abu Daud, “Sesungguhnya Allah adalah Maha Pamlu dan Maha Penutup, Allah mencintai sifat malu dan sifat penutup.” Hadits ini menunjukkan barangsiapa yang memiliki sifat malu dicintai Allah. Jika dicintai Allah, maka selalu diberi petunjuk Allah ta’ala, seluruh anggota badannya terlindungi dari perbuatan maksiat, karena dicintai Allah ta’ala. Selama hidup di dunia dan dicintai Allah ta’ala, maka berbuat dan berkata selalu diberi petunjuk Allah ta’ala.

Sifat malu bagi wanita merupakan akhlak yang paling dominan dalam agama Islam. Riwwayat Imam Baihaqi, “Sesungguhny asetiap agama memiliki budi pekerti, budi pekerti yg paling dominan adalah sifat malu.” Dalma hadits riwayat Imam Muslim, sifat malu pasti mendatangkan kebaikan, tidak akan mendatangkan keburukan. Rasul bersabda: “Sifat malu seluruhnya merupakan kebaikan.” Dalam Ibnu Majah: “Sifat malu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan.” Sebaliknya, jika sifat malu telah terlepas dari seseorang, yang didapati hanyalah keburukan.

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

 

Video Terbaru

Pengunjung